Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Berubah menjadi iblis


__ADS_3

Selama dalam perjalanan menuju ke tempat kos, Diandra hanya diam selama di dalam mobil karena telah menyusun kata-kata yang paling pantas untuk disampaikan ketika meminjam uang pada pria yang fokus mengemudi.


Sebenarnya ia sangat tidak nyaman dengan suasana keheningan di dalam mobil karena semenjak keluar dari klab malam dan masuk ke dalam mobil, pria yang duduk di sebelahnya tersebut sama sekali tidak membuka suara.


Tentunya sangat berbanding terbalik ketika berada di dalam klab karena berakting di depan para sahabat. Jika tadi ia merasa sangat muak, tapi sekarang merasa seperti diacuhkan.


Hal itu membuatnya merasa seperti pepatah 'habis manis sepah dibuang. Seolah ketika sudah tidak dibutuhkan lagi untuk dimanfaatkan, sehingga mendapatkan sikap dingin dan cuek.


'Kenapa ia berubah seperti orang bisu? Apakah pria prinsip sepertinya selalu seperti ini? Membuat pesan para wanita yang dimanfaatkan. Aku pikir ia akan kembali menggodaku di dalam mobil, tapi bukankah yang seperti ini jauh lebih baik?'


Diandra merutuki kebodohannya karena tidak bisa berpikir jernih karena dipenuhi oleh pikiran untuk meminjam uang. Hingga setengah jam telah berlalu dan mobil mewah yang ditumpanginya tersebut sudah tiba di depan tempat kos.


'Kenapa aku tidak mengatakannya saat perjalanan? Sekarang jika mengatakannya, mobil Austin akan menjadi pusat perhatian dari orang-orang jika berhenti lama di depan tempat kos.'


Karena buru-buru dan tidak ingin mendapatkan pikiran buruk dari beberapa orang yang mungkin sedang meronda di sekitar sana, Diandra segera melepaskan sabuk pengaman dan menoleh ke arah pria yang dari tadi berubah menjadi sedingin kulkas.


"Terima kasih, Tuan Austin. Sebenarnya Saya ingin meminta tolong." Diandra yang rasa gugup untuk menyampaikan keinginannya, menyentuh tengkuk belakang.


Sementara itu, Austin yang saat ini seketika menoleh pada sosok wanita di sebelahnya tersebut, berpura-pura untuk tidak tahu apa yang akan disampaikan.


"Katakan saja. Sebenarnya aku ingin mengucapkan terima kasih karena hari ini kamu sudah berakting dengan sangat baik di depan para sahabatku. Bahkan membuatku sampai lupa dengan hukumanmu."


Diandra yang juga baru mengingat hukuman untuknya, kini hanya bisa menelan saliva dengan kasar. "Anda benar. Saya juga lupa."


Meski ingin mengetahui apa hukuman yang akan diterimanya, tapi merasa jauh lebih penting apa yang akan diungkapkan pada pria itu.


"Anda bisa menghukumku kapan saja, tapi apa yang ingin ku katakan jauh lebih penting."


"Baiklah. Aku akan memikirkan hukumanmu karena berubah pikiran dari hukuman pertama yang tadi sempat terlintas di pikiranku. Memangnya Apa yang ingin kamu katakan?" Austin yang baru saja menutup mulut, melihat ada empat orang pria menuju ke arah mobilnya.


Ia mengerti apa yang diinginkan oleh mereka dan seketika melepaskan sabuk pengaman serta keluar dari dalam mobil setelah menoleh ke arah Diandra.


"Apa yang kalian lakukan di dalam mobil malam-malam begini? Jangan berbuat mesum di area ini jika tidak ingin dilaporkan pada pihak keamanan dan membuat kalian malu," ucap salah satu pria yang memakai sarung dan mewakili semua temannya.


Melihat ada mobil mewah berhenti di tempat kos, tentu saja melihat para pria yang sedang ronda tersebut berpikir pada pasangan yang berbuat mesum, sehingga ingin melihat siapa yang berada di dalam.


Begitu melihat seorang wanita keluar dari mobil, membuat mereka terdiam. Karena mereka semua mengetahui bahwa wanita itu sangat sopan dan tidak pernah berbuat macam-macam di sana, meskipun menjadi penghuni baru di tempat kos.

__ADS_1


"Mbak Diandra? Saya pikir siapa tadi," sapa pria yang lain berusia lebih muda dan selama ini sangat suka melihat wanita di hadapannya tersebut.


Sementara itu, Diandra yang buru-buru keluar untuk berbicara pada para pria yang selama ini bergantian meronda di area tempat itu, tidak bisa membuka suara karena mendengar suara bariton dari Austin.


Austin seketika membuka dompet untuk memberikan sebuah kartu nama dan memberikan pada salah satu pria yang tadi seolah menuduhnya menjadi seorang pria bajingan.


"Ini adalah kartu nama saya dan hanya mengantarkan pegawai yang baru saja menghadiri pesta ulang tahun perusahaan. Oh ya, jika membutuhkan pekerjaan, bisa langsung menghubungi nomor ini."


"Saya pasti akan membantu. Lagipula mana mungkin saya berbuat mesum di dalam mobil, karena itu hanya mempermalukan nama baik saya dan juga perusahaan. Apakah mungkin orang seperti saya melakukannya di tempat umum seperti ini?"


Dengan penuh percaya diri dan sama sekali tidak merasa takut pada empat orang yang dianggap hanya menginginkan uang darinya, kini Austin mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dari dalam dompet.


"Ini untuk membeli camilan serta kopi saat duduk di pos."


Tentu saja melihat lembaran uang berwarna merah dan bisa dibagi oleh empat orang tersebut, seketika membuat wajah mereka berbinar.


Seketika salah satu pria menerima uang berwarna merah yang membuat matanya seketika berubah menjadi hijau. "Wah ... terima kasih, Tuan. Anda benar-benar sangat baik hati dan pengertian pada kami yang sedang meronda."


Austin hanya tersenyum menanggapi perubahan sikap dari para pria yang seketika berubah memujanya hanya dengan diberi beberapa lembar uang.


"Sama-sama. Semoga berguna untuk kalian dan selamat beronda." Austin sengaja mengatakan itu agar empat pria tersebut segera pergi dan benar saja yang dipikirkan, sekarang mereka pamit untuk melanjutkan ronda.


Diandra sebenarnya merasa sangat tertampar dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Austin, tapi mengakui bahwa semua itu memang kenyataannya dan sudah mendarah daging dan dilakukan oleh para orang-orang kalangan bawah.


"Ya, Anda benar. Uang bisa membeli segalanya dan sialnya saya sekarang juga membutuhkannya. Hal yang tadi ini saya katakan adalah ingin meminjam uang pada Anda untuk digunakan sebagai biaya rumah sakit. Saat ini, ayah saya sedang dirawat di rumah sakit karena terkena serangan jantung."


Kini, Austin langsung mengeluarkan ponsel dari saku celana bagian kanan dan membuka aplikasi untuk mentransfer sejumlah uang yang dibutuhkan oleh Diandra.


"Sebutkan saja berapa nomor rekeningmu. Aku akan mentransfer uangnya sekarang. Oh ya, berapa kamu ingin meminjam uang dariku?"


Diandra tidak ingin pria di hadapannya tersebut salah paham dengan maksudnya, sehingga langsung menjelaskan agar tidak ada kerugian yang diterimanya setelah menerima uang pinjaman.


"Saya meminjam uang pada Anda dan bukan meminta, jadi akan mengembalikannya. Namun, hanya bisa mencicil setiap bulan dari gaji setelah bekerja di perusahaan. Jadi, tolong jangan berpikir bahwa saya memanfaatkan Anda."


"Anda juga tidak boleh berpikir bisa memanfaatkan ini untuk menghina harga diri saya sebagai seorang wanita. Anda paham, kan maksud saya?"


Diandra saat ini masih menunggu jawaban persetujuan dari pria yang dianggapnya sangat berbahaya jika menyangkut masalah wanita.

__ADS_1


Jadi, ia berpikir harus membuat sebuah batasan meskipun memiliki utang pada pria yang akan menjadi atasannya di perusahaan.


Sementara itu, Austin yang mengetahui apa maksud dari Diandra, kini tanpa pikir panjang langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Ia merasa sudah memegang kunci dan bisa membukanya kapan saja.


Namun, tidak ingin buru-buru untuk masuk ke dalam rumah barunya tersebut. "Tentu saja aku mengerti. Tenang saja karena aku bukanlah seorang pria bajingan yang memanfaatkan kelemahan wanita untuk mendapatkan sesuatu."


"Katakan sekarang, aku harus mentransfer berapa, juga sekaligus nomor rekeninmu."


Kini, Diandra merasa sangat lega, meskipun sebenarnya tidak mempercayai perkataan pria yang selama ini suka mempermainkan wanita. Namun, tidak memperdulikan itu karena berpikir bahwa Austin tidak akan melewati batas yang ditentukan olehnya.


Kemudian ia langsung mengambil ponsel dan mengirimkan nomor rekeningnya pada pria itu agar mudah disalin.


"Sepuluh juta. Saya membutuhkan sekitar segitu karena memang penyakit jantung jauh lebih mahal saat dirawat di rumah sakit."


Tanpa berkomentar apapun karena mengetahui bahwa semua yang dikatakan oleh Diandra benar, kini Austin langsung membuka m-banking dan mengirimkan uangnya.


"Oke, sudah masuk dan kamu bisa mengeceknya." Austin menunjukkan ponsel, di mana nomina 10 juta sudah sukses dikirim. "Apa ada hal lain yang kamu butuhkan?"


Diandra yang langsung mentransfer uang dari hasil pinjamannya tersebut pada rekening sang ayah, kini merasa seolah beban di pundaknya terangkat dan kini bernapas lega.


Bahkan raut wajah kekhawatiran yang dari tadi membuatnya seperti tidak bersemangat serta menampilkan wajah murung, seketika berubah berbinar dan kini menatap ke arah pria di hadapannya.


"Terima kasih, Tuan Austin. Saya benar-benar sangat berhutang budi pada Anda. Lalu, apa hukuman untuk saya?" Diandra menatap dengan penuh sorot penasaran.


"Besok saja! Sekarang aku sangat lelah dan ingin segera pulang ke rumah untuk beristirahat." Austin bergerak masuk ke dalam mobilnya tanpa menunggu respon dari wanita yang dilihatnya mengikutinya dan mengetuk jendela mobil.


"Tuan!" Diandra tiba-tiba mengingat sesuatu dan langsung ingin menyampaikan pada pria yang sudah duduk di balik kemudi tersebut.


Austin saat ini membuka jendela mobil. "Ada apa lagi?"


Diandra saat ini sedikit membungkuk demi menyamakan posisi agar bisa berbicara dengan leluasa untuk menyampaikan hal yang mengganggu pikirannya.


"Saya berharap Anda tidak berbicara pada saya di depan para staf perusahaan karena nanti akan muncul gosip miring. Saya ini fokus bekerja dan tidak ingin ada orang yang berpikir bahwa saya dekat dengan pemimpin perusahaan."


Saat Diandra baru saja mengukir harapan bisa bekerja di sebuah perusahaan besar tanpa ada sebuah gangguan demi kenyamanan mencari nafkah untuk mengais rezeki, seketika merasa sangat lemas ketika mendengar jawaban pria yang dianggap berubah menjadi iblis tersebut.


"Tidak bisa karena hukumanmu adalah ...."

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2