
Austin tidak tahu apa yang diinginkan istrinya, memilih hanya menuruti permintaan seorang wanita yang duduk di kursi roda itu.
Kemudian mendorong kursi roda tersebut ke dalam ruang gym yang telah digunakan untuk melatih otot-otot tubuh sehingga berhasil menampilkan tubuh yang proporsional.
Beberapa saat kemudian, telah sampai di ruangan yang mereka tuju dan keheningan mengisi suasana dini hari karena saat ini semua tenggelam dalam alam bawah sadar, sementara suami istri itu ada disana.
"Ini masih jam tiga pagi, tapi kamu memintaku untuk datang ke sini. Apakah kamu ingin berolahraga saat ini?" Austin yang tadinya berdiri di belakang kursi roda, berjalan berkeliling dan berdiri menjulang di depan istrinya.
Diandra sekarang hanya menganggukkan kepala tanda membenarkannya. Kemudian memanjakan mata dengan banyaknya peralatan olahraga di dalam ruangan.
Ia baru pertama kali melihat ruang olahraga di tempat suaminya karena selama ini lebih banyak menghabiskan waktu di ruang santai saat menemani Aksa bermain dan juga lebih suka berada di kamar.
"Aku tidak akan bisa tidur jika sudah terjaga, Sayang. Jadi, aku ingin mengerahkan energi agar lelah dan akhirnya cepat mengantuk, lalu tidur lagi. Caranya dengan berolahraga."
Yang biasa Diandra lakukan saat tidak bisa tidur saat bangun tidur karena mimpi buruk adalah berolahraga tanpa mengenal waktu karena berharap bisa kembali tidur setelah kelelahan.
"Dulu aku suka lompat tali kalau tidak bisa tidur, tapi sekarang sudah tidak mungkin. Jadi bantu aku melakukan apa yang biasa kulakukan."
Saat ini, Austin mulai memahami keinginan istrinya, sehingga kini ia mengalihkan pandangannya untuk membantu Diandra.
Kemudian ia menunjuk ke sebuah alat yang bisa digunakan untuk melatih tubuh bagian bawah istrinya. "Sepertinya itu cocok, Sayang. Aku akan membantumu."
Diandra yang sangat ingin menguatkan otot kakinya karena tidak ingin selamanya hidup cacat bersama suami. Setelah menjalani terapi, menyadari bahwa ini semua tentang memulihkan kaki.
"Baiklah. Pakai saja yang itu," kata sosok wanita yang kini tersenyum tipis sambil membuka tangannya.
"Tolong aku, Sayang. Aku sebenarnya sudah lelah meminta bantuan, apalagi saat kamu melayaniku."
Austin tidak membuang waktu karena ia sudah menggendong istrinya dan menurunkannya tepat di atas alat yang akan digunakan untuk melatih otot kaki wanita yang terlihat sangat heboh itu.
"Sudah kubilang kamu tidak boleh mengatakan hal seperti itu padaku lagi. Lebih baik kamu fokus sekarang. Mulai hari ini, aku akan selalu menyiksamu di sini."
Kemudian ia memberikan gagang alat itu kepada istrinya dan memegang kedua kakinya saat harus diluruskan dan kaki dilipat. "Lakukan saja perlahan-lahan."
"Ya, aku akan bisa melakukannya meskipun itu butuh sedikit perjuangan." Kemudian Diandra mulai bergerak dengan bantuan Austin.
Dengan beberapa kali menguap, Austin yang sudah sangat mengantuk mencoba membuka mata lebar-lebar dan memegangi kaki istrinya sambil menggunakan salah satu peralatan gym yang ada di sana.
"Maafkan aku karena menyiksamu dengan ini hingga menahan rasa kantuk." Diandra memegang erat alat yang sedang digunakan.
"Itu tidak masalah karena aku paling suka orang yang bertekad sepertimu, Sayang. Semoga kamu bisa segera berjalan lagi." Austin kini bisa melihat wajah memerah yang terpancar jelas mewakili kelelahan wanita di hadapannya.
__ADS_1
Kaki lurus dan ditekuk berkali-kali mengikuti alat yang digunakan berhasil membuat keringat Diandra bercucuran.
Ia bahkan sesekali meringis menahan rasa lelah yang luar biasa dari gerakan sederhana itu, tapi itu sungguh menyiksanya.
Lelah adalah kata yang tidak bisa menggambarkan perasaan Diandra, tapi seolah sudah terbiasa dengan semuanya, maka kali ini ia masih kuat untuk berusaha keras.
"Sayang, besok saja lagi karena kamu terlihat sudah berkeringat seperti itu." Austin sangat ingin mengelus lembut pelipis istrinya yang dibanjiri keringat.
Namun, ia tidak bisa melakukannya karena masih memegangi kedua sisi kaki istrinya karena takut terjatuh saat melakukan gerakan tersebut.
"Aku masih kuat, Sayang." Diandra merasa marah saat melakukan hal kecil pun terasa seperti melakukan pekerjaan besar, tapi bersyukur karena berhasil menggiring opini publik yang positif.
Entah sudah berapa lama, kini ia merasa lemas dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang kokoh itu setelah melepaskan genggaman.
"Aku lelah, Sayang. Rasanya lebih baik memelukmu seperti ini dan menghilangkan beban pikiranku saat memikirkan kondisi kakiku." Diandra masih berdiri sekarang, sepertinya kamu akan mendapat masalah.
"Sabar dan semangat terus untuk terapi supaya bisa jalan lagi."
Diandra yang selama ini mencium aroma maskulin khas suaminya, sepertinya mulai ketagihan.
“Ya, aku tahu itu. Mungkin butuh waktu lama bagiku untuk bisa kembali hidup normal seperti dulu. Namun, aku tidak akan pernah menyerah. Untuk saat ini, cukup karena aku sangat lelah dan ingin beristirahat."
Hingga kini Diandra merasa sangat lega setelah berhasil mengungkapkan luapan perasaan yang dirasakan.
"Terima kasih, Sayang, sudah menemaniku saat istirahatmu kurang karena harus ke luar negeri."
"Ayo tidur setelah keringatmu hilang. Kamu tidak bisa istirahat sambil berkeringat karena itu tidak baik. Jangan minum es juga karena itu berbahaya bagi kesehatan."
Austin yang kini berhasil membuat istrinya jauh lebih tenang, langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
"Kalau dipikir-pikir, tidak baik tidur kotor dan ada sesuatu yang paling kamu benci saat itu. Tapi mandi pagi itu sangat menyehatkan karena selalu bergairah setelah bercinta. Oh iya, Sayang, ada yang aku lupa."
"Apa?" Diandra sangat penasaran dan ingin suaminya menceritakannya secara langsung.
Namun, yang terjadi justru sebaliknya karena benar-benar bingung harus berbuat apa sekarang. "Aku akan sibuk sampai akhir bulan, tapi akan membantu semampuku jika kamu membutuhkanku."
"Aku tahu, Sayang," kata Diandra yang kini sudah berada di atas ranjang dengan posisi berbaring setelah ditolong pria yang sangat dicintainya itu.
"Aku mencintaimu." Austin kini berbaring di samping istrinya dan memejamkan mata lagi karena benar-benar sangat lelah.
Sementara itu, Diandra kini memeluk tubuh kekar pria di sebelahnya dan memejamkan mata kembali. Namun, sebelum itu berdoa agar mimpi itu bisa segera terwujud.
__ADS_1
'Aku ingin bisa berjalan lagi seperti dulu karena tidak ingin merepotkan semua orang. Semoga Tuhan mendengar doaku dan bisa hidup normal lagi tanpa menimbulkan masalah bagi orang lain.'
Kemudian ia kembali menutup matanya dan berharap segera terlelap dengan suami dan anaknya di sebelah kiri.
***
Satu tahun kemudian...
Setelah lama berjuang dengan pengobatan dan terapi agar bisa berjalan kembali, Diandra kini sangat bahagia karena usahanya tidak sia-sia.
Setelah setahun menjalani terapi dan pengobatan, ia akhirnya bisa berjalan kembali seperti semula.
Diandra saat ini masih berada di ruang terapi dan sangat terkejut ketika sudah cukup kuat untuk berdiri dan berjalan.
Raut wajah yang berbinar kini terlihat jelas mewakili rasa bahagia karena merasakan penderitaan yang telah berakhir hari ini.
Bahkan ia sempat memeluk erat tubuh perawat wanita yang selama ini sabar menghadapinya saat marah karena putus asa.
"Akhirnya aku bisa berjalan lagi. Terima kasih sudah bersabar denganku."
“Sudah menjadi tugasku melakukan hal seperti ini karena ini adalah pekerjaan,” kata perempuan berseragam biru itu sambil tersenyum lebar karena begitu senang melihat pasien sudah kembali normal.
Usaha itu tidak akan pernah mengkhianati hasil dan putus asa serta menyerah bukanlah solusi terbaik untuk menghadapi masalah yang terjadi.
Diandra masih terlihat bahagia, kali ini ia mendengar suara seorang wanita yang tak lain adalah sang dokter yang dulu dicemburuinya.
“Selamat, nyonya Diandra karena hari ini sudah bisa jalan lagi.” Dokter mengulurkan tangan dan menunggu jawaban dari pasien.
Tidak ingin kekanak-kanakan karena cemburu pada wanita cantik di depannya, Diandra menjabat tangan itu.
"Terima kasih Dokter. Ini semua berkat Anda. Saya berterima kasih karena Anda telah melakukan yang terbaik untuk penyembuhan kaki ini." Diandra menunduk menatap kakinya yang sudah kembali normal seperti semula.
Sampai terbesit ide di kepala dan langsung diutarakan ke dokter.
Sedangkan dokter sangat terkejut ketika mengetahui rencana pasien yang sudah 1 tahun dalam pengawasannya. "Jika Anda menginginkannya, saya tidak mungkin menolak dan hanya dapat mendukung rencananya agar berhasil."
"Terima kasih, Dokter. Anda benar-benar dokter yang baik." Diandra tak berhenti tersenyum bahagia mengungkapkan semua yang dirasakannya saat ini.
'Semoga rencanaku berhasil,' gumam Diandra yang tersenyum tipis membayangkan apa yang direncanakan.
To be continued...
__ADS_1