
Setelah dilakukan pemeriksaan secara intensif dan menyeluruh, sang dokter kini membaca hasil laporan yang baru saja dibawa oleh perawat. Kemudian mulai menjelaskan pada sosok pria yang terlihat sangat gelisah dan mengkhawatirkan keadaan dari sang istri yang masih belum sadarkan diri di atas ranjang tersebut.
"Bagaimana, Dokter? Apakah istri saya pingsan karena disebabkan oleh kehamilan?" Austin sudah sangat tidak sabar ingin mendengar jawaban dari sang dokter.
Bahkan ia sudah sibuk merapal doa mengenai sang istri agar benar-benar positif. Ia bahkan saat ini membutuhkan satu alasan mengenai cara untuk menghentikan sang istri agar tidak pergi meninggalkannya setelah mengetahui kenyataan sebelumnya tentang masa lalu.
Hingga ia seketika merasa sangat bahagia mengungkapkan perasaannya setelah sang dokter mengulurkan tangan dan tersenyum padanya.
"Selamat, Tuan karena istri Anda saat ini positif mengandung 6 minggu. Jadi, memang tadi pingsan karena efek kehamilan di trimester pertama. Kondisi kehamilan istri anda sangat lemah dan dibutuhkan perhatian serta harus istirahat yang cukup tanpa melakukan kegiatan apapun." Sang dokter bahkan kini menjelaskan mengenai semua hal yang ada dalam genggaman.
__ADS_1
Bahwa kehamilan dari wanita yang masih memejamkan mata karena pingsan akibat kehamilannya tersebut, sangat beresiko mengalami hal-hal yang tidak diinginkan jika sampai terlalu banyak melakukan aktivitas.
"Jadi, Anda harus benar-benar mengawasi kondisi kesehatan istri anda yang tengah hamil. Bahwa kehamilannya sangat lemah dan benar-benar harus bed rest." Kemudian ia menoleh ke arah perawat untuk memberikan obat penguat kehamilan dan juga beberapa vitamin.
Austin yang masih tidak bisa menghilangkan raut wajah penuh kebahagiaan, seketika menjabat tangan dokter dan berjanji akan selalu menjaga sang istri dengan baik agar tidak terjadi sesuatu hal yang buruk.
"Terima kasih atas semua informasinya, Dokter. Akan istriku benar-benar bed rest di kehamilannya yang kedua ini. Aku akan mencurahkan seluruh perhatianku padanya karena dulu di kehamilan pertama tidak memberikan perhatian sama sekali." Ia bahkan saat ini mengusap lembut pipi putih sang istri dengan raut wajah pucat serta kelopak mata tertutup itu.
Hingga beberapa saat kemudian ia kembali berbicara pada sang dokter mengenai kehamilan sang istri yang beresiko mengalami hal buruk.
__ADS_1
"Dokter, lakukan semua yang terbaik untuk istri dan janinnya agar kelak bisa dilahirkan dengan selamat. Berikan obat terbaik untuknya dan aku akan membayar berapapun demi istriku." Austin saat ini melihat sang dokter menganggukkan kepala dan menjelaskan tentang kehamilan sang istri.
Hingga saat ia serius mendengarkan penjelasan dari sang dokter tersebut, seketika membulatkan mata setelah penjelasan panjang lebar mengenai kehamilan sang istri.
"Sepertinya istri Anda hamil bayi kembar. Jadi, sangat berbeda dengan kehamilan tunggal karena harus lebih memperhatikan semuanya." Sang dokter yang kini mulai menjelaskan perbedaan kehamilan tinggal dan kembar agar pria di hadapannya tersebut mengerti perbedaan signifikan yang dialami oleh seorang ibu.
Austin yang masih merasa sangat terkejut dengan apa yang diketahuinya, ketika memeluk erat tubuh dokter. Ia benar-benar merasa sangat bahagia mendengar kabar baik di hari kesialannya karena ulah orang-orang yang ingin menghancurkan hidupnya.
'Aku berjanji akan selalu menjagamu dan anak-anak kita, Sayang. Kamu tidak boleh pergi walau hanya satu langkah pun dari rumah karena kamu dan anak-anak kita hanyalah milikku seorang.'
__ADS_1
'Aku akan melindungi kalian semua dari orang-orang jahat yang ingin menghancurkan kebahagiaan kita,' gumam Austin yang saat ini tidak mengalihkan perhatian dari sang istri yang sangat pucat dan masih memejamkan kedua mata.
To be continued...