Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 280


__ADS_3

"Wah...lagi bukber ya? Ngga nawarin atau ngajak aku gabung Di?", tanya Revan yang saat ini sudah masuk ke dalam ruang tamuku. Aku pun menutup pintu ruang tamu.


Belum sempat berucap, mas Aziz sudah terlebih dulu menghampiri kami.


"Mau apa kamu ke sini? Jadwal kontrol ku masih empat hari lagi!", kata Aziz menggerakkan kursi roda nya.


"Mas!", aku meraih bahunya, mas Aziz menyentuh punggung tanganku.


"Heum...pengen mampir aja sih, keberatan?", tanya Revan dengan santai nya.


Dasar pria tak tahu diri, setebal apa wajahnya! Otaknya udah korslet kali ya! Batin Aziz.


"Kalau boleh jujur ,IYA. Saya keberatan dengan kunjungan dokter. Masalah nya saya tidak memanggil anda ke rumah!", sahut Aziz ketus.


"Hehehhe ini di luar pekerjaan mas Aziz! Saya ke sini ingin bertamu saja, kerumah...mantan saya!", katanya lagi dengan senyum menjengkelkan.


Astagfirullah, mulut mu Van!


"Begitu?", tanya Aziz sambil melipat tangannya.


"Tentu saja. Andai saya tahu kalian sedang bukber, saya pesan makanan untuk kita makan bersama-sama", kata Revan lagi.


"Oh...kalau mau ikut gabung makan silahkan, Alhamdulillah menu buka puasa kami masih cukup banyak. Anda tidak perlu repot-repot membawa kan nya . Kami masih cukup mampu jika hanya sekedar menyuguhi makanan untuk anda seorang!", sindir Aziz.


Mas Aziz kenapa jadi bicara begitu? Bukan nya lebih baik jika Revan tidak ada di sini?


"Sayang, ajak dokter Revan masuk yuk! Biar tahu rasanya makan bersama-sama keluarga!", kata Aziz meminta ku mendorongnya.


"Silahkan dokter Revan!", kataku mempersilahkan.


Revan tersenyum tipis saat aku mempersilahkannya. Dia mengikuti kami. Jarak antara aku dan Revan tak terlalu jauh. Aku merasa dia berada tepat di belakang kepala ku.


"Heum! Kamu masih selalu wangi Di!", bisik nya pelanh yang membuat ku bergidik ngeri. Takut jika dia berbuat lebih, aku mempercepat dorongan kursi roda mas Aziz.


Damar dan yang lain menoleh ke arah kami. Mereka sedikit terkejut melihat kehadiran Revan. Terutama Damar, damar tau betul masalah yang terjadi di antara kami.


"Selamat malam semua!", kata Revan ramah.


"Malam!", sahut mereka kompak, tak terkecuali stevan.


"Malam dokter Damar!", Revan menganggukan kepalanya.


"Malam dokter Revan!", sahut Damar dingin.


"Oh iya, silahkan gabung dokter Revan. Tapi maaf, lesehan ya. Kami suka makan lesehan begini jika sedang berkumpul!", kata Aziz ramah.


Aku sedikit mengguncang bahu mas Aziz. Dia menatap ku sekilas lalu tersenyum tipis. Mengusap punggung tanganku yang ada di bahunya.

__ADS_1


"Terimakasih!", Revan pun duduk di sebelah Stevan.


"Anda satu rumah sakit dengan menantu saya?", tanya Revan.


"Heum? Ah...tidak om. Kami hanya kenal karena sering seminar bersama. Jadi dokter damar menantu anda?", Revan melirik Hayu.


"Iya, saya Stevanus Winata. Dan putri saya Stevia Winata,istri dokter Damar."


"Owh...begitu rupanya? Apa dia Stevia yang sama, em... maksud saya...teman Julian dan Sharen?", tanya Revan.


Hayu mendongak sesaat.


Dia mengenal ku sebagai teman Julian dan Sharen? Batin Hayu.


"Anda mengenal mereka rupanya?", kata Stevan terkekeh kecil.


"Tak terlalu sih om. Hanya tahu saja, saya dan Julian memang tak begitu dekat meskipun mama saya sudah lebih dari sepuluh tahun menjadi istri Daddy nya Julian."


"Owh...jadi anda....?", Stevan agak memundurkan badannya,ingin memastikan pria gagah di hadapan nya .


"Iya om, saya Revandra Syailendra!", kata Revan dengan tegas.


"Ya...ya...Revan. Maaf, yang om tahu dulu anda di kabarkan meninggal dunia saat kuliah!", kata Stevan.


Aku menelan salivaku. Aku tak ingin mengingat masa-masa itu.


Stevan mengangguk tanda mengerti.


"Apa anda sudah menikah?", tanya Stevan.


Revan tersenyum tipis.


"Revan saja om, jangan pakai kata anda. Saya masih sendiri sejauh ini om!"


"Oh , maaf kalau begitu. Pasti banyak perempuan yang mengantri untuk di jadikan istri seorang dokter tampan seperti kamu Nak Revan heheheh", canda Stevan. Hayu dan damar saling lirik mendengar candaan Daddynya.


"hehehe om bisa saja. Sayang nya, jodoh saya masih di jaga orang lain. Ya...saya masih berharap, jika....dia kelak jodoh saya!", Revan melirik ku dan Aziz.


Mas Aziz mengepalkan tangannya di atas kursinya. Aku berusaha menenangkan hati mas Aziz. Ya, suamiku memang mudah terpancing emosi nya. Di tambah lagi dengan keadaannya saat ini. Sungguh, aku suka situasi seperti ini.


"Namanya jodoh, hanya Tuhan yang tahu Nak Revan. Mau sekeras apa pun kamu meminta, jika bukan jodohmu kamu bisa apa? Tapi....jika Tuhan sudah berkata, dia jodoh mu meskipun kamu tak pernah menyangka nya.....ya....kita cuma bisa menerima keputusan Nya!", kata Stevan menepuk bahu pemuda gagah itu. Padahal, Stevan sendiri tak tahu siapa perempuan yang di tunggu Revan.


"Betul dokter Revan, jadi... alangkah baiknya jika anda mendoakan yang baik-baik saja untuk 'jodoh' yang anda harapkan dan sudah di miliki orang lain", Damar menyindirnya dengan kalimat yang terkesan nasehat.


"Terima kasih atas nasehat nya Dokter Damar, tapi....ya... namanya hidup, siapa yang tahu kan? Bisa saja, saat ini si Dia sedang bahagia bersama pasangannya. Tapi....siapa tahu, suatu saat nanti dia akan kembali kepada saya", Revan semakin tak bisa di kontrol.


Damar hampir bangkit dari duduknya. Tapi Hayu menarik tangan nya, lalu menggeleng ke arah Damar. Mau tak mau Damar menuruti sang istri. Stevan yang merasa bingung hanya bisa memandangi satu persatu orang-orang yang ada di ruang ini.

__ADS_1


"Mmmm....mba Hayu, kita solat di kamar saja. Biar mas Aziz sama mas Damar saja ya!", aku mengajak Hayu ke kamar ku.


Damar pun bangkit dari duduk lesehan nya.


"Maaf Dad, kami tinggal solat sebentar ya? Waktu magrib nggak lama soalnya."


"Iya Dam, Ziz! Biar Diaz sama opa saja ya Nak!", kata Stevan sambil menjaga Diaz di depannya.


Revan tertegun memandang keempat orang itu berlalu. Lalu ia menatap Diaz yang seperti copyan dari Aziz.


"Apa om masih ada hubungan kekerabatan dengan keluarga ini?", tanya Revan.


"Ya. Putri saya dan Dian bersahabat, Dian sudah om anggap anak om sendiri."


"Owh....!"


"Oh iya, om sampe lupa mau tanya. Kamu ke sini di undang sama Aziz atau Damar begitu?",tanya Stevan.


"Nggak om, saya memang sengaja mampir ke sini. Ingin bertemu Diandra, perempuan yang saya cintai."


Deg!!!


Tiba-tiba dada Stevan bergemuruh.


"Kenapa saya tidak bisa menangkap arah pembicaraan mu dari tadi ya?", tanya Stevan sambil menepuk pemuda itu.


Revan tersenyum smirk.


"Karena om memang tak menanyakan nya kan?"


Stevan tampak menghela nafas. Dari bahasa yang ia dengar dari mulut dokter muda ini, pemuda ini sangat keras kepala dan tentu saja mengedepankan egonya.


"Van, kamu tampan. Berpendidikan tinggi dan...om rasa, kamu bisa mendapatkan gadis mana pun yang kamu inginkan! Untuk apa kamu mengharapkan perempuan yang sudah bersuami? Kamu tahu, istri om saja seusiamu lho. Masa iya, kamu yang rupawan begini masih mengharap istri orang? Iya, kalo istri orang itu mau. Kalo nggak? Apa ngga rugi penantian mu selama ini?", Stevan berusaha membuka hati Revan. Semoga saja bisa di goyahkan lah.


Revan justru tersenyum tipis.


"Seperti yang Om katakan tadi, aku bisa mendapatkan perempuan mana pun yang aku mau. Termasuk Diandra om!", kini Revan membalas tepukan bahu Stevan.


Stevan tampak menghela nafas. Pantas saja Aziz dan juga menantunya merasa emosi seperti tadi.


******


Ayo Revan.... tunjukan nyalimu!!?


Ehhhh.....salah denggggg......


🤭🤭🤭🤭🤭

__ADS_1


__ADS_2