
Pagi-pagi sekali Diandra sudah bangun dan memasak bahan-bahan yang ada di dalam kulkas karena rencananya adalah ingin membawa bekal agar tidak pergi ke kantin saat makan siang.
Ia hanya ingin fokus bekerja tanpa berniat untuk bersosialisasi dengan banyak orang di perusahaan karena rencananya adalah menutup diri.
Tanpa memperdulikan akan dikatakan sombong atau apapun oleh staf di perusahaan, Diandra hanya punya satu tujuan saat ini, yaitu ingin fokus bekerja dan membayar uang yang dipinjamkan oleh Yoshi padanya untuk biaya operasi ayahnya.
Kini, ia sudah berdiri di depan kompor dan baru menyelesaikan menu ayam kecap dan tumis kangkung.
"Biarkan dingin dulu. Baru aku masukkan ke dalam kotak bekal." Diandra menepuk jidat karena tidak tahu apakah ada kotak bekal di apartemen.
"Dasar bodoh! Memangnya Ini rumahmu? Kenapa aku tidak memeriksa terlebih dahulu tadi sebelum memasak?" Diandra mengumpat sambil membuka laci di dapur untuk mencari wadah yang akan digunakan untuk membawa bekal.
Hingga beberapa saat kemudian ia tersenyum karena menemukan kotak makanan dengan merk terkenal.
"Syukurlah ada. Nanti aku akan mengatakan pada Yoshi. Bahwa aku meminjam ini." Diandra meletakkan kotak makanan tersebut ke atas meja dan kini berjalan menuju ke arah kamar karena ingin segera membersihkan diri agar bisa berangkat lebih awal.
Tentu saja ia tidak ingin mengulangi kesalahan yang dulu di hari pertama bekerja karena terlambat dan mendapatkan tatapan penuh penghakiman dari semua orang.
Setengah jam kemudian, Diandra sudah siap dan saat ini sudah mengenakan rok di bawah lutut dengan kemeja lengan panjang berwarna putih.
__ADS_1
Saat menatap penampilannya di cermin, ia saat ini mengingat sesuatu hal yang merupakan perkataan dari pria yang sangat dibencinya ketika menyuruh untuk memakai celana panjang saat bekerja di kantor.
Diandra yang tadinya berdiri, seketika merasa tubuhnya kehilangan tenaga dan terempas ke atas kursi dengan tangan mengepal dan gemetar.
"Hilangkan ingatan tentang pria jahat itu, Diandra! Bukankah kau ingin memulai hidup baru di tempat kerja baru? Jadi, jangan pernah mengingat pria jahat sepertinya."
Diandra memang sudah membuang setelan pakaian miliknya yang dulu dikenakan ketika menemui Austin di apartemen karena tidak ingin mengingat apapun mengenai pria itu.
Namun, sekarang ia sadar bahwa meskipun sudah mencoba melupakan, tetap saja mengingat hal buruk yang meninggalkan luka menganga di dalam hatinya.
Hingga ia pun seketika tersadar dan berjangkit kaget ketika mendengar suara dering ponsel miliknya berbunyi. Refleks Diandra saat ini langsung meraih benda pipih di atas meja rias dan melihat siapa yang menghubunginya.
"Yoshi? Kenapa pagi-pagi sekali sudah menghubungi?" Diandra merasa ragu untuk mengangkat, tapi tetap saja menggeser tombol hijau ke atas dan mendengar suara bariton dari seberang telepon.
Saat Diandra hendak menolak dijemput karena kembali merasa seperti mengalami Dejavu saat dekat dengan atasan, tapi tidak bisa melakukannya karena sambungan telpon sudah terputus.
"Yoshi!" Diandra merasa percuma berteriak begitu menyadari detik panggilan sudah berakhir dan hanya bisa menatap ponsel di telapak tangannya.
"Kenapa ia harus datang menjemputku? Kenapa selalu seperti ini? Aku ingin bekerja tanpa ada bayang-bayang atasan, tapi sepertinya tidak bisa karena aku selalu diterima melalui jalan pintas.
__ADS_1
Terpaksa harus melakukan hal yang tidak sesuai dengan keinginannya, Diandra kembali mengembuskan napas kasar kala bangkit dari posisi dan mengambil tas kerja serta menuju ke arah pintu keluar.
Apartemen dengan furniture mewah yang membuatnya bisa merasakan bagaimana rasanya tinggal di tempat mewah, sebenarnya sangat nyaman ditempati.
Namun, itu tidak berlaku untuk Diandra karena ia merasa seperti burung berada di sangkar emas. Sama sekali tidak leluasa melakukan apapun karena harus selalu berhati-hati.
Hingga ia pun setiap melakukan apapun, selalu melihat terlebih dahulu dengan apapun yang ada di apartemen agar tidak merubah apapun setelah menggunakannya dan meletakkan di tempat semula.
Bahkan ia seperti dilatih untuk menjadi seorang perfeksionis saat awalnya adalah seorang wanita ceroboh. Itu dilakukannya karena tidak ingin mengecewakan pria yang telah menolongnya.
Bahkan ia yang baru saja memasukkan kotak makanan ke dalam sebuah kantong cantik yang ditemukan di laci, kini mencuci peralatan dapur terlebih dahulu sebelum pergi.
Hingga ia pun mendengar suara bel pintu yang berbunyi. "Yoshi datang? Dia tidak menunggu di bawah seperti kemarin?"
Tidak ingin membuat pria yang menjadi bosnya menunggu, Diandra buru-buru berjalan cepat untuk membuka pintu dan mengerjapkan kedua mata begitu melihat seorang wanita yang berdiri di hadapannya.
Bukan Yoshi yang tadi dipikirkannya. "Ya? Anda siapa?"
Saat Diandra baru saja menutup mulut, membulatkan mata karena merasakan kenyerian luar biasa karena rambutnya ditarik sangat kuat oleh seorang wanita yang bahkan sama sekali tidak dikenalnya.
__ADS_1
"Dasar wanita murahan!"
To be continued...