
Saat tidak mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang barusan diajukan, kini Diandra memilih untuk menghilangkan rasa kesalnya dengan mengalihkan makan tanpa menunggu disuapi.
Ia sebenarnya tidak nafsu makan meski tubuhnya tengah lemas karena efek kelaparan. Namun, berpikir jika ia malah akan jatuh sakit, akan membuatnya lemah dan tidak bisa melanjutkan hidupnya yang sudah penuh dengan kemalangan.
Meratapi nasib pun sekarang tidak ada gunanya dan ia berpikir harus kuat menjalani takdir buruk hidupnya agar bisa segera pergi jauh dari pria yang sangat dibenci.
Diandra kini tengah menikmati makanan yang baru pertama kalinya ia nikmati. Tentunya sebagai orang miskin, tidak pernah makan seafood karena mengetahui harganya mahal. Bahkan hanya lewat di depan restoran seafood saja membuatnya merinding.
Membayangkan harganya saja membuat bulu kuduk meremang. Selama ini ia hanya makan seadanya masakan rumahan sang ibu yang lebih sering memasak sayuran, lauk tahu tempe dan seringnya kerupuk karena harganya jauh lebih murah dibandingkan ikan ataupun udang yang tengah ia nikmati sekarang.
'Seandainya pria ini sangat baik, mungkin aku tidak akan merasa semiris ini,' gumam Diandra yang kini tengah menatap ke arah kepiting dengan bumbu warna merah yang menggugah selera.
Namun, ia tidak tahu cara makannya dan hanya bisa memakannya. Hingga ia melihat pria di sebelahnya tengah mengambilkan kepiting itu dan menaruhnya di atas piringnya.
Austin menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Diandra, sehingga mengikis jarak di antara mereka. "Siapa yang akan menghabiskan ini jika kamu tidak menyentuhnya?"
Kemudian ia mulai membelah kepiting berukuran jumbo tersebut untuk memudahkan wanita di hadapannya menikmati.
Bahkan ia kembali mengungkit mengenai sesuatu yang hanyalah sebuah karangan semata. "Kamu tidak perlu bertanya berapa wanita yang merasakan kekuatanku di atas ranjang karena nanti akan terkejut saat mengetahuinya."
"Wanita itu jauh lebih baik tidak tahu apa-apa karena jika mengetahui hal yang tidak perlu diketahui, hanya akan menyebabkan sebuah kecemburuan, sehingga menunjukkan sikap berlebihan."
Saat baru selesai membantu Diandra menikmati kepiting agar lebih mudah, ia melihat jarinya yang telah kotor. "Aaah ... lihatlah ini! Jadi kotor, kan?"
"Diandra yang kini mencoba untuk mengambil kepiting itu dan menikmatinya, kini melihat ke arah jari yang seolah sengaja ditunjukkan padanya.
'Tinggal ke wastafel dan cuci tangan saja, apa susahnya? Kenapa harus berlebihan seperti itu?' gumam Diandra yang kini mengarahkan jari telunjuk pada wastafel. "Anda bisa cuci tangan di sana, Tuan. Saya pun tidak akan bertanya lagi mengenai berapa banyak wanita yang Anda ...."
Diandra tidak melanjutkan perkataannya saat merasa hal yang diungkapkan sangat tahu. Hingga ia pun mengerjapkan kedua mata saat melihat perintah dari pria yang memberikan sebuah kode padanya.
"Tapi aku ingin membersihkan pakai mulutmu!" Kemudian Austin mengarahkan empat jarinya ke hadapan Diandra. "Cepatlah! Nanti kamu akan melakukan hal seperti ini."
Kemudian ia pun semakin mendekatkan jarinya pada wajah Diandra karena ingin segera melakukan perintahnya. "Aku ingin kamu membersihkan dengan mulutmu daripada di wastafel karena malas bangkit dari posisiku."
Setelah mengarahkan dagunya pada jari, Austin kini tersenyum karena tanpa harus berteriak lagi untuk mengancam, ia sudah melihat sebuah pergerakan kala Diandra memasukkan jarinya yang bekas saus kepiting ke dalam mulut.
Merasa sangat puas, Austin tidak berhenti tersenyum saat ini dan ia hanya diam melihat pergerakan Diandra kala membersihkan jarinya yang kotor.
__ADS_1
"Inilah yang disebut simbiosis mutualisme dan kita tidak bisa memungkiri bahwa sama-sama saling membutuhkan satu sama lain." Austin yang mengingat sesuatu, kini segera bangkit dari kursi setelah Diandra selesai membersihkan.
"Lanjutkan makanmu! Aku akan ke depan sebentar!" Kemudian memberikan sebuah kecupan lembut pada pipi putih wanita yang sangat patuh padanya dan membuatnya puas."
Kemudian berjalan ke arah pintu utama untuk melihat apakah pria yang tadi disuruh untuk membelikan sesuatu untuknya telah tiba.
Sementara itu, Diandra yang dari tadi menahan amarah bergejolak di dalam dada, kini menoleh pada pria yang sudah menghilang di balik dinding. Begitu merasa pria itu sudah tak terlihat, ia segera bangkit berdiri dari posisinya.
Kemudian berjalan menuju ke wastafel dan segera berkumur-kumur. Ia benar-benar sangat jijik melakukan semua hal yang diperintahkan oleh Austin.
'Aku ingin segera mengakhirinya dan pergi dari neraka ini. Aku sangat lelah,' gumam Diandra yang kini merasa sangat lega dan mulai berjalan menuju ke arah meja makan dan mengempaskan tubuhnya di kursi yang tadi diduduki.
Ia bahkan kini berkaca-kaca bola matanya dan gagal untuk menahannya agar tidak meluncur bebas ke wajahnya. 'Jangan sampai sampai si berengsek itu itu melihatku seperti ini karena nanti akan kembali marah dan berbuat kasar padaku.'
'Seperti ini lebih baik karena bajingan itu tidak kasar padamu,' gumam Diandra yang kini menghapus kasar bulir air mata yang jatuh membasahi pipinya.
Kemudian ia kembali menikmati makanannya. Meskipun merasa sangat konyol karena berpikir bahwa yang dilakukannya sangat konyol. Jika biasanya ia tidak bisa makan saat suasana hati tengah buruk, tapi kali ini ia lahap menikmatinya.
Demi kekuatan yang harus ia bangun agar tidak pingsan dan segera pergi setelah pria itu mengizinkan, lalu berlari sejauh mungkin agar tidak bisa bertemu lagi dengan seorang Austin Matteo.
Hingga ia pun melihat pintu lift terbuka dan sosok pria masih mengunakan jaket hijau itu berjalan mendekat ke arahnya sambil melambaikan tangan.
Austin kini menunggu hingga pria itu mendekat dan menerima kantong plastik berisi sesuatu yang ia butuhkan.
"Maaf lama, Tuan karena tadi ada kemacetan di sekitar area apotik dan saya sempat membantu korban kecelakaan cukup lama di sana."
Austin kini langsung meminum obatnya dan mengingat bahwa Diandra tadi juga tidak pulang ke tempat kos karena menolong korban kecelakaan.
"Kenapa banyak kecelakaan hari ini? Apa mereka tidak bisa berhati-hati saat di jalanan?" Kemudian menepuk pundak pria di hadapannya. "Terima kasih karena mau membantuku."
"Sama-sama, Tuan. Semoga hari Anda hari ini menyenangkan. Selamat berbulan madu," ucap sang kurir yang membungkuk hormat dan mulai berbalik badan setelah melihat pria itu tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Di sisi lain, kini Austin masih menatap siluet pria yang berjalan menuju ke arah lift tersebut. Ia membaca kemasan obat dan melihat aturannya.
"Sial! Aku harus menunggu hingga satu jam. Enaknya ngapain dulu untuk mengisi waktu selama satu jam?" Austin kini mencari ide untuk menghilangkan kebosanan dan seketika tersenyum menyeringai kala mendapatkan sebuah ide.
Kemudian ia kembali ke dalam apartemen dan melihat apa yang dilakukan oleh Diandra. Apakah sudah selesai atau belum makannya. Ketika ia melihat Diandra tengah memunggunginya saat mencuci piring, kini membuka suara.
__ADS_1
"Setelah selesai, masuklah ke kamar. aku akan menunggumu di dalam!" Kemudian ia berbalik badan meninggalkan Diandra yang sekilas menoleh ke arahnya dan menjawab dengan sebuah anggukan kepala.
Sementara itu, Diandra menelan saliva dengan kasar saat masih memegang piring di tangan. Jantungnya saat ini seperti hendak meledak saat itu begitu mendapat perintah yang akan mengakhiri statusnya sebagai seorang perawan.
Bahkan tangannya gemetar dan membuatnya langsung berjongkok setelah menaruh piring di wastafel. Ia tidak ingin piring itu lolos dari tangannya dan pecah ke lantai hingga membuat kegaduhan di ruangan penuh keheningan itu.
Hingga ia sempat berpikir untuk melakukan sesuatu. 'Apa aku pergi saja dari neraka ini? Tapi bagaimana dengan tas dan ponselku ada di dalam kamar pria berengsek itu?'
Diandra kini terdiam di tempat dan merasa sangat bingung untuk melakukan sesuatu yang baru saja terlintas di pikirannya. Hingga ia menyadari penampilannya yang hanya memakai jubah handuk saja.
'Tidak mungkin aku keluar dari sini hanya dengan jubah handuk seperti ini dan tanpa uang sama sekali. Yang ada, aku hanya akan mendapatkan sebuah tatapan penuh cemooh dari orang lain yang melihatku.'
'Bahkan mungkin akan ditangkap atau bertemu pria jahat yang malah akan memperkosaku.'
Diandra kini merasa sangat bingung harus bagaimana dan serasa seperti mendapat buah simalakama. Kini ia mengembuskan napas berat, sehingga terdengar jelas jika saat ini tengah berpikir bahwa saat ini tidak mungkin bisa lari dari kuasa seorang Austin tanpa membawa apapun.
'Harusnya aku tidak meninggalkan tasku di kamarnya. Kenapa tidak menaruh saja di meja depan tadi? Jadi, bisa kabur sejauh-jauhnya dari pria itu. Kalau begini, mana mungkin bisa pergi tanpa apapun dengan penampilan yang lebih seperti seorang pelacur.'
Diandra yang kini merasa pasrah atas takdir hidupnya, memilih untuk bangkit berdiri dan melanjutkan sesuatu yang sempat tertunda.
Setelah ia menyelesaikan mencuci piring dan membereskan meja makan, kini perlahan melangkahkan kaki jenjangnya menuju ke ruangan pribadi pria yang terlihat tengah bersandar di punggung ranjang.
Hingga saat ia menutup pintu, melihat pria itu melambaikan tangan padanya.
"Kemarilah! Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu!" Austin seketika tersenyum menyeringai begitu melihat wanita yang dari tadi ditunggunya.
Diandra yang tidak bisa menolaknya, kini dengan ragu mendekat dan tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat ini karena jujur saja ia ingin segera pergi dari tempat yang dianggap hanyalah sebuah neraka itu.
Hingga ketika ia berdiri di dekat ranjang seketika ditarik tangannya hingga terjatuh ke atas dada bidang pria itu dan membulatkan mata begitu indra penglihatan menatap layar ponsel.
"Kamu butuh belajar sebelum memulainya," ucap Austin yang kini menarik tubuh Diandra dengan satu tangan agar berbaring di atas ranjang bersamanya.
Diandra mengerjapkan kedua mata dan bulu kuduk meremang seketika melihat sesuatu yang baru pertama kali ia lihat. Apalagi suara jeritan yang menghiasi ruangan kamar penuh keheningan membuatnya merasa sangat risi.
'Pria berengsek ini benar-benar gila!' sarkas Diandra yang kini memilih memalingkan wajah karena tidak ingin melihat sesuatu yang dianggap sangat tidak pantas untuk dilihat.
To be continued...
__ADS_1