
"Apakah orang tua Richard merasa tidak terima dengan perbuatan putra kami?"
Paula tidak langsung menjawab karena sedang menyusun kata-kata yang pas dan tidak akan menyinggung perasaan pria yang merupakan pengusaha sukses dan terkena tersebut.
"Jadi, tadi mommy Richard yang menjemput dan saat guru menjelaskan kejadian, hanya berkomentar singkat. Bahwa jika sampai kejadian ini terulang lagi, akan memindahkan ke sekolah lain karena tidak ingin putranya kembali mendapatkan kekerasan."
Embusan napas panjang terdengar sangat jelas saat ini dan Austin memilih untuk membungkukkan badan untuk memohon maaf atas perbuatan putranya.
"Saya benar-benar meminta maaf karena putra kesayangan kami membuat masalah di sekolah ini. Namun, saya sama sekali tidak menyalahkan Aksa karena yang dilakukan tidak sepenuhnya salah."
"Itu adalah sebuah perlindungan dari seorang anak laki-laki pada ibu. Mengenai masalah orang tua Richard, saya akan datang sendiri untuk menyelesaikan semuanya." Austin seketika menoleh pada putranya karena mendengar anak laki-laki tersebut berbicara pada sang ibu.
"Mommy sebentar lagi bisa berjalan karena selalu pergi ke dokter. Tadi Aksa katakan itu pada Richard," seru Aksa dengan suara khas anak-anak kecil yang menggemaskan.
Diandra yang merasa sangat terharu, kini semakin mengeratkan pelukan. "Iya, Sayang. Mommy akan selalu ke dokter agar bisa segera berjalan lagi."
Ia beralih menatap ke arah sang kepala sekolah. "Saya akan menasihati Aksa agar kejadian ini tidak akan terulang lagi, Miss."
Diandra sama sekali tidak berniat ikut sang suami untuk datang ke tempat orang tua teman Aksa karena tidak ingin mendengar penghinaan terhadapnya bahwa hanyalah seorang wanita cacat tidak berguna. Mana mungkin ia akan membela diri jika pada kenyataannya, semua adalah fakta.
__ADS_1
"Terima kasih atas pengertiannya, Nyonya Diandra. Semoga ke depannya, tidak akan ada masalah lagi. Saya tidak ingin karena kejadian ini, membuat hubungan antara pihak sekolah dan orang tua renggang." Paula yang baru kali ini berbicara panjang lebar pada wanita di hadapannya, kini tersenyum simpul begitu merasa lega.
Sementara itu, Diandra bisa memahami posisi seorang kepala sekolah yang harus bertanggungjawab dalam hal apapun di sekolah. Jadi, tidak menyalahkan wanita yang sangat bijak tersebut.
"Saya juga berterima kasih karena Anda masih sangat sabar pada putra kami dan juga anak-anak yang lain." Saat Diandra menutup mulut, mendengar suara dering ponsel milik suami dan menoleh ke arah pria yang masih duduk di atas sofa.
"Aku angkat telpon dulu, Sayang karena ini dari klien penting." Austin yang tadi sudah mengaktifkan ponsel setelah keluar dari hotel, berpikir bahwa akan ada telpon dari beberapa rekan bisnis.
Namun, saat mengecek dan melihat jika telpon dari sang detektif, sehingga buru-buru beralasan pada Diandra Kemudian berjalan keluar untuk menerima panggilan internasional tersebut.
Nasib baik sang istri percaya dan langsung menganggukkan kepala dan sama sekali tidak merasa curiga seperti beberapa saat lalu.
Begitu berada di luar, kini Austin tidak membuang waktu dan langsung menggeser tombol hijau ke atas.
"Tuan Austin, maaf karena mengganggu Anda terus, tapi ini benar-benar adalah berita yang harus segera diselesaikan," seru sang detektif yang berusaha untuk melaporkan perkembangan dari orang yang diawasi.
"Cepat katakan dan jangan bertele-tele!" Austin tidak bisa menunggu lama lagi karena berpikir bahwa sang detektif terlalu banyak membuang waktu.
"Iya, Tuan. Itu tujuan saya menelpon sekarang dan tidak menunggu nanti. Jadi, setelah melakukan perawatan khusus, kesehatan pria itu sudah lebih baik dan hal pertama yang diucapkan adalah nama istri—Diandra Ishana."
__ADS_1
Austin saat ini mengepalkan tangan kanan dan berjanji tidak akan pernah kehilangan Diandra lagi untuk kedua kali sekalipun Yoshi kembali dan mengatakan semuanya pada Diandra nanti.
"Lalu apa yang dijawab wanita jahat itu pada putranya!"
Sang detektif sudah sangat antusias untuk melaporkan hasil pekerjaan hari ini. "Jadi, ibunya sengaja berbohong bahwa nyonya Diandra baik-baik saja dan tidak bisa ikut karena proses pemulihan dan dirawat orang tua."
"Bahkan yang paling menghebohkan rumah sakit hari ini adalah pria itu berteriak-teriak dengan memanggil nama nyonya Diandra. Hanya kalimat itu yang terucap. Namun, keesokan harinya semakin membaik karena tidak lagi berteriak."
Austin kini mempunyai sebuah ide untuk menyelesaikan semua masalah yang mungkin sebentar lagi menghantam biduk rumah tangga.
"Kalau begitu, cari tahu apapun mengenai apa rencana wanita itu. Sebelum wanita jahat itu menyentuh istriku yang mungkin untuk dimanfaatkan, aku akan melindungi wanita yang kucintai."
Ia sengaja tidak mengatakan rencana yang didapatkan karena ingin bergerak sendiri tanpa ada yang tahu.
'Aku akan membuatmu sadar jika tidak cocok bersama dengan Diandra. Aku tidak akan kehilangan putra kandungku maupun istriku hanya gara-gara pria tidak normal sepertimu.'
Meskipun merasa iba pada nasib Austin yang gagal menikah dan tidak bisa punya anak, tapi satu-satunya keyakinan adalah jodoh Diandra karena sejauh manapun wanita yang dicintai itu pergi, takdir selalu mempertemukan.
Ia sadar jika banyak perjuangan sampai di titik ini, tetapi menyesal karena pernah membiarkan Diandra hidup menderita dan berjanji itu adalah pertama kali sekaligus terakhir.
__ADS_1
"Apa perlu aku membunuh Yoshi jika sampai mengusik ketenangan keluargaku dan juga Diandra yang sudah menjadi milikku sepenuhnya? Kita buktikan saja semuanya sebentar lagi."
To be continued...