
"Kalian keterlaluan ya, bisa-bisanya nggak ngabrin mama kalau menantu mama lahiran!?",mama mengomel sambil menjewer anak lelaki dan keponakannya.
"Iya ma...maaf....Aziz lupa ma,wajarkan ma...Aziz panik." Aziz mencoba membela diri.
Sekarang perhatian mama mengarah ke Imah.
"Imah?", tanya Imah menunjuk wajahnya sendiri. Padahal mama belum berkata apapun.
"Ya ...Imah...kan juga sama paniknya sama mas Aziz Tante heheheh ", tanpa rasa berdosa pada abangnya Imah malah nyengir kuda.
"Geregatan mama sama kalian deh!", ucap mama.
"Kamu sendiri gimana Di?", tanya mama menghampiri ranjangku.
"Alhamdulillah ma. Aku baik-baik saja."
"Terus,cucu mama mana?", tanya mama.
"Ada di rumah bayi ma,masih di box inkubator", jawab Aziz.
"Antar mama kesana!", titah mama.
"Dek, mas anter mama dulu ya. Dan kamu Imah,jagain mbak kesayangan mu ini." Mas Aziz memerintahkan adik sepupunya itu.
"Ndak usah disuruh juga Imah ngancani mbak Di kok mas", kata Imah manyun.
"Apa katamu? Ngencanin?", mata mas Aziz terbelalak.
"Bukan Ngencanin Aziz, ngancani itu nemenin. Makanya banyak gaul ,main mu kurang jauh." Mama pun menggandeng anaknya itu. Mereka berdua pun keluar dari ruangan ku.
Kurasa imah memang punya pengaruh besar dalam keluarga kami.Tidak mas Aziz ,tidak mama sama saja.
"Mana cucu mama Ziz?", tanya mama penasaran.Dia melihat sekumpulan bayi dari balik kaca.
"Itu ma,yang di box kaca." Aziz menunjukkannya pada mama.
"Ya Allah... Alhamdulillah....aku punya cucu." Mama terlihat begitu bahagia.Mungkin jika tidak ada kaca yang menghalangi,mama sudah meraih bayiku.
"Mama bahagia punya cucu ma?", tanyaku.
"Pertanyaan yang tak perlu kamu pertanyakan aziz.!", jawab mama sambil tetap menatap cucunya.
"Andaikan waktu itu Dian meninggalkan ku,apakah kebahagiaan ini ada ma?", tanyaku pelan. Mama membalikkan badannya lalu menatapku.
"Beruntung nya kamu ziz, memiliki istri seperti Dian."Mama berjalan ke bangku yang tak jauh dari ruangan ini.Setelah itu, menjatuhkan bobotnya di bangku.
"Kamu tahu.... berbulan-bulan mama menjauh dari kalian karena apa?".
Aku menggeleng.
"Mama malu,sering menyakiti hati istrimu.Tapi,Imas menyadarkan mama.Bagiamana pun, seikhlas apa pun perempuan itu pasti akan merasakan sakit didalam hatinya.Dan...mama menyesal,turut andil dalam masalah rumah tangga kalian."
Aku terdiam beberapa saat.
"Tapi Dian sudah memaafkan kita ma."
"Jujur,mama malu sekali Ziz."
"Sudah ya ma,yang penting sekarang kita sudah bahagia. Ada cucu mama yang ganteng seperti anak mama ini." Aku berusaha menghibur mama agar tak larut dalam emosinya.
"Iya.Mama harus banyak berterima kasih sama istrimu.Sudah mau memaafkan dan memberimu kesempatan.Sudah melahirkan cucu mama,dan juga... mempertemukan kita dengan Imah, keluarga kita."
"Iya mah!", aku memeluk tubuh tua mama yang terlihat masih segar meski usianya mendekati 60 tahun.
"Kita kembali keruangan Dian." Aku pun mengikuti langkah mama.
__ADS_1
"Udah liat Dede bayi nya Tan?", tanya Imah.
"Udah, ganteng banget kaya almarhum opanya", jawab mama.
"Masa kaya papa sih ma?Kaya aku lah", seru Aziz.
"Nggak kok, mirip mbak Di banget", Imah turut menimpali. Akhirnya kami berempat tertawa bersama.
"Ngomong-ngomong sudah disiapkan nama buat Dede bayi belum?", tanya mama.
"Belum ma", jawabku.
"Imah boleh usul?", celetuknya.
"Enggak....", jawabku, mama dan mas Aziz kompak.
"Iiih....kok nggak boleh sih.Kan Dede bayi juga ponakan Imah."
"Tante nggak mau nanti kamu ngasih namanya aneh-aneh." Ternyata mama sepemikiran.
"Astagfirullah masa iyo aneh. Yo gak toh." Imah memanyunkan bibirnya.
"Ya sudah, coba ide kamu apa mah?", tanya mas Aziz.
"Ide apaan?", tanyanya balik.
"Imahhhhh....!", mas Aziz geregetan.
"Habisnya dek,dia itu kelewat....", Aziz menghentikan kalimat nya.
"Imah, maksud mas Aziz kamu ngasih ide nama apa yang cocok buat ponakan mu?",aku mencoba berkata pelan padanya.
"Oh....iya. Imah paham.Peyan ga sah marah gitu toh mas.Piye ndek dikei nama Diaz. Diandra... Aziz.Apik toh?", tanya nya pada kami.
Aku,mama dan mas Aziz saling berpandangan.
Tumben nih anak rada lempeng.
"Bisa juga tuh", kata mama.
"Oke.... gimana kalau Diaz Abisatya Nugroho?", tanya mas Aziz.
"Emm...lumayan bagus lah", celetuk Imah.Kami bertiga memandang Imah.
"Mmm....maksude bagus kok bagus,bukan cuma lumayan."
Iya, akhirnya nama Diaz Abisatya Nugroho kami sematkan untuk putra pertama kami.
Diaz singkatan Dian dan Aziz. Abisatya nama belakang mas Aziz, dan Nugroho adalah nama keluarga mas Aziz.
"Berapa lama Diaz disini?Sudah ada informasi?", tanya mama.
__ADS_1
"Belum ma,mungkin beberapa hari ini. Kalau hasilnya baik, insyaallah secepatnya kita bisa pulang".
"Mama udah gak sabar pengen gendong cucu mama tau nggak?", mama merajuk.
"Jangankan mama,Dian sama Aziz aja yang bikin belum gendong-gendong lho mam", mas Aziz mulai meledek.Mama tertawa menanggapi
candaan anaknya.
"Mending mama pulang dulu deh, istirahat."
"Iya,lagian mama juga capek. Besok kalo Diaz udah bisa diajak pulang,mama mau bikin tasyakuran aqiqah ya."
"Iya ma, kami ikut saja", kata mas Aziz.
Lalu mas Aziz mengantarkan mama ke parkiran.
"Mama hati-hati bawa mobilnya ya. Pelan aja,inget....jangan ngebut!", Aziz mengingat kan mamanya.
"Iya ...iya...ya udah, mama duluan ya Ziz."
Mobil beliau pun berlalu meninggalkan rumah sakit. Aziz segera beranjak dari tempat ia berdiri.Sepertinya hujan akan turun.
"Aziz...!", panggil seseorang. Si empunya nama pun menengok.
"Ya saya! Siapa ya?", tanya Aziz.
"Masa kamu lupa?Aku, Feby...teman SMA kamu dulu." Dia menyebutkan namanya Feby.
"Feby?Maaf...mungkin saya lupa."
"Ya ampun Ziz,Lo lupa sama gue?Febyna Maulida? Cewe gendut yang suka dibuli,dan lo suka belain gue." Si cewek kembali mengingat kan. Dan Aziz pun berusaha mengingat-ingat.
"Oh...iya...iya... Feby yang itu....", akhirnya Aziz mengingat nya.
"Apa kabar Lo Ziz? Ngapain Lo disini?", tanya Feby.
"Alhamdulillah baik, istri gue baru lahiran. Lo bikin gue pangling deh feb."
"Bisa aja Lo Ziz."
"Lo sendiri ngapain?", tanya Aziz ke Feby.
"Lagi sidak aja niatnya sih,ini rumah sakit keluarga gue."
"Owh.....",hanya kata itu yang keluar dari mulut Aziz.
"Eh...bagi kontak wa Lo dong, kali aja besok-besok ada perlu ."
"Mana sinj ponselmu."Aziz mengetik nomor ponselnya,lalu diserahkan kembali pada Feby.
"Oke. Tengkyu bro. Kalo ngga sibuk, nanti gue mampir jengukin istri sama bayi Lo,boleh?",tanya Feby.
__ADS_1
" Iya boleh. Ok kalo gitu gue balik ke kamar istri dulu ya ".
Mereka berdua kembali ke urusan masing-masing.