
Hari ini sama sekali tidak pernah menyangka jika seutuhnya memiliki Diandra setelah perjuangan penuh liku-liku dan panjang. Austin merasa sangat bersyukur karena sekarang sangat kuat dan ingin memuaskan sang istri.
Fisik seorang pria tidaklah sekuat yang terlihat jika berbicara mengenai masalah kekuatan di atas ranjang. Seorang pria akan sangat lemah jika sangat lama tidak bercinta, pasti begitu memulainya, hanya akan berlangsung beberapa menit saja karena cepat *******.
Berbeda jika sering bercinta, akan cukup lama bertahan dan tidak gampang ******* seperti hari ini ia merasa sangat bangga bisa berkali-kali membuat sang istri sibuk mendesah dan mencapai puncak kenikmatan.
Penyebabnya bukan karena ia sering bercinta karena selama ini menahan diri untuk tidak menyentuh tanpa izin wanita yang sangat dicintainya tersebut.
Hal yang sebenarnya terjadi adalah ia setiap malam melakukan sendiri di kamar mandi karena saat tidur selalu memeluk Diandra dan hanya dengan seperti itu saja membuat gejolak gairah bangkit, sehingga melampiaskan nafsu tanpa menyentuh dengan cara bermain sendiri.
Ia menikahi Diandra bukan hanya atas dasar nafsu semata, tapi benar-benar sangat tulus mencintai dan membahagiakan wanita itu. Jadi, meskipun tidak bercinta selama satu bulan setelah menjadi suami sah dari istrinya, tetap setia pada pernikahan.
Mungkin jika pria lain, tidak akan pernah bisa tetap bertahan dan setia karena naluri kelelakian lebih besar daripada akal. Sangat berbeda dengan seorang wanita yang lebih mengutamakan logika daripada nafsu.
Austin yang saat ini masih bergerak liar, kini mendengar suara lirih dengan napas memburu.
"Sayang ...."
Diandra yang terengah dengan napas memburu, kini merasa sangat kelelahan.
"Apa, Sayang?" Austin kini mendengarkan keinginan dari sang istri.
Masih dengan menormalkan deru napas, Diandra kini mengarahkan telapak tangan kanan ke perut sixpack penuh otot-otot kencang tersebut. "Aku sangat lelah."
Austin kini mulai mengerti dan tidak ingin semakin menyiksa wanita dengan peluh membanjiri wajah tersebut. "Maafkan aku karena menyiksamu, Sayang. Apa kamu sudah puas?"
"Kamu benar-benar menyiksaku," seru Diandra yang saat ini mengarahkan tangan untuk mencubit.
__ADS_1
Austin hanya terkekeh geli melihat raut wajah menggemaskan itu karena bibir Diandra mengerucut. Menganggap jika itu adalah cubitan cinta, apalagi sama sekali tidak merasa sakit.
"Aku ingin kamu puas dengan pelayananku, tuan putri," ucap Austin yang tadi membungkuk untuk berbisik di dekat daun telinga Diandra dan kemudian menggigit di sana.
"Sayang, hentikan!" desah Diandra yang merasa sangat kegelian akibat perbuatan nakal pria yang masih sibuk bermain-main di sana.
Tidak ingin membuat Diandra kesal, kini Austin kembali berbisik untuk kesekian kalinya dengan sama-sama mendengarkan detak jantung masing-masing.
Austin pernah merasakan kenikmatan luar biasa kala dulu pertama kali melakukan dengan Diandra. Jadi, ingin merasakan lagi posisi yang sama.
"Tenang saja, aku tidak akan membuatmu hamil, Sayang."
Austin yang kini sibuk mencari puncak kenikmatan, seketika menarik diri begitu mengeluarkan bukti ledakan gairahnya.
"Kata beberapa temanku, memakai itu kurang nikmat, Sayang." Austin yang baru saja menyelesaikan semuanya, kini duduk di sebelah tubuh sang istri.
Sementara itu, Diandra hanya diam karena bingung harus bagaimana. Ini adalah pertama kali ia mendapatkan ucapan terima kasih karena melaksanakan kewajiban sebagai istri.
Jadi, merasa sedikit aneh. Diandra berpikir belum terbiasa, tapi sangat bahagia dengan semua perlakuan lembut Austin, sehingga seperti menjadi seorang wanita paling beruntung bisa memiliki seorang suami yang sangat baik.
"Jangan berterima kasih padaku karena aku hanya ingin kamu selamanya setia padaku dan berjanji tidak akan pernah meninggalkanku dengan berselingkuh dengan wanita lain yang lebih cantik."
Kemudian ia memberikan jari kelingkingnya dan berharap sang suami mau menautkan di sana tanpa keraguan.
Tanpa pikir panjang, refleks Austin langsung mengaitkan jari kelingking dan berjanji. "Aku bersumpah atas nama Aksa, bahwa tidak akan pernah berselingkuh dengan wanita lain. Seumur hidup, hanya akan mencintaimu dan menjadikan satu-satunya ratu di hatiku."
Kemudian mengecup punggung tangan sang istri untuk mengungkapkan perasaan tulusnya. Berharap jika Diandra akan selamanya tidak mengingat masa lalu karena berpikir jika kembali seperti dulu, tidak yakin bisa seperti ini.
__ADS_1
"Aku sangat mencintaimu, Istriku."
"Aku juga," sahut Diandra dengan tersenyum malu-malu kala membalas ungkapan cinta.
Meskipun sebenarnya merasa sangat aneh, tapi tidak ingin mempermasalahkan apapun hari ini dan fokus pada kebahagiaan.
Tiba-tiba Diandra mengingat sesuatu dan langsung menatap ke arah sosok pria yang ada di hadapannya. "Sayang, sebentar lagi jam pulang sekolah. Aku harus menjemput putraku."
Austin yang kini bergerak untuk meraih ponsel miliknya, membenarkan perkataan dari Diandra.
"Masih satu jam lagi, Sayang. Kenapa buru-buru? Kamu memang bersikap seperti ibu Aksa karena menyayangi seperti putra sendiri. Terima kasih karena menjadi ibu yang baik." Austin yang sebenarnya merasa perkataannya sangat konyol karena tidak mungkin mengatakan kenyataan sebenarnya.
Baginya, semua yang terjadi sudah cukup. Bahwa tidak ada yang bisa menandingi kebahagiaan ketika ibu dan anak itu saling menyayangi.
Meskipun harus melakukan sebuah kebohongan, tapi mengambil hikmah jika seorang ibu yang sama sekali tidak mengingat putranya, tapi bisa dekat dan akhirnya kembali mengungkapkan kasih sayang.
"Aku harus mandi dan membutuhkan waktu untuk menjemput karena takutnya nanti terjebak macet. Cepat bantu aku ke kamar mandi?" Diandra setiap hari sangat bersemangat ketika memiliki jadwal rutin seperti menjemput Aksa pulang sekolah.
Ia merasa sangat bahagia ketika Aksa sama sekali tidak merasa malu ketika dijemput oleh wanita yang cacat sepertinya. Namun, Aksa tetap menyayangi tanpa memandang fisik yang cacat, jadi ia merasa sangat bahagia dan sangat menyayangi anak laki-laki yang diketahui adalah putra dari suaminya.
"Baiklah, kita akan bersiap. Lebih baik mandi bersama dan aku akan membantumu," seru Austin yang saat ini bergerak turun dari ranjang dan membungkuk untuk menggendong sang istri ke kamar mandi.
Sementara itu, Diandra merasa sangat malu karena suami mengajak mandi bersama. Namun, karena tidak ada pilihan lain, sehingga hanya diam dan mengalungkan kedua tangan di balik leher belakang pria yang menggendong ke kamar mandi.
"Jangan macam-macam saat mandi," ujarnya yang tidak ingin ada ronde seterusnya di kamar mandi.
To be continued...
__ADS_1