Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Dirasuki setan


__ADS_3

"Sekarang tanyakan semua hal yang ingin kamu ketahui dariku. Aku akan menjawab semuanya tanpa menutupi apapun darimu, Sayang." Austin tidak tega melihat sang istri merasa malu terus-menerus dan suasana penuh keheningan di dalam ruangan tersebut mendominasi.


Ia menguraikannya dengan membuka suara terlebih dahulu agar Diandra tidak merasa kebingungan untuk memulai pembicaraan. Meskipun ia masih merasa ragu untuk berbicara jujur bahwa saat ini sedang baik-baik saja, tidak terluka seperti yang terlihat.


Sementara itu, Diandra masih asyik mengunci rapat bibirnya karena tengah sibuk dengan pikirannya ketika dipenuhi oleh rasa bersalah sekaligus malu luar biasa atas kebodohannya.


Ia bahkan kini sudah tidak lagi membenci pria di hadapannya tersebut karena sudah terbayar dengan semua kebaikan yang dilakukan padanya. Hingga ia berpikir bahwa mungkin tidak bisa membalas semua kebaikan seorang Austin Matteo yang merupakan suaminya tersebut.


'Bahkan rasanya untuk membuka suara saja sangatlah sulit. Aku seperti tidak mempunyai muka berhadapan dengan suami sendiri yang terlampau baik, tapi aku malah sibuk mencari kesalahannya,' lirih Diandra yang masih diam tanpa membuka mulutnya untuk berbicara sepatah kata pun.


Hingga ia seketika mengerjapkan mata begitu melihat Austin bergerak melepaskan jarum infus di tangan kiri dan turun dari ranjang tanpa merasa kesakitan seperti orang sehat.


"Apa yang kamu lakukan? Nanti jatuh seperti tadi!" Diandra yang berusaha untuk menghentikan perbuatan ceroboh dari sang suami, seketika membulatkan mata begitu melihat pemandangan di hadapannya saat ini.


Austin yang tidak tahan dengan keheningan di antara mereka karena sang istri sama sekali tidak mau berbicara ataupun menjawab pertanyaannya, sehingga tidak sabar dan memilih untuk segera mendekat.


Tentu saja ia mengerti konsekuensi dari apa yang dilakukan saat ini, tapi sama sekali tidak peduli dan merasa yakin jika Diandra hanya akan kesal sebentar padanya.


Bahwa sang istri tetap akan kembali luluh dengan ia memberikan banyak cinta serta ketulusan yang selalu dimilikinya untuk wanita dengan raut wajah pucat karena efek kehamilannya.


Saat melangkah melangkahkan kaki panjangnya mendekati sang istri, ia kini merentangkan kedua tangan. Seolah ingin menunjukkan jika ia baik-baik saja dan bisa berjalan tanpa berpegangan seperti beberapa saat lalu.


"Aku langsung sembuh setelah melihatmu kembali dan tidak akan pergi meninggalkanku." Berbicara sambil berjalan mendekat dan kini telah mengikis jarak di antara mereka karena hanya beberapa senti saja tersisa.


Diandra yang tadinya membekap mulut karena merasa tidak percaya dengan apa yang dilihat sekaligus khawatir jika sampai pria itu tiba-tiba terjatuh dan terhempas ke lantai, kini seolah mengerti apa yang terjadi.


"Apa kecelakaan itu hanyalah settinganmu?" sahutnya dengan mengarahkan tatapan mengintimidasi.


Austin kini melingkarkan tangannya pada kedua sisi pinggang sang istri tanpa mempedulikan raut wajah kesal itu. Ia bahkan mendekatkan wajahnya untuk bisa berbisik di dekat daun telinga Diandra.


"Aku pastikan bahwa jika kamu pergi dariku sekali lagi, akan melakukan segala cara untuk bisa membuatmu tetap berada di sampingku. Ya, kamu memang benar karena kecelakaan itu adalah cara yang kugunakan untuk menahanmu pergi."


"Jika aku tidak melakukannya, mungkin kamu sudah pergi jauh dariku seperti beberapa tahun silam." Austin yang berbicara sambil tersenyum menyeringai, kini tidak berhenti sampai di situ saja karena kini bergerak untuk menggigit kecil daun telinga sang istri.


Diandra yang tadinya merasa sangat marah sekaligus kesal karena telah ditipu mentah-mentah dan membuatnya khawatir luar biasa, berniat untuk mengungkapkan kemurkaannya.


Namun, seketika urat sarafnya menegang karena perbuatan sang suami yang dianggap sangat menyebalkan. Ia seketika bergerak untuk menghindar agar Austin tidak terus mengirimkan sesuatu yang berhasil membuatnya geli.


"Lepaskan!" Bahkan berusaha untuk mendorong dada bidang sang suami agar melepaskannya, tapi perbuatannya tidak diperdulikan dan malah tangannya ditahan. "Geli!" teriak Diandra yang saat ini benar-benar merasakan kegelian luar biasa.


Berbeda dengan Austin saat ini merasa senang karena berhasil menggoda wanita yang dari tadi tidak mau membuka suara. Ia pun kini melepaskan kuasa dan tersenyum menyeringai karena sangat luas berhasil mengerjai sang istri.


"Aku benar-benar tidak suka dengan suasana penuh keheningan beberapa saat lalu karena kamu hanya diam saja. Jadi, membuatmu berteriak dengan cara seperti ini. Atau kita pakai cara lain saja? Mungkin membuatmu sedikit mendesah?" Austin mengedipkan mata untuk menggoda Diandra yang terlihat mengerucutkan bibir karena kesal padanya.

__ADS_1


Refleks Diandra langsung mengarahkan cubitan pada pinggang kokoh pria yang dianggapnya sangat menyebalkan karena bercanda saat ia ingin serius.


"Jangan macam-macam! Aku tadi sedang menyusun kalimat dan belum selesai," ungkapnya untuk beralasan dan mengingat mengenai pria itu sudah berjalan dan sama sekali tidak kesakitan seperti beberapa saat lalu.


"Jadi, benar jika kecelakaan itu hanyalah settingan semata? Bagaimana bisa terlihat seperti terluka betulan? Bahkan dokter serta beberapa perawat juga merawatmu tadi." Ia bahkan saat ini berpikir jika para aparat medis tersebut tidak melakukan kebohongan karena akan menjadi kasus jika sampai terungkap oleh publik.


Austin yang saat ini hanya terkekeh dengan tidak melepaskan kuasa dari pinggang sang istri, kini merasa kasihan jika terlalu lama membuat wanita itu penasaran. Akhirnya ia menceritakan semuanya tanpa ada yang terlewatkan.


"Itulah kenapa aku bisa berpura-pura seperti seorang pasien sesungguhnya. Kamu tahu kan jika suamimu ini adalah seorang pria hebat dan berkuasa. Jadi, jangan merasa terkejut dengan apa yang kamu dengar hari ini karena mungkin akan terulang dalam aspek lain." Austin yang menyombongkan diri, seolah kembali pada dirinya yang dulu.


Hingga ia pun khawatir jika sang istri malah merasa ilfil atas kesombongannya. Refleks ia segera memfilter perkataannya.


"Maafkan aku karena melakukan segala cara agar kamu tetap tinggal dan tidak meninggalkanku. Jadi, aku menghubungi rekan bisnisku yang merupakan pemilik dari perusahaan ini karena memang mengenalnya sangat baik."


"Makanya para aparat medis itu patuh, meskipun pada awalnya menolak karena itu menyalahgunakan profesi mereka." Ia lalu meraih tangan dari sang istri dan melakukan kecupan di punggung tangan dengan jemari lentik itu.


"Ingatlah satu hal yang kukatakan ini, Sayang. Mulai sekarang, berhentilah mencemaskan sesuatu karena pada dasarnya, hidup ini hanya memberikan kita dua pilihan, yaitu sabar tanpa tepi dan bersyukur tanpa tapi."


"Jadi, lebih baik fokus pada kebahagiaan kita, tanpa memikirkan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan keluarga kecil kita karena itu merupakan hal yang tidak penting." Austin yang melihat sang istri hanya diam saja, kini bergerak untuk mencium kening wanita yang telah membuatnya menyerahkan seluruh hatinya.


"I love you."


Diandra saat ini merasa gemuruh di dadanya bergejolak hebat ketika mendapatkan pernyataan cinta yang selalu didengarnya dari sosok pria yang saat ini terlihat berbeda di matanya.


Ia yang sekarang sudah sembuh dari amnesia, merasa jika sang suami jauh lebih maskulin dan memesona hari ini. Bahkan saat ini tengah menormalkan cukup jantungnya yang tidak beraturan karena seperti baru saja mengalami cinta pertama.


Austin yang merasa sangat geram karena tidak kunjung mendapatkan tanggapan dari sang istri, sehingga tanpa pikir panjang langsung membungkam bibir sensual itu dan ********** beberapa detik.


Tidak ingin masalahnya bangkit jika terlalu lama melakukannya karena selalu saja tidak bisa menahan diri jika berdekatan dengan sang istri, sehingga kini tersenyum menyeringai.


"Bicara atau ku cium lagi!" ungkapnya yang kini mengingat jika beberapa hari tidak bercinta dengan sang istri karena menolaknya.


"Iya ... iya, sekarang aku sudah bicara, kan! Dasar pria hidung belang yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," umpat Diandra ketika berpikir jika sang suami adalah pria mesum saat berada di dekatnya.


Awalnya ia berpikir jika sang suami tidak terima dan mengungkapkan nada protes padanya, yang terjadi malah sebaliknya.


"Ya, aku memang merupakan pria hidung belang yang tertatih-tatih mengejar cintamu. Aku bisa menjadi seperti ini karenamu. Jadi, yang patut disalahkan adalah kamu karena membuatku tidak bisa berpaling dan tergila-gila." Austin kini menguraikan posisi inti mereka dengan bergerak mundur setelah melepaskan pinggang ramping itu.


"Apa kamu selama beberapa hari ini beralasan dan tidak mau melayaniku karena sudah sembuh dari amnesia?" tanya Austin yang ingin memastikan sendiri dan berharap jika sang istri tidak menolak saat ia ingin.


Diandra hanya mengangguk perlahan karena memang pada kenyataannya seperti itu. Bahwa ia benar-benar merasa sangat saat ingatannya pulih dan tidak bisa melaksanakan tugasnya untuk melayani suami yang di masa lalu sangat dibenci dengan sangat luar biasa.


Namun, ia saat ini menyadari setelah mendengarkan semuanya. Bahwa sebenarnya selama ini hanya ada kesalahpahaman di antara mereka. Bahwa ia sangat marah ketika pertama kali bertemu dengan Austin untuk pertama kalinya, tapi pria itu hidup bahagia.

__ADS_1


Ternyata apa yang terlihat di mata sangat jauh berbeda dengan fakta sebenarnya. "Seandainya jika saat itu kamu menjelaskan dan aku mendengarkan, apakah kita bisa sampai sejauh ini?"


Austin yang gini mencoba untuk memahami kalimat dari Diandra, beberapa saat kemudian mengerti apa maksudnya. "Maksudmu adalah pertemuan pertama kita di restoran cepat saji? Kamu saat itu mungkin mau memaafkanku dan kita langsung menikah."


"Tapi sepertinya cerita kita tidak akan serumit ini jika saat itu kita bersatu. Lagipula saat itu aku kan masih amnesia. Jadi, mana mungkin bisa menjelaskannya padamu. Aku saat itu hanya merasa aneh pada hatiku ketika pertama kali melihatmu dan juga Aksa." Austin terdiam beberapa saat karena mengingat tentang masa lalu.


Ia masih sangat hafal bagaimana ekspresi wajah Diandra yang sangat terkejut melihatnya dan membuatnya merasa heran sekaligus penasaran. "Entah apa yang membuat hatiku seperti tertarik ketika melihatmu, Sayang. Jadi, sebenarnya sudah dipastikan jika kita memang berjodoh."


Diandra dulu juga tidak tahu jika Austin hilang ingatan, jadi sekarang menyesal dan kini mengangkat tangannya untuk menyentuh wajah pria di hadapannya.


"Aku sama sekali tidak tahu jika kepalamu mengalami benturan hebat ketika kecelakaan. Bagaimana kamu mengalami kecelakaan? Aku ingin tahu semuanya dan ceritakan padaku tanpa kecuali." Ia yang saat ini menelusuri wajah Austin setelah tadinya memeriksa kepala, merasakan tangannya ditahan.


"Sayang, jangan nakal karena kamu tidak akan bisa bertanggung jawab jika sampai terbangun." Austin memang belum menceritakan tentang penyebab kecelakaannya dulu di Singapura.


Bahwa ia jauh-jauh datang ke luar negeri untuk membatalkan perjodohan dengan meminta tolong pada wanita itu yang akhirnya malah merawatnya dengan baik. Ia pun mulai menceritakan semuanya tanpa terkecuali seperti yang diinginkan oleh sang istri.


Diandra sesekali mengerjapkan mata karena tidak menyangka jika cinta Austin padanya sangat besar dari dulu. Pria itu bahkan tidak tertarik pada wanita lain setelah menikmati tubuhnya.


Begitu pula dengannya karena semenjak saat itu seperti mati rasa dan tidak bisa memiliki perasaan pada lawan jenis. Seolah semuanya tertutup oleh sesuatu yang membuatnya tidak bisa menerima siapapun meskipun ada pria yang sudah menyatakan cinta padanya.


Kini, ia merasa yakin jika inilah yang disebut jodoh. Bahwa pria yang berdiri di hadapannya dulu sangat dibenci dan sekarang malah membuatnya tergila-gila.


"Jadi, itulah cerita sebenarnya, Sayang. Sekarang kamu tidak salah paham lagi padaku, kan?" Austin yang baru saja mengakhiri ceritanya dan menunggu tanggapan dari wanita yang hanya diam saja tersebut, masih dengan sabar menanti.


Namun, seketika ia mengerjapkan mata karena merasa terkejut dengan perbuatan Diandra.


Diandra benar-benar merasa sangat bersalah pada sang suami dan ingin menunjukkan penyesalannya dengan memberikan apapun yang diminta oleh pria itu. Tentu saja sebagai seorang istri, ia sudah mengetahui apa yang diinginkan oleh suaminya saat ini, sehingga langsung bergerak untuk mencium bibir tebal di hadapannya.


Nasib baik jarak di antara mereka tidak jauh dan memudahkannya untuk melakukannya ketika berdiri setelah turun dari atas ranjang perawatan. Bahkan tidak memperdulikan infus di tangannya karena saat ini asyik mencium bibir suami.


Austin yang awalnya merasa sangat terkejut dan diam saja karena membiarkan sang istri berbuat sesuka hati padanya, lama-kelamaan hasilnya bangkit dan berpikir sangat berbahaya. Sejujurnya ia sangat ingin membalas ciuman dari sang istri, tapi sadar jika hanya akan berakhir tersiksa jika sampai hasratnya bangkit.


"Sayang, jangan meneruskannya karena aku yang akan tersiksa."


"Kenapa tersiksa? Kamu bisa melakukan apapun padaku karena aku sama sekali tidak keberatan," ucap Diandra yang berusaha untuk menyenangkan sang suami.


"Apa? Jangan bilang jika kamu tidak akan marah jika aku melakukannya di sini." Tidak pernah terpikirkan olehnya untuk bercinta di Rumah Sakit, sehingga Austin merasa ragu.


Hingga ia melihat perubahan dari sikap wanita di hadapannya yang berubah drastis dan membuatnya sangat terkejut.


"Bukankah kamu mempunyai kekuasaan? Jadi, tidak masalah melakukannya di sini, kan? Tinggal kunci pintu saja, apa susahnya?" sahut Diandra yang kini dini bergerak ke atas ranjang dan berbaring telentang, salah pasrah atas apapun yang dilakukan oleh sang suami nanti.


Austin seketika mencubit tangannya untuk memastikan jika saat ini tidak sedang bermimpi dan meringis menahan rasa nyeri akibat perbuatannya.

__ADS_1


"Kamu benar Diandra istriku, kan? Bukan orang lain yang dirasuki syetan?"


To be continued...


__ADS_2