Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Mendaki puncak


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Diandra yang baru saja masuk ke dalam rumah, seketika disambut oleh beberapa orang pelayan serta orang tua dan mertuanya yang menjaga putranya.


Ia seketika berpelukan dengan semua orang karena merasa sangat lega bisa kembali ke rumah setelah merasa bosan di rumah sakit.


"Syukurlah kamu sudah diizinkan untuk pulang ke rumah, Sayang. Semoga kandunganmu kali ini akan sehat dan tidak lagi berakhir di rumah sakit karena memang tidak enak berada di sana," ucap ibu dari Austin yang saat ini baru saja melupakan pelukannya dari sang menantu.


Sementara itu, Diandra yang membenarkan perkataan dari mertuanya tersebut karena jujur saja ia lebih suka dirawat di rumah dan menghirup udara segar setiap hari daripada di ruangan yang dianggapnya seperti penjara.


"Alhamdulillah, Ma. Aku benar-benar sangat lega akhirnya bisa keluar dari rumah sakit yang serasa mencekikku setiap hari dan seperti tidak bisa bernapas dengan lega. Apalagi aku sangat merindukan putraku," ucap Diandra yang saat ini tengah menggendong putranya yang baru saja menghambur ke arahnya.


"Mama, sudah sembuh?" tanya bocah laki-laki yang saat ini memeluk erat sang ibu yang sangat dirindukan.


Diandra sebenarnya tadi dilarang oleh sang ibu untuk menggendong Aksa karena khawatir dengan keadaan janin yang saat ini dikandung. Namun, berpikir hanya menggendong satu kali saja untuk membuat putranya meluapkan perasaan karena rindu padanya, sehingga memaklumi.


"Mama sudah sembuh dan bisa menggendong jagoan Mama yang ganteng dan pintar ini." Kemudian mencium pipi gembil putranya yang selalu membuatnya gemas dan tidak pernah bisa berpaling untuk berhenti melakukannya.


"Diandra, ini untuk pertama dan terakhir kamu menggendong angsa seperti itu karena kamu mengalami kandungan yang lemah dan tidak boleh kelelahan. Ingat baik-baik kata dokter karena menyuruhmu untuk beristirahat total di rumah, kan?" Sang ibu sebenarnya ingin sekali menjewer telinga putrinya karena susah untuk dinasehati.


Namun, tidak ingin menunjukkan pada cucunya karena khawatir akan ditiru. Ia benar-benar merasa sangat khawatir akan keadaan putrinya jika sampai mengalami hal seperti di rumah sakit karena pingsan gara-gara kandungan yang lemah.


Selain itu, juga tidak ingin menunjukkan hal buruk pada anak kecil saat menjewer telinga putrinya. Ia bahkan merasa geram ketika melihat Diandra hanya menunjukkan sikapnya yang tertawa seperti menganggap jika omelannya adalah sebuah candaan.


"Iya, Bu. Peace. Aku hanya menggendong satu kali ini saja karena sangat kasihan pada putraku yang sangat merindukan mamanya yang cantik ini. Iya, kan, Sayang?" Ia bahkan terkekeh geli ketika melihat putranya langsung menganggukkan kepala dan menjawab iya dengan suaranya yang menggemaskan.


"Aaah ... putra Mama memang sangat tampan dan pintar," ucap Diandra yang saat ini mengerutkan kening karena sang suami belum kunjung kembali.


"Kenapa sangat lama sekali menelponnya? Aku padahal sudah sangat lapar dan ingin sekali menikmati makanan di rumah ini."


"Biar Mama saja yang panggil Austin agar segera kembali ke dalam," ucap sang ibu yang saat ini berniat untuk berjalan ke depan.


Refleks Diandra memegang pergelangan tangan mertuanya karena ia ingin memeriksa sendiri apa yang dilakukan oleh sang suami di luar sana hingga sangat lama.


"Mama dan ibu tunggu saja di ruang makan karena aku sebentar lagi akan ke sana bersama dengan Austin. Biar aku dan Aksa saja yang memanggilnya agar segera masuk," ucapnya yang saat ini langsung berjalan menuju ke arah pintu keluar untuk menghampiri dan memeriksa Apa yang dilakukan oleh sang suami saat tidak kunjung masuk ke dalam.


Ia merasa sangat curiga begitu melihat jika sang suami menelpon di dekat mobil. 'Apa dan siapa yang saat ini ditelepon oleh suamiku?'


Diajdra bahkan saat ini merasa sangat curiga atas perbuatan dari sang suami yang tidak melakukan panggilan telepon di dalam rumah. 'Awas saja jika sampai menelpon Leony karena aku baru saja memberikan ultimatum padanya agar tidak mengatasnamakan persahabatan dengan mendekati suamiku.'


Ia yang saat ini masih sibuk meluapkan amarah yang dirasakannya sambil menggandeng putranya dan karena tidak sabar menunggu suami segera kembali, seketika berteriak untuk memanggil.


Bahkan mengarahkan tatapan tajam pada pria yang kini baru saja mengakhiri panggilan dan melambaikan tangan padanya. Ia bahkan saat ini berpikir jika sang suami benar-benar menelpon Leony dan ia akan memberikan pelajaran jika sampai pikirannya benar.


'Aku tadi sudah memberikan pelajaran pada Leony dan sekarang tinggal suamiku. Awas saja nanti malam. Aku nggak bakal kasih jatah padanya jika nanti malam minta," kemudian Diandra yang saat ini melihat sang suami berjalan ke arahnya dengan tersenyum.


Austin yang baru saja memasukkan ponsel ke dalam saku celana, kini berjalan mendekati sang istri yang sudah berada di teras depan sambil menggandeng putranya.


"Wah ... jagoan saat ini sedang menunggu Papa, ya. Sini sama Papa karena Mama tengah sakit." Ia saat ini membuka kedua tangannya agar putranya segera menghambur memeluk erat karena jujur saja sangat khawatir ketika melihat sang istri baru saja menggendong putranya.


Refleks Aksa saat ini sudah berpindah ke dalam gendongan sang ayah dan tersenyum serta memeluknya karena merindukannya.

__ADS_1


"Papa, Mama bilang sudah sembuh."


Austin yang saat ini menatap tajam sang istri agar tidak membohongi putranya karena nanti akan meminta macam-macam dan membuat keadaannya tidak baik.


Lain kali jangan berbicara seperti itu lagi pada Aksa karena nanti dia berpikiran jika kamu benar-benar sehat dan meminta gendong setiap hari." Austin yang baru saja menutup mulut untuk menasehati sang istri, memicingkan mata karena merasa heran dengan tatapan tajam itu.


"Ada apa? sepertinya hari ini kamu sangat kesal?" tanya Austin yang tengah menatap ke arah sang istri masih sangat mencurigakan.


Sementara itu, Diandra yang tidak sabar ingin menanyakan tentang siapa yang tadi di telepon oleh Austin, tapi menahan diri karena ada putranya dan tidak ingin terlihat bertengkar sehingga menunjukkan sesuatu yang buruk di otaknya dan pasti meninggalkan kenangan yang tidak mengenakkan.


"Cepat masuk karena aku sangat lapar. Semua juga sudah menunggumu," ucap Diandra yang saat ini berjalan menuju ke arah pintu tanpa menunggu sang suami karena sangat kesal dan moodnya berubah buruk begitu melihat pria itu menelpon sangat lama.


Austin yang merasa jika mood sang istri berubah lagi menjadi buruk, seketika memijat pelipis karena benar-benar pusing menghadapinya. Ia saat ini menatap ke arah putranya yang digendong dan membuatnya langsung menciumnya karena gemas.


"Nanti saat besar, jangan meniru mamamu yang suka ngambek, ya Sayang. Aksa pasti sangat pintar seperti papa yang tidak suka ngambek," ucapnya dengan terkekeh geli ketika memuji diri sendiri dan membuatnya tidak berhenti mencium pipi gembil putranya yang sangat menggemaskan.


Hingga ia pun kini sudah berjalan masuk dan langsung mengikuti langkah kaki sang istri menuju ke ruang makan karena jujur saja Ia juga sangat lapar.


Saat memasuki ruang makan, yang sudah ada ibu dan mertuanya, Austin mendengarkan tubuhnya di tempat biasa di sebelah sang istri.


Ia saat ini masih menggendong putranya dan berniat untuk menyuapi karena ingin mengambil alih tugas sang istri yang biasa menyuapi terlebih dahulu sebelum makan.


"Biar Austin aku yang suapin hari ini, Sayang," ucap Austin yang mengerutkan kening karena melihat jika sang istri masih terus mengerucutkan bibir dan seolah kesal padanya.


"Sayang, kamu sebenarnya kenapa?"


"Kenapa? Aku tidak apa-apa?" di anda hanya menjawab singkat dan meminta piring untuk diisi nasi karena sang ibu tengah bergerak untuk mengisi semuanya.


Namun, ia raut wajah sang istri masih terlihat masam dan membuatnya berpikir ada sesuatu yang dipikirkan. Ia sebenarnya ingin bertanya di depan mertua dan ibunya, tapi berpikir jika sang istri akan merasa tidak nyaman karena seperti diinterogasi, sehingga tidak melakukannya.


Apalagi ia mengingat saat wanita di hadapannya tersebut merasa kesal disudutkan oleh orang tua dan mertua, sehingga marah padanya. 'Sebenarnya apa yang salah dengan istriku hari ini? Kenapa mood-nya selalu berubah buruk dan selalu aku yang menjadi sasarannya.'


Saat Austin baru saja bergumam sendiri di dalam hati untuk mengeluh, mendengar suara dari sang mertua yang baru saja memberikan piring untuknya.


"Biar Ibu yang menyuapi Aksa karena masih belum lapar. Kalian makan saja dulu," ucapnya yang saat ini mengambilkan makanan untuk cucunya dan langsung menggendongnya setelah mengambil dari sang.


"Aksa makan sama nenek, ya." Ia selama ini merasa sangat senang merawat cucunya yang tidak pernah menyusahkannya ataupun rewel seperti anak kecil lainnya yang mengalami tantrum jika apapun tidak dituruti.


Ia bahkan saat ini sudah menyiapkan makanan ke dalam mulut cucunya yang langsung terbuka dan mudah untuk makan.


Itulah mengapa banyak yang menyukai cucunya karena sangat patuh dan mengerti.


Diandra sebenarnya tadi merasa sangat lapar karena perutnya keroncongan pulang dari rumah sakit, tapi tiba-tiba moodnya berubah buruk dan tidak berselera makan, sehingga saat ini hanya makan separuh saja dan menyisakannya.


"Aku sudah kenyang," ucapnya yang saat ini mengambil air minum dan meneguknya hingga tersisa separuh.


Tidak hanya itu karena sekarang menyodorkan piring yang masih ada sisa nasi serta lauk pada sang suami. "Sayang jika tidak dihabiskan. Kamu habiskan makanannya."


Diandra tadinya berpikir jika sang suami akan kesal padanya, tapi yang terjadi malah sebaliknya karena makanannya kini sudah dicampurkan ke piring pria itu.

__ADS_1


'Harusnya dia marah karena aku menyuruhnya menghabiskan makanan. Kenapa malah diam saja dan menikmati makanannya? Menyebalkan sekali,' sarkas Diandra yang kini melihat mertuanya menikmati makanan dengan keheningan.


Sementara sang ibu sudah sibuk mengobrol dengan putranya ketika disuapi. Ia saat ini bangkit berdiri dari kursi karena ingin segera ke kamar.


"Ma, Bu, aku ke kamar dulu untuk mengganti pakaian," ucapnya yang saat ini tanpa menoleh ke arah sang suami yang sudah tidak lagi mengomel padanya.


Ia berharap sang suami mau mengejarnya setelah makan karena ia akan bermalas-malasan di kamar.


Saat memasuki lift yang menuju ke lantai atas, ia saat ini melihat sang suami juga ikut masuk ke dalam bersamanya dan membuatnya merasa senang. Namun, ia masih bersikap sinis dan tidak menunjukkan pada pria itu.


Kini, hanya ada keheningan yang tercipta di antara mereka. Seolah keduanya sama-sama tengah sibuk dengan pemikirannya masing-masing.


Austin emang sengaja tidak berbicara karena ingin menunggu wanita itu membuka pembicaraan terlebih dahulu karena takut melakukan kesalahan dan dianggap sebagai biang masalah oleh sang ibu.


Apalagi semenjak sang istri hamil, iya selalu dimarahi jika Diandra kesal padanya.


Saat pintu lift terbuka dan keduanya keluar dari ruangan kotak besi tersebut, langsung menuju ke kamar, kini Diandra sudah membuka pintu.


Ia langsung masuk ke dalam dan diikuti oleh sang suami yang tiba-tiba langsung mengunci pintunya dan membuatnya mengerutkan kening saat menoleh ke belakang.


"Kenapa mengunci pintunya? Kenapa juga mengikutiku masuk ke dalam kamar? Bukannya kamu tadi makan dan belum habis? Cepat kembali sana dan habiskan makanannya! Nanti dimarahi mama karena ibuku tidak mungkin memarahimu karena sangat menyayangimu daripada putrinya sendiri."


Ia sengaja menyindir Austin karena memang pada faktanya pria itu merupakan menantu idaman dan kesayangan, sehingga sampai melupakan putri kandung sendiri.


Merasa sangat iri saat kasih sayang yang diberikan oleh orang tuanya pada Austin, tapi di sisi lain juga ikut merasa senang karena dia itu bisa mengambil hati orang tuanya.


Sementara itu, Austin yang tadi tidak tahan melihat raut wajah masam sang istri, sehingga langsung berpamitan pada sang ibu dan juga mertuanya untuk menyelesaikan masalah.


Ia tidak ingin ada yang mendengar perdebatan mereka karena berpikir jika meja makan bukanlah tempat untuk ribut, sehingga dari tadi sama sekali tidak berkomentar dan membiarkan Diandra berbuat sesuka hati.


"Aku ingin menyelesaikan masalah yang terjadi di antara kita. Sebenarnya Apa yang terjadi padamu, Sayang? Kenapa wajahmu sangat masam seperti ini? Padahal tadi sangat bersemangat dan bahagia ketika tiba di rumah?" Austin bahkan saat ini berjalan mendekat dan memeluk erat tubuh sang istri dari belakang.


Ia bahkan sudah menaruh dagunya di pundak wanita yang masih belum membuka suara tersebut. Hingga merasa geram ketika menunggu beberapa saat masih tidak ada suara.


"Sayangku?"


Diandra masih merasa kesal dan belum menjawab apapun yang ditanyakan. Hingga ia kembali mendengar suara bariton sang suami.


"Istriku?"


"Ibu dari anak-anakku?"


"Cinta sejatiku?"


Bahkan saat ini Austin sudah menyebutkan semua ungkapan sayang pada sang istri, tapi tak kunjung mendapatkan balasan dan tentu saja membuatnya kesal.


Refleks ia melepaskan pelukannya dan saat ini berjalan ke depan hingga saling berhadapan dengan sosok wanita yang menampilkan raut wajah masam dan masih sama, yaitu bibir mengerucut.


"Aaah ... kelamaan!" sarkas Austin yang langsung menghambur memeluk serta mencium bibir sensual wanita yang dianggapnya memiliki mood yang buruk semenjak hamil.

__ADS_1


Ia berpikir masalahnya hanya bisa diselesaikan di atas ranjang dengan berbagi peluh bersama untuk mendaki puncak kenikmatan yang sudah lama tidak mereka gapai.


To be continued....


__ADS_2