
Diandra tiba di daerah puncak siang hari dan ia langsung menuju ke penginapan karena memang malam ini berencana untuk menenangkan pikiran di tempat yang indah serta nyaman dengan menghabiskan waktu bekerja di area kebun teh yang jauh dari pusat keramaian kota.
Ia seseorang yang merupakan ayah dari teman sopir taksi itu karena berpikir hatinya yang tengah galau karena pria yang dicintai sudah menjadi suami orang lain dan tidak boleh diharapkan lagi.
Diandra memilih naik taksi karena membawa koper besar dan setelah menempuh perjalanan selama setengah jam, kini turun dari taksi dan langsung berjalan menuju ke arah resepsionis untuk booking kamar.
Tentu saja ia memilih kamar yang paling murah karena tidak ingin membuang-buang uang. Apalagi sadar harus menghemat pengeluaran agar bisa memenuhi kebutuhan hidup selama satu bulan ke depan.
"Mari saya antarkan ke kamar, Nona." Seorang pria yang merupakan pegawai hotel, membantu membawakan koper milik pengunjung menuju ke ruangan yang akan ditempati.
Diandra yang saat ini merasa lelah setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Ia ingin beristirahat terlebih dulu dan berencana untuk berkeliling area sekitar hotel saat sore hari dan sudah dipastikan tidak lagi ada sinar matahari yang menyengat kulitnya.
Ia berjalan mengekor pria berseragam hitam tersebut dan beberapa saat kemudian berhenti di salah satu ruangan.
"Ini kamarnya, Nona. Jika membutuhkan sesuatu, menelepon." Kemudian meletakkan koper di depan pintu karena tidak mungkin membawa masuk ke dalam demi menjaga privasi seseorang tamu.
"Terima kasih." Diandra mengeluarkan uang sebagai tips dan memberikan pada pegawai tersebut.
Pegawai tersebut seketika menerima tips dari tamu hotel. "Terima kasih, Nona." Kemudian berlalu pergi setelah wanita tersebut menganggukkan kepala.
Diandra langsung membuka pintu dan berjalan masuk sambil membawa koper miliknya. Ia membersihkan diri di kamar mandi sebelum merebahkan tubuhnya di atas ranjang berukuran sedang yang ada di sudut kiri ruangan.
Hingga beberapa saat kemudian, ia sudah selesai dengan ritualnya dan langsung mengganti pakaian dengan yang lebih santai karena ingin beristirahat sejenak untuk menenangkan pikiran serta hatinya yang porak-poranda.
Apalagi semalaman ia tidak bisa tidur dan matanya sudah terasa sangat pedas. Bahkan saat menatap pantulan wajahnya di depan cermin, melihat bola matanya sudah memerah yang menandakan lelah karena efek kurang tidur.
Ia pun berjalan menuju ke arah ranjang dan merubahkan tubuhnya sambil menatap ke arah langit-langit kamar. Ini adalah pertama kali ia menginap di sebuah penginapan tempat wisata dan membuatnya merasa seperti orang kaya baru saja.
"Padahal aku tidak mungkin menghabiskan uang hanya untuk membayar penginapan yang harganya cukup mahal karena menguras kantong, tapi karena memakai uang si berengsek itu yang ada di rekeningku, menyayangkan uangnya."
Diandra saat ini terdiam karena mengingat Austin yang semalam memberitahunya tentang pernikahan Yoshi dan membuatnya patah hati.
"Aku yakin jika ia sudah tahu aku pergi dari apartemen. Apalagi aku sudah mengganti nomor dan pastinya ia tidak bisa lagi mengganggu hidupku." Diandra terdiam ketika mengingat sosok pria lain yang sangat dicintai dan tidak boleh dipikirkan.
"Apakah Yoshi sudah membaca surat dariku? Apakah ia akan menuruti permintaanku agar membahagiakan istrinya? Ataukah ia menyiksa diri karena tidak bisa melakukannya saat mengingatku?" Diandra sebenarnya tahu bahwa Yoshi sangat mencintainya, sadar bahwa takdir tidak berpihak pada cinta mereka.
Bahwa ia ditakdirkan untuk hidup menderita tanpa bisa bersatu dengan pria baik seperti Yoshi yang sangat dicintainya. "Aku sangat mencintainya, aku segera membuang rasa ini dan melupakannya."
"Aku berharap waktu bisa mengobati lukaku dengan melupakan pria yang tidak ditakdirkan untukku. Lalu, siapa tulang rusukku? Apakah Aku ditakdirkan untuk hidup menderita?" Diandra masih telentang di atas ranjang dan ia yang tadinya ingin memejamkan mata beberapa saat untuk beristirahat, tidak bisa melakukannya karena saat ini pikirannya sedang kacau.
"Saat aku merasa yakin pada sosok pria baik seperti Yoshi, tapi pada faktanya kenyataan tak seindah ekspektasi yang kurancang sangat tinggi. Aku bahkan sudah sangat merindukannya." Kini, kurir kesedihan lolos dari iris kecoklatan itu.
Diandra tidak bisa menahan lagi kesedihan yang membuncah di dalam hati, sehingga seketika menangis tersedu-sedu di dalam ruangan kamar yang sangat sunyi.
Keheningan yang awalnya memenuhi ruangan, kini berganti dengan isak tangis menyayat hati dari dari sosok wanita yang berubah meringkuk di atas ranjang.
__ADS_1
"Yoshi, aku sangat merindukanmu. Seharusnya rasa ini tidak boleh kurasakan karena ada seorang wanita yang lebih berhak untuk mendapatkan cintamu. Lupakan dia, Diandra! Jangan bersikap lemah seperti ini. Semua yang terjadi padamu sudah diatur oleh Tuhan."
Diandra kini membiarkan wajahnya berurai air mata dan sudah bisa menebak jika saat ini sembab. Ia memilih untuk menghabiskan waktu menangis seharian agar perasaannya lebih tenang karena tidak ingin menahan diri.
Hingga lama kelamaan karena kelelahan, ia tertidur dengan posisi meringkuk seperti bayi dan ranjang basah air mata yang bercucuran.
Suasana ruangan kamar yang tadinya dipenuhi oleh isak tangis menyayat hati dari Diandra, kini kembali hening. Hanya ada embusan napas teratur dari Diandra yang menandakan jika saat ini sudah larut dalam alam bawah sadar.
Hingga beberapa jam telah berlalu dan sinar matahari lama-kelamaan mulai redup saat sore hari dan sebentar lagi akan tenggelam dan digantikan oleh cahaya rembulan serta bintang-bintang yang menghiasi langit ketika malam menjelang.
Bahkan saat ini Diandra belum kunjung bangun ketika hari sudah semakin gelap. Hingga saat pukul 6 petang, sebuah pergerakan terlihat dari atas ranjang.
Diandra menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka mata karena merasa kondisinya tidak baik-baik saja. Ia bahkan langsung memeriksa keningnya yang terasa panas begitu membuka mata.
"Aku demam." Diandra memijat pelipis karena merasa sangat pusing.
Ia menatap ke arah tas di atas nakas yang ada di sebelah ranjang dan bergerak untuk membuka tas selempang miliknya. Kemudian mencari sesuatu dan merasa lega begitu menemukanmu.
"Aku sudah menduga ini akan terjadi padaku. Aku benar-benar sangat lemah jika banyak pikiran, sehingga selalu demam. Nasib baik aku membawa obat." Kemudian ia langsung membuka kemasan obat dan meminumnya.
Baru ia sadar jika saat ini di luar sudah gelap. "Bahkan aku tidur terlalu lama, sampai tidak sadar jika hari sudah gelap."
Diandra menepuk jidat saat menyadari kesalahan yang dilakukan. "Aku bahkan belum makan dari siang tadi, tapi malah minum obat. Semoga tidak terjadi sesuatu pada lambungku. Aku harus makan nasi, karena kalau tidak, akan berakhir terkena asam lambung."
"Aku makan enak hari ini. Siapa tahu bisa melupakan semua masalah yang membuatku berakhir sakit seperti ini." Diandra bahkan tadi memesan makanan paling enak tanpa memperdulikan harganya.
Apalagi berpikir bahwa uang milik Austin masih banyak dan bisa dihambur-hamburkan olehnya. "Anggap saja ini adalah pembalasanku pada si berengsek itu."
Kemudian ia kembali menuju ke arah ranjang dan mengambil ponsel karena berencana untuk menghubungi orang yang merupakan ayah dari teman sang supir taksi.
"Mungkin orang itu sudah santai di rumah saat ini. Kira-kira bagaimana aku memulainya? Aku benar-benar gugup mengatakan niatku." Saat Diandra masih sibuk merancang kata-kata yang paling tepat untuk disampaikan, berjenggit kaget ketika suara dari ponselnya berbunyi.
Refleks ia menatap ke arah ponsel yang berada di dalam genggamannya. "Aku sudah bisa menebak jika dialah yang menelpon karena sama sekali tidak ada yang tahu nomor baruku ini selain dirinya."
Karena berpikir ada yang ingin disampaikan oleh pria yang merupakan sopir taksi itu, Diandra saat ini langsung menggeser tombol hijau ke atas setelah mengucapkan salam.
"Halo."
"Apa aku mengganggumu, Diandra?" tanya pria yang tak lain adalah Cakra untuk memulai pembicaraan meski perasaannya sangat gugup karena takut jika Diandra marah ia menelpon.
"Tidak. Kebetulan aku sebenarnya hendak menelpon ayah dari temanmu untuk menanyakan Apakah ada lowongan pekerjaan untuk bekerja di kebun teh." Diandra berniat untuk meminta tolong pada Cakra akan menghubungkan dengan orang tua temannya.
Namun, belum sempat ia mengungkapkannya, sudut bibirnya seketika melengkung ke atas begitu mendengar perkataan dari pria yang berprofesi sebagai sopir taksi tersebut.
"Kebetulan sebelum aku menelponmu, sudah menghubungi temanku dan berbicara dengan ibunya. Katanya ada lowongan untuk wanita memetik teh. Jadi, jika kamu setuju, bisa langsung datang ke lokasi perkebunan teh. Aku akan mengirimkan lokasinya."
__ADS_1
Cakra sengaja mendahului Diandra untuk bertanya pada orang tua agar bisa lebih akrab dengan wanita yang membuatnya tertarik, tapi selalu menutup diri dan tidak mudah untuk didekati, memilih untuk melakukan effort yang lebih.
Berharap Diandra bisa mengerti dan tidak terlalu menutup diri. Ia juga berharap Diandra mau membuka diri agar bisa lebih akrab dengannya.
Di sisi lain, Diandra seketika merasa lega karena berpikir tidak akan hidup lontang-lantung di puncak karena sudah mendapatkan pekerjaan.
"Alhamdulillah. Kalau begitu besok aku akan datang ke sana. Akan lebih baik bisa langsung bekerja karena jika terus menerus menganggur dan tidak ada pemasukan, bisa-bisa aku makan batu di sini." Diandra kini menatap ke arah koper miliknya yang berisi semua pakaian dan beberapa barang-barang.
"Iya, itu adalah rezekimu, Diandra. Tuhan sepertinya memberikan jalan yang mudah untukmu mencari rezeki. Jadi, jangan terus larut dalam kesedihan karena akan ada kebahagiaan lain dari luka yang kamu rasakan." Cakra bahkan berpikir jika ia terlalu sok bijak ketika menasihati Diandra.
Namun, berpikir jika itu adalah sebuah penghiburan agar wanita di seberang telepon tidak berlarut-larut dalam kesedihan ketika memikirkan masalah yang dialami.
Berharap wanita yang membuatnya ingin lebih dekat itu kembali dan tidak terus-menerus bersedih entah karena masalah apapun.
"Aku tidak mungkin bisa bekerja jika tanpa bantuanmu. Sekali lagi terima kasih. Oh ya, di sana ada mess untuk para pekerja, bukan? Jadi, aku akan sekalian membawa koper milikku saat berangkat ke sana." Diandra kini benar-benar lega karena sudah mendapatkan pekerjaan tanpa harus bersusah payah.
Apalagi ia tadi merasa gugup jika harus menghubungi orang yang tidak dikenal dan tiba-tiba meminta atau bertanya masalah pekerjaan.
Ia benar-benar sangat bersyukur karena saat kabur dari kenyataan yang menyakitkan dan ingin memulai lembaran baru dalam kehidupannya, selalu bertemu dengan orang baik yang menolongnya.
'Aku memang selalu bertemu dengan orang baik yang berakhir menolongku, tapi aku tidak ingin jatuh ke lubang yang sama, yaitu jatuh cinta pada pria yang berusaha untuk mendekat dan baik padaku.'
'Cukup Yoshi saja yang bertahta di hatiku karena ia tidak akan pernah tergantikan oleh pria manapun di dunia ini,' gumam Diandra yang saat ini membulatkan mata begitu mendengar apa yang baru saja diungkapkan oleh Cakra.
"Jangan sungkan padaku karena kita adalah teman. Oh ya, aku memutuskan untuk kembali ke puncak dan bekerja di sana. Setelah aku pikir-pikir, bekerja di Jakarta tidak membuatku punya simpanan karena biaya hidup di sana juga besar."
Cakra merasa sangat malas berada di Jakarta begitu bertemu dengan sosok wanita yang menarik hatinya. Jadi, setelah mengantarkan Diandra tadi, memilih untuk kembali ke puncak dan tidak meneruskan pekerjaan sebagai supir taksi.
Bahkan ia tadi sudah mengungkapkan pada orang tua temannya untuk bisa bekerja sebagai supir di perkebunan teh karena memang kebetulan ada lowongan. Dengan begitu, bisa bertemu setiap hari dengan wanita yang membuatnya tertarik pada pandangan pertama.
"Apa kamu sengaja melakukan itu agar bisa dekat denganku? Bukankah sudah kubilang aku tidak ingin membuka hati pada pria manapun di dunia ini." Diandra tiba-tiba merasa kesal karena pria itu malah sengaja mendekatinya.
Ia benar-benar takut berdekatan dengan para pria yang diketahui selalu memiliki berjuta cara untuk bisa melakukan apapun agar bisa mendapatkan wanita yang diincar. Bahkan ia takut jika kejadian yang menimpanya terulang kembali.
'Aku sangat takut jika seorang pria akan nekat melakukan apapun demi bisa mendapatkan wanita yang diinginkan. Jika sampai Cakra nekat berbuat macam-macam padaku demi bisa memiliki aku, hidupku akan hancur untuk kesekian kalinya.'
Diandra saat ini benar-benar terasa bingung harus melakukan apa. Ia merasa ragu untuk menerima kebaikan pria yang jelas-jelas menunjukkan sebuah ketertarikan padanya.
'Apa aku tolak saja kebaikannya dan membatalkan niatku untuk bekerja di sana? Kira-kira apakah ada lowongan lain di dekat sini selain bekerja di kebun teh itu?' Diandra benar-benar bimbang apa yang harus dilakukan dan saat mendengar suara bariton dari seberang telepon, membuatnya merasa seperti menjadi seorang wanita yang tidak tahu balas budi.
"Ya, aku memang sengaja melakukan itu, tidak akan pernah memaksamu menerimaku. Kamu tidak perlu melakukan apapun atau membalas perhatianku. Jadi, anggap saja aku adalah orang lain dan bersikaplah seperti biasa." Terdiam sejenak karena ingin wanita di seberang telepon tidak salah paham padanya.
"Bukankah aku tulus membantumu? Jadi, jangan berpikir bahwa aku meminta balas budi darimu. Fokus saja pada tujuanmu untuk bekerja tanpa memikirkan ada aku di sekelilingmu karena aku tidak akan berbuat macam-macam padamu." Cakra yang tidak ingin ada kesalahan, memilih untuk mengakhiri panggilan setelah mengucapkan salam perpisahan.
To be continued...
__ADS_1