Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 185


__ADS_3

Rapat bulanan pun dimulai.


"Assalamualaikum. Selamat pagi... menjelang siang semua!", aku mulai menyapa mereka yang ada di ruangan rapat ini. Sebagian ada yang menjawab salam ku, sebagian ada yang diam. Karena di kantor ku ini memang banyak yang non muslim. Dan....itu bukan kendala. Siapa pun di perlakukan sama tanpa memandang SARA.


"Bisa kita mulai sekarang?", tanyaku. Mas Aziz duduk di sebelah ku. Dia benar-benar seperti asisten pribadi ku, hanya saja tidak cuma asisten di pekerjaan. Tapi justru dia bosku yang sebenernya dan imam ku tentunya. 😊☺️


Satu persatu kepala divisi memberikan laporan nya. Dan yang paling lama sudah tentu adalah bagian keuangan. Karena semua harus terperinci. Dan....aku tahu, mas Aziz lebih paham dari aku sendiri. Mas Aziz mengajari ku bagaimana melihat dan mempelajari semuanya.


"Dek, ada yang nggak balance di bagian ini. Coba nanti kamu tanya langsung. Tapi , kalau bisa jangan di depan kepala divisi yang lain. Kita bicara saja dengan nya", bisik mas Aziz padaku.


Aku tahu maksud mas Aziz. Dia pasti tidak ingin mempermalukan staf keuangan kami di hadapan rekan kerjanya.


"Baiklah. Rapat hari ini selesai. dan....maaf....pak Samsul, tolong tinggal di ruangan ini sebentar ya. Ada yang saya belum paham."


Semua pun keluar ruangan. Tersisa aku, mas Aziz, Julian dan pak Samsul.


"Pak Samsul!", panggil ku pelan.


"Siap Bu Dian!", pak Samsul terlihat gugup.


"Santai saja pak. Saya cuma mau tanya kok!", kataku lagi. Pak Samsul pun mengangguk.


"Ini pak, saya dan suami saya menemukan di sini.....!", aku menunjuk sebuah kertas laporan keuangan.


"Ini...kenapa tidak balance ya pak? Tapi... pengeluaran nya kenapa bisa sama? Saya tidak paham pak Samsul", tanyaku lagi.


Pak Samsul terlihat gugup. Julian berdiri di belakang ku sambil melipat kedua tangannya.


Ini yang aku tunggu! Gebrakan baru dari bos baru. Selama ini aku ingin memperingatkan staf keuangan ini, tapi aku sadar aku tidak punya wewenang. Yang berhak hanya pak kendra dan Bu Dian sendiri.Batin Julian. Dia pun tersenyum penuh arti.


"Bisa jelaskan kan pak?", tanyaku di hadapan pak Samsul.


Pak Samsul pun menjelaskan tentang kesalahan di laporannya tersebut.


"Begitu ya? Baiklah, saya akan mencoba mengecek nya lagi nanti."


Samsul pun mengangguk mengerti. Lalu mohon ijin untuk keluar dari ruang rapat .


"Tunggu pak!",seruku.


Pak Samsul pun berhenti lalu kembali menghadap ku.


"Kenapa Bu Dian, apa masih ada yang belum jelas?"


"Ya. Saya mau, pak Samsul merevisi laporan ini. Dan...ya...satu lagi. Saya juga mau mengecek laporan-laporan sebelumnya. Pak Samsul tidak keberatan kan?", tanyaku tepat di depan mataku. Aku memang hanya melihat sekilas, tapi aku tahu betul ada kecurangan di sini. Dari awal laporan sampai tahap akhir, semuanya seperti sudah terkoordinir. Jadi, kalau di lihat sekilas...semua terlihat sangat baik. Entah, mungkin mataku dan mata mas Aziz terlalu jeli.


Pak Samsul pun menyanggupinya.


"baik Bu Dian, saya akan menyerahkan laporannya", kata Samsul tertunduk.


"Satu lagi pak Samsul!"

__ADS_1


"Ya Bu?!", tanya Samsul.


"Selain laporan tadi, tolong berikan saya soft copy nya. Bisa kan?", tanyaku.


Pak Samsul terperanjat mendengar permintaan ku.


Mas Aziz dan Julian tersenyum melihat ekspresi Samsul yang tiba-tiba berwajah pucat.


Mampus! Batin Samsul.


Aku pikir, dia mudah di kelabuhi. Dia cuma ibu rumah tangga selama ini, ternyata....


"Hallo? Pak Samsul? Saya tanya kok nggak di jawab?"


"Bbbbaikk Bu , saya akan menyerahkan nya nanti. Saya antar ke ruangan ibu!"


"Baiklah, terima kasih sebelumnya ya pak Sam!", kataku.


Samsul pun terlihat menghela nafasnya . Mungkin dia lega bisa keluar dari kandang macan. Iya, kandang MaCan. Manusia Cantik πŸ˜†πŸ˜†πŸ˜† percaya diri dikit ngga apa-apa lah ya.


"Emang ada yang kamu lihat lagu selain yang mas tunjukkan tadi dek?", tanya mas Aziz padaku.


"Huum! Nih?!", aku menunjuk lagi. Mas Aziz dan Julian saling berpandangan.


"Sedetail ini?", tanya mas Aziz padaku.


"Iya!", jawabku singkat.


"Mas saja yang biasa mengerjakan nya tidak sampai berpikir ke sini-sini. Bukan begitu mas Jul?", Aziz meminta pendapatnya dari Julian.


"Masa sih? Owh...itu artinya....kalian belum paham wanita."


Aziz dan Julian mengernyitkan dahinya.


"Maksudnya apa dek???"


"Hahaha....biasa aja kali ,nggak usah kompakan gitu."


Aziz dan Julian pun hanya memandang heran padaku.


"Sini, aku bilangin ya. Wanita itu, manajer keuangan terbaik. Kami biasa mengatur keuangan rumah tangga. Jadi, kalau ada pengeluaran yang di anggap tidak sesuai.... sudah tahu itu pasti ada yang tidak beres. Jangan meremehkan kami kaum hawa, apalagi ibu rumah tangga. Jangan kan pengeluaran dengan menggelontorkan dana yang berjuta-juta, beli Roy*o buat masak aja ada jejak nya kok!",kataku panjang lebar sambil mengilustrasikan dengan pengeluaran ku sehari-hari.


"Aku memang sudah lama pensiun, tapi jangan lupa. Aku juga lulusan terbaik di kampus ku. Diandra Saputri S.Tr.Ak!"


Mas Aziz dan Julian menggeleng kan kepalanya mendengar kepedean ku.


"Kenapa kalian melihat ku begitu? Salah ?", tanyaku.


"Ya...ya...istriku memang biangnya keuangan!", kata mas Aziz. Entah itu pujian, atau celaan.


Tapi aku mendengar nya seperti sebuah ejekan.

__ADS_1


"Kenapa? Memang apa yang salah dengan perkataan ku?", tanyaku memasang wajah kesal.


Sontak, Julian pun berubah ekspresi.


"Maaf Bu Dian, pak Aziz. Daya permisi ke ruangan saya?!", Julian pun meninggalkan kami berdua.


Berantem lagi pasti tuh mereka. Tapi gampang banget juga baik kan nya. Pasangan yang istimewa! Andai, ada satu lagi wanita model Diandra?! Batin Julian.


"Sayang... jangan marah lah!", rayu Aziz.


Dia mendekat padaku.


Cup... dengan mesra mengecup kening ku.


"Kalau kamu begini, mas percepatan hukuman mu. Tidak mau menunggu sampai di rumah!", ancam aziz.


"Iih...kamu mah mas! Tau ah....!", aku pun meninggalkan nya di ruang rapat. Aziz hanya terkekeh dengan tingkah istri tercintanya.


Di ruangan lain....


"Julian!", Sharen meraih tangan Julian.


"Apa sih Ren? Ini di kantor. Dan di kantor, kita ini rekan kerja. Jangan di sangkut pautin dengan pekerjaan. Di sini, aku atasan mu!"


"Julian! Kenapa akhir-akhir ini kamu mengabaikan ku? Sejak ada bos barumu itu, kamu seperti tidak ada waktu buatku."


"Sharen. Cukup! Aku malas berdebat sama kamu!", Julian meninggal Sharen di depan ruangan nya. Tapi Sharen mengikuti Julian sampai ke dalam.


"Aku belum selesai bicara Julian!"


"Apa lagi Ren???", Julian mulai emosi.


"Jangan bilang kamu menaruh hati dengan bos barumu itu."


"Jaga bicara mu !", Julian menunjuk wajah Sharen dengan telunjuknya.


"Kenapa? Kamu takut ketahuan sama pak Aziz ,iya????!", tanya Sharen lantang.


"Sharen!", hampir saja telapak tangan nya yang kokoh itu menampar pipi Sharen.


"Apa? Mau nampar aku, iya?"


"Keluar Ren. Aku tidak mau nanti ada kekhilafan!", kata Julian tenang.


"Lambat-laun kamu akan mengakuinya!"


Sharen pun keluar dari ruangan Julian.


Kenapa Sharen bisa berpikir begitu? Apa dia bisa melihat jelas kegagumanku pada Diandra? Apa aku terlalu menampakkan bahwa aku memperhatikan nya? Memangnya apa yang ku lakukan? Setahuku , aku hanya menerapkan tindakan yang sopan bawahan pada atasannya! Kenapa Sharen bisa berpikir seperti itu?


*****

__ADS_1


Nah Lo....dari kagum bisa jadi.....tiiiiiiiit....


Hati-hati Julian!


__ADS_2