Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Siapa yang datang


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan kamar yang menjadi saksi bisu percintaan panas dan liar dua insan yang ada di atas ranjang dengan desain dan rintihan yang mendominasi dan seolah menegaskan bagaimana mereka mendaki puncak kenikmatan yang diinginkan.


Bahkan keduanya seolah mengeksplor diri tanpa khawatir ada yang mendengar suara rintihan kenikmatan mereka karena tidak ada satupun orang di dalam rumah.


Austin benar-benar membuktikan perkataan yang tadi untuk tidak membiarkan sang istri terdiam karena harus mengimbangi apapun yang dilakukannya. Tentu saja ia pun mempraktekkan pada sang istri apa yang ditonton beberapa saat lalu.


Diandra yang saat ini mengikuti arahan dari sang suami karena memang pertama kali melakukannya setelah 1 tahun lebih hanya diam saat bercinta karena efek kakinya yang cacat. Jadi, sekarang sama sekali tidak menolak dan patuh pada apapun yang diperintahkan.


Hingga ia berkali-kali merintih serta mendesah penuh kenikmatan dan meneriakkan nama pria yang sangat dicintainya tersebut hingga membuat ia mencapai puncak bukan hanya satu kali.


Kini, deru napas memburu terdengar sangat jelas mewakili apa yang dirasakan ketika kembali mencapai *******. Bahkan sama-sama merasakannya dengan sang suami yang baru saja meledakkan benih ke dalam rahimnya.


Austin yang baru saja mencapai puncak, masih belum berpindah posisi dari sebelumnya karena menormalkan deru napasnya. Hingga beberapa saat kemudian berbisik di dekat daun telinga sang istri.


"I love you. Terima kasih, Sayang," ucapnya sambil bergerak ke sebelah kiri.


Diandra langsung menanggapi ungkapan cinta dari sang suami sambil memeluk erat tubuh yang penuh dengan penuh setelah cukup lama mereka mendaki puncak asmara.


"I love you too, Sayang." Diandra yang saat ini masih belum berniat untuk beranjak dari tempat tidur, seolah tidak rela melepaskan pelukan karena merasa nyaman melakukannya.


"Lelah?" tanya Austin yang saat ini merapikan anak rambut sang istri agar tidak menghalangi pandangannya untuk memanjakan mata menatap ke arah wanita dengan paras cantik yang sangat dicintainya tersebut.


Diandra saat ini hanya menganggukkan kepala dan merasa terharu atas sikap yang ditunjukkan oleh sang suami ketika mencium keningnya. "Kamu benar-benar sangat hebat, Sayang. Rasanya tubuhku remuk semua ini."


Austin hanya terkekeh menanggapi kalimat terakhir dari sang istri. "Nanti aku pijat biar tidak remuk agar bisa melanjutkan ronde kedua. Sekarang istirahat dulu sebentar."


Kemudian ia bangkit berdiri dari ranjang dan langsung mengangkat tubuh polos sang istri menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri agar bisa nyaman beristirahat di bawah selimut tebal sambil berpelukan.


Diandra yang saat ini langsung mengalungkan kedua tangannya di balik leher sang suami ketika sudah digendong menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.

__ADS_1


"Ini saja baru selesai sudah memikirkan ronde kedua. Dasar mesum!" umpatnya saat mengungkapkan kekesalannya karena saat ini kakinya saja masih gemetar ketika diturunkan ke atas lantai dingin kamar mandi.


"Ya, kan nanti, Sayang. Bukan sekarang karena aku pun juga sangat lelah. Bukan kamu saja yang lelah karena aku pun juga bekerja keras tadi." Kemudian membantu sang istri untuk membersihkan diri dan beberapa saat kemudian kembali ke ranjang.


Diandra yang kini berniat untuk memakai bajunya kembali, mengerutkan keningnya saat direbut oleh sang suami. "Apa yang kamu lakukan, Sayang?"


"Jangan membuatku repot-repot melepaskannya. Buat apa pakai baju jika nanti kembali melucutinya saat ronde kedua?" Kemudian menarik tangan sang istri agar naik ke atas ranjang dan berbaring di sebelahnya. "Pakai selimut saja."


Diandra yang sama sekali tidak bisa menolak keinginan sang suami, ini sudah berbaring di bawah selimut. Ini baru pertama kali melakukannya karena memang tidak ada orang sama sekali di rumah.


Jika selalu ada putranya yang keluar masuk kamar dan pastinya tidak bisa melakukan hal seperti itu, Jadi sekarang membiarkan sang suami yang ingin berbuat apapun.


Kini, ia kembali merasakan dekapan hangat dari tangan dengan buku-buku kuat sang suami yang memeluknya erat. Sementara ia menyembunyikan wajah di dada bidang pria dengan aroma khas maskulin yang selalu menjadi candunya.


"Sayang, apa kamu bahagia menjadi bagian dari hidupku?" tanya Austin yang saat ini mulai mengungkapkan apa yang dikhawatirkan olehnya.


Diandra yang merasa pertanyaan sama suami sangat aneh karena pada faktanya ia memang menjadi wanita paling beruntung memiliki suami sebaik itu. Hingga ia memilih membalas dendam karena mengingat perkataan dari sang suami saat di kantor tadi.


"Isssh ... malah menjiplak kata-kataku. Aku serius, Sayang." Austin bahkan ingin sang istri bersumpah untuk tidak meninggalkannya karena jujur saja setiap hari ada keraguan dan ketakutan jika Diandra meninggalkannya saat mengingat semuanya."


Diandra yang tadinya menyembunyikan wajah di dada bidang sang suami, Ini mendengar untuk menatap wajah dengan rahang tegas yang terlihat sangat serius dan membuatnya mengerutkan.


"Biasanya yang bertanya seperti ini mayoritas adalah wanita, tapi rasanya sangat aneh jika suami menanyakannya. Bukankah kebanyakan para istri selalu bertanya pada suami apakah sayang atau tidak? Padahal jelas-jelas sudah dinikahi, tapi masih bertanya sayang atau tidak."


Diandra yang saat ini menatap heran pada sang suami karena seperti melihat ada ketakutan di iris tajam berkilat itu. Ia pun menelusuri rahang tegas pria dengan paras rupawan itu dengan dengan jari telunjuk.


"Aku sangat bahagia bisa memilikimu, Sayang. Sebenarnya apa yang menjadi alasan kamu bertanya seperti ini?" Ia tidak bisa melanjutkan aksinya karena tangannya ditahan oleh sang suami yang menatapnya intens.


"Aku ingin kamu berjanji, bahwa kamu tidak akan pernah pergi dariku dan selamanya mencintaiku," ucap Austin yang kini merasa jika kebahagiaan yang dirasakan tidak bertahan selamanya.

__ADS_1


Apalagi tadi paman Yoshi datang dan pastinya mempunyai sebuah rencana yang tidak ia ketahui untuk menghancurkan rumah tangganya dengan sang istri yang sangat dicintai.


Ditambah orang yang membuntuti tadi, membuatnya akan menyuruh orang untuk menjaga sang istri agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


"Kamu kenapa sih, Sayang?" tanya Diandra yang merasa sangat aneh melihat sikap suami.


Austin tanya menggelengkan kepala karena tidak mungkin menjelaskan kejadian sesungguhnya. "Aku hanya ingin kamu berjanji padaku. Baru aku merasa tenang. Bersumpahlah atas nama ibumu dan Tuhan, bahwa kamu tidak akan pernah pergi meskipun apapun yang terjadi."


Diandra benar-benar merasa sangat aneh melihat sikap dan permintaan sang suami, tapi tidak pernah menyangka jika saat ini melihat ada ketakutan di mata Austin. Tidak ingin makin membuat khawatir, akhirnya ia mengaitkan jari kelingkingnya.


"Aku Diandra Ishana, berjanji akan selamanya mencintai suamiku dan tidak akan pernah meninggalkannya meski apapun yang terjadi. Apa ada lagi?" tanya Diandra yang ingin sang suami mengungkapkan hal lain jika belum puas.


Refleks Austin menggelengkan kepalanya karena ia sudah sedikit lega dan puas. "Tidak, Sayang. Itu sudah cukup." Kemudian memeluk erat tubuh polos di bawah selimut tebal berwarna putih itu. "Aku sangat mencintaimu dan akan selamanya mencintaimu, Sayang."


"Terima kasih, Sayang atas cinta luar biasa yang kamu miliki untukku. Aku adalah salah satu wanita beruntung di dunia ini karena memiliki suami sepertimu. Aku lelah, Sayang. Kita tidur sebentar, ya." Kemudian Diandra memejamkan kedua mata karena beberapa kali tadi menguap.


Austin yang saat ini menganggukkan kepala, kini mengusap lembut punggung sang istri yang berada di pelukannya. "Baiklah. Kita tidur. Nanti kalau terjaga, kita lanjutkan ronde kedua."


"Maunya!" sarkas Diandra yang mengarahkan cubitan pada perut sixpack sang suami tanpa membuka mata.


Sementara Austin hanya terkekeh geli mendapatkan cubitan cinta dari wanita yang juga memeluknya erat. "Mumpung putra kita tidak ada, Sayang. Bahkan aku sudah mengusir para pelayan tadi agar bisa leluasa bercinta."


Saat ia baru saja menutup mulut, mendengar suara napas teratur dari sang istri dan kini menarik diri untuk melihat jelas apakah wanita di pelukannya sudah tertidur. Saat ia menyentuh hidung mancung itu, sama sekali tidak ada pergerakan dan membuatnya heran.


"Cepat sekali istriku tidur. Pasti dia sangat kelelahan," ucapnya sambil tersenyum simpul dan menutupi tubuh sang istri bagian atas dengan selimut karena tadi hanya sampai di pundak.


Hingga beberapa saat kemudian ia berniat untuk melakukan hal sama setelah puas memanjakan mata untuk menatap sang istri.


Namun, tidak bisa melakukannya karena saat ini mendengar suara bel pintu berbunyi. "Siapa yang datang malam-malam begini?"

__ADS_1


To be continued...


__ADS_2