Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Kembali padaku


__ADS_3

Yoshi melihat tatapan sinis Diandra dan menjelaskan jika wanita itu sama sekali tidak mau berbicara dengannya. Namun, ada banyak hal yang ingin ditanyakan.


"Diandra, aku mohon berikan waktumu sebentar saja. Ada sesuatu yang ingin kukatakan padamu," ucap Yoshi dengan wajah penuh permohonan.


Meskipun hari ini Diandra mengatakan jika ingin berbicara dengan Yoshi di depan Austin, tapi yang sebenarnya adalah tidak ingin dekat-dekat dengan pria itu karena takut dianggap sebagai pelakor dan merusak rumah tangga orang.


Ia menyembunyikan perasaannya yang hancur lebur saat mendengar pria itu menikah degan wanita lain karena dijodohkan oleh orang tua. Diandra sekilas menata putranya ang tengah bermain mobil-mobilan di kursi penumpang.


"Sebentar, Sayang," ucap Diandra dengan mengusap lembut pipi gembul putranya. Lalu menutup pintu dan menatap ke arah Yoshi. "Maaf karena memanfaatkanmu tadi. Sebenarnya apa yang ingin kamu katakan padaku?"


Jimmy menelan salivanya saat melihat sikap datar Diandra. "Aku dulu mencarimu dengan membayar detektif, tapi kamu menghilang bagai ditelan bumi. Selama ini kamu ke mana saja? Lalu, apakah anak ini adalah darah daging Austin?"


"Apa cuma itu saja yang ingin kamu katakan padaku?" Diandra merasa bahwa perkataan Yoshi hanyalah sebuah kebodohan. "Aku tidak perlu menjawabnya karena kamu sudah tahu jawabannya. Maaf, aku harus pergi!"


Refleks Yoshi menahan tangan Diandra. "Diandra, maafkan aku karena tidak bisa memenuhi janjiku padamu dulu. Kamu tahu kan jika aku melakukannya karena terpaksa saat papa terkena penyakit mematikan dan dokter telah memvonis nyawanya tinggal beberapa bulan."


Yoshi tidak melanjutkan perkataannya karena ada sebuah kegetiran yang saat ini dirasakan. Namun, ia khawatir Diandra pergi darinya.


"Aku merasa bersalah padamu dan sama sekali tidak hidup bahagia, Diandra." Rasa sesak yang membuatnya seketika sulit bernapas saat mengingat hal yang menghancurkan hidupnya.


Sementara itu, Diandra bisa mengerti bahwa pria di hadapannya tersebut mempunyai beban berat di pundaknya. "Jalani semua takdir dari Tuhan, Yoshi. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu."


"Hiduplah berbahagia dengan istrimu, Yoshi. Tidak perlu menyesali hal yang bukan ditakdirkan untukmu. Aku bahagia dengan hidupku sekarang bersama putraku dan kamu pun hiduplah berbahagia dengan istrimu." Diandra yang baru saja menutup mulut, mengerjapkan matanya begitu melihat respon dari Yoshi.

__ADS_1


"Papaku memang ingin melihatku menikah dan menimang cucu, tapi semua mimpinya tidak pernah terwujud sampai ajal menjemputnya karena istriku menuntut cerai begitu mengetahui aku divonis mandul oleh dokter," lirih Yoshi yang menundukkan kepala tanpa berani menatap wajah cantik sosok wanita yang berdiri menjulang di hadapannya karena hanya merasakan sesak di dada.


"Apa? Setelah kamu menikah, ayahmu meninggal dunia dan kamu divonis mandul?" tanya Diandra yang sangat terkenal dengan pengakuan dari Yoshi.


Sementara itu, Yoshi hanya mengangguk lemah dan menatap Diandra. "Ya, aku divonis mandul. Mana ada wanita yang mau bertahan dengan pria tidak berguna sepertiku?"


Diandra membulatkan matanya dan refleks membekap mulut karena sama sekali tidak pernah menyangka jika pria yang dulunya adalah Dewa penolongnya itu divonis mandul.


Ia menelan saliva dan mengarahkan tangannya yang gemetar ke bahu Yoshi. "Sabar, Yoshi. Tuhan tidak akan memberikan cobaan pada umat-Nya melebihi batas kemampuan. Semua yang terjadi di dunia ini sudah menjadi takdir-Nya."


"Seperti yang terjadi padaku contohnya, jadi jangan berpikir kamu sendiri yang paling menderita di dunia ini. Semua manusia punya ujiannya masing-masing dan kita harus kuat menjalaninya. Semoga ada hikmah dibalik semua hal yang menjadi ujian kita." Diandra benar-benar merasa iba pada pria yang dari dulu dianggap sangat sempurna.


Ia bahkan tidak pernah menyangka jika ternyata Yoshi sudah bercerai dan malah divonis mandul. Hingga kehilangan sang ayah yang dulu memisahkan mereka.


"Aku senang saat kamu bersikap baik padaku setelah mengetahui nasibku yang buruk, Diandra. Aku lega karena melihatmu merasa kasihan pada pria mandul sepertiku." Yoshi kini merasa kelemahannya bisa membuat Diandra tidak menjauh darinya.


'Apakah aku harus memanfaatkan ini untuk mencari perhatian Diandra?' gumam Yoshi yang kini masih tidak mengalihkan perhatian dari sosok wanita dengan tatapan iba padanya.


Diandra benar-benar merasa sangat tidak enak mendengarnya. Ia tidak ingin membuat Yoshi semakin larut dalam takdir buruk yang dialami.


"Kita bicara di tempat lain saja." Diandra membuka pintu mobil dan menyuruh Yoshi duduk di kursi belakang.


"Iya," sahut Yoshi yang saat ini merasa lega karena akhirnya Diandra tidak menghindar darinya seperti tadi. Bahkan tatapan tajam wanita itu kini berubah teduh dan membuatnya merasa memiliki sebuah harapan.

__ADS_1


'Syukurlah Diandra tidak menghindar dariku. Aku berharap ia belum menikah, agar aku bisa menjadi sosok ayah untuk putranya. Apalagi Diandra sampai saat ini tidak bisa melupakan kebencian pada Austin.'


Yoshi saat ini berharap kembali seperti dulu lagi dengan Diandra agar bisa saling menyembuhkan luka di hati masing-masing dan saling melengkapi.


Diandra kini langsung menyalakan mesin mobil, tapi mendengar suara bariton Yoshi yang membuatnya merasa shock.


"Diandra, kamu belum menjawab pertanyaanku. Apakah Aksa adalah putra dari Austin?" tanya Yoshi yang kini ingin memastikan sesuatu di kepalanya.


Diandra refleks menoleh ke arah belakang. "Jangan pernah menyebut bajingan itu di depan putraku. Bajingan itu sudah hidup berbahagia bersama istri dan anaknya."


Kemudian menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas, meninggalkan kawasan restoran, tanpa sengaja ia melihat sosok Austin yang berdiri di depan restoran dan menatap ke arahnya.


Sementara itu, Yoshi yang saat ini didera rasa kebingungan karena tidak paham dengan maksud dari perkataan Diantara barusan.


'Austin berbahagia dengan anak dan istrinya? Kenapa Diandra berbicara seperti itu? Austin bahkan sampai sekarang belum menikah? Apakah ini adalah kesempatan untukku mendapatkan Diandra?'


Yoshi bisa melihat sosok Austin yang berada di depan Restoran dan membuatnya merasa jika saingan terberatnya kini tidak berarti apa-apa karena pemikiran Diandra.


Bahkan saat ini ia seperti mempunyai sebuah celah setelah mendengar Diandra berbicara tentang Austin. '*Apakah aku egois jika menginginkan wanita ini, Tuhan? Apakah kami ditakdirkan bertemu setelah tiga tahun untuk bisa bersatu?'


'Aku sangat mencintai Diandra dari dulu hingga sekarang dan tidak ingin kehilangan dia untuk kedua kalinya. Apakah dia mau menerimaku jika aku hari ini melamarnya*?' gumam Yoshi dengan banyak pertimbangan kala memikirkan semua hal mengenai kejadian hari ini.


Ia berharap mendapatkan titik terang atas hubungannya dengan Diandra setelah berpisah selama tiga tahun lamanya. 'Ya Allah, bukakanlah hati Diandra agar mau kembali padaku.'

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2