
Austin yang tadinya berjalan keluar dari ruangan kerja Diandra, sengaja menjatuhkan dompetnya di balik kubikel wanita yang tidak membuatnya rela untuk pergi dari sana.
Sebenarnya ia tadi hanya ingin memberikan pelajaran pada wanita itu agar merasa takut dan segan padanya.
Hingga ia mendengar suara Diandra ketika kembali. Namun, sengaja ia bersembunyi di balik dinding karena ingin mendengar pembicaraan wanita yang tengah berbicara di telpon dengan sang ibu.
Itu karena sangat jelas terdengar ketika Diandra memanggil sang ibu.
Bahkan ia sesekali mengintip dan begitu melihat Diandra jatuh terduduk di kursi kerja, serta suara ponsel terjatuh di lantai, seketika masuk dan berpura-pura mencari dompetnya.
Padahal sebenarnya ia ingin tahu apa yang terjadi, hingga membuat Diandra merasa sangat shock. "Apa kamu melihat dompetku?"
"Aku biasanya menaruh bisa aku celana bagian belakang dan tadi saat memeriksa, malah hilang. Sepertinya terjatuh di sekitar sini saat aku duduk dan berjalan keluar."
Austin yang tadinya mengamati lantai untuk mencari, seketika berakting berbinar senang begitu menemukan dompet yang sengaja dijatuhkannya tadi.
"Aaah ... akhirnya ketemu juga. Ternyata jatuh di dekat meja kerjamu." Kemudian Austin membungkuk untuk mengambil dompetnya dan menunjukkan pada Diandra yang dari tadi tidak ia pandang.
Hingga ia seketika memicingkan mata begitu melihat wajah Diandra sudah memerah dan bersimbah air mata. "Ada apa? Kenapa kamu menangis? Apa karena aku memarahimu tadi?"
Saat Austin menunggu jawaban dari wanita yang masih dia membisu di tempat, ia menunduk menatap ke arah ponsel di lantai yang mengeluarkan suara.
"Halo ... Diandra. Kamu masih di sana kan, Nak?"
Refleks Austin membungkuk untuk mengambil benda pipih yang sudah retak bagian layar depan. Ia berniat untuk berbicara dengan wanita di seberang telpon, tapi tidak bisa melakukannya begitu direbut oleh Diandra.
"Tidak apa-apa. Jangan ikut campur!"
Diandra tidak ingin sang Ibu berbicara dengan pria di hadapannya tersebut, sehingga memilih untuk kembali membuka suara setelah berhasil merebut ponselnya.
"Iya, Ibu. Aku tadi sangat terkejut dan ponsel jatuh dari tanganku. Ibu tenang saja karena aku yang akan mengurus semuanya. Lakukan semua yang terbaik untuk ayah agar bisa segera sembuh dan kita berkumpul lagi suatu saat nanti."
Diandra berbicara sambil menatap ke arah pria yang masih belum beranjak dari tempatnya.
"Aku harus kembali bekerja, Ibu karena hari ini lembur dan barusan atasanku datang untuk memeriksa. Nanti setelah pulang kerja, aku akan menelpon Ibu."
Kemudian Diandra langsung mematikan sambungan telpon karena ia tidak bisa berbicara leluasa di depan orang lain.
Apalagi di hadapan pria yang seolah ingin tahu karena masih belum beranjak pergi setelah menemukan apa yang dicari.
Kemudian ia mengusap kasar bulir air mata yang tadi menghiasi wajahnya agar tidak terlihat lemah di hadapan Austin.
"Ibu saya menelpon dan mengabarkan keadaan ayah saja. Jadi, selalu menangis saat mengingat tidak bisa menemani di rumah sakit." Diandra yang tidak bisa berpikir jernih saat ini, memilih untuk menenangkan pikiran dan ingin menenangkan diri.
Ia ingin mengusir pria di hadapannya tersebut, tapi seketika mengingat biaya operasi ayahnya. 'Apa pria ini bersedia meminjamkan uang lagi padaku? Tapi kali ini nominalnya tidak sedikit.'
__ADS_1
'Pria ini banyak uang karena merupakan CEO perusahaan. Pasti uang segitu tidak ada artinya baginya. Apa aku pinjam sekali lagi padanya?' gumam Diandra yang saat ini tengah menimbang-nimbang keputusannya.
Sementara itu, Austin yang kini yakin jika Diandra tengah berbohong, hanya menatap penuh selidik.
"Benarkah? Kenapa aku merasa ada sesuatu hal buruk terjadi pada ayahmu yang masuk rumah sakit."
Austin yang kini memasukkan dompet miliknya, melihat ekspresi wajah murung Diandra yang masih betah mengunci rapat mulut dan ia sangat yakin jika apa yang dipikirkannya benar.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau bercerita, aku tidak akan memaksa." Kemudian ia berbalik badan dan berjalan meninggalkan ruangan itu untuk kedua kalinya.
'Aku sangat yakin jika Diandra baru saja mendapatkan kabar buruk, tapi apa? Apa ayahnya kritis di rumah sakit? Atau ada hal lain?' Austin kini memencet tombol lift agar terbuka di lantai itu.
Hingga saat pintu kotak besi tersebut terbuka, mendengar suara wanita yang sangat dihafalnya dan ia seketika menahan tombol angka agar tidak menutup karena Diandra berlari ke arahnya.
"Presdir, saya ingin berbicara dengan Anda! Apa Anda bisa keluar sebentar?"
Diandra yang tadinya merasa seperti orang tidak tahu malu karena asyik meminjam uang pada atasan, akhirnya berubah pikiran karena takut jika sang ayah tidak tertolong karena terhalang biaya.
Jadi, ia segera mengejar pria yang selalu menginjak harga dirinya. Bahkan ia merasa bahwa perkataan Austin beberapa saat yang lalu bagaikan sebuah kutukan yang diterimanya.
Karena ia berada pada posisi pelik dan membuatnya tidak tahu harus berbuat apa untuk mendapatkan uang untuk biaya operasi jantung sang ayah.
Austin yang saat ini hanya memicingkan mata, kini terkekeh melihat sikap Diandra yang berubah-ubah saat berbicara dengannya.
Kemudian ia melangkah keluar melewati pintu kotak besi tersebut karena merasa jika apa yang akan dikatakan oleh Diandra adalah cara untuk menaklukkan wanita itu.
Saat berpikir sudah tidak ada gunanya mengagungkan harga dirinya yang selama ini dibanggakan pada situasi genting seperti ini, Diandra pun berusaha untuk memberanikan diri membuka mulutnya.
"Maafkan saya, Presdir karena selama ini bersikap tidak sopan. Sebenarnya saya sadar adalah seorang wanita tidak tahu diri, tapi tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi."
Diandra menghentikan perkataannya sejenak karena saat ini tengah menelan saliva untuk menghilangkan kegugupannya.
Hingga ia pun melanjutkan perkataannya karena sama sekali tidak mendengarkan tanggapan dari atasannya.
"Apakah Anda bisa sekali lagi meminjamkan aku uang? Saya benar-benar sangat membutuhkannya untuk biaya operasi jantung ayah yang harus segera ditangani."
Diandra bahkan dari tadi menatap wajah atasannya karena ingin melihat seperti apa ekspresinya begitu ia mengungkapkan niatnya tanpa tahu malu.
Seolah menganggap bahwa dirinya tengah memanfaatkan pria tersebut demi kepentingan sendiri. Tidak tahu apa yang saat ini tengah dipikirkan oleh pria itu, tetap saja Diandra berharap ada sebuah keajaiban.
Bahwa pria di hadapannya tersebut mau menolongnya sekali lagi tanpa pikir panjang seperti biasa.
Namun, degup jantungnya berdetak sangat kencang melebihi batas normal saat mendapatkan pertanyaan balik.
"Apa jaminanmu jika aku meminjamkan uang? Seharusnya kamu tahu bagaimana susahnya mencari uang. Jadi, tidak segampang itu meminjamkan uang dengan nominal dalam jumlah fantastis karena aku tahu jika biaya untuk operasi jantung tidaklah sedikit."
__ADS_1
Austin bahkan sudah tahu berapa biayanya karena dulu sang ayah juga memiliki riwayat jantung yang mengharuskan dioperasi.
Kini, ia ingin tahu, sampai sejauh mana keberanian seorang wanita yang selalu melawannya saat kelemahan berada dalam genggaman.
'Padahal aku tadi hanya berbicara asal padanya, ternyata perkataanku menjadi kenyataan dalam waktu singkat. Diandra akan menyerahkan diri padaku dan tidak lagi berani membantahku.'
Austin kini masih tidak berkedip menatap wajah pucat wanita yang seolah tengah kebingungan untuk menjawab pertanyaannya.
Namun, ia sangat suka dengan posisi yang seperti ini karena tidak lagi mendapatkan omelan seperti biasanya.
Sementara itu di sisi lain, Diandra tengah memutar otak untuk mencari jaminan yang dimaksud oleh atasannya.
'Jika biasanya orang pinjam uang ke bank dengan jaminan BPKB kendaraan serta sertifikat rumah, lalu apa yang akan kujaminkan?'
Merasa bingung untuk menjawab, kini Diandra membuka suara untuk bertanya balik. "Saya tidak punya jaminan BPKB kendaraan serta sertifikat rumah karena semuanya sudah dijual."
"Lalu, apa yang bisa saya jadikan jaminannya?" Diandra berharap mendapatkan pencerahan yang bisa membuatnya segera mendapatkan uang.
Hingga ia seketika membulatkan mata begitu mengetahui bahwa pria di hadapannya tersebut adalah seorang penjahat kelamin.
"Apa lagi? Jadikan tubuhmu sebagai jaminannya! Layani aku satu malam saja!" sahut Austin yang saat ini merasa di atas angin saat takdir berpihak padanya.
Hingga ia bisa menilai seperti apa sosok pria di hadapannya tersebut. Tanpa berniat untuk menanggapi, seketika Diandra berbalik badan meninggalkan pria yang membuatnya merasa sangat jijik.
'Dasar pria bajingan! Ternyata ia malah mencari kesempatan dalam kesempitan atas kemalangan nasibku,' umpat Diandra yang kini terus melangkahkan kakinya menuju ke ruangan dan mengempaskan tubuhnya begitu tiba di kursi.
"Seharusnya aku tidak meminta bantuan pada pria mesum itu dan menduga semuanya." Diandra kini membungkuk dan menyembunyikan wajah dengan tangan yang menumpu meja.
Awalnya ia terdiam tanpa suara, tapi lama-kelamaan bulir air mata kembali membasahi pipinya dan kali ini tidak bisa menahan kesedihannya lebih lama lagi.
Diandra kini sudah menangis tersedu-sedu di sana. Karena tidak ada yang berada di sana, ia tidak memperdulikan apapun lagi dan meluapkan kesedihan dengan menangis tersedu-sedu.
Sementara di dekat lift, Austin yang awalnya merasa yakin jika Diandra akan langsung setuju karena hanya ia lah yang bisa membantu keluar dari masalah yang dihadapi, kini seketika berkacak pinggang sambil tertawa terbahak-bahak.
"Wah ... ternyata ada juga di dunia ini wanita yang sudah sangat tersudut masih berani menolakku. Seharusnya ia bangga bisa merasakan kekuatanku di atas ranjang. Bahkan aku membayar mahal hanya demi menikmati tubuhnya satu malam. Dasar bodoh!"
Austin yang merasa sangat kesal, kini berjalan masuk ke dalam lift dan ia hari ini ingin bersenang-senang di klab malam untuk melampiaskan kekesalan atas penolakan wanita yang ingin ditaklukannya di atas ranjang.
Apalagi ini adalah kali pertama ia ingin membawa seorang wanita ke atas ranjangnya, tapi malah ditolak. Bahkan selama di dalam lift, ia masih tertawa terbahak-bahak karena merasa sangat konyol.
"Wanita bodoh itu bahkan tidak tahu jika ada banyak wanita yang menginginkan aku membawa ke atas ranjang, tapi aku sama sekali tidak tertarik. Sementara ini adalah pertama kalinya aku ingin meniduri seorang wanita polos, tapi ditolak mentah-mentah."
Austin bahkan sudah memijat pelipis karena mengingat penolakan Diandra membuatnya pusing.
To be continued...
__ADS_1