
"Wanita yang mana? Ada banyak pegawai wanita yang masuk ke dalam lift tadi. Lagipula aku mana mungkin hafal dengan nama-nama mereka," sahut Austin yang kini mendorong kursi roda Diandra setelah pintu lift terbuka begitu tiba di pantai paling atas perusahaan.
Di mana ruangan kerja mereka berada dan tentu saja berakting seperti tidak mengenal para staf wanita yang tadi terlihat. Padahal sangat hafal dengan seseorang yang ditanyakan oleh Diandra.
'Ternyata meskipun kamu mengalami amnesia disosiatif, tidak menghilangkan kedekatan secara emosional dengan Adelia,' gumam Austin yang saat ini sudah membuka ruangan kerja.
Diandra merasa sangat aneh dengan pertanyaan yang diajukan pada sang kekasih, tapi tetap saja tidak bisa menyembunyikan apa yang dirasakan beberapa saat lalu begitu menatap sosok wanita yang membuatnya seperti memiliki kedekatan.
Namun, perhatian teralihkan begitu memasuki ruangan kerja yang sangat berbeda seperti terakhir kali dikunjungi.
"Ternyata kamu sudah merubah ruangan kerjamu. Aku bahkan masih mengingat seperti apa tempat ini saat kamu menyeretku masuk ketika pertama kali tiba di perusahaan."
Austin kembali mengingat pertemuan pertama dengan Diandra tiga tahun lalu.
Kemudian ia terkekeh geli untuk mengimbangi pemikiran dari sosok wanita di hadapannya tersebut.
"Kamu benar. Aku ingin mengubah suasana dengan sesuatu yang lebih berwarna dan berbeda ketika kita bekerja bersama seperti ini. Apa Kamu suka dengan meja kerjamu?" Menoleh ke arah sudut kiri ruangan dan beralih menatap Diandra yang mengikuti arah pandangannya.
"Tentu saja aku suka. Apalagi aku adalah seorang wanita paling beruntung karena bisa bekerja bersama CEO perusahaan sekaligus calon suamiku." Diandra saat ini mengarahkan kursi roda untuk mendekati meja kerja.
Bahkan sudah menggerakkan telapak tangan di atas meja kaca dengan semua perlengkapan untuk pekerjaan. Seolah saat ini ingin memanjakan mata untuk melihat semua keberuntungan yang didapatkan ketika keadaannya berubah menjadi wanita cacat.
Kemudian beralih menatap ke arah sosok pria yang berdiri menjulang tak jauh dari tempatnya. "Terima kasih atas semuanya, Austin."
Jika dulu Austin sangat suka ketika Diandra tidak bersikap formal padanya dengan hanya memanggil nama saja, tapi jarang dilakukan oleh wanita yang sangat dicintainya tersebut. Itu semua karena selalu memanggilnya dengan presdir.
Namun, kali ini perasaannya tidak seperti dulu yang merasa senang ketika hanya dipanggil nama saja karena status hubungan mereka bukan lagi seorang bos dan pekerja saja. Austin melangkahkan kaki panjangnya mendekati sosok wanita yang masih menatap intens tersebut.
"Kenapa aku merasa ada yang kurang?"
Diandra yang merasa tidak paham dengan apa yang dimaksud oleh Austin, kini memicingkan mata. "Apa yang kurang?"
"Aku tidak suka kamu memanggilku seperti kita bukan sepasang kekasih yang bahkan sebentar lagi akan menikah. Apa aku tidak bisa mendapatkan panggilan sayang darimu?" Austin yang saat ini berdiri menjulang di hadapan Diandra, kini sedikit membungkuk untuk menyamakan posisi.
Kedua tangannya sudah berada pada lengan wanita di atas kursi roda tersebut. Bahkan posisi wajah yang berdekatan, hanya berjarak beberapa senti saja.
__ADS_1
"Bukankah aku tidak pernah memanggil namamu semenjak menyatakan perasaanku?"
Diandra bahkan sama sekali tidak berkedip ketika bersitatap dengan iris tajam berkilat tersebut. "Aku belum pernah menjalin kasih dengan seorang pria. Jadi, tidak tahu bagaimana bersikap pada pasangan."
"Apalagi merasa bingung dan seperti aneh memanggil dengan panggilan sayang. Memangnya kamu ingin aku memanggil apa? Sayang, Pangeran atau yang lain?"
Austin sudah menduga jika Diandra akan menjawab seperti itu karena mengetahui jika mendapatkan hati wanita di hadapannya tersebut sangat susah dari dulu.
Hingga lama-kelamaan perasaan itu berubah menjadi cinta luar biasa dan hanya menginginkan wanita itu.
Tanpa berniat untuk menanggapi pertanyaan wanita yang sebentar lagi akan dinikahi dan resmi menjadi istrinya, ia kini semakin mengikis jarak di antara mereka dengan melabuhkan bibirnya.
Ia menunggu respon Diandra. Apakah menolak dengan menjauhkan wajah atau diam saja.
Sementara itu, Diandra beberapa saat lalu mengerti apa yang akan dilakukan oleh Austin, menelan kasar saliva berkali-kali dengan degup jantung tidak beraturan.
Begitu bibir tebal pria yang semalam melamarnya tersebut sudah menyatu dengan bibirnya, ia memilih untuk memejamkan mata karena benar-benar sangat malu jika harus bersitatap dengan iris tajam berkilat tersebut ketika melakukan perbuatan intim.
'Austin menciumku. Apakah aku harus membalas atau diam saja?' gumam Diandra yang masih belum merasakan sebuah pergerakan dari Austin.
Merasa di atas angin karena respon Diandra memilih memejamkan mata dan sama sekali tidak menolak, tentu saja tidak disia-siakan olehnya saat ini.
Awalnya, ia menyesap dengan lembut bibir sensual yang sudah lama menjadi candu dan membuatnya merindukan.
Karena terakhir kali mencium sangat brutal ketika merenggut kesucian Diandra dulu ketika membelinya.
Namun, menyadari jika itu semua karena salahnya, sehingga semakin merasa sangat berdosa begitu Diandra menghilang tanpa jejak.
Kini, ia menyesap dan ******* dengan sangat lembut, seperti menganggap jika wanita yang sangat dicintai tersebut harus diperlakukan dengan sangat berhati-hati. Seolah Diandra adalah sebuah barang berharga.
'Maafkan aku atas semua kesalahan yang kuperbuat dulu, Sayang. Sekarang aku akan menebusnya dan berjanji tidak akan pernah mengulangi kesalahan dengan menyakitimu,' gumam Austin yang saat ini melepaskan pagutan dan membersihkan bekas ciuman dari bibir sensual itu.
"Sayang, maafkan aku karena menciummu tanpa izin." Austin yang kini menatap intens wajah cantik di hadapan yang sebenarnya sanggup menjungkirbalikkan perasaan dan juga hasrat yang bangkit ketika menyatukan bibir.
Sementara itu, Diandra yang sama sekali tidak membuka suara karena masih bingung harus menanggapi seperti apa. Namun, satu hal yang pasti saat ini dirasakan olehnya, bahwa ketika merasakan ciuman sangat lembut dari pria yang sudah menjadi calon suaminya tersebut.
__ADS_1
Merasa sangat bahagia karena seperti menjadi seorang wanita paling beruntung di dunia saat mendapatkan sosok pria seperti Austin, kini ia memilih untuk tidak mengatakan apapun.
Namun, menunjukkan perasaan melalui sebuah perbuatan. Refleks Diandra kini membalik keadaan dengan mencium bibir tebal sedikit kehitaman tersebut karena mengetahui bahwa itu adalah ciri khas pria perokok.
'Aku mencintaimu,' gumam Diandra yang saat ini berusaha untuk mencium bibir tebal pria yang membuat perasaan dipenuhi oleh kebahagiaan.
Namun, menyadari bahwa ia hanyalah seorang amatir tidak berpengalaman. Berharap Austin membalasnya, tapi tidak seperti yang diinginkan, sehingga beberapa saat kemudian memilih untuk melepaskan ciuman.
Hingga ia mengerjapkan mata begitu merasakan jika Austin yang seolah mengerti, tidak mau mengakhiri dan merasakan sensasi kenikmatan yang dikirimkan oleh pria itu ketika mulai agresif menciumnya.
'Aku tidak akan pernah menyia-nyiakan momen langka seperti ini saat kamu menciumku, Sayang,' gumam Austin di dalam hati.
Awalnya tadi ia yang sangat terkejut dengan ciuman tiba-tiba dari Diandra, sehingga membiarkan, tetapi karena merasa jika perbuatan intim Diandra sangat kaku, sehingga memilih untuk mengambil kendali.
Tentu saja hasrat kelelakian yang beberapa saat lalu bangkit karena mencium Diandra, kini seolah semakin berkobar dan membuat tubuhnya memanas.
Dengan gerakan sangat ahli, Austin mulai menyesap dan ******* bibir Diandra. Bahkan menggigit bibir bawah agar mau terbuka, sehingga ia bisa mengeksplore rongga dalam dan berharap bisa saling membelit.
Sementara itu, Diandra yang merasa sulit mengimbangi ciuman Austin, kini melingkarkan kedua tangan ketika merasakan sebuah pergerakan.
'Apa yang dilakukannya?' gumam Diandra yang hampir menggeram ketika tubuhnya diangkat dari kursi roda, sehingga semakin kuat berpegangan pada pinggang kokoh pria yang bahkan tidak melepaskan kuasa.
Austin merasa sangat pegal bagian leher karena harus menunduk terus ketika mencium seorang wanita yang duduk di atas kursi roda tersebut, sehingga langsung berinisiatif untuk memindahkan tubuh Diandra ke atas meja.
Berpikir jika Diandra duduk di meja, tidak akan merasa pegal bagian leher ketika mencium. Seolah tidak rela melepaskan bibir sensual yang dianggap sangat manis tersebut.
'Aku mungkin tidak bisa melepaskan bibirmu mulai hari ini, Sayang karena kamu sudah berani memancingku,' gumam Austin yang kini berbicara sendiri di dalam hati.
Austin yang kini semakin bertambah bergairah ketika ciuman semakin memanas karena kali ini Diandra menunjukkan respon luar biasa ketika berani membelit lidah.
Bahkan ia semakin berani dengan meraba salah satu benda padat yang membusung di hadapannya dan meremasnya. Hingga mendengar suara desisan seksi dari wanita yang sangat dicintai.
Namun, ketika hendak meloloskan beberapa kancing kemeja Diandra agar bisa secara langsung menggunakan tangan, mendengar suara pintu diketuk dari luar dan beberapa detik kemudian terbuka, seketika merasakan dorongan dari Diandra saat suara bernada terkejut terdengar.
"Astaga!"
__ADS_1
To be continued...