
"Bagaimana?" Yoshi yang dari tadi menatap intens sosok wanita yang ada di hadapannya, kini tengah menunggu keputusan Diandra dengan hati berdebar-debar.
Bahkan ia merasa seperti seorang pria yang tengah menyatakan cinta saja dan menunggu keputusan dari sosok wanita di hadapannya tersebut.
'Bagaimana jika ia menolaknya? Lalu apa apa yang harus kulakukan?' gumam Yoshi yang sangat berharap bisa lebih dekat dengan Diandra jika menerima tawaran untuk menjadi sekretaris pribadi.
Ia selama ini tidak memakai sekretaris pribadi karena tidak tertarik saat sudah punya asisten pribadi. Namun, karena ingin lebih dekat dengan Diandra, sehingga membuatnya berpikir bahwa posisi sekretaris pribadi bisa menjadi sebuah cara untuk memenuhi keinginannya.
Di sisi lain, Diandra yang baru saja membaca daftar pekerjaan seorang sekretaris pribadi, merasa jika itu tidaklah sulit baginya. Namun, tetap terselip sebuah keraguan di sana.
Kini, ia mengangkat pandangan dan membuatnya merasa ragu untuk membuka suara. "Aku ...."
Diandra tidak melanjutkan perkataannya karena mendengar dering ponsel miliknya yang ada di dalam jaket.
"Sebentar. Ibuku menelpon," ucap Diandra yang mengarahkan tangannya ke arah sosok pria yang ada di hadapannya tersebut agar tidak mengeluarkan suara.
Sebenarnya Yoshi merasa sangat kecewa karena tidak bisa langsung mendengar jawaban dari Diandra, tapi berusaha untuk bersabar karena ia tahu bahwa wanita di hadapannya tersebut tengah menanggung beban berat di pundak saat masih muda.
"Iya, Ibu." Alesha tahu bahwa sang ayah tengah dioperasi, tapi hari ini tidak ingin menganggu ibunya yang pastinya tengah lelah menunggu proses operasi.
Jadi, ia memilih untuk menunggu sang ibu mengabarkan mengenai keadaan ayahnya.
__ADS_1
"Diandra, syukurlah ayahmu baru selesai dioperasi. Saat ini sudah dipindahkan ke ruangan perawatan dan kata dokter tidak ada masalah dan berjalan lancar. Terima kasih karena sudah menyelamatkan ayahmu dari maut. Ibu juga ingin mengucapkan terima kasih pada teman dan bosmu itu."
Diandra saat ini terdiam dan bersitatap dengan iris berkilat pria di hadapannya, sehingga langsung mengalihkan pandangannya. Ia tidak ingin sang ibu membahas tentang bos yang tak lain adalah Austin.
Jadi, ia memilih untuk berbicara sebelum menyerahkan ponsel pada Yoshi.
"Kebetulan aku saat ini tengah bersama malaikat baik hati itu. Ibu bisa mengucapkan terima kasih pada temanku." Kemudian langsung memberikan ponsel pada Yoshi.
Merasa bahwa takdir saat ini berpihak padanya, Yoshi kini tidak membuang-buang waktu dan mengungkapkan apa yang dirasakan.
"Halo, Bu. Ini saya Yoshi. Syukurlah operasinya berjalan lancar. Semoga ayah Diandra bisa segera pulih pasca operasi dan kembali sehat seperti sedia kala." Yoshi bahkan berbicara tanpa mengalihkan perhatian pada Diandra sambil mendengarkan suara serak dari wanita di seberang telpon.
"Nak Yoshi, Ibu benar-benar sangat berterima kasih karena dengan kebaikanmu, sehingga ayah Diandra masih bisa diselamatkan dengan operasi. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan Nak Yoshi berkali-kali lipat."
Sementara itu, Yoshi merasa tidak tega mendengarnya dan kini berusaha menghibur sebisanya karena ia belum pernah berada di posisi seperti itu. Namun, bisa memahami perasaan penuh haru atas kabar baik yang baru saja didengarnya.
"Jika Ibu ingin berterima kasih padaku, jangan menangis. Saya paling tidak bisa mendengar atau melihat seorang wanita menangis."
"Iya, Ibu tidak akan menangis lagi. Ini adalah sebuah tangisan kebahagiaan karena bisa bertemu dengan pria baik hati sepertimu. Semoga suatu saat nanti Ibu bisa bertemu denganmu, Nak Yoshi."
"Tentu saja, Ibu. Jika perlu, saya akan ke sana jika Ibu ingin bertemu denganku." Yoshi bahkan berusaha menguraikan suasana dengan terkekeh geli mendengar perkataannya sendiri yang malah terkesan seperti seorang calon menantu saja.
__ADS_1
Sedangkan Diandra yang mendengarnya, seketika meminta ponselnya agar pembicaraan tidak ke mana-mana. "Aku ingin bicara dengan ibuku."
"Baiklah. Bu, Diandra ingin bicara dan merebut ponselnya." Kemudian memberikan ponsel Diandra agar kembali berbicara dengan sang ibu.
Begitu ponsel di tangannya kembali, kini Diandra pun kembali menjelaskan pada sang ibu bahwa ia tengah berada di luar dan nanti akan menelpon kembali. Kemudian ia langsung mematikan sambungan telpon setelah sang ibu mengiyakan.
"Kenapa harus diakhiri telponnya?" Yoshi merasa sangat kecewa karena saat ini tidak bisa lagi memuaskan diri untuk menatap sosok wanita di hadapannya.
Diandra yang memang sengaja melakukannya karena ingin berbicara serius dengan Yoshi dan kini sama sekali tidak ada keraguan setelah berbicara dengan sang ibu, seolah mengingatkannya bahwa ia harus mengembalikan uang pria di hadapannya.
Kini, ia mengulurkan tangannya. "Aku bersedia bekerja menjadi sekretarismu. Kapan aku bisa bekerja?"
Yoshi yang kini mengerjapkan mata, merasa sangat senang sekaligus shock. Namun, ia buru-buru menjabat telapak tangan Diandra.
"Syukurlah kamu akhirnya menerimanya. Besok, seperti yang kukatakan tadi Kamu bisa langsung bekerja besok."
"Baiklah. Aku akan bekerja dengan baik mulai besok," ucap Diandra yang kini langsung melepaskan tangannya dari genggaman Yoshi.
Yoshi kini bangkit berdiri dari posisinya karena merasa suasana mendadak berubah kikuk setelah saling berjabat tangan. "Sekarang sudah malam. Lebih baik kamu kembali ke apartemen. Biar aku antar."
Diandra hanya mengangguk perlahan tanpa membuka suara karena ia kini melangkahkan kakinya menuju ke arah lobi apartemen dan merasa sangat yakin jika keputusannya untuk bekerja pada seorang pria sebaik Yoshi benar.
__ADS_1
'Aku akan memulai hidup baru di tempat kerja yang baru,' gumam Diandra yang ingin semuanya berjalan lancar.
To be continued...