
Selama di dalam bus, Diandra tak berhenti mengucap syukur atas keberuntungan dan bisa dibilang nasib baik di hari ini karena tanpa sengaja bisa bertemu dengan sang CEO langsung.
Meskipun ia harus mengawali dengan memenuhi keinginan konyol dari pria yang diketahuinya adalah sang raja wanita, tapi berpikir bahwa hal sepele seperti itu tidak akan menimbulkan masalah.
'Anggap saja ini adalah jalannya menggapai mimpi. Dari dulu aku membayangkan bisa mengenakan seragam kantor yang licin, rapi dan seharian duduk di depan komputer pada ruangan ber-AC.'
'Aaah ... rasanya pasti akan sangat menyenangkan. Membayangkannya saja sudah membuat aku tidak sabar untuk bekerja.'
Puas mengungkapkan kebahagiaan, kini Diandra bersandar sambil memejamkan mata untuk sekedar beristirahat sebentar.
Beberapa saat kemudian, ia kembali membuka mata dan berniat untuk mengirimkan pesan pada orang tua mengenai kabar baik ini. Ia memang jarang menelpon karena memang dilarang oleh sang ayah.
Hal itu untuk menghindari orang yang mungkin adalah mata-mata dari pria tua yang mengincarnya untuk dijadikan istri. Jadi, ia hanya bisa mengirimkan pesan bahwa hari ini telah mendapatkan pekerjaan di Jakarta.
Saat hendak memasukkan benda pipih itu di dalam tas, mendengar notifikasi dan langsung membaca. Pesan yang memberitahukan informasi bahwa ia telah diterima di perusahaan dan bisa bekerja besok pagi di bagian staf administrasi.
"Wah ... aku sudah diterima di perusahaan tanpa menghadiri wawancara hari ini. Jadi, aku besok bisa langsung bekerja? Pasti ini karena pria bernama Austin Matteo itu."
Diandra kini merasa sangat senang dan berpikir bahwa pria yang tadi membuatnya kesal adalah seorang pria hebat.
"Tuan Austin benar-benar menepati janjinya. Aku tidak menyangka akan secepat ini. Padahal tadi ia bilang bahwa aku besok harus menemui pihak HRD, tapi ternyata malah sudah diterima tanpa bersusah payah."
"Sebenarnya sangat aneh memanggil penjahat wanita itu dengan tuan dan penjahat wanita itu harus aku hormati karena adalah pimpinan perusahaan yang akan menjadi bosku."
__ADS_1
Diandra saat ini sedikit heran mengenai pesan yang baru saja ia terima. Mengenai ia diterima, apakah akan menjadi perbincangan di antara staf lainnya. Apalagi ia masuk karena lewat jalur belakang.
'Mungkin mereka yang tidak suka akan membicarakan aku di belakang. Lebih baik aku tidak ambil pusing karena hidup dunia ini memang selalu mendapatkan banyak komentar dari orang lain, baik atau buruk, itu bukan tugasku untuk menyenangkan pemikiran mereka.'
Tidak ingin memusingkan hal yang sangat menggangu pikiran, Diandra membuang kekhawatirannya. Beberapa menit kemudian, ia bangkit berdiri karena sudah sampai di tempat tujuan.
Begitu bus berhenti, ia turun dan berjalan menyusuri trotoar dan berbelok ke gang kecil menuju tempat kos.
Saat berjalan sambil menyapa beberapa orang yang berada di depan rumah, dering ponsel miliknya terdengar dan ia langsung mengangkat panggilan dari nomor tidak terdaftar.
Jika biasanya ia tidak pernah mau mengangkat telpon dari nomor asing, tapi kali ini berpikir bahwa mungkin itu adalah nomor yang berhubungan dengan perusahaan.
"Halo."
Diandra yang kini langsung mengetahui siapa orang di balik telpon, seketika membulatkan mata.
“Anda?" Tentu saja Diandra merasa sangat heran saat pria yang dipikir tidak akan menghubunginya itu mengetahui nomornya.
"Tanpa aku menyebutkan diriku, ternyata kamu sudah tahu. Baguslah kalau begitu. Jadi aku tidak perlu menjelaskannya. Ini nomorku, simpan baik-baik karena sewaktu-waktu aku akan menghubungimu."
Saat Diandra hendak membuka mulut, ia merasa kesal karena sambungan telpon sudah terputus tiba-tiba. Kini, ia menatap ke arah layar.
"Astaga! Apa yang sebenarnya diinginkan penjahat wanita itu? Kenapa menelpon tiba-tiba? Pasti ia tahu nomorku dari pihak HRD."
__ADS_1
Diandra yang kini sudah tiba di tempat kos, kini langsung membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruangan berukuran tiga meter dengan kasur lantai di sudut kiri.
Dengan mendaratkan tubuhnya di atas kasur tipis yang menurutnya sudah sangat nyaman untuk beristirahat selama beberapa hari di Jakarta.
Tidak hanya itu, ia mengempaskan tubuhnya hingga telentang dan menatap langit-langit kamar sambil memikirkan pria yang diketahuinya adalah CEO perusahaan.
"Apa ia pikir aku bisa menjadi mainan selanjutnya? Sepertinya begitu. Kenapa aku merasa akan menjadi target selanjutnya oleh pria itu? Jika benar, hidupku akan seperti para tokoh utama wanita di film-film yang kutonton."
"Menjadi sasaran kemurkaan dari orang tua pria yang khawatir jika putra mereka berhubungan dengan wanita dari kasta rendahan sepertiku. Apakah nanti juga ada bagian penting yang sering kulihat di scene film?"
Membayangkan hal itu di pikirannya, Diandra malah terkekeh geli karena bisa berpikir sekonyol itu.
"Bukan aku sok kepedean karena terlalu jauh memikirkan hal yang belum terjadi, tapi sangat hafal dengan perilaku para buaya darat. Aku bahkan sangat muak melihat para pria tampan yang belagu dan sok kegantengan."
"Ganteng sih ganteng, tapi kalau merasa bisa mendapatkan wanita manapun yang diinginkan, aku benar-benar sangat ilfil. Namun, seandainya pria itu malah makin penasaran saat aku menghindar, pasti akan semakin gencar."
"Hal klise yang selalu dilakukan para pria kaya seperti yang sering kulihat di televisi, rasanya sudah sangat basi. Lebih baik aku ambil hikmahnya saja nanti saat mendapatkan cek dengan nominal yang tidak sedikit ketika mendapatkan perintah untuk menjauhi tuan Austin."
Diandra yang kini berbicara sendiri seperti orang gila ketika membayangkan hal-hal yang belum terjadi, refleks terbahak. Bahkan ia menepuk jidat karena berpikir bahwa sudah terbawa dari dunia halu ke dunia nyata.
"Karena sering menonton drama Korea, aku jadi suka halu seperti ini." Diandra terbahak saat merasa menjadi orang paling bodoh karena selalu jatuh cinta pada tokoh utama dan baper dengan kisah cinta pemainnya
Diandra yang baru saja menutup mulut, merasa haus, berniat untuk mengambil air minum, tapi lagi-lagi indra pendengaran menangkap suara notifikasi. Begitu ia membuka dan membacanya, seketika membulatkan kedua mata.
__ADS_1
To be continued...