Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Ingin mengetahui semuanya


__ADS_3

Beberapa saat lalu, Yoshi terbangun dari tidur karena mimpi buruk dan peluhnya membanjiri pelipis saat ini. Hingga ia menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan tengah malam.


Bahkan bisa melihat sang ibu yang saat ini tertidur pulas di atas ranjang perawatan di sebelahnya.


Saat mengingat tentang mimpinya, ia mengembuskan napas kasar. Bahkan degup jantungnya saat ini masih tidak beraturan ketika mengingatnya.


Bahwa di dalam mimpinya itu, ia melihat ular besar yang berada di hadapannya dan mengejarnya. Hingga ia pun berlari sangat kencang untuk menghindar agar tidak digigit.


Sampai ia melihat jika di depan ada seorang wanita yang tak lain adalah Diandra mengulurkan tangan padanya dan berniat untuk menolongnya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya karena Diandra malah mendorongnya hingga jatuh tepat di depan ular besar itu.


Hingga ia pun langsung digigit oleh ular dan seketika terbangun dengan deru napas memburu karena efek ketakutan.


"Diandra? Kenapa di dalam mimpiku, dia malah mendorongku untuk dimakan ular? Bahkan dia adalah seorang wanita yang sangat baik, kenapa di mimpi berubah sangat jahat? Aku tiba-tiba ingin berbicara dengannya," ucapnya yang kini melihat ke arah sang ibu karena mengetahui jika yang tahu nomornya adalah sosok wanita di atas ranjang tersebut.


'Apa mama mau memberi tahu nomor Diandra?' gumamnya yang saat ini masih berpikir untuk membangunkan sang ibu.


Apakah usahanya untuk meminta nomor Diandra sia-sia atau percuma masih belum membuatnya yakin jawabannya.


'Sebelum dicoba, mana tahu.' Ia pun kini membuka suara untuk mencari tahu jawaban dari pertanyaannya. "Ma ... Ma!"


Sampai tiga kali ia berusaha membangunkan alam bawah sadar sang ibu dan begitu melihat pergerakan dari wanita paruh baya yang sangat disayanginya tersebut, sebenarnya merasa bersalah.


"Ada apa, Sayang? Apa kamu membutuhkan sesuatu?" Asmita Cempaka saat ini bangkit dari posisinya yang tadinya terbaring dan kini turun dari atas ranjang.


Tidak ingin membuang waktu, Yoshi kini mulai menceritakan tentang semua mimpinya pada wanita yang saat ini sudah berdiri di hadapannya. "Aku saat ini ingin berbicara dengan Diandra, Ma. Berikan aku ponsel Mama agar bisa menelponnya."


Asmita Cempaka yang saat ini mengerjapkan mata karena permintaan putranya membuatnya kesal, tapi tidak mungkin menunjukkannya karena khawatir akan berdampak pada kesehatan.


Apalagi saat ini putranya sudah benar-benar pulih dan ia tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk jika sampai menyakiti perasaannya. "Itu hanyalah bunga tidur, Sayang. Jadi, tidak perlu memikirkan hal itu."

__ADS_1


"Ya, aku tahu jika mimpi adalah bunga tidur, tapi aku tetap ingin mendengar suara Diandra. Apa tidak boleh aku menelponnya?" Yoshi benar-benar berharap jika sang ibu mengizinkan dan menunggu sampai ponsel diberikan padanya.


Saat ini, Asmita Cempaka yang tidak langsung menjawab karena merasa kebingungan harus berkomentar apa. Bahkan putranya sudah mengetahui jika


Diandra kini telah menjadi istri dari Austin Matteo, tapi tetap saja membuatnya ingin berbicara dengan wanita yang sudah menjadi mantan istri.


"Kamu masih ingat kan jika Austin Matteo pernah datang untuk mengatakan padamu jika sudah hidup berbahagia dengan Diandra? Lalu, sekarang apa lagi yang ingin kamu katakan pada Diandra?" Masih berusaha untuk menyadarkan putranya agar berubah pikiran.


Yoshi saat ini masih tidak berubah pikiran untuk berbicara dengan Diandra, kini hanya menggelengkan kepala. "Satu kali saja, Ma. Aku ingin mendengar semuanya dari Diandra. Aku mohon berikan ponsel Mama."


Ingin sekali ia menampar putranya yang terlihat memelas hanya gara-gara seorang wanita yang dianggap adalah pembawa sial bagi keluarganya, tapi tidak berdaya karena takut jika terjadi sesuatu yang buruk dan membuatnya menyesal untuk kesekian kali.


Asmita Cempaka saat ini hanya bisa menghembuskan napas kasar tanpa berkata apapun dan berbalik badan untuk mengambil ponsel miliknya di atas laci.


Ia pun kini menyerahkan benda pipih tersebut ke tangan putranya. "Baiklah. Terserah apa yang kamu ingin lakukan sekarang."


Ia tidak merasa khawatir karena mengetahui jika Diandra sudah terkena jebakan darinya, sehingga memilih membiarkan putranya berbicara.


'Saat ini Diandra sangat membenci Austin Matteo dan pasti mengatakan ingin kembali pada putraku. Ini benar-benar berbahaya jika sampai putraku menginginkannya. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk melarangnya.'


Saat ini ia sudah berada di luar ruangan dan memilih untuk menuju ke arah pantry karena ingin membuat minuman yang menghangatkan tubuhnya.


Sementara di dalam ruangan, Yoshi segera mencari kontak Diandra dan langsung menelpon. Ia dengan sabar menunggu dan beberapa saat kemudian mendengar suara wanita yang sangat dirindukannya.


Hingga ia sangat ingin melihat bagaimana dan seperti apa wanita yang sempat dinikahinya, tapi harus berakhir napas di hari yang sama dan membuatnya berakhir di rumah sakit selama bertahun-tahun.


Tadinya ia berpikir sudah mati setelah Austin Matteo membuatnya merasa syok telah menikah dengan Diandra. Yoshi ingin menanyakan alasan wanita itu menikah dengan pria yang sangat dibenci saat koma.


Namun, ia merasa kecewa karena tidak dapat melihat wajah Diandra. Ia tidak tahu lagi bagaimana caranya membuat wanita itu mau mengangkat panggilan video demi bisa melihat seperti apa wajah mantan istrinya saat ini.

__ADS_1


Ia bahkan merasa miris dengan status mereka saat ini karena langsung mengalami kecelakaan di hari pernikahan. Bahkan ingin sekali menyalahkan takdirnya yang sangat buruk.


Mulai dari berpisah dengan wanita yang dicintai karena dijodohkan dan berakhir hidup menderita setelah mengetahui vonis mandul dari dokter.


Hingga bisa bersatu dengan wanita yang sangat dicintai, tapi semua itu hanyalah fatamorgana setelah mendapatkan kecelakaan di hari bahagianya.


"Diandra, kenapa hanya diam saja? Apa kamu tidak sudi berbicara denganku setelah menikah dengan Austin Matteo?" Yoshi bahkan masih dengan sabar menunggu hingga wanita di seberang telepon berbicara.


Ia sangat merindukan suara merdu Diandra yang sudah lama tidak didengarnya karena takdir mempermainkan perjalanan cinta mereka.


Hingga kesabarannya membuahkan hasil begitu mendengar suara yang sangat dihafalnya.


"Yoshi? Apa sekarang kamu sudah benar-benar pulih?" Diandra yang tadinya merasa sangat syok karena berpikir jika yang berbicara adalah ibunya Yoshi.


Jadi, begitu mendengar suara Yoshi, membuatnya benar-benar kebingungan dan tidak mungkin hanya diam saja karena khawatir jika pria itu kesal atau pun mengalami hal yang buruk karena dirinya.


"Ya, aku sekarang sudah pulih. Bahkan Tuhan tidak menerimaku. Padahal tadinya aku pikir bisa menyusul papaku begitu mendengar Austin Matteo mengatakan jika kamu sudah menikah dengannya," lirih Yoshi yang saat ini ingin mengetahui awal mula Diandra menikah dengan pria yang dibenci.


Meskipun ia mengetahui jika Austin Matteo adalah ayah biologis dari Aksa, tapi tidak habis pikir bagaimana Diandra bisa berakhir dengan pria yang dibenci.


"Aku menelpon karena ingin mengetahui semuanya, Diandra. Sekarang ceritakan padaku, bagaimana bisa kamu menikah dengan Austin saat aku mengalami koma di London." Yoshi berharap pertanyaannya selama ini terjawab setelah Diandra mau menceritakan semua padanya.


Sementara di sisi lain, Diandra yang merasa kebingungan harus menceritakan hal yang sebenarnya atau karangan dari ibunya Yoshi. Ia masih mengkhawatirkan keadaan Yoshi karena baru saja pulih.


'Apa yang harus kujelaskan pada Yoshi? Jika aku menceritakan hal yang sebenarnya, bagaimana jika ia merasa syok dan kembali mengalami koma begitu mengetahui jika dalam dibalik semuanya adalah ibunya sendiri?' gumam Diandra yang saat ini masih belum membuka suara dan mendengar nada protes dari Yoshi karena diamnya.


"Cepat ceritakan semuanya padaku agar aku tidak dipenuhi oleh rasa penasaran!" seru Yoshi yang sudah tidak sabar ingin mengetahui semuanya.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2