
Diandra baru saja tiba di hotel dan langsung menuju ke kamar yang tadi dipesan dengan diantar oleh salah satu pegawai hotel. Dengan tubuh lemah, ia berusaha kuat karena tidak ingin sampai pingsan di lobi hotel. Tadi ia bahkan pergi ke minimarket yang buka 24 jam untuk membeli roti sebagai pengganjal perut dan ke apotik untuk membeli obat.
Ia tidak ingin sakit hingga berakhir di rumah sakit, sehingga ditemukan oleh sosok pria yang sangat dibenci. Tidak ingin bertemu dengan pria yang telah membuatnya kehilangan kesucian adalah sesuatu hal yang diangggap sebuah janji.
Kini, ia langsung masuk ke dalam ruangan kamar paling murah karena berpikir hanya satu hari di sana dan rencananya ingin bertemu dengan pria bernama Yoshi dulu.
Selain berterima kasih, Diandra berencana untuk meminta bantuan pria itu agar bisa mengembalikan uang yang dikirimkan seorang Yoshi tanpa sepengetahuannya.
"Aku harus mengembalikan uang Yoshi dengan cara bertanya padanya. Apakah ia tahu tentang lowongan pekerjaan atau punya teman yang tengah mencari pekerja?" Diandra mendaratkan tubuh di atas ranjang tunggal dengan sprei putih itu.
"Bila perlu, menjadi pembantu pun tidak masalah karena itu jauh lebih aman daripada harus bekerja di perusahaan dan mendapatkan sikap tak senonoh dari bos perusahaan," ucap Diandra yang kini mengempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk yang sangat nyaman.
Ia kali ini meringkuk seperti seorang bayi dan menatap ke arah depan, di mana dinding berwarna putih yang dianggap mewakili kesuciannya.
"Dulu, kesucianku seperti dinding putih bersih itu, tapi sekarang sudah ternoda dan tidak berwarna putih lagi. Sekarang sudah tidak mewakili lagi," lirih Diandra yang kini hanya diam dan berpikir bahwa ia harus beristirahat sebentar untuk menenangkan pikiran serta tubuhnya yang lunglai.
Namun, sebelum itu, ia bangkit dari tempat tidur dan bergerak untuk mengambil makanan dan minuman yang tadi dibelinya agar bisa mengganjal perut karena akan minum obat.
Bahkan ia makan dengan bersimpuh di lantai dekat kopernya sambil berurai air mata meratapi nasibnya sekarang. Sebenarnya ia tidak ingin terpuruk, tapi semua yang terjadi menimpanya benar-benar membuatnya tidak kuat untuk bangkit berdiri tegak.
'Kenapa semua ini terjadi padaku? Seharusnya aku tidak ke Jakarta dan bertemu dengan bajingan itu. Seandainya aku bertemu dengan pria baik seperti Yoshi, mungkin nasibku tidak akan sesial ini."
Dengan perlahan mengunyah roti di tangan, Diandra sebenarnya tidak berselera makan, tapi ia takut akan kehilangan kesadaran di hotel atau mungkin akan kehilangan nyawa.
Ia benar-benar sangat lemah dan seluruh tubuhnya terasa nyeri akibat perbuatan pria yang telah dua kali menyetubuhinya.
"Aku masih ingin hidup dan tidak akan bunuh diri atau berakhir di rumah sakit. Bajingan itu akan mencariku di mana-mana karena aku pergi tanpa seizinnya. Apa ia pikir berhak atas diriku setelah membeliku?"
"Aku bahkan sudah memberikan harta paling berharga milikku, tapi ia seenak jidat bersikap over protektif dengan mengatur apa yang kulakukan. Dasar pria berengsek!" Diandra melempar roti di tangan untuk melampiaskan amarahnya.
Mengingat perbuatan Austin selalu membuatnya merasa sangat marah karena hanya kebencian yang tersisa di hatinya. Ia bahkan sangat jijik melihat pria itu dan juga tubuhnya.
Tanpa memperdulikan bahwa keadaannya sangat lemah, Diandra bangkit berdiri dan menanggalkan semua pelindung tubuhnya dan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke arah kamar mandi.
Ia yang merasa sangat hina, kini berdiri di bawah shower untuk membersihkan diri karena merasa sisa-sisa perbuatan Austin harus dihilangkan.
Meskipun ia tahu bahwa itu tidak akan pernah hilang dan merasa sangat jijik jika mengingat hal itu. Diandra menggosok tubuhnya sangat keras dan ia tidak memperdulikan rasa sakit akibat perbuatannya.
__ADS_1
"Menjijikkan! Sekarang aku benar-benar telah menjadi wanita hina!" sarkas Diandra yang kini masih terus menggosok tubuhnya.
Ia kali ini tidak perduli dengan rasa sakit akibat perbuatannya. Bahkan kulit putih bersih itu sudah memerah karena gosokannya terlalu kuat.
Sakit lahir batin dirasakan olehnya. Bahkan saat ini Diandra menangis tersedu-sedu tanpa memperdulikan apapun. Suara tangis menyayat hati kini menghiasi ruangan kamar mandi berukuran luas itu.
Hingga ia rusak perduli pada apapun karena berpikir bahwa saat ini yang dipikirkan hanyalah ingin meluapkan semua yang tadi ditahan.
Apalagi tadi saat berada di apartemen Austin berakting seperti tidak terjadi apapun. Padahal ia sangat jijik melihat pria itu. Bahkan tidak bisa melupakan ekpresi pria yang mengejar kenikmatan terlarang dengan memanfaatkan tubuhnya.
"Aku sangat membencimu, Austin Matteo. Semoga kau membusuk di neraka suatu saat nanti?" sarkas Diandra dengan berlinang air mata dan membiarkan buliran air yang keluar dari shower menusuk pori-pori kulitnya saat ini.
"Kau benar-benar seorang iblis! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, berengsek! Aku sangat membencimu!" Diandra masih berteriak dengan suara lantang untuk meluapkan gejolak emosi yang membuncah memenuhi diri.
Ia kali ini tidak menahan apapun dan meluapkan semua yang dirasakan untuk memuaskan gejolak amarah pada pria yang ingin sekali dihancurkannya.
"Seandainya aku mempunyai kekuasaan seperti pria berengsek itu, akan menghancurkannya tak tersisa, tapi apa yang bisa dilakukan seorang wanita kasta rendahan sepertiku?"
Masih dengan posisi bersimpuh di atas lantai dingin kamar mandi dan membiarkan guyuran air dingin menusuk kulit dan tulangnya
Kini, Diandra masih terus mengumpat tanpa henti pada pria yang membuatnya tidak pernah lupa dengan bagaimana ekspresi dari pria yang yang memuaskan hasrat dengan memanfaatkan tubuhnya.
Hingga jatuh terkulai lemas di atas tubuhnya dan berbicara sangat menjijikkan di telinganya. "Aku harus melupakan bajingan itu. Aku tidak boleh hancur hanya karena pria berengsek sepertinya."
"Meskipun aku mendapatkan uang untuk menyelamatkan ayah, tetap saja pria itu adalah seorang pria brengsek karena mencari kesempatan dalam kesempitan dengan menikmati tubuhku."
Entah sudah berapa lama Diandra berada di bawah guyuran air shower dan lama-kelamaan tubuhnya menggigil kedinginan, sehingga memilih bangkit berdiri dan membersihkan bulir air yang menempel di tubuhnya.
Kemudian berjalan keluar dari kamar mandi dan memakai pakaian hangat agar tidak kedinginan. Bahkan untuk berjalan saja membuatnya gemetar, sehingga kini membanting tubuhnya di atas ranjang dan menutupi dengan selimut tebal.
Ia meraih ponsel miliknya yang tadi diletakkan di atas nakas. Rencananya adalah ingin segera menghubungi sosok pria yang ingin ditemuinya pagi ini. Tadi ia sudah menyimpan nomor pria bernama Yoshi itu saat berada dalam di taksi yang mengantarkannya ke hotel.
Sebenarnya rencananya adalah ingin menghubungi nanti siang karena berpikir pria itu jam segini masih tidur, tapi rencananya untuk bisa beristirahat dibatalkan karena sadar tidak mungkin bisa tidur dalam keadaan pikiran kacau serta tubuh yang remuk redam.
Dengan ragu-ragu, Diandra kini memencet tombol panggil dan menunggu hingga panggilannya diangkat.
"Semoga pria itu jam segini sudah bangun dan aku tidak mengganggu waktu tidurnya," ucap Diandra yang saat ini dengan perasaan berkecamuk menunggu suara dari pria yang dianggap adalah Dewa penolong berhati malaikat.
__ADS_1
Ia masih menatap ke arah layar dan begitu detik waktu berjalan, seketika membuatnya membuka suara setelah mendengar suara dari seberang telpon.
"Halo?"
"Halo, Tuan Yoshi." Diandra kita akan berbicara dengan suaranya yang gugup karena khawatir jika mengganggu waktu istirahat pria di seberang telpon.
Namun, ia tidak mendengar suara serak khas bangun tidur dan merasa yakin bahwa pria itu sudah bangun dari tadi dan ia tidak mengganggu waktu istirahat Dewa penolongnya itu.
"Ya. Siapa?" jawab Yoshi dengan mengerutkan kening karena merasa tidak mengenal suara wanita yang saat ini menelpon ketika ia sedang melakukan gym di ruangan pribadi.
Karena tidak ingin membuat pria itu bertanya-tanya akan siapa dirinya yang menelpon pagi-pagi sekali, seketika Diandra membuka suara.
"Saya adalah wanita yang semalam menolong kekasih Anda saat mengalami kecelakaan." Saat Diandra baru saja menutup mulut, malah mendengar suara tawa renyah dari pria yang membuatnya merasa heran.
'Kenapa ia tertawa terbahak-bahak seperti itu? Apa ada yang lucu dari perkataanku? Atau ia sama sekali tidak percaya bahwa aku adalah wanita yang menolong kekasihnya dengan membawa ke rumah sakit? Atau ia berpikir bahwa aku adalah wanita penggoda yang sengaja menghubungi?'
Berbagai macam pertanyaan yang saat ini memenuhi kepala Diandra karena mendengar pria di seberang telpon malah tertawa terbahak tanpa menjelaskan alasannya.
Kini, hanya menunggu sampai pria itu menjelaskan agar ia mengerti. Hingga setelah suara tawa dari Yoshi berhenti, seketika membuatnya merasa bodoh karena berasumsi sendiri.
"Aaah ... maaf karena dari semalam kamu membuatku tertawa atas asumsimu ada hubunganku dengan sepupu. Yang kamu tolong semalam adalah sepupuku, bukan kekasihku karena sampai sekarang aku belum laku dan tidak ada satu wanita pun yang menyukaiku."
Diandra seketika mengerjapkan mata dan merasa sangat malu karena pemikirannya yang ternyata salah sangka.
Refleks ia menepuk jidat berkali-kali untuk merutuki kebodohannya sendiri dan membuatnya berpikir untuk segera meminta maaf atas asumsinya yang salah.
"Maaf, Tuan. Saya salah karena berpikir bahwa sepupu Anda Anda adalah kekasih. Itu karena saya mendengar Anda memanggil dengan panggilan sayang."
"Maksudmu Nauraku?" tanya Yoshi yang seketika terkekeh geli menanggapi pemikiran wanita yang sudah ia duga akan menelponnya.
"Iya. Jadi, saya pikir itu adalah kekasih Anda, Tuan Yoshi." Diandra masih memikirkan mengenai bagaimana ia mengucapkan terima kasihnya.
Apakah di telpon atau bertemu secara langsung. Bagaimana pemikiran pria itu jika ia mengajak bertemu. Hingga ia seketika tertawa begitu mendengar pria di balik telpon malah bercanda dan menghiburnya.
"Lalu, apakah saat aku memanggil Diandraku, adalah kekasihmu?"
"Dari mana Anda tahu namaku?" tanya Diandra setelah tertawa karena perkataan pria itu sangat konyol.
__ADS_1
To be continued...