
Diandra saat ini sudah berada di dalam mobil yang melaju menuju ke arah salah satu wahana yang menjadi tempat wisata paling sering dikunjungi oleh orang-orang.
Setelah tadi membicarakan ingin pergi ke mana, Yoshi menyarankan untuk pergi ke Dunia Fantasi Ancol.
Apalagi ia sering ke sana dulu untuk menemani Naura yang suka naik banyak wahana di di sana, seperti Istana Boneka, Bianglala, Turangga-Rangga, Gajah Beledug, Alap-Alap, Arung Jeram, Halilintar, Niagara Gara, Zig-Zag, Ontang-Anting, Kora-Kora, Hysteria dan
Tornado.
Bahkan ia dan sepupunya bisa menghabiskan waktu seharian seolah tidak cukup jika sampai mencoba semua wahana yang ada di sana.
Dunia Fantasi Ancol merupakan sebuah theme park terbaik yang melegenda dan sudah dikenal oleh seluruh warga Indonesia. Wahana-wahana yang ada pun tidak banyak yang berubah, hanya terdapat beberapa tambahan wahana baru yang lebih modern.
Setelah menempuh perjalanan selama lebih dari setengah jam, Yoshi kini mengemudikan mobil dengan menuju gerbang di bagian barat. Ia dari tadi berada di depan untuk menjadi petunjuk jalan untuk sahabatnya.
Tadi sebelum pergi, ia sudah terlebih dahulu memesan Tiket masuk Dufan Jakarta. Karena saat ini hanya dapat dilakukan dengan menggunakan registrasi online serta melakukan reservasi terlebih dahulu melalui website resminya Dunia Fantasi.
Apalagi saat ini tidak melayani pembelian tiket secara langsung. Karena tidak ingin antri, Yoshi membayar lebih mahal dan mendapatkan jalur eksklusif tanpa harus berdesakan ketika hendak menaiki wahana-wahana yang ada di sana.
"Nanti kamu bisa naik semua wahana di sana untuk menghilangkan stres yang kamu rasakan, Diandra. Selama di sini, kamu harus membersihkan pikiranmu dari banyak beban atau masalah yang dihadapi. Kita di sini untuk bersenang-senang, oke!"
Yoshi yang baru memarkirkan mobil di tempat khusus, kini melihat ke arah Diandra yang tengah melepaskan seat belt. Ia hari ini ingin Diandra tidak merasa seperti wanita yang sama sekali tidak punya masalah apapun dan fokus bersenang-senang.
Ia berharap wanita itu bisa melupakan semua kesedihan yang dirasakan untuk sementara waktu. Berharap dengan begitu bisa sedikit menghibur.
"Baiklah. Aku pasti akan bersenang-senang. Apalagi kamu sudah mentraktirku dengan mengeluarkan banyak uang, pasti akan kumanfaatkan. Sayang kalau tidak dinikmati." Diandra yang berbicara sambil fokus melepaskan sabuk pengaman, kini merasa kesusahan.
Entah apakah ia yang tidak bisa atau memang seat belt itu macet, tidak paham. Ia pun menatap ke arah sosok pria di balik kemudi yang juga mengerutkan kening melihatnya.
"Ini kenapa susah sekali? Apa aku yang tidak bisa melepasnya? Perasaan tadi gampang," ucap Diandra yang merasa kebingungan karena tetap saja tidak bisa melepaskan sabuk pengaman dari tubuhnya.
Tentu saja ia ingin meminta bantuan pada pemilik mobil yang pastinya sangat tahu dengan apa yang terjadi dan melihat Yoshi bergerak mendekat dan membantunya.
"Sebentar! Mungkin ada yang tersangkut, sehingga macet." Yoshi kini bergerak mendekat dan langsung membantu untuk melepaskan sabuk pengaman dari tubuh Diandra.
Ia fokus pada sabuk pengaman itu agar bisa segera dilepas, sedangkan Diandra segera menyandarkan tubuhnya agar tidak berada sangat dekat dengan Yoshi.
__ADS_1
Bahkan ia merasa posisi mereka sangat intim dan membuatnya menelan kasar saliva berkali-kali karena gugup. Mungkin jika pria lain yang melakukan itu, pasti akan berpikir macam-macam. Bahwa pria itu mencari kesempatan.
Namun, yang terjadi adalah sebaliknya karena ia tahu jika Yoshi benar-benar fokus melepaskan sabuk pengaman itu dari tubuhnya. Bahkan saat ini ia seperti tengah menahan diri untuk bernapas lega karena khawatir jika embusan napasnya bisa mengganggu Yoshi.
"Sepertinya aku nanti akan membawanya ke tempat servis agar dibenarkan. Ini memang susah sekali dilepaskan," ucap Yoshi yang masih berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman di tubuh Diandra.
"Kalau tidak bisa juga, gunting saja nanti, tapi aku tidak membawa gunting. Apa kamu membawanya?" Yoshi mengalihkan perhatian dari seat belt ke wajah wanita yang dari tadi hanya diam saja tersebut.
Hingga ia seketika bersitatap dengan netra kecoklatan dihiasi bulu mata lentik itu. Bahkan saat ini ia baru menyadari jika wajah Diandra dilihat dari dekat semakin cantik.
Bahkan ia seolah tidak rela melewatkan pemandangan indah yang dilihatnya itu walau satu detik dan sama sekali tidak berkedip. Tidak hanya itu saja karena degup jantungnya mulai berdetak makin kencang saat ini kala berada sedekat itu dengan Diandra.
Hingga ia tersadar dari rasa terpesonanya begitu mendengar suara yang lolos dari bibir sensual merah jambu itu.
"Aku juga tidak membawa gunting."
Diandra yang tadinya kebingungan karena bisa melihat iris tajam berkilat tepat di hadapan tengah mengunci tatapannya, kini menjawab sambil menelan saliva dengan kasar.
Bahkan sangat khawatir jika pria yang saat ini tepat berada di hadapannya tersebut bisa mendengar detak jantungnya yang tidak beraturan karena merasa gugup.
Ia merasa sangat bingung harus bagaimana ketika berada pada posisi yang sangat penting dan sedekat Itu dengan seorang pria yang memiliki rahang tegas serta bibir tebal dan hidung mancung itu.
Diandra saat ini merutuki kebodohannya karena malah terpesona dengan pria yang memiliki bulu-bulu halus di sekitar dagu. Seolah memperlihatkan kesan maskulin dan macho saat pria itu memilikinya.
Sementara itu, Yoshi yang masih tidak bergerak dari tempatnya dan menatap dengan intens sosok wanita di hadapan, menyadari jika saat ini wajah Diandra terlihat memerah seperti kepiting rebus dan membuatnya menyadari jika wanita itu kebingungan saat berada pada posisi intim seperti ini.
Karena tidak ingin dianggap mencari kesempatan dan membuat Diandra merasa salah paham padanya, refleks Yoshi berakting menepuk jidat dan tertawa, lalu mengalihkan pandangan sekali lagi pada sabuk pengaman yang dipegang.
Ia bahkan tertawa untuk menormalkan perasaannya yang tidak karuan ketika berhadapan dengan Diandra seintim itu.
"Aku memang bodoh! Seharusnya aku sudah tahu jawabanmu karena tidak mungkin kamu membawa gunting di dalam tas. Memangnya kamu psikopat, apa!" Yoshi bahkan saat ini kembali mencoba untuk melepaskan sabuk pengaman dengan tangan yang sedikit gemetar.
Namun, ia berusaha mengendalikan diri agar Diandra tidak melihatnya dan berusaha setenang mungkin untuk menata hatinya agar tidak merasa gugup berada pada posisi yang sangat intim.
Bahkan karena terlihat sangat dekat dengan Diandra, ia bisa melihat tubuh dibalik kemeja wanita itu dan membuatnya menelan saliva dengan kasar karena bisa menatap dua bongkahan sintal yang menyembul di hadapannya.
__ADS_1
'*Astaga, otakku! Aku harus bisa segera melepaskan ini secepatnya. Bisa-bisa nanti Diandra akan salah paham dan berpikir aku adalah seorang pria berengsek yang mencari kesempatan.'
'Bisa jelek nama baikku jika sampai ia berpikiran seperti itu*,' gumam Yoshi yang saat ini mengeluarkan tenaga ekstra untuk bisa melepaskan sesuatu yang tengah merantai Diandra hingga tidak bisa keluar dari mobil.
Hingga ia seketika bernapas lega begitu suara klik dari seat belt menunjukkan jika sudah berhasil terlepas dan membebaskan tubuh wanita dibalik kemeja kerja itu.
"Alhamdulillah," sahut Yoshi yang berpura-pura mengusap pelipis untuk menghapus keringat yang membanjiri, seperti ia baru saja mengeluarkan tenaga ekstra hanya untuk melepaskan hal sepele tersebut.
Hingga ia pun kini buru-buru kembali ke tempat duduknya dan bernapas lega karena tidak lagi berada sedekat Itu dengan wanita yang terdengar senang karena akhirnya terbebas dari sesuatu yang merantainya.
"Syukurlah. Akhirnya bisa dilepaskan karena jika tidak, mungkin aku akan membuat sabuk pengaman ini rusak karena digunting seperti idemu tadi. Satu hal lagi, aku bukan psikopat."
Diandra mencoba menormalkan perasaannya yang tidak karuan karena beberapa saat lalu merasa kikuk saat berada pada posisi intim dengan seorang pria di balik kemudi tersebut.
Ia tahu bahwa Yoshi adalah pria yang baik dan tidak pernah mencari kesempatan dalam kesempitan. Bahwa pria itu tadi benar-benar berusaha untuk melepaskan sabuk pengaman yang macet.
Namun, karena posisi mereka yang sangat dekat, sehingga membuat ia dan pria itu gugup. Diandra bahkan bisa melihat jelas tadi saat Yoshi seketika mengalihkan pandangan dan tangan gemetar.
Ia sebenarnya ingin sekali tertawa karena pertama kali melihat seorang pria gemetar berdekatan dengan wanita. Padahal yang seharusnya bersikap seperti itu adalah dirinya karena kebanyakan para wanita selalu gugup jika berada seintim itu dengan lawan jenis.
Tentu saja ia merasa bahwa Yoshi adalah seorang pria yang baik dan membuatnya beruntung bisa bertemu dengan pria seperti itu saat membutuhkan bantuan dari orang lain ketika hendak kabur dari kuasa seorang Austin.
"Yang terpenting adalah sabuk pengaman itu tidak membuatmu terpenjara karena tidak bisa keluar dari mobil dan menikmati wahana di dalam sana," ucap Yoshi yang saat ini terkekeh geli melihat wajah menggemaskan dari wanita yang membuatnya merasa gugup saat menoleh ke arahnya.
Entah mengapa ia merasa bahwa wanita di sebelahnya itu semakin hari semakin cantik jika dilihat terus-menerus dan tidak pernah membuatnya bosan.
Bahkan Yoshi berniat untuk menyatakan perasaan jika sudah lama mengenal Diandra karena ia tidak pernah mempunyai perasaan seperti ini pada seorang wanita.
Ia dari dulu fokus pada pekerjaan dan belum memikirkan wanita karena khawatir akan berbuat dosa jika dekat dengan lawan jenis.
Hal yang tidak pernah bisa dihindari dari hubungan antara pria dan wanita adalah melakukan perbuatan yang dilarang agama dan ia tidak ingin itu terjadi padanya.
Bila perlu, ia tidak ingin memiliki hubungan dengan wanita dan berniat untuk langsung menikah saja untuk menghindari dosa yang berhubungan dengan kemaksiatan.
Hingga suara ketukan dari jendela mobil terdengar dari luar dan membuat Yoshi menoleh ke sebelah kanannya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Diandra yang saat ini melakukan hal sama seperti yang dilakukan oleh Yoshi karena suara ketukan dari luar pintu mobil mengalihkan perhatiannya.
To be continued...