
Mas Aziz tak melepas pelukannya usai solat dhuhur tadi. Ia mengecup kening ku berulang-ulang.
"Makasih ya sayang , sudah memaafkan mas. Mas janji, akan berusaha menjadi lebih baik. Menjadi suami yang baik buat kamu dan ayah yang baik buat anak kita." bisiknya pelan.
Kapan aku bilang memaafkannya? Dia mimpi?
Ku dorong tubuhnya menjauh dariku. Aku mundur beberapa inci dari hadapannya.
"Memang kapan aku bilang kalo sudah maafin kamu mas? Kamu ngigau?", bentakku sambil melepas mukenah dan beranjak dari dudukku.
Ku tinggalkan dia yang masih duduk dengan mulut ternganga.
'Ya Salam...kirain udah lempeng. Ternyata masih marah juga' batin Aziz.
"Dek.....maafin mas dek....", ratu mas Aziz.
Aku sudah berada diluar kamar. Berjalan melewati dapur. Duduk diteras belakang dekat dengan jemuran.
Ku usap-usao perut ku yang masih rata ini. Kasian sekali kami nak kalau ayah dan ibu kamu berpisah. Tapi, perbuatan ayahmu menyakiti hati ibu. Kamu tahu kan?
Bagi ibu, penting kamu tumbuh jadi anak yang sehat, tangguh, Soleh atau Soleha.
Aku berkata dalam hatiku sendiri. Tapi aku yakin, baby yang ada didalam perut ini paham dengan suara hati ibunya.
Pandangan ku menerawang jauh ke awan. Teras kecil dan sedikit tempat menjemur adalah area favorit ku dan mas Aziz sebelum prahara itu dimulai. Aku mulai tertidur di bangku teras , sampai akhirnya ku dengar ada keributan di depan. Seketika hilang rasa kantukku. Aku penasaran ada siapa di depan. Dan mas Aziz sedang bertengkar dengan siapa. Karena aku tahu betul, suamiku bukan tipikal orang yang mudah berkata kasar.
Aku berhenti dibelakang lemari ,pemisah antara dapur dan diruang makan. Aku lihat sosok lili sedang berapi-api menghadapi mas Aziz. Ah, lebih baik ku tonton dulu drama ini. Meskipun mas Aziz meyakinkan kalau janin yang lili kandung bukan lah benihnya.
"Belum cukup kamu mengacaukan keluarga ku Li?", kata mas Aziz dengan tegas.
"Aku hanya ingin bersama mu mas. Aku tak masalah jadi yang kedua. Apa aku salah terlalu mencintaimu?", tanya lili.
"Jangan bicara soal cinta dihadapan ku . Aku tahu kamu hanya terobsesi dengan ku. Kamu lupa, bagaimana kamu meninggalkan aku disaat aku terpuruk hah? Sekarang saat aku memiliki Diandra, memiliki segalanya kamu tiba-tiba hadir menawarkan cinta? Dimana otakmu?!", bentak Mas Aziz.
Astaga....aku tak percaya dia bisa sekasar itu. Ya Allah mas, aku seperti tak mengenal mu. Aku masih menonton drama mereka.
"Iya, aku minta maaf mas. Aku salah, aku khilaf saat itu. Lagipula itu kan masa lalu, lupakan saja. Kita mulai menjalani kehidupan yang baru", katanya merayu sambil bergelenjotan di bahu mas Aziz.
Cemburu? Jelas! Istri mana yang tak cemburu melihat lelaki nya digoda perempuan dihadapan matanya.
Tapi itu tak berlangsung lama, mas Aziz mendorong tubuh lili ke sofa.
"Jangan sentuh aku. Kamu sadar diri, kamu bukan siapa-siapa. Bersikap sopan lah, ini rumah istri ku."
__ADS_1
"Istri kamu yang ga bisa kasih kamu anak kan mas?", ledek nya.
"Jaga bicaramu! Diandra sedang hamil. Hamil anakku!"katanya dengan tegas.
Mata Lili terbelalak sesaat. Tapi, tak berlangsung lama. Dia kembali mendekati mas Aziz.
"Owh ..bagus lah kalau begitu, berati.... besok kamu punya anak dari aku dan istrimu sekaligus." katanya dengan penuh percaya diri.
Mas Aziz tersenyum. Melipat tangannya di dada.
"Anak dari kamu? Mimpi!", ujar mas Aziz.
"Maksud kamu apa ngomong begitu mas? Ini memang anak kamu kok!", katanya lagi.
Mas Aziz berjalan menuju meja dipojokan sofa.
Meraih amplop lalu melemparkannya ke hadapan Lili.
"Kamu yang sudah memeriksa kan nya bukan?", tanya mas Aziz.
"Iya, kenapa? Ada yang salah? Toh benar kan hasilnya positif? Aku nggak bohong kan kalau aku hamil mas?", tanya Lili.
"Berapa usia kandungan mu?" tanya Aziz.
"Ya yang kamu lihat lah, sudah 7 Minggu!", dia menyeringai.
"7 Minggu? Wow....berarti....2 bulan setelah kita melakukan nya kami baru hamil? Begitu maksudmu?"
Mata Lili terbelalak. Dia syok dengan pertanyaan mas Aziz .
"Kamu itu kelewat pintar atau bagaimana?Iya aku salah. Salah besar sudah melakukan nya dengan mu. Itu pun sekali saja. Lebih dari 3 bulan yang lalu. Dan sekarang tiba-tiba aku harus bertanggung jawab dengan bayimu yang baru berusia 7 Minggu. Logikamu dimana?" bentak mas Aziz.
Wajah Lili yang tadi over pede sekarang berubah pias. Ayolah Lili, jawab! Aku ingin mendengar pengakuan versi kamu. Kalau itu memang bukan anak mas Aziz!
"Ya ..ya...aku ga tau mas. Bisa aja kan hasil USG nya salah." elak Lili.
"Owh...hasil USG yang salah atau kamu yang mengada-ada?" tanya mas Aziz yang kini suaranya sudah mulai pelan. Mungkin dia lelah berteriak dari tadi saat bicara dengan lili.
"Sejak kamu kirimkan video itu, ga pernah sedikitpun aku menggubris kamu. Kamu sadar kan itu Lili?" tanya mas Aziz.
"Aku ga peduli siapa bapak dari anak yang kamu kandung, yang jelas itu bukan darah daging ku."sekarang ucapan mas Aziz terdengar lebih tenang.
"Oh...oke baiklah. Kalau kamu ga mau menikahi ku mas, aku akan sebar video syur kita. Biar kamu dipecat secara tidak hormat. Dan orang-orang akan ngecap kamu sebagi suami tukang selingkuh!", ancam Lili.
__ADS_1
Tampak Lili mengutak-atik ponselnya. Sesekali kulihat wajahnya berubah-ubah ekspresi. Dia mencari sesuatu, tapi sepertinya tak ia temukan.
"Kenapa? Apa yang kamu cari? Video? Kamu mau menyebarkan video menjijikan itu?", tanya Mas Aziz.
Maksud mas Aziz apa sih ngomong gitu? Bukannya dia harus khawatir, bagaimana kalau Lili benar-benar mengunggah video nya ke sosial media. Bukan hanya malu, tapi tanggapan orang lain juga berpengaruh dalam kehidupan besok.
"Kok... video nya nggak ada? Apa ini ulah kamu mas?", tanya Lili.
"Aku? Bagaimana bisa?", suara mas Aziz nampak meremehkan dirinya sendiri. Sungguh, bukan seperti mas Aziz yang ku kenal selama ini. Ternyata ini sisi lain dari suamiku.
"Sudah lah lili, aku saja jika kamu hanya berusaha merusak rumah tangga ku dengan Dian kan?", Aziz mulai memojokkan Lili lagi.
"Iya...aku ga rela dia mendapatkan mu mas. Aku yang lebih dulu mengenal mu , aku lebih berhak!", cerocos Lili.
Hahahaha.....ingin aku tertawa dihadapannya. Tapi, lebih baik aku jadi penonton dulu. Aku melupakan sedikit kemarahan ku pada mas Aziz.
"Yang berhak atas diriku cuma Diandra. Jangan menghayal! Kamu yang memilih meninggalkan ku demi pria kaya itu. Jadi tolong, mulai sekarang buang jauh-jauh obsesi kamu buat deket-deket sama aku. Dan.....stop ,jangan ganggu keluarga ku lagi!"
Wajah lili sudah memerah, antara marah dan sakit hati jadi satu ekspresi.
"Kamu lihat dibelakang mu ada pintu? Silahkan keluar, dan jangan pernah kembali lagi kemari!", kata mas Aziz sambil menunjuk tangannya ke arah pintu.
Lili yang sudah tersulut emosi pun hanya menghentakkan kaki nya saat keluar dari rumahku.
Hah.....ku harap sudah selesai dramanya. Dengan santai aku melewati ruang makan, batuk-batuk kecil sengaja ku buat agar terkesan aku baru saja masuk ke dalam ruangan.
Mas Aziz nampak tak kaget melihat kehadiran ku.
"Nggak usah pura-pura. Mas tahu dari tadi kamu jadi penonton yang baik!", katanya.
"Pura-pura apa sih? Aku aja baru masuk kok!", kataku santai.
Mas Aziz tersenyum menghampiri ku. Lalu berbisik.
"Lihat kaca besar disamping meja makan? Kamu kelihatan kok dek sembunyi dibelakang lemari penyekat".
Wajahku pasti berubah menjadi merah seperti kepiting rebus gara-gara ketahuan. Aduh ...bodoh nya aku!
Lalu mas Aziz membopong ku tiba-tiba.
"Ih...apaan sih mas, turunin!", pintaku.
Mas Aziz justru membawaku ke kamar. Menjatuhkan ku ke ranjang.
__ADS_1
"Istirahat ya dek. Dari tadi ngintipin capek kan?", ledek nya.
Aku tak menjawab, kubalikkan badanku agar ia tak tau ekspresi wajahku.