
Saat ini, Diandra, putranya dan Yoshi sudah berada di warung makan sebelah toko mainan. Tadinya, Diandra mengusap peluh di wajah putranya dengan sapu tangan. Cuaca di siang hari ini yang terasa sangat panas, berhasil membuat Aksa kegerahan meskipun di rumah makan tersebut ada kipas angin.
"Panas banget cuaca hari ini." Diandra memangku putranya dan mencium pipi putih putranya yang sudah menjadi candunya karena tidak pernah merasa bosan melakukan itu.
"Iya, hari ini terasa sangat panas. Mungkin nanti sore hujan karena biasanya begitu jika terasa sangat panas," ucap Yoshi yang kini langsung menerima makanan pesanannya dari pedagang.
Ia tadi menyuruh Diandra memesan dulu dan akhirnya memesan yang sama, tapi bukan langsung dimakan karena ingin menyuapi Aksa agar wanita di sampingnya tersebut menikmati makanannya.
"Izinkan aku menyuapi Aksa hari ini, Diandra. Aku ingin merasakan bagaimana rasanya seorang ayah menyuapi putranya." Yoshi kini melihat ke arah nasi dengan sayur SOP dan lauk ayam goreng yang menjadi menu bocah berusia 2 tahun itu.
Diandra makin merasa tidak tega pada Yoshi dan akhirnya menurunkan tubuh putranya di sebelahnya dan berada di tengah-tengah mereka. "Sayang, makan disuapi papa, ya."
"Ehm ... iya. Mamam ama Papa." Seperti biasa, Aksa selalu menuruti apapun yang dikatakan oleh sang ibu tanpa berniat untuk membantah
"Syukurlah Aksa pun tidak keberatan." Yoshi pun kini tersenyum bahagia sambil mengusap lembut rambut hitam berkilat Aksa yang menurutnya adalah anak yang penurut.
Ia tahu jika bocah yang tumbuh besar tanpa kasih sayang seorang ayah itu bisa menjadi seperti itu karena memiliki seorang ibu yang yang luar biasa.
Bahwa kasih sayang seorang Diandra membuatnya benar-benar sangat salut pada wanita itu. Ia pun kini mulai menyuapi dengan mengambil satu sendok makanan dan mengarahkan ke mulut Aksa.
"Putra Papa sangat pintar. Aksa harus tumbuh menjadi pelindung mama saat besar nanti, ya. Lindungi mama dari orang-orang jahat." Tanpa disadari, netra pekatnya kini sudah berkaca-kaca karena merasa terharu dengan momen saat ini.
"Jadi, seperti ini rasanya mempunyai seorang anak? Benar-benar sangat membahagiakan pastinya bisa melihat tumbuh kembang anak. Aku sekarang Sementara jadi bisa merasakannya. Padahal dulu berpikir sampai ajal menjemput, tidak akan pernah bisa merasakan momen ini."
"Apalagi setelah mengetahui kelemahanku, mana mungkin ada wanita yang mau menikah dengan pria mandul sepertiku. Kenapa aku ditakdirkan menjadi seorang pria tidak berguna? Kenapa harus aku yang terpilih dari banyaknya laki-laki di dunia ini?" lirih Yoshi tanpa mengalihkan perhatian dari Aksa yang tengah mengunyah makanan.
__ADS_1
Diandra yang saat ini baru mengunyah makanannya, seketika menoleh pada pria tampan yang terlihat kehilangan binar kebahagiaan.
'Wajah Yoshi memang masih sangat tampan seperti dulu meskipun sudah bertambah usia. Namun, bedanya saat ini seolah cahaya kehidupan hilang. Sekarang Yoshi selalu murung dan benar-benar seperti orang yang kehilangan semangat hidup.'
Diandra kini menepuk bahu kokoh pria yang berada di sebelah putranya. "Kamu harus tahu bahwa saat kita masih di dalam kandungan, jodoh sudah ditentukan. Jadi, jangan pesimis seperti itu. Aku yakin suatu saat kamu akan menemukan jodohmu. Tunggulah hingga masa itu tiba."
Sebuah kalimat penghiburan yang didengar Yoshi hanya membuatnya merasa menjadi seorang pria tidak menarik di mata Diandra. 'Seandainya dia tahu jika aku tidak ingin wanita lain? Aku hanya menginginkanmu, Diandra.'
Yoshi tersenyum miris saat ini dan kata-kata Diandra tidak bisa membesarkan hatinya yang terluka dalam karena vonis dokter. Ia selama ini paling tidak suka dikasihani oleh beberapa orang yang tahu kelemahannya.
Namun, tidak merasa marah pada Diandra yang terlihat seperti orang lain, yaitu iba pada pria tidak berguna sepertinya
"Dunia benar-benar berputar seperti kata pepatah. Jika dulu aku iba padamu karena mendapatkan masalah besar, tapi sekarang terbalik. Sekarang kamulah yang sangat iba padaku."
"Aku benar-benar tidak mempunyai muka di depanmu karena kamu sekarang mengetahui nasibku yang sangat menyedihkan ini, tapi dikasihani olehmu, rasanya sangat luar biasa. Seolah semua keberuntungan berada di tanganku sekarang." Yoshi kini menunjukkan telapak tangan yang baru digenggam.
"Diandra, terima kasih sudah mengkhawatirkan aku. Apakah kamu mau menikah denganku? Aku janji akan menjadi sosok ayah yang baik untuk Aksa. Aku pun akan berusaha menjadi suami yang baik untukmu, meskipun tidak bisa membuatmu hamil lagi."
Yoshi seketika menyadari keberaniannya bisa membuat Diandra ilfil padanya. Bukan itu yang diinginkan dah ia benar-benar sangat takut jika itu terjadi.
Refleks Yoshi langsung menepuk jidat berkali-kali. "Maaf, Diandra. Lupakan apa yang baru saja kukatakan." Menepuk mulutnya yang dianggap tidak bisa menjaga lidah.
Diandra yang merasa sangat shock dengan apa yang baru saja didengar dari Yoshi, kini masih terdiam sambil menatap intens wajah pria yang terlihat sangat tidak percaya diri dan bahkan seperti sudah kehilangan semangat hidup.
Ia kini tengah memikirkan sesuatu yang tiba-tiba terlintas di pikirannya saat ini karena membangkitkan pengharapan dan menjadi secercah harapan sekaligus titik terang dari ketakutannya.
__ADS_1
'Menikah dengan Yoshi akan membuatku bisa sepenuhnya melindungi Aksa dari Austin. Lagipula Saat ingatan si berengsek itu kembali, mungkin akan menyadari bahwa Aksa adalah putranya karena wajahnya hampir mirip.'
Melihat Diandra sama sekali tidak membuka suara, kini Yoshi melakukan hal sama seperti wanita itu tadi yang berusaha untuk menenangkannya.
"Jangan memikirkan perkataanku yang konyol tadi. Aku tadi hanya bercanda. Aku adalah seorang pria egois jika memintamu menikah denganku. Hidupmu akan menderita seumur hidup."
Seketika lamunan Diandra buyar dengan suara bariton yang terdengar sangat menyayat hati tersebut. Pada akhirnya, ia mengambil keputusan besar demi putranya. "Baiklah. Ayo, kita menikah."
"Apa? Apa aku tidak salah dengar, Diandra? Kamu mau menikah denganku?" Yoshi mengerjapkan matanya dan merasa takut jika salah dengar.
Refleks Diandra menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku serius dan bersedia menikah denganmu karena sama sekali tidak mempermasalahkan kekuranganmu."
"Apalagi aku bisa melihat bahwa kamu mau menyayangi Aksa. Bagiku, itu sudah lebih dari cukup," jawab Diandra yang kini tersenyum simpul pada Yoshi.
"Diandra ...." Yoshi kini tidak bisa menahan kebahagiaan yang dirasakan saat ini.
Bahkan ia tidak bisa berkata-kata lagi dan bulir air mata lolos dari bola matanya yang mewakili perasaannya yang teramat sangat bahagia karena sebenarnya tadi hanya keceplosan saat meminta Diandra menikah dengannya.
"Astaga, kamu menangis, Yoshi? Jangan membuatku merasa kecewa saat membanggakanmu dan mempercayaimu. Aku butuh suami yang kuat dan tangguh untuk menjaga Aksa dan melindunginya dari ayah biologisnya."
"Diandra, aku benar-benar tidak percaya dengan hari ini. Bagaimana bisa kamu mempercayakan seluruh hidupmu dan puttamu pada pria sepertiku." Yoshi benar-benar sangat terharu mendapatkan berjuta kebahagiaan hari ini.
"Aku tidak bisa menahan diri karena saking bahagianya. Terima kasih, Diandra. Aku berjanji akan selamanya membahagiakanmu hingga ajal menjemputku." Yoshi berbicara dengan suara serak karena menahan tangis kebahagiaan yang dirasakan.
Diandra hanya tersenyum simpul dan menganggukkan kepala. "Aku percaya bahwa ini adalah jalan terbaik untuk kita dari Tuhan. Sepertinya kita adalah jodoh yang tertunda."
__ADS_1
Yoshi seketika mengaminkan perkataan Diandra. "Semoga ini menjadi jalan terbaik untuk kita." Menatap ke arah Diandra yang masih tersenyum padanya dan membuat hatinya bergetar hebat.
To be continued...