Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Berbicara empat mata


__ADS_3

"Saya terima nikah dan kawinnya Rosalia Syahnaz Imran binti Ferdinand Imran dengan mas kawin uang seratus juta rupiah dan 20 gram emas dibayar tunai!" ucap Yoshi yang ijab qobul dengan satu kali tarikan napas setelah wali nikah.


Sementara itu, penghulu saat ini langsung menjauh untuk bertanya. "Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah!" ujar beberapa orang yang menjadi saksi dari pernikahan sederhana di dalam ruangan perawatan tersebut sebelum dilakukan operasi karena saat ini keadaan dari pria paruh baya itu sudah normal.


Ucapan syukur kini diungkapkan oleh semua orang begitu pernikahan selesai dilakukan setelah ijab qobul dan diakhiri dengan doa dari penghulu.


Semua orang mengaminkan doa-doa yang dipanjatkan agar pengantin pria dan wanita bisa menjalani kehidupan rumah tangga yang sakinah mawadah warohmah.


Sementara itu di sisi lain, Yoshi hanya sedikit menggerakkan bibirnya karena tidak berniat untuk mengaminkan doa-doa dari penghulu. Ia malah sibuk merapalkan doa agar rumah tangganya hancur dan berakhir perceraian karena dingin kembali pada Diandra dan menikahinya untuk memenuhi janji.


Tadi setelah ia tidak berhasil menghubungi Diandra yang menonaktifkan ponsel, dan juga perasaannya yang kacau agar tidak membuat acara pernikahan berantakan.


Apalagi ia tidak ingin sang ayah mendapatkan sebuah kemalangan karena perbuatannya yang ceroboh. Kebetulan saat dia baru saja masuk ke ruangan, sang pemburu datang dan tentu saja langsung tidak membuang waktu untuk dilakukan ijab qobul.


'Dengan perasaan kacau balau, aku bahkan bisa membuat pernikahan ini sah dalam waktu beberapa detik saja. Padahal sejujurnya hatiku saat ini tidak bisa berhenti walau satu detik pun memikirkan Diandra yang entah berada di mana.'


Setelah tadi langsung mematikan sambungan telepon darinya, ia menyadari apa yang dilakukan oleh Diandra sama persis ketika pertama kali bertemu dengannya, yaitu menghilang dan memutuskan kontak dari masa lalu.


Jadi, saat ini sudah bisa menebak jika Diandra telah pergi dari apartemen tanpa sepengetahuannya. 'Apa kamu tidak meninggalkan pesan apapun di apartemen saat pergi diam-diam?'


'Sepertinya aku harus mencari tahu dengan pergi ke apartemen Naura nanti,' gumam Yoshi yang saat ini mendengar penghulu mengakhiri doa yang menurutnya terlalu lama.


Jika ia menikah dengan Diandra dan didoakan sangat lama seperti itu, mana mungkin akan mengungkapkan ada protes meski hanya lewat umpatan di dalam hati karena yang ada malah akan terus mengaminkan dan berharap hidupnya bahagia selamanya bersama wanita yang sangat dicintai.


"Alhamdulillah, sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri yang sah di mata agama dan negara. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah serta mendapatkan keturunan yang sholeh sholehah dan bisa mengangkat derajat orang tua."


Sang penghulu mengakhiri doa dan kini memberikan beberapa petuah mengenai pernikahan. Ia saat ini berpikir bahwa ada sesuatu hal yang aneh dari raut wajah pengantin pria, tapi tidak membahasnya.


"Terima kasih, Pak karena sudah bersedia direpotkan mendadak untuk menikahkan putra-putri kami." Ferdinand kini menjabat tangan pria yang lebih tua darinya tersebut.


"Sama-sama, Tuan Ferdinand. Ini sudah menjadi tugas saya dan jika tidak ada pasangan yang menikah di hari sama, pasti saya tidak akan menolak seperti hari ini."


Beberapa saat kemudian, Rosalia bangkit berdiri karena merasa risih dengan kebaya pengantin serta hiasan di rambutnya.


"Jadi, apa aku boleh mengganti pakaian serta riasan ini?" tanya Rosalia yang bertanya pada sang ibu.

__ADS_1


"Tentu saja boleh karena acara sudah selesai tanpa resepsi pernikahan. Nanti itu kita bahas setelah mertuamu sembuh," ucap Rosi Adelia yang tak lain adalah ibu dari pengantin wanita.


"Baiklah, kalau begitu aku akan mengganti pakaian terlebih dahulu." Rosalia saat ini mengambil pakaian ganti dari dalam tas yang tadi dibawa dan menuju ke kamar mandi.


Ia sebenarnya dari tadi bertanya-tanya mengenai raut wajah pria yang menikahinya berubah total begitu kembali dari luar ruangan perawatan. Bahkan pria yang merupakan Austin Matteo juga tidak terlihat dan pulang tanpa berpamitan, sehingga membuatnya semakin merasa aneh serta curiga.


Kini, ia sudah berada di dalam kamar mandi dan melepaskan semua yang berada di tubuhnya sambil sesekali terdiam karena memikirkan tentang pria yang sudah sah menjadi suaminya.


'Rasanya sangat aneh melihat perubahan sikap Yoshi. Aku harus berbicara dengannya nanti untuk menanyakan masalah ini. Aku tidak ingin hidup dengan pria yang menyimpan banyak rahasia tanpa sepengetahuanku.'


Rosalia yang ingin membina rumah tangga bersama pria hebat seperti Yoshi, berharap tidak ada kebohongan apapun dalam ikatan suci pernikahan.


Apalagi ia berniat untuk menjadi seorang istri yang baik dan akan menikah satu kali seumur hidup, sehingga menyerahkan seluruh hidupnya pada sang suami yang sudah sah memilikinya.


Beberapa menit kemudian, Rosalia yang masih diliputi berbagai macam pertanyaan di otaknya, kini mulai berjalan menuju ke arah pintu keluar.


Begitu suasana ruangan perawatan sudah sepi karena sepertinya saat ia berada di dalam kamar mandi, orang-orang yang datang sudah berpamitan.


Kini, ia melirik ke arah sosok pria yang tengah duduk di sebelah sang ayah. Ia bisa mendengarkan petuah dari pria paruh baya yang sebentar lagi akan dioperasi tersebut agar menjadi suami yang baik.


"Selamat atas pernikahan kalian. Jaga selalu istrimu dan hiduplah berbahagia dengan anak-anak yang lucu," ucap Patrick yang merasa khawatir tidak bisa memberikan pesan terakhir pada putranya.


"Papa saat ini harus fokus pada kesembuhan karena aku dan istriku akan hidup berbahagia selamanya. Jadi, jangan pernah menyerah dan tetap berusaha untuk selalu berpikir positif." Yoshi mengusap lembut lengan sang ayah untuk menyalurkan aura positif.


Hingga ia mendengar suara dari wanita yang sudah berstatus sebagai istrinya menghampiri sebelum dilepaskan atribut di kepala.


"Karena tadi sama sekali tidak ada potret pernikahan kita, Setelah papa sembuh, akan mengambil gambar di studio foto. Kamu tidak keberatan, bukan?" tanya Rosalia yang saat ini tersenyum pada mertuanya begitu sang suami menggelengkan kepala.


"Maafkan papa karena membuat pernikahan kalian sederhana seperti ini dan tidak ada foto untuk diambil. Nanti Yoshi pasti akan menemanimu untuk mengambil gambar terbaik di studio foto." Patrick masih berusaha untuk bersikap senang mungkin karena khawatir jika sang menantu kesal.


Namun, ia semakin merasa menyukai menantu perempuannya tersebut saat tidak mendapatkan sebuah keluhan.


"Tidak masalah, Pa. Aku sama sekali tidak mempermasalahkan hal itu. Hanya saja karena berpikir bahwa pernikahan dilakukan satu kali seumur hidup, jadi harus mengabadikannya agar bisa dikenang suatu hari nanti dan ditunjukkan pada anak cucu."


Sengaja ia memancing dengan kata-kata yang membuatnya ingin tahu seperti apa respon dari seorang pria di sebelah kanannya tersebut. Hingga ia seketika luluh begitu mendengar suara lirih dari Yoshi.


"Aamiin," sahut Yoshi yang saat ini hanya berakting mengikuti permainan agar sang ayah benar-benar tenang dan tidak lagi berpikir macam-macam di ruangan operasi.

__ADS_1


Apa yang saat ini dilakukannya benar-benar berdampak pada kesehatan sang ayah yang kini sudah berangsur normal, tapi tetap harus dilakukan proses operasi untuk pemasangan ring.


'Semoga Rosalia bisa mengerti bahwa aku sangat mencintai Diandra dan tidak mau menerimaku sebagai suaminya. Kemudian bercerai setelah papa sehat, itu adalah harapan besarku pada seorang Rosalia yang merupakan independen.'


Beberapa saat kemudian lamunan Yoshi seketika musnah begitu mendengar suara pintu yang dibuka dan terlihat beberapa perawat masuk.


"Pasien sudah harus dibawa ke ruangan operasi," ucap salah satu perawat wanita berseragam putih.


Semua orang yang tadinya berbicara di ruangan perawatan tersebut, seketika hening dan merasa ada sesuatu yang mengganjal hati mereka karena mendengar kata operasi saja sudah membuat siapapun pasti berpikir macam-macam dan dipenuhi oleh kekhawatiran.


Akhirnya semua orang hanya melihat saat pasien dibawa keluar. Sementara itu, ibu dan anak itu berada di sebelah kanan dan kiri berangkat yang didorong menuju ke ruangan operasi.


"Sayang, tenang saja karena semuanya akan baik-baik saja. Aku akan selalu ada di sini bersamamu," ucapan Nita paruh baya yang berusaha untuk menenangkan perasaan tidak karuan dan juga air mata agar tidak terjatuh dari bola matanya.


"Iya, Papa harus yakin bahwa setelah hari ini, kondisi kesehatan membaik dan kita bisa berkumpul lagi di rumah seperti dulu dengan anggota baru di keluarga Narendra." Yoshi bahkan selalu mengaitkan sosok wanita yang juga berjalan di sebelahnya dan ia beralih menatap ke arahnya.


"Bukankah begitu, Istriku?" Yoshi tidak bisa menyebut kalimat sayang karena berpikir hanya ditujukan pada Diandra. Jadi, berpikir memanggil istri sudah merupakan hal yang wajar karena memang mereka kini telah sah menjadi pasangan suami istri.


Rosalia saat ini mengulas senyuman dan mengiyakan perkataan dari sang suami yang menurutnya tengah bersandiwara di depan orang tua. Ia semakin yakin begitu mendengar panggilan Yoshi padanya.


Bahkan ia sangat tidak suka dengan panggilan istri karena lebih menyukai sayang yang mewakili rasa cinta seorang pria pada wanita.


'Aku saat ini benar-benar merasa yakin jika ada yang tidak beres dari suamiku. Aku tidak akan membiarkannya enakan berbicara empat mata dengannya nanti,' gumam Rosalia yang kini benar-benar merasa terganggu dengan sikap yang ditunjukkan oleh Yoshi padanya.


Beberapa saat kemudian, brankar yang didorong oleh perawat sudah tiba di ruangan operasi dan langsung masuk ke dalam. Menyisakan 5 orang yang saat ini masih berdiri di depan ruangan yang baru saja tertutup.


"Operasi akan berjalan lama. Lebih baik kamu ajak istrimu untuk makan di kantin atau beristirahat di rumah. Biar Mama dan besan yang menunggu di sini. Menurut kalian bagaimana?" tanya Asmita Cempaka yang menoleh ke arah pasangan suami istri di sebelahnya.


"Iya, itu benar. Kalian bisa pergi berdua untuk sekedar makan di restoran atau beristirahat sejenak di rumah," sahut Rosi yang saat ini tengah menatap ke arah menantunya.


Karena memang ingin berbicara berdua dengan Rosalia, kini Yoshi langsung mengangguk perlahan. "Baiklah. Kalau begitu, aku akan pergi bersama istriku dan kembali nanti setelah selesai."


Kemudian Yoshi mencium punggung tangan tiga orang tua itu dan kini beralih menatap ke arah wanita yang berstatus sebagai istrinya tersebut. Ia rasa bingung harus bersikap layaknya pasangan suami istri yang romantis.


"Ayo, Istriku." Akhirnya Yoshi dini bersandiwara dengan menggandeng tangan wanita yang baru saja berpamitan pada ibunya serta orang tuanya.


"Iya, Sayang." Rosalia masih memberikan toleransi pada sikap aneh Yoshi dan berjalan sambil bergandengan tangan menyusuri lorong rumah sakit.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2