Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Datar seperti triplek


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Diandra sudah bangun karena merasa sangat bersemangat di hari pertamanya bekerja.


"Ini adalah hari pertamaku bekerja. Aku akan bekerja di perusahaan besar dan pastinya mendapatkan gaji besar. Semangat, Diandra. Kejar impianmu dan fokus saja bekerja," ucap Diandra yang kini mencoba untuk memenuhi energi positif di otaknya.


Di hari pertama bekerja, ia sudah mendapatkan jadwal yang semalam dikirimkan oleh Austin, yaitu harus membelikan sarapan dan membuatkan minuman.


Sebenarnya ia tidak ingin berurusan dengan kaum hawa yang suka bergosip dan mungkin akan merugikan dengan menganggapnya wanita murahan jika sampai berpikir bahwa ia ada hubungan dengan pemimpin perusahaan jika selalu keluar masuk ruangan bos.


Namun, karena tidak ada pilihan lain, terpaksa menerima dan patuh serta fokus bekerja demi mencicil utangnya pada bos dan juga utang orang tua di kampung.


Hal itulah yang membuat Diandra bersemangat hari ini karena semalam sudah menyalakan alarm pada ponsel dan berniat untuk naik ojek ke perusahaan sambil mampir ke tempat yang dikatakan oleh pria yang menyuruhnya membeli sarapan di salah satu pedagang kaki lima.


Pukul tujuh pagi, ia sudah berjalan keluar dari tempat kos. Banyaknya pedagang kaki lima yang sudah berderet menawarkan dagangan, memudahkan para pekerja yang lebih memilih untuk membeli karena jauh lebih praktis.


Diandra membeli nasi uduk sebagai menu sarapan dan langsung naik ojek menuju ke penjual yang sudah dikatakan pada pria itu.


Hingga beberapa saat kemudian, Diandra berhasil menyelesaikan misi pertama di hari ini. Sudut bibirnya mengembang seketika kala melihat nasi briyani pesanan bosnya.


Namun, ia merasa aneh karena tadi mendapatkan pesan dari Austin saat berjalan masuk ke tempat penjualnya.


'Apa tidak salah ia menyuruhku membeli dua nasi? Ini untuk dimakan sendiri sampai nanti siang kah? Jika benar begitu, aku tidak perlu repot-repot keluar nanti.'


'Jika jam makan siangku digunakan untuk membelikan makan untuk penjahat wanita itu, yang ada nanti aku nggak makan. Mana aku harus bolak-balik naik ojek. Mungkin bisa meminta uang lebih pada pria sultan itu.'


Kini Diandra sudah tiba di perusahaan setelah tadi membayar dan mengucapkan terima kasih.

__ADS_1


Kemudian ia berjalan masuk ke arah loby untuk menanyakan di mana ruangannya yang akan menjadi tempat kerjanya.


Begitu mengetahui ruang kerjanya, kaki jenjangnya melangkah menuju ke arah lift. Dengan menyunggingkan senyumnya pada para staf lain yang menunggu di depan lift, ia mendengar dering ponsel miliknya.


Saat melihat yang menghubungi adalah Austin, Diandra langsung menggeser tombol hijau ke atas dan berbicara lirih. "Iya, Tuan."


"Apa sarapanku sudah ada di meja?" sahut Austin yang baru saja memarkirkan mobilnya. Sengaja datang lebih awal demi bisa melihat Diandra di ruangannya.


Sementara itu, Diandra awalnya ingin meletakkan sarapan di tempat kerjanya sambil menyapa rekan kerja. Baru kemudian ke ruangan bosnya untuk membuatkan kopi serta meletakkan sarapan.


Namun, tidak jadi melakukan itu begitu mendapatkan pertanyaan. "Saya baru tiba dan akan langsung meletakkan sarapannya."


Diandra baru saja menutup mulut, mendengar sambungan telpon sudah terputus. Hingga ia yang tadi mendapatkan tatapan dari beberapa staf perusahaan, mengerti apa yang saat ini mereka pikirkan.


Bahwa ia adalah staf baru, tapi bersikap mencurigakan ketika mendapatkan telpon. Saat orang-orang keluar, ia hanya diam karena memang tujuannya adalah lantai paling atas.


Sebenarnya Diandra sangat lapar, tapi tidak yakin apakah waktunya cukup untu sarapan karena harus melayani terlebih dahulu bosnya yang dianggap sangat kekanak-kanakan.


Kini, Diandra hanya memegangi perut dan berniat untuk sarapan setelah tiba di ruangan kerja. "Semoga masih ada waktu."


Begitu pintu lift terbuka, ia pun berjalan ke ruangan kerja bosnya yang sudah pernah dimasuki.


Bahkan ia berniat untuk segera menyelesaikan tugasnya agar tidak bertemu dengan pria yang dianggapnya sebagai seorang pria diktator. Namun, saat baru meletakkan bungkusan di atas meja, melihat pintu ruangan terbuka setelah menolehkan kepala begitu mendengar suara.


Tentu saja ia sangat terkejut karena tadinya berpikir bahwa tadi baru saja mendapatkan telpon dari pria yang terlihat sangat rapi dengan setelan tiga potong berwarna hitam dan sepatu pantofel mengkilat.

__ADS_1


"Tuan Austin? Anda sudah datang?" Diandra seketika melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. "Ternyata Anda adalah bos teladan."


Sementara itu, Austin hanya terkekeh mendengar pujian dari wanita yang seperti sangat terkejut melihatnya.


"Makanlah bersamaku! Duduk di sana!" titah Austin yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di sofa.


"Saya sudah membeli nasi uduk, Presdir." Diandra menunjukkan bungkusan di tangannya dan pertanyaan yang tadi memenuhi kepalanya terjawab sudah.


'Tahu gitu, aku tadi tidak perlu membeli sarapan sendiri karena penjahat wanita ini ternyata memikirkan makanan untuk diberikan padaku. Sepertinya besok aku tidak perlu membeli sarapan,' gumam Diandra yang kini tengah berpikir bisa berhemat sarapan serta makan siang


Berpikir jika menjadi pesuruh seorang presiden direktur perusahaan tidak ada ruginya dan malah menguntungkannya, sehingga kini tidak menyesal.


Austin kini memicingkan mata melihat bungkusan yang ditunjukkan oleh Diandra. "Kasih saja makanan itu untuk staf yang lebih membutuhkan. Sementara kamu sama sekali tidak membutuhkan karena aku menjamin makanmu."


Dengan mengarahkan tatapan tajam, Austin memberikan kode dengan mata agar Diandra segera duduk dan sarapan bersama.


Karena semua yang dikatakan oleh Austin benar dan sangat menguntungkannya, akhirnya Diandra mendaratkan tubuhnya di sebelah kiri prja yang mulai membuka kotak makanan di atas meja.


Austin kini memberikan satu kotak untuk wanita yang terlihat sangat patuh padanya dengan tersenyum smirk. "Makan yang banyak agar tubuhmu tidak rata dan setipis triplek."


Kemudian tertawa terbahak-bahak setelah menyadari candaannya berhasil membuat wajah wanita di sebelahnya cemberut seperti bebek.


Sementara itu, Diandra yang tadinya membuka kotak makanan tersebut seketika rasa laparnya seperti hilang karena baru kali ini ia dihina fisiknya oleh seorang pria.


"Lebih baik pergi daripada tersakiti hati." Kemudian bangkit dari tempat duduk dan merasakan tangannya ditahan saat hendak berjalan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2