Konspirasi Cinta

Konspirasi Cinta
Ingin waktu berhenti


__ADS_3

"Papa, tadi aku ingin menanyakan tentang perihal pernikahan dan belum dijawab. Apakah benar jika Papa tidak ingin mengadakan resepsi pernikahan?" tanya Austin yang ingin mendengar pendapat dari sang ayah mengenai resepsi pernikahan.


"Kau tahu berapa banyak wartawan yang diancam? Kau tidak bisa melakukan itu terus menerus agar bisa dianggap paling beruntung karena bisa menikahi Diandra. Itu akan melanggar kode etik sekaligus nama baik perusahaan akan semakin tercemar."


"Lebih baik menikah secara diam-diam tanpa melibatkan pihak media. Itu akan jauh lebih damai." Malik Matteo kini berjalan semakin mendekat dan berubah menepuk bahu kokoh putranya.


"Hiduplah dengan bahagia tanpa resepsi setelah semuanya selesai, kau bisa berbahagia dengan Diandra tanpa ada gangguan. Bukankah itu yang kau inginkan dari dulu? Jadi, kau harus berterima kasih pada Papa karena membantumu." Itulah rencana sang ayah yang ingin kehidupan pernikahan putranya aman.


Rencananya adalah setelah suatu saat nanti Diandra bisa berjalan lagi, baru akan mengadakan resepsi pernikahan besar-besaran.


Hingga beberapa saat kemudian, Austin membenarkan perkataan sang ayah. "Maafkan aku, Pa. Ini semua salahku, tapi harus melibatkan kalian para orang tua. Terima kasih atas semuanya."


Ia mengerti jika sang ayah datang bukan untuk tujuan itu dan kini memilih untuk bertanya. "Apa yang Papa lakukan tanpa pemberitahuan apapun? Bahkan tadi tidak mengatakan apapun padaku."


Tidak ingin bertele-tele, akhirnya Malik Matteo mengungkapkan semuanya mengenai kekhawatiran pada Diandra.


"Aku sudah menganggap Diandra seperti putri kandung sendiri. Jadi, sangat khawatir ketika bekerja di hari pertama. Papa akan menebus semua kesalahan yang dulu pada wanita tidak bersalah itu."

__ADS_1


Malik Matteo terdiam selama beberapa saat karena bingung harus berbicara apa untuk menunjukkan kasih sayang sekaligus penyesalan atas perbuatan di masa lalu yang tidak memberikan restu pada Diandra.


"Papa akan melakukan apapun untuk membungkam semua orang yang berkomentar mengenai putriku."


Refleks Austin langsung memeluk erat tubuh tinggi tegap sang ayah karena merasa sangat terharu dengan ketulusan sang ayah. "Terima kasih, Pa. Aku tahu jika menjodohkanku membuat Papa merasa bersalah."


"Bahkan aku yakin jika kita semua akan menjalani keluarga yang bahagia. Memikirkan besok akan menikahi Diandra, aku sangat gugup, Pa."


Saat ini, Malik Matteo mengusap punggung lebar putranya yang berada dalam pelukan. "Semua mempelai pengantin pria maupun wanita merasakan hal itu."


Tanpa bisa ditahan, kini iris tajam berkilat itu sudah berkaca-kaca dan begitu merasakan sang ayah melepaskan pelukan dan berlalu pergi menuju ke arah lift, melihat sang ayah selalu bisa menjadi teman sekaligus figur paling dihormati itu telah menghilang di balik pintu besi tersebut.


Refleks Austin berbalik badan dan berjalan menuju ke arah ruangan kerja untuk menemui sang kekasih. Hingga ia tertawa saat melihat Diandra masih pada posisi sama, yaitu duduk di atas meja.


"Maafkan aku, Sayang karena tadi lupa untuk menurunkanmu terlebih dahulu." Austin yang kini sudah berdiri tepat di depan Diandra, langsung mengangkat tubuh seksi itu dan menurunkan di atas kursi roda.


"Aku tidak sabar untuk segera mengganti statusmu menjadi nyonya Austin Matteo," bisik Austin di dekat daun telinga Diandra.

__ADS_1


"Apa kamu tadi tidak berbicara pada papamu agar mengurungkan niat untuk menikahkan kita besok? Aku bahkan tidak pernah berpikir akan secepat ini." Bahkan ia saat ini merasa sangat gugup karena membayangkan akan menjadi seorang istri dari pria dengan paras rupawan tersebut.


Bahkan ketika saat ini menatap bibir tebal Austin yang masih membungkuk di hadapannya, sehingga degup jantung tidak beraturan.


"Tidak mungkin aku menolak perintah Papa. Apalagi inilah yang kuharapkan dari dulu," ucap Austin yang saat ini tersenyum simpul dan mengusap bibir sensual yang membuatnya merasa sangat ingin kembali menyesap dan ******* di sana.


Namun, menyadari jika itu akan membuatnya tidak bisa berhenti, sehingga melepaskan kuasa dan berdiri tegak sambil berdehem sejenak untuk menormalkan perasaannya.


"Aku ingin berkosentrasi bekerja hari ini agar besok bisa melaksanakan pernikahan tanpa ada sesuatu yang mengganggu. Kamu pun sekarang langsung kerjakan pekerjaanmu. Jika ada yang tidak tahu, tanyakan saja padaku." Austin berbicara sambil tersenyum dengan wajah berbinar.


Sementara Diandra merasa sangat malu karena wajahnya memerah ketika Austin menyentuh tepi bawah bibirnya dan kembali mengingat ciuman panas mereka.


Hingga ia langsung menggigit bibir bawah bagian dalam untuk menormalkan perasaan sambil mengarahkan kursi roda dan melaksanakan pekerjaan seperti perintah bos sekaligus calon suami.


'Rasanya aku ingin waktu bisa berhenti saat merasakan kebahagiaan karena tidak ingin ada hal buruk yang menimpa hubunganku dengan Austin,' gumam Diandra yang kini tidak bisa memikirkan mengenai pernikahannya esok hari dengan sosok pria yang sangat dicintai karena dianggap seperti malaikat tersebut.


To be continued...

__ADS_1


__ADS_2