Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Ingin mendengar suaranya


__ADS_3

Yoshi saat ini kembali ke ruangan sang ayah dengan langkah lunglai. Setelah mendengar penjelasan dari sang dokter, membuatnya tidak punya pilihan lain selain menuruti perintah dari sang ayah.


Ia tidak ingin mengorbankan pria yang telah berjasa dalam hidupnya tersebut yang mencintai Diandra. Akhirnya ia mengambil keputusan besar dalam hidupnya untuk menikahi wanita yang bahkan sama sekali tidak dicintai.


"Akhirnya kamu kembali juga, Sayang," ujar Asmita Cempaka yang saat ini semakin bertambah khawatir dengan raut wajah dari putranya.


Ia sudah bisa menduga jika penjelasan dari sang dokter menjadi penyebab utama raut wajah putranya yang dipenuhi oleh kekhawatiran.


Namun, tidak ingin membahas mengenai penjelasan dari sang dokter karena ia berpikir jika sang suami bisa mendengar dan akan bertambah drop jika sampai mengetahui penyakitnya.


"Papamu terus membahas mengenai pernikahan, Sayang. Bagaimana?" tanya Asmita Cempaka yang saat ini menatap ke arah sang suami yang kembali melepaskan selang oksigen dan membuatnya merasa khawatir.


"Turuti keinginan terakhir dari Papa, Yoshi. Bukankah selama ini Papa tidak pernah meminta apapun darimu?" Patrick yang baru saja menutup mulut sambil memegangi selang oksigen, kini melihat putranya yang menghampiri dan langsung memakaikan kembali selang oksigen di tangannya.


Yoshi semakin khawatir melihat sang ayah yang sangat bersikeras menyuruhnya untuk segera menikah. Ia benar-benar sangat takut jika sampai apa yang dikatakan oleh ayahnya menjadi kenyataan.


Kini, ia mengembuskan napas kasar dan mengatakan sesuatu. "Papa harus menuruti semua perintah dari dokter untuk memakai selang oksigen dan jangan melepaskannya karena ini adalah alat bantu pernapasan."


"Papa tenang saja karena aku akan langsung berbicara sendiri dengan teman Papa itu. Tapi Aku tidak yakin Apakah mau melaksanakan pernikahan secara mendadak di rumah sakit." Yoshi sebenarnya sangat ingin mendapatkan penolakan dari keluarga pihak wanita.


Meskipun di lubuk hati ke dalam juga sangat takut jika sampai itu terjadi, keadaan sang ayah akan semakin bertambah parah karena terlalu keras berpikir.


Ia tetap saja terus memikirkan bagaimana nasib Diandra. Namun, sayangnya tidak bisa melakukan apapun untuk menolak pernikahan atas perintah dari sang ayah.


'Aku akan menyembunyikan ini dari Diandra dan tetap memberikan perlindungan padanya agar Austin tidak berani macam-macam padanya,' gumam Yoshi nah saat ini berpikir bahwa itu adalah jalan yang terbaik.


Karena merasa sangat lega karena putranya tidak menolak perjodohan, sehingga saat ini Patrick menuruti perintah dari putranya dengan terus memakai selang oksigen dan tidak lagi berbicara.


Sementara Asmita Cempaka yang juga ikut merasa senang karena putranya akhirnya setuju menikah. Kini, ia mengambil ponsel milik sang suami yang berada di dalam tas dan menyerahkan pada putranya.


"Rekan bisnis papamu bernama Ferdinand Imran. Kamu bisa menghubunginya mengungkapkan niat baikmu menikahi putrinya dan juga mengatakan perihal keinginan papamu," ucapnya yang saat ini melihat keraguan di mata putranya.


Namun, ia berpikir jika Itu adalah sebuah hal yang wajar karena saat ini putranya merasa sok dengan keputusan tiba-tiba yang diambil karena memenuhi keinginan orang tua.


Ia pun kembali menatap ke arah sang suami. "Sekarang putramu sudah memenuhi keinginanmu. Jadi, kamu harus berusaha agar sembuh dan tidak menyerah ketika kami melakukan semua hal yang terbaik."


Pria paruh baya yang saat ini masih berbaring di atas ranjang tersebut hanya menganggukkan kepala dan menuruti perintah tanpa membuka suara karena merasa sangat senang sekaligus lega.

__ADS_1


Di sisi lain, Yoshi yang saat ini sudah memegang ponsel dari sang ayah, berusaha untuk menormalkan perasaan sebelum menelpon pria bernama Ferdinand tersebut.


Ia pun kini menatap ke arah orang tuanya. "Aku akan menelpon di luar dan berbicara dengan tuan Ferdinand untuk melamar putrinya." Kemudian Yoshi perjalanan menuju ke arah pintu keluar setelah orang tuanya menganggukkan kepala tanda setuju.


Ia yang saat ini sudah berada di luar ruangan, masih merasa ragu untuk memencet tombol panggil pada nomor dengan kontak Ferdinand. "Ya Allah, kenapa sungguh berat cobaanmu atas cintaku pada Diandra?"


Yoshi bahkan saat ini sudah berjalan mondar-mandir di depan ruangan tanpa memperdulikan ada beberapa orang yang memperhatikan tingkahnya.


Kemudian ia kembali mengingat wajah sang ayah yang sangat pucat dan bernapas dengan kesusahan sampai memakai selang oksigen.


Embusan napas kasar kini mewakili perasaannya saat ini yang kacau balau, tapi harus terus bertahan demi orang tua. Akhirnya ia memencet tombol panggil pada kontak pria yang merupakan rekan bisnis sang ayah hingga mendengar suara bariton dari seberang telepon.


"Halo. Tumben kamu menghubungiku malam-malam begini, Kawan," sahut Ferdinand yang saat ini baru saja selesai memeriksa beberapa dokumen penting di ruangan kerjanya.


Karena tidak ingin dianggap sang ayah, refleks Yoshi membuka suara. "Halo, Om Ferdinand. Ini saya, Yoshi, putra dari Patrick Narendra. Ada sesuatu yang ingin saya katakan pada Anda."


"Yoshi? Aaah ... Aku sangat senang sekali akhirnya bisa berbicara denganmu. Papamu sudah sering menceritakan semua hal tentangmu padaku. Memangnya ada hal apa yang ingin kamu bahas denganku? Apakah apa kamu sudah menceritakan tentang perjodohan yang kami lakukan?"


Yoshi memejamkan matanya perlahan dan membuatnya berpikir ada sesuatu hal yang sangat mengganjal di hatinya saat ini, tapi harus bertahan sampai akhir.


"Iya, Om. Papa sudah menceritakan semuanya dan saya berniat untuk melamar putri Anda sekaligus menikahinya besok. Anda pasti sangat terkejut karena secepat ini, tapi ini sangat mendadak." Yoshi berbicara dengan dadanya yang terasa sesak karena mengingat sosok wanita yang sangat dicintai.


"Papa saya saat ini sedang berada di rumah sakit karena terkena serangan jantung dan meminta saya untuk segera melakukan pernikahan sebelum ajal menjemput. Apakah bersedia menerima niat baik saya untuk menikahi putri Anda besok di rumah sakit?"


Jujur saja jika boleh memilih, Yoshi ingin pria di seberang telepon tersebut menolak dan sang ayah bisa mengerti tanpa mengalami serangan jantung.


Namun, ia sadar jika keinginan orang tuanya tidak dipenuhi akan berakibat sangat fatal jika sampai sang ayah Anfal karena serangan jantung.


Hingga ia menunggu selama beberapa menit karena rekan bisnis dari sang ayah belum memberikan jawaban atas permohonannya.


Hingga ia mendengar suara bariton dari pria di seberang telpon yang telah berbicara dengan seorang wanita. Bisa ditebaknya itu adalah putri dari rekan bisnis saya yang akan dijodohkan dengannya.


"Sayang, Papa baru saja mendapatkan telepon dari Yoshi. Ia berniat untuk menikahimu besok karena keadaan ayahnya yang terkena serangan jantung dan ingin melihat kalian menikah secepatnya. Apa kamu setuju?" tanya Ferdinand kepada putrinya yang saat ini tengah berada di dalam kamar dan belum tidur karena masih terlihat fokus pada laptop.


Sementara itu, sosok wanita yang berada di atas ranjang tengah menonton sidang kejahatan internasional di luar negeri, kini seketika menoleh ke arah sang ayah yang baru saja masuk ke dalam ruangan kamarnya.


Ia merasa sangat terkejut begitu mendapatkan kabar buruk dari sang ayah yang membawa ponsel dan bertanya padanya.

__ADS_1


Karena ia yang sama sekali tidak keberatan dijodohkan dengan pria yang dianggapnya adalah calon suami idaman begitu menyelidiki tentang Yoshi yang tidak pernah berhubungan dengan para wanita. Kini, ia langsung mengangguk setuju.


"Baiklah. Aku tidak keberatan untuk menikah besok karena bagiku yang penting adalah sah dan resensi pernikahan bisa dilakukan kapan saja, bukan?" ujar wanita dengan memakai tanktop berwarna merah serta hotpants.


Merasa sangat senang saat putrinya menyetujui tanpa berpikir panjang, kini Ferdinand kembali berbicara pada Yoshi yang masih dia menunggu dari tadi.


"Kamu sudah mendengarnya, bukan? Jadi, besok pagi kami akan datang ke rumah sakit membawa penghulu sekalian. Bilang pada papamu jika semuanya sudah beres."


Yoshi yang sama sekali tidak pernah menyangka jika ternyata keluarga Ferdinand dengan mudahnya menyetujui lamarannya, seperti tidak sanggup berkata-kata dan bingung harus menanggapi seperti apa.


Antara senang sekaligus sedih bercampur menjadi satu dan membuat suaranya tercerkat di tenggorokan. Ia setelah menghianati kepercayaan Diandra.


Ia sangat khawatir pada Diandra karena menikahi wanita lain dan tidak bisa memenuhi janjinya. 'Ya Allah, ternyata rasanya yang sesakit ini ketika harus dihadapkan pada pilihan yang sulit antara papa dengan wanita yang sangat kucintai.'


Karena dari tadi sibuk dengan pemikirannya, Yoshi tersadar dari lamunan begitu mendengar suara bariton dari pria itu seberang telepon.


"Yoshi, apa kamu mendengarku? Kamu masih di sana, kan?" tanya Ferdinand dengan memicingkan mata sambil melihat ke arah layar untuk memastikan apakah sambungan telepon masih berlangsung.


Hingga ia melihat detik yang berjalan dan merasa heran tidak ada suara. Namun, beberapa detik kemudian mendengar Yoshi berbicara dengan suara seperti menahan tangis.


Hal itu membuatnya berpikir jika pria itu merasa sangat terharu dengan kebaikan yang serta putrinya yang bersedia untuk menikah hanya di rumah sakit tanpa adanya perayaan besar-besaran.


"Iya, Om. Saya dari tadi masih mendengarkan dan benar-benar tidak percaya jika Anda dan putrinya langsung setuju. Semoga papa akan segera sembuh setelah melihat putranya menikah. Mohon maaf jika musibah yang menimpa keluarga kami harus merepotkan keluarga besar Om."


"Tidak masalah karena mungkin ini sudah tadi dari Tuhan untuk membuat pernikahan putriku secara sederhana di rumah sakit. Baiklah, kalau begitu kirim salam pada papamu. Aku akan mengurus semuanya." Ferdinand saat ini berpikir untuk segera menghubungi penghulu yang akan menikahkan putrinya besok.


"Terima kasih, Om. Maaf harus merepotkan. Selamat malam." Akhirnya Yoshi mengakhiri sambungan telepon setelah pria di seberang sana mengiyakan.


Yoshi saat ini masih berdiri di dekat dinding dan merasa tubuhnya lunglai. Kemudian ia mengempaskan tubuhnya di kursi tunggu yang tersedia. Saat ini, rasa bersalah memenuhi jiwanya ketika memikirkan tentang sosok wanita yang dicintai.


Ia pun mengambil ponsel miliknya dan mencari nomor Diandra. "Apa Diandra sudah tidur?"


Awalnya ia berniat untuk menelpon, tapi khawatir jika wanita yang sangat dicintainya tersebut sudah tertidur pulas dan hanya akan mengganggu. Akhirnya Yoshi memilih untuk mengirimkan pesan.


Sayang, doakan yang terbaik. Aku masih berada di rumah sakit dan menunggu papa bersama mama.


Setelah membaca ulang, kini Yoshi mengirimkan pesan itu untuk mengetes apakah Diandra masih terjaga atau sudah tertidur.

__ADS_1


"Jika ia langsung membalas, aku akan langsung menelpon karena saat ini ingin mendengarkan suaranya," ucap Yoshi dengan mengacak frustasi rambutnya.


To be continued...


__ADS_2