Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Isi surat Diandra


__ADS_3

"Untuk apa? Apa kamu mau marah-marah padanya? Dia sama sekali tidak bersalah karena akulah yang mencintainya, jadi berpikir bisa berbuat bermacam-macam padanya."


Yoshi memang ingin menemui Diandra untuk membicarakan mengenai perjodohannya dan alasan kenapa tidak memberitahu wanita yang sangat dicintainya tersebut.


Namun, ia sama sekali tidak berniat untuk mengajak Rosalia yang saat ini bahkan sudah resmi menjadi istri sahnya dan pastinya akan meluapkan amarah pada wanita tidak bersalah yang selalu mendapatkan sebuah kemalangan dalam hidup.


'Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menyakiti Diandra. Termasuk Rosalia yang notabene kini sudah menjadi istriku,' gumam Yoshi yang saat ini masih menatap intens untuk melihat apa yang terselubung di hati wanita dengan wajah memerah dan mengungkapkan kekesalan padanya.


Rosalia yang sama sekali tidak berniat untuk melakukan apapun pada wanita yang telah membuat bimbang sang suami, seketika tertawa terbahak-bahak karena perkataannya disalah artikan.


"Apa kamu pikir aku adalah seorang wanita yang suka menghajar para wanita yang menggoda priaku? Kamu salah, Sayang karena wanita dengan high value tinggi anti melakukan rendah semacam itu." Rosalia sebenarnya hanya merasa penasaran dengan wanita yang telah dicintai oleh Yoshi.


Ia memang ingin mengetahui seperti apa sosok wanita itu, tapi sama sekali tidak berniat untuk melakukan apapun karena berpikir bahwa ia bisa mencari sebuah kelebihan yang tidak dimiliki olehnya setelah bertemu dengan saingannya untuk memiliki hati sang suami.


"Lalu, apa yang akan kamu lakukan jika bertemu dengannya? Bukankah mayoritas wanita selalu mengandalkan kekerasan dengan menampar atau menarik rambut wanita yang dianggap saingannya?" Yoshi sering melihat perkelahian para wanita yang memperebutkan para pria, jadi berbicara seperti itu.


Bahkan seringkali melihat di sinetron karena terkadang ia menghilangkan kebosanan dengan menonton televisi. Tentu saja ia merasa sangat khawatir jika Rosalia benar-benar menyakiti sosok wanita yang bahkan sama sekali tidak bersalah.


Sementara itu, Rosalia yang ingin segera melihat wanita saingannya, kini mengarahkan dagu ke depan untuk memberikan sebuah kode agar Yoshi segera mengemudikan kendaraan meninggalkan area rumah sakit.


"Jalan saja karena kita tidak punya waktu banyak. Bukankah kita harus segera kembali ke rumah sakit? Jadi, jika kau ingin menemuinya untuk yang terakhir kali, aku akan memberikan sebuah toleransi padamu. Tenang saja, aku hanya ingin melihat wanita yang kau puja puja itu."


Kemudian Rosalia yang dari tadi menatap ke arah sosok pria yang menjadi suaminya tersebut, mengambil ponsel miliknya dan mengirimkan sebuah pesan pada sang ibu.


Ma, jika operasinya sudah selesai, tolong kabari aku karena mungkin kami pergi cukup lama.


Karena ingin membuat Yoshi mengerti apa yang dilakukannya, Rosalia pun kini membacakan pesan yang dikirimkan pada sang ibu. "Kita bisa menemui wanita itu terlebih dahulu, baru pergi makan dan beristirahat di rumah."


"Mungkin para orang tua berpikir jika kita tengah menikmati bulan madu, padahal yang sebenarnya adalah suamiku mempunyai wanita idaman lain yang sama sekali tidak diketahui oleh orang tuanya." Menyindir adalah cara yang tepat meluapkan kekesalannya hari ini jangan berharap bisa mengalahkan wanita yang disukai oleh Yoshi.


Yoshi memang beberapa saat lalu menuruti perintah dari wanita yang dianggapnya sangat arogan dan kasar itu. Apalagi ia ingin segera mengetahui bagaimana tanggapan dari Diandra begitu melihatnya setelah berstatus sebagai suami orang.


Meskipun sebenarnya ia khawatir jika sampai Diandra melihat sang istri, hanya akan membuat wanita itu bersedih dan patah hati, lalu berakhir menangis.


Namun, cepat atau lambat, semuanya harus segera diselesaikan agar tidak menggantung dan membuatnya bertanya-tanya.

__ADS_1


"Baiklah. Aku percaya bahwa kamu tidak mungkin berbohong karena merupakan wanita berpendidikan. Wanita hebat sepertimu tidak mungkin merendahkan harga diri dengan bersikap kasar pada orang lain." Akhirnya Yoshi memilih untuk mempercayai semua perkataan dari sosok wanita yang ada di sebelah kirinya tersebut.


Ia fokus mengemudikan kendaraan menuju ke arah apartemen sang sepupu dan berharap kekhawatirannya tidak terjadi. Bahwa Diandra sudah pergi meninggalkan apartemen karena tidak ingin menjadi pengganggu.


Namun, ia saat ini melirik mesin waktu yang melingkar di pergelangan tangan kirinya dan ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu. Kemudian memasang earphone dan memencet tombol panggil pada asisten pribadinya yang tidak berapa lama menjawab.


"Halo, Tuan Yoshi."


"Apa Diandra sudah berangkat ke kantor?"


"Belum, Tuan. Apa terjadi sesuatu?" tanya sang asisten dari seberang telepon dengan memicingkan mata karena merasa heran dengan pertanyaan dari bosnya yang dipikirnya akan selalu menjemput Diandra untuk berangkat ke kantor.


Karena mengerti, kini Yoshi mematikan sambungan telpon sepihak tanpa penjelasan apapun. Bahkan ia langsung menginjak pedal gas agar bisa segera tiba di apartemen sang sepupu.


Selama dalam perjalanan, pikirannya benar-benar dipenuhi oleh kekhawatiran jika Diandra pergi meninggalkan apartemen tanpa berpamitan padanya. Namun, masih berusaha untuk berpikir positif bahwa Diandra masih berada di dalam apartemen dengan menangis tersedu-sedu karena perjodohannya.


Jika biasanya ia tidak ingin Diandra menangis, tapi kali ini berharap jika wanita yang telah membuatnya berjanji untuk menikahinya tersebut patah hati.


'Aku ingin Diandra menangis tersedu-sedu di dalam kamar karena itu menunjukkan bahwa ia sangat mencintaiku. Jika benar demikian, ia saat ini pasti masih berada di apartemen dan belum pergi.'


Seolah keduanya saat ini tengah memikirkan sesuatu yang mengganjal di pikiran. Hingga beberapa saat kemudian, mobil berwarna hitam tersebut sudah memasuki area apartemen.


Yoshi bahkan tidak berbicara apapun setelah mematikan mobil dan keluar. Ia hanya ingin segera bertemu Diandra dan berjalan cepat menuju ke arah lobby apartemen.


Di sisi lain, Rosalia masih berusaha untuk menahan puncak amarah yang seolah ingin meledak saat itu juga ketika melihat dengan siluet bahu lebar tersebut berjalan seperti dikejar anjing menuju ke arah lift.


'Sialan! Aku bahkan harus berlari mengejarnya agar tidak ketinggalan. Sebenarnya seperti apa wanita yang membuatnya gila seperti ini dan berani mempermainkanku?' gumam Rosalia ya saat ini berjalan cepat menuju ke arah lift yang akan tertutup.


Bahkan napasnya tersengal karena berlari kecil mengejar sosok pria yang masih diam membisu di sebelah kiri. "Sepertinya kau benar-benar tidak sabar untuk bertemu dengan kekasihmu."


"Aku tahu seperti apa dia yang membuatku merasa khawatir jika saat ini sudah pergi tanpa pesan hanya karena tidak ingin menjadi orang ketiga diantara kita yang sudah menjadi suami istri sah secara agama dan negara." Yoshi sengaja menjelaskan pemikirannya dengan jujur.


Ia berharap jika wanita di sebelahnya tersebut bisa mengerti jika Diandra bukanlah tipe wanita yang suka merebut kekasih orang lain. Apalagi jika mengetahui statusnya sebagai seorang suami, pastinya di Andra tidak akan pernah mau berhubungan lagi dengannya.


Sebenarnya Rosalia ingin kembali tertawa terbahak-bahak begitu mendengar Yoshi memuji wanita lain tanpa memikirkan perasaannya. Namun, ia tidak ingin harga dirinya sebagai seorang wanita independen ternoda dan memilih mengikuti apa yang dikatakan oleh Yoshi.

__ADS_1


"Aaah ... jadi menurutmu seperti itu? Baiklah. Kalau begitu, kita buktikan saja sekarang karena aku tidak sabar melihat ekspresi wajah kekasihmu itu seperti apa begitu melihatku. Apa ia akan bersikap sangat sombong karena dicintai begitu besar olehmu, apakah memilih mundur karena sadar diri?"


Saat ini, Yoshi menghembuskan nafas lega begitu respon positif ditunjukkan oleh sang istri dan saat pintu kotak besi tersebut terbuka, buru-buru melangkahkan kaki panjangnya menuju ke arah unit apartemen sepupunya.


Bahkan ia langsung memencet pas kode apartemen karena firasatnya benar-benar buruk saat ini. Bahwa Dari tadi ia berpikir jika Diandra sudah pergi dari apartemen tanpa memberikan pesan apapun.


Begitu, pintu terbuka, Yoshi seketika mengedarkan pandangan ke sekeliling dan berteriak, "Diandra! Apa kamu di dalam?"


Jika biasanya ia memanggil Diandra dengan panggilan sayang, tapi karena menghargai sosok wanita yang berstatus sebagai istri sahnya tersebut, sehingga membuatnya memanggil nama saja.


Namun, indra penglihatannya kini menangkap sesuatu yang berada di atas meja dan membuatnya langsung menghampiri untuk melihatnya.


"Surat? Apa Diandra meninggalkan surat ini sebelum pergi?" Yoshi bahkan saat ini segera membuka kertas yang dilipat jadi dua dan masih terlihat besar tersebut.


Ia tidak ingin mencari Diandra ke dalam karena begitu melihat surat di atas meja, berpikir bahwa itu adalah pesan terakhir wanita yang sangat dicintainya sebelum pergi dari apartemen.


Refleks Yoshi langsung membacanya dan hatinya benar-benar terluka begitu rangkaian kata yang menjadi isi hati Diandra kini diketahuinya.


Dear Malaikat penolongku ...


*Saat kamu membaca ini, sudah bisa dipastikan jika aku sudah tidak berada di apartemen.


Yoshi, maafkan aku karena semalam berpura-pura tidak mengetahui apapun mengenai hal yang berhubungan dengan perjodohan dari orang tuamu. Aku tahu jika itu bukanlah keinginanmu, jadi sama sekali tidak menyalahkanmu karena menikah dengan wanita lain dan tidak bisa memenuhi janjimu padaku.


Tapi aku benar-benar merasa sangat bahagia pernah menjadi seorang wanita berharga untuk seorang pria sebaik dirimu. Kamu harus menerima takdir yang tidak berpihak pada kita.


Bahagiakan wanita yang sudah membuatmu berjanji pada Tuhan untuk membahagiakannya di depan orang tua dan para saksi yang hadir. Aku tidak apa-apa dan akan melanjutkan hidup di tempat yang baru.


Doakan aku bisa menjalani kehidupan yang lebih baik tanpamu dan aku pun akan mendoakanmu selalu hidup berbahagia bersama dengan wanita yang sudah sah menjadi istrimu.


Sekali lagi terima kasih atas semua kebaikanmu padaku, Yoshi karena telah membuatku menjadi salah satu wanita beruntung yang dicintai seorang pria baik sepertimu*.


Yoshi bahkan berkaca-kaca menatap ke arah surat dari Diandra. Tidak hanya itu saja karena saat ini tangannya gemetar membawa kertas di tangan.


'Ya Allah, kenapa rasanya sesakit ini? Kenapa Engkau memberikan cobaan yang begitu luar biasa pada hubungan yang baru saja kami jalin?' gumam Yoshi yang tengah mencoba untuk menormalkan rasa sesak di dada kalau membayangkan saat Diandra menulis rangkaian kata berisi ungkapan perasaan.

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2