Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Gosip di Perusahaan


__ADS_3

Bahkan ia kini sudah berdiri tepat di hadapan wanita yang sama sekali tidak membuka suara, seperti tiba-tiba menjadi bisu. Kemudian mendekatkan wajah untuk berbisik.


"Jangan terlalu percaya diri dengan menganggap aku menyukaimu. Oh ya, lepaskan jasnya. Bukankah kamu harus mengembalikan pada pemiliknya? Aku yakin jika pakaianmu sudah kering, tapi sepertinya kamu masih sangat nyaman memakai jas milikku."


Seketika Diandra mengepalkan tangannya dan buru-buru melepaskan jas itu dari tubuhnya.


Meskipun ia berpikir bahwa kebohongannya tadi akan diketahui oleh Adelia karena kemejanya ternyata tidak sobek, berpikir itu jauh lebih baik daripada ia terus memakai jas milik pria yang dianggapnya sangat menyebalkan tersebut.


"Ini, jas Anda. Kalau begitu, saya pamit dulu." Kemudian Diandra membungkuk hormat dan berbalik badan menuju ke arah pintu keluar.


Bahkan ia masih tetap mengepalkan tangan untuk menahan amarahnya saat ini karena merasa dipermainkan. Bahkan saat berada di dalam lift, tidak berhenti mengumpat.


"Berengsek! Penjahat wanita itu pasti sedang mempermainkanku. Ia sengaja memberikan aku sebuah harapan agar aku melayang tinggi, lalu membuatku jatuh terempas dan berharap aku hancur."


"Tidak semudah itu. Aku bukanlah wanita bodoh yang suka berkhayal mendapatkan pria kaya sepertinya. Sadar diri, sadar posisi, sadar wajahku yang standar ini tidak mungkin mendapatkan pria dengan spek di atas rata-rata."


Diandra kini sudah kembali ke meja kerjanya. Tentu saja di sana masih sangat sepi karena jam istirahat dan semuanya tengah makan di kantin.


Ia yang tadi menyimpan nasi uduk di dalam tasnya, segera mengeluarkannya dan membuka, lalu menikmatinya. Saat mengunyah makanan, ia masih sangat kesal begitu mengingat sikap arogan pria yang telah mempermainkannya.


"Sebenarnya apa mau pria itu? Apa ia sengaja membuatku kesal seperti ini untuk membalas dendam pada sikapku ketika datang ke tempat kos?"


"Aaah ... buat apa aku membuang-buang energi dan tenagaku hanya untuk pria berengsek tidak penting itu." Diandra makan sambil terus meluapkan emosi karena menyadari tidak bisa melakukan itu jika nanti para staf yang lain kembali dari kantin.


"Meski sudah tidak enak karena nasi uduk kubeli dari pagi, ini jauh lebih baik daripada kelaparan dan asam lambungku kumat." Diandra terus mengunyah makanan yang dirasa tidak seenak baru demi mengganjal perutnya yang keroncongan.


Sementara itu di tempat berbeda, yaitu ruangan kerja di lantai atas, Austin kini tengah menikmati makanannya sambil terbahak begitu melihat CCTV yang menampilkan semua gerak-gerik Diandra.


"Astaga! Lucu sekali. Ia sekarang sangat kesal dan asyik mengumpatku. Pasti ia sangat malu juga karena dengan percaya diri ingin meminta makanan dan makan di meja kerjanya. Memangnya aku bodoh, apa!"


"Wanita itu memang harus ditarik ulur seperti layangan agar tidak putus. Kebanyakan wanita akan jual mahal dan berlagak jika pria selalu mengejar. Saat pria cuek, pasti wanita akan kebingungan karena terbiasa dengan perhatian."

__ADS_1


Austin tersenyum menyeringai dan ia sangat yakin jika nanti Diandra yang akan balik mengejarnya. Ia selalu mengunakan trik seperti itu untuk mendapatkan wanita yang diinginkan.


Kini, ia menghubungi asistennya agar segera datang. Beberapa saat kemudian, melihat pria dengan membawa beberapa dokumen masuk dan meletakkan di atas meja.


"Ini dokumen yang harus segera Anda tangani, Presdir. Saya sudah memeriksanya." Daffa kini menatap ke arah bosnya yang tidak biasanya makan sambil menghadap laptop.


Austin kini menunjuk ke arah kotak makan yang ada di atas meja. Itu untukmu, makanlah. Aku yakin jika kamu belum makan karena memeriksa dokumen itu."


Tentu saja melihat hal tidak biasa dari pria di hadapannya tersebut membuat Daffa merasa heran dan mengerutkan kening, tapi tetap saja mengambilnya.


"Terima kasih, Presdir. Kalau begitu, saya akan kembali ke ruangan." Daffa membungkuk hormat dan begitu melihat atasannya mengibaskan tangan, langsung melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah pintu keluar.


Sementara itu, Austin yang kini masih menatap ke arah laptop sambil mengunyah makanan, kembali tertawa begitu melihat layar menunjukkan saat Diandra bangkit berdiri dan menggebrak meja.


"Wah ... ternyata ia sangat marah atas perbuatanku yang baru saja mengerjainya. Bukankah permainan seperti ini sangat menyenangkan?"


Austin kini ingin melihat seperti apa wanita yang dianggapnya sangat susah ditaklukkan karena ini adalah pertama kali ia tertarik pada seorang pegawai di perusahaannya.


Sementara itu, Diandra sudah menghabiskan makanannya dan karena masih ada sisa waktu, ia menaruh kepala di meja kerjanya.


Bahkan ia mencoba memejamkan kedua mata dengan berkali-kali embusan napas keluar dari mulut. Seolah mewakili apa yang saat ini tengah dirasakan, berat dan sangat mengganggu pikirannya.


Ia melakukan itu karena beberapa staf lain yang sudah kembali dari kantin menatapnya dengan tatapan mengintimidasi untuk kesekian kalinya. Tentu saja ia merasa sangat risih dengan hal itu.


'Apa aku pergi meluapkan amarah pada penjahat wanita itu di ruang kerjanya? Tidak ... tidak, aku bahkan bisa bekerja di sini karenanya.'


Saat ini, Diandra mengeluh dengan mengentakkan kaki berkali-kali di lantai untuk meluapkan amarah yang memuncak.


'Anjing mengongong kafilah berlalu.'


Akhirnya ia memakai pepatah yang pernah dikatakan oleh pria itu dan kini berusaha untuk merehatkan pikirannya yang sangat kacau.

__ADS_1


Saat Diandra masih memejamkan matanya, ia merasakan sebuah tepukan di pundaknya dan mendengar suara wanita yang sangat dihafal.


"Diandra." Adelia kini menarik kursi dan duduk di dekat tempat duduk Diandra yang sudah membuka mata.


"Iya?" Diandra kini menegakkan tubuh dan menatap ke arah Adelia dengan raut wajah penasaran.


"Apa benar kalau kamu bisa bekerja di perusahaan ini melalui jalur koneksi dari presdir? Apa kamu adalah kekasih atau saudara sepupunya presdir? Bahkan tadi kamu memakai jasnya."


Adelia sebenarnya mewakili pertanyaan dari semua staf perusahaan karena tadi temannya mengatakan bahwa ia baru saja mengajari pegawai baru itu. Jadi, disuruh untuk mencari jawaban dari rasa penasaran semua pegawai perusahaan.


"Semua staf perusahaan sudah tahu jika ada pegawai baru yang memiliki hubungan dengan pemimpin perusahaan?"


Diandra yang kini merasa sangat bingung untuk menjelaskan, khawatir akan melakukan kesalahan jika salah berbicara. Ia berpikir sejenak sebelum menjawabnya.


Kemungkinan seperti ini memang sudah ia tebak, tapi tidak menyangka jika akan secepat ini tersebar.


"Aku sebenarnya adalah ...."


Diandra tidak jadi melanjutkan perkataannya begitu suara dering ponsel miliknya berbunyi. "Sebentar, aku angkat dulu telponnya. Mungkin ibuku yang menelpon."


Kemudian ia buru-buru membuka tas dan mengambil benda pipih tersebut. Namun, lagi-lagi ia merasa kesal begitu melihat yang menelpon adalah pria yang membuatnya kesal hari ini.


Sebenarnya ia tidak ingin mengangkatnya, tapi karena kebetulan mendapatkan pertanyaan dari Adelia, sehingga membuatnya sekalian ingin bertanya pada pria di seberang telpon.


"Halo."


"Gosip sudah menyebar di perusahaan. Jika ada yang bertanya apa hubunganmu denganku, jawab saja kamu adalah kekasihku. Jika kamu masih ingin bekerja di sini, turuti perintahku!"


Diandra hendak membantah untuk menolak perintah konyol itu, tapi suara sambungan telpon sudah terputus dan membuatnya merasa sangat kesal dan sialnya tidak bisa berbuat apa-apa.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2