Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Biaya operasi


__ADS_3

Austin yang baru saja keluar dari ruangan kerja, masih tidak mematikan telpon pada Diandra. Ia yang tadi mendengar ada gosip mengenai hubungannya dengan Diandra.


Itu karena memakai jas miliknya, sehingga membuatnya langsung bertindak dan kali ini seolah mengumumkan bahwa Ia memang benar memiliki sesuatu yang spesial pada wanita itu.


Semua itu dilakukannya demi kebaikan wanita yang merupakan pegawai baru di perusahaannya karena berpikir bisa melindungi seorang di antara yang sangat membutuhkan pekerjaan karena kisah hidup yang malang.


Ia benar-benar mengapresiasi niat baik seorang anak yang ingin berbakti pada orang tua untuk membayar utang-utang keluarga. Sementara di zaman sekarang ini, lebih banyak orang yang tidak memperdulikan keluarga hanya demi bisa terlihat mewah di mata orang lain.


Dengan membeli barang-barang mewah agar bisa mendapatkan pujian karena bisa hidup dengan glamor tanpa memperdulikan apakah orang tua yang ada di kampung halaman bisa makan enak atau tidak.


Ia ingin berbicara empat mata dengan Diandra untuk membicarakan masalah itu, jadi berpikir untuk membuat wanita yang sudah tersebar sebagai kekasihnya tersebut mengerti kebaikannya.


Karena merasa sangat yakin jika Diandra tidak akan mau menemuinya di tempat kos, jadi memilih untuk membuat wanita itu lembur dan bisa berbicara dengan tenang tanpa ada gangguan dari siapapun.


Namun, karena tidak ada jawaban dari seberang telpon, Austin memilih untuk segera menghampiri wanita yang membuatnya selalu kesal itu.


"Apa kamu akan tetap diam seperti orang bisu?" sahut Austin yang seketika berjalan cepat begitu keluar dari dalam lift untuk segera menghampiri meja kerja Diandra.


Hingga ia terkekeh geli begitu mendengar respon dari Diandra di seberang telpon.


"Jangan berniat macam-macam hanya karena tidak ada orang di sini karena saya tidak akan segan-segan untuk melukai dengan gunting yang ada di dalam tas."


Diandra saat ini mengarang cerita untuk menakuti pria yang mungkin sebentar lagi akan menghampirinya dan benar saja, ia mendengar suara bariton dari pria yang berjalan mendekat sambil masih memegang telpon di dekat telinga.


Refleks Diandra mematikan sambungan telepon karena bisa mendengar dengan jelas suara tawa seorang Austin yang dianggap telah mempermainkannya karena baru saja siang tadi membuatnya kesal.


Namun, sekarang semakin menambah lagi kekesalannya karena disuruh lembur tanpa ada satu rekan pun yang menemaninya.


"Astaga! Sepertinya otakmu perlu dicuci dengan sabun hingga bersih agar tidak berpikiran kotor padaku. Aku sama sekali tidak bernafsu denganmu. Jadi, tenang saja karena aku tidak akan memperkosamu." Austin yang baru saja tiba, ini sudah bersandar di dekat meja kerja Diandra.


Kemudian tersenyum mengejek dan mengungkapkan apa yang ada di pikirannya selama ini. "Malah yang ada, para wanita mengincarku untuk memperkosa mereka."


Diandra yang tadinya ingin fokus bekerja agar bisa segera pulang setelah menyelesaikan tumpukan dokumen di hadapannya tersebut, seketika menghembuskan napas kasar saat mendengar kalimat penuh percaya diri yang membuatnya benar-benar mual.


"Seumur-umur, baru kali ini saya bertemu dengan seorang pria yang sangat percaya diri mengatakan hal yang tidak pantas."


Dengan wajah macam dan bibir mengerucut untuk mengungkapkan rasa kesal sekaligus marah karena mendengar kalimat bernada vulgar dari pria yang masih terus tertawa menanggapinya.

__ADS_1


Diandra rasanya ingin sekali mengangkat tangannya untuk menampar wajah pria yang menurutnya sangat kurang ajar karena berbicara hal-hal tidak pantas dengannya.


Apalagi selalu saja mengejeknya dengan kalimat-kalimat yang melukai perasaannya. Namun, sadar tidak bisa melakukan itu karena membutuhkan pekerjaan dan tidak yakin apakah bisa diterima di perusahaan lain jika sampai dipecat.


'Sabar ... sabar. Ternyata mencari uang itu sangat susah seperti ini dan harus mengorbankan harga diri yang selama ini kujaga baik-baik. Sial ... sial! Kenapa aku bisa ditakdirkan berhubungan dengan pria sepertinya.'


Austin yang masih setengah duduk di meja kerja wanita dengan wajah penuh kesalahan tersebut, masih seperti biasa karena hanya tersenyum menyeringai.


"Padahal aku tadi hanya mengatakan sebuah fakta karena pada kenyataannya mereka mengatakan itu secara langsung padaku. Kamu sepertinya tidak tahu bahwa banyak wanita yang memujaku dan berharap bisa menjadi salah satu kekasihku."


Diandra benar-benar sangat muat mendengar kalimat pujian pada diri sendiri yang dianggap hanyalah sebuah kesombongan tersebut.


"Iya, saya percaya. Sekarang saya harus fokus menyelesaikan ini jika ingin segera pulang." Saat Diandra memilih cuek dan membuka dokumen di hadapannya, kembali merasa seperti terdampar dengan kalimat penuh kesombongan pria di sebelahnya.


"Padahal jika kamu patuh padaku dan bersikap lebih manis, bisa langsung menyuruhmu pulang tanpa mengerjakan itu." Austin bahkan saat ini meraih dokumen yang tadi dibuka oleh Diandra.


"Ini bisa diselesaikan oleh staf yang lain tanpa kamu bersusah payah, tapi sepertinya harga dirimu terlalu tinggi untuk meminta hal itu padaku. Kamu terlalu angkuh pada seorang pria. Awas jika terkena batunya."


Saat Austin membuka dan memeriksa dokumen di tangannya, sekilas melihat saat Diandra bangkit berdiri dari kursi dan menatapnya tajam seolah penuh kebencian.


Diandra sebenarnya ingin menggebrak meja untuk melampiaskan kekesalan, tapi tidak melakukannya karena berusaha untuk menahannya agar lebih sadar diri pada posisinya yang hanyalah seorang pegawai rendahan.


Austin seketika menaruh dokumen di tangannya ke atas meja. Kemudian beralih bertepuk tangan melihat sikap arogan wanita yang dianggap sangat berani mengungkapkan pikiran.


"Wah ... kamu memang sangat luar biasa. Diandra, kamu adalah satu-satunya wanita yang berani menaikkan lantai suara pada atasanmu. Mungkin jika kamu melakukannya pada orang lain, sudah pasti dipecat tanpa pasangon."


"Aku jadi sangat penasaran, apakah kau berani melakukan hal seperti ini pada atasan jika bekerja di tempat lain? Apa kamu ingin mencobanya untuk membuktikannya padaku?" Austin saat ini mengambil ponsel miliknya di satu celana dan menunjukkan bukti ia mentransfer uang untuk Diandra.


"Dengan apa kamu membayar utangmu ini? Kamu tidak lupa, kan?" Austin saat ini menatap tajam wanita yang masih diam membisu dengan wajah memerah.


Seolah saat ini dengan sekuat tenaga menahan amarah karena kesal padanya. Ia hanya menanggapi dengan terkekeh geli karena merasa sangat lucu melihat kelinci kecilnya hendak berontak dan kabur dari genggamannya.


Sementara itu, Diandra yang sudah terbiasa dengan ancaman, kali ini berusaha untuk berpikir secara rasional demi memutuskan apa yang akan dilakukannya.


'Aku tidak pernah berpikir bahwa harga diriku tidak ada artinya sekarang. Aku harus menerima ejekan dari pria yang menyebalkan ini demi bisa tetap bekerja di perusahaan ini.'


Diandra hanya bisa berkeluh kesan di dalam hati dan tidak menanggapi ejekan dari pria yang tidak bisa di lawannya. Ia mencoba untuk memenuhi pikiran dengan energi positif dan juga mengingat bahwa sebelum bekerja saja sudah mempunyai utang sepuluh juta pada pria di hadapannya tersebut.

__ADS_1


Lidahnya seolah kelu karena tidak bisa membuka suara untuk meminta maaf demi merendahkan harga dirinya agar bisa terus bekerja di perusahaan pria yang sewenang-wenang padanya.


Hingga ia kembali menahan amarah begitu melihat pria itu mendekatkan wajah dan berbisik di dekat daun telinganya. Hingga membuat bulu kuduknya meremang seketika.


"Jangan sampai keluar dari perusahaan ini membuatmu menjadi seorang wanita penghibur di klab malam. Banyak wanita yang memilih pekerjaan itu karena tidak tahan dengan kerasnya kehidupan." Austin sengaja mengatakan itu agar Diandra tetap dalam kuasanya.


Ia bahkan masih belum menarik diri karena ingin semakin menakut-nakuti wanita yang hanya diam membisu tanpa melawan.


"Oh ya, ada banyak juga wanita yang menjual diri hanya karena terlilit utang. Apa kamu ingin menjadi salah satu di antaranya?"


Diandra memang sering mendengar hal seperti itu karena ia mempunyai sahabat yang bekerja di klab malam untuk menjadi wanita penghibur.


Ia bahkan mengetahui dari sahabatnya secara langsung yang dulu mengajaknya karena mengetahui utang-utang keluarganya banyak.


Namun, ia menolak mentah-mentah dan tidak menciptakan bahwa pergi ke Jakarta untuk melamar pekerjaan di sebuah perusahaan dengan harapan bisa mengangkat derajat orang tua.


"Sampai kiamat pun, saya tidak akan pernah melakukan pekerjaan kotor seperti itu karena lebih baik mengemis daripada menjual kehormatan. Orang tua saya membesarkan dan merawat dengan baik bukan untuk bisa melihat putrinya bergelimang dosa."


Kini, Austin mengangkat ibu jari dan salut pada sikap percaya diri Diandra. Hanya saja, ia sudah sering melihat para wanita yang berakhir dengan menjual harga diri setelah lama tinggal di Jakarta.


"Semoga saja kamu tetap bisa menjaga harga dirimu yang sangat tinggi itu. Hanya saja, terkadang takdir tidak semulus yang diharapkan. Camkan kata-kataku dan kamu pasti bisa mengingatnya saat berada di posisi yang tersudut."


Austin awalnya ingin sekali menemani wanita itu hari ini, tapi karena suasana hatinya sedang tidak baik, akhirnya memilih untuk pulang. "Selamat menikmati lembur."


"Karena kamu tidak tahu berterima kasih karena kebaikanku yang ingin menemanimu, lebih baik aku pulang dan beristirahat di rumah." Kemudian ia berjalan meninggalkan wanita yang hanya diam membisu di tempat.


Saat Diandra menatap ke arah siluet pria yang berjalan menjauh, suara dering ponsel miliknya yang ada di atas meja berbunyi dan ia buru-buru menggeser tombol hijau ke atas begitu melihat nama sang ayah dan berpikir itu adalah ibunya.


"Halo, Bu. Bagaimana keadaan ayah?" Dengan wajah penuh kekhawatiran, Diandra berharap sang ibu mengatakan bahwa ayahnya sudah lebih baik dan diizinkan pulang.


Hingga ia jatuh terduduk lemas begitu mendengar suara sang ibu di seberang telpon.


"Diandra, maafkan Ibu karena mengatakan ini. Ibu tidak tahu harus bicara dengan siapa. Keadaan ayahmu semakin parah dan dokter mengatakan harus segera dioperasi. Bagaimana ini? Ibu benar-benar bingung karena tidak punya apapun untuk dijual."


Seketika ponsel yang dipegangnya luruh ke lantai dan Diandra kali ini sudah berurai air mata saat mengkhawatirkan keadaan sang ayah yang hanya bisa selamat dengan cara dioperasi.


'Ya Allah, apa yang harus kulakukan sekarang? Dari mana aku mendapatkan uang untuk biaya operasi ayahku?' gumam Diandra yang seketika menoleh ke arah sosok pria berjalan mendekat ke arahnya.

__ADS_1


"Apa dompetku jatuh di sini?"


To be continued...


__ADS_2