
"Imah, aku sama Dian mau cek kandungan ke dokter. Kamu jaga baik-baik kiosnya ya. Jangan ngelamun. Inget, amanah!" titah mas Aziz.
"Iya mas...iya....paling Imah nonton Drakor tok. Kalo ada yang beli ya Imah layanin lah." sahut Imah.
"Ya udah ya mah, kita berangkat dulu. Oh iya, kamu mau nitip apa? Mumpung mba keluar?, tanyaku.
"Opo Yo mbak? makanan ae boleh ga mbak?"
"Makanan opo?"
"Burger king mbak. Imah belom pernah makan itu."
"Antrinya lama Imah.....", sahut mas Aziz.
"Udah sih mas, sekali-kali lah. Lagian Imah juga pengen ngerasain burger king kaya gimana."
"Ga enak mah, enakan singkong goreng. Percaya deh."
"Mas....", aku mencubit lengan nya.
"Tau tuh pak bos. Ga seneng amat sih kalo anak buahnya majuan dikit." kata Imah sambil memonyongkan mulutnya.
"Jadi berangkat ngga sih dek? Rapat Mulu sama Imah!"gerutu mas Aziz. Dia pun berjalan mendahului ku.
Aku segera mengejarnya. Mas Aziz membukakan pintu mobil untuk ku. Setelah itu mobil melesat dengan kecepatan sedang.
"Mas, mama belom ada kabar mau balik ke sini lagi. Kenapa ya mas?"
"Ga tau dek. Biarin lah, daripada disini nggrecokin kita."
"Hush....kamu tuh ya. Sama orang tua sendirian begitu. Ga baik!"
"Ya tahu. Tapi kalo jauh begini kan emang lebih baik."
"Mas, kamu lupa....kemarin mama udah ngirim paket buat kita?"
"Inget lah. Tapi kalo gitu doang mas juga mampu beliin buat kamu, buat anak kita juga."
"Jangan dilihat dari nilai barang nya dong mas. Tapi niat nya yang ikhlas mau ngasih buat kita."
"Heem...." , sahutnya.
"Oh iya mas, ngomong-ngomong kemarin pas Lili datang kok dia langsing aja ya mas. Perutnya belum gede, harusnya kan paling nggak ya...ga beda jauh dari aku."
"Aduh....dek, udah deh mas ga mau bahas dia lagi. Ujung-ujungnya nanti kita berantem lagi. Mas lagi yang salah."
"Bukan gitu mas, aku penasaran aja kok dia masih langsing begitu. Aku aja udah segede kebo begini."
"Mana ada kebo cantik begini,"rayunya.
"Gombal!"
"Iya emang istri mas ini cantik. Baik hati, sabar saliha lagi."
"Lebay.... kalau segitu sempurna nya,mana mungkin si suami bisa selingkuh dan tidur sama selingkuhan nya."
"Tuh...kan....mas bilang juga apa. Ujung-ujungnya omongannya begitu. Udah ah,!"
"Dih... kenyataan nya emang begitu kok. Kemaren aku masih seksi cantik aduhai aja mas kepincut sama makhluk model lili. Apalagi ntar kalo aku udah nglahirin. Badanku bisa makin melebar. Pasti mas bakalan ....."
"Nggak! Mas cuma mau kamu. Seperti apa pun nanti. Mau segendut apa juga mas terima lah."
"Boong?!"
"Serius"
"Ibu...bapak....lihat, Dede bayinya aktif sekali ya. Alhamdulillah kondisi nya sehat." ucap dokter.
Aku dan mas Aziz saling melempar senyum.
"Bu, tiap kali kita USG Dede bayinya selalu ngumpetin anu nya ya Bu. Saya kan penasaran." kata mas Aziz ke dokter Ida .
"Hehehe kali ini anda beruntung pak...lihat nih....little Monas nya." canda dokter.
"Alhamdulillah....cowok donk bu?" kata suamiku girang.
"Insyaallah iya pak."
"Alhamdulillah ya mas. Tapi, bagi kami mau cewe atau cowo kami syukuri dok."
"Iya Bu. betul itu. Yang penting ibu jaga baik-baik kandungannya ya Bu.Nanti saya berikan resep vitamin buat ibu."
"Iya dok." sahutku.
"Bu dokter, saya mau tanya. Kok istri saya sering kram perut ya dok?",tanya Aziz.
__ADS_1
"Di usianya yang hampir em....30 Minggu ya Bu? Memang terkadang ada yang seperti itu. Sebagian iya ada pula yang tidak. Apakah ibu merasa stres atau lelah mungkin?"tanya dokter lagi.
"Saya membatasi kegiatan yang terlalu banyak menyita tenaga sih dok. Pekerjaan rumah tangga biasa saja."
"Mungkin... pemicunya ...bisa dari beban pikiran atau emosi yang tidak stabil Bu?"
"Mungkin juga sih dok."
"Begini ya Bu pak.... kalau ibunya bahagia, Dede bayinya juga bahagia lho. Begitu pula sebaliknya. Kalo ibunya stres atau sedih atau apapun itu, si Dede bayi pun merasakannya."
Aku dan mas Aziz berpandangan dan mengangguk tanda mengerti.
Konsultasi dan cek kandungan rutin kali ini membuahkan hasil. Dede bayinya mau menunjukkan anunya.
"Beli burger king pesanan Imah mas."
"Iya."
Alhamdulillah, antrian tak terlalu panjang. jadi, kami tak perlu antri terlalu lama. Burger king ukuran jumbo khusus buat Imah. Semoga saja dia suka.
"Mas, kapan-kapan kios tutup ya. kasian Imah udah lebih dari 3 bulan kerja sama kita sama sekali ga pernah libur."
"Kan mas suka ngasih ijin dia buat off. dia nya yang ga mau kemana-mana. Ujung-ujungnya dia nongkrong di kios juga."
"Nah ,justru itu mas. Kalau kios buka terus , Imah mau libur pasti ada rasa nggak enak lah mas. Apalagi kamar Imah persis dibelakang kios. Kondisi kios rame, otomatis dia merasa terpanggil."
"Bener juga sih. Ya udah besok kita tutu deh. Tanya Imah, mau minta jalan-jalan kemana."
"Oke deh bos!" kataku.
Suasana kios nampak ramai. Sekali dua kali ada orang yang silih berganti membeli voucher. Ada pula yang duduk, sekedar tanya-tanya atau mungkin ingin membeli dagangan yang lain.
"Buruan masuk mas. Kasian Imah tuh keteteran."
"Iya."
Mobil kami pun masuk melewati gerbang yang tak terkunci. Mas Aziz pun mendahului ku menuju kios.
Ada beberapa pelanggan yang sudah menunggu di depan kios. Mereka mengantri untuk dilayani Imah. Akhirnya aku dan mas Aziz mengambil alih sebagian kerjaan Imah.
Akhirnya satu persatu pelanggan pun meninggalkan kios kami. Setelah kios sepi, barulah ku berikan pesanan Imah.
"Nih bos , burger king nya." kuserahkan burger berukuran besar.
"Masyaallah....mbak...guedi tenan Iki. Opo Yo aku bisa ngambisinnya toh?" pekik nya.
"Kudu habis mah. Awas kalo nggak!" kataku.
"Gayamu mah....segitu mana ngeganjel sih diperutmu? Ntar malem juga makan. Ku jamin. Nih, jewer kuping ku. Kamu, udah makan mie ayam 2 mangkok aja dibilang belom makan gara-gara belom makan nasi. Indonesia banget!", canda mas Aziz.
"Heran deh sama mas Aziz, kayanya kok sentimen bener Karo Imah. Jangan sebel-sebel, ntar anaknya mirik aku lho."
"Ih.... amit-amit jabang bayi. Okelah,tampang ga malu-maluin banget tapi ini nya....", dia mengetuk-ngetuk sendiri dahinya .
"Pinteran. Ga kaya kamu."
__ADS_1
"Mas Aziz mah....,tuh mba pak bos begitu."
Imah merajuk dengan dialeknya yang khas.
"Wis...wis...mangan ae burger nya. Ntar malem laper ya tinggal makan aja."
"Hooh ya mbak. Hidup makan!" katanya dengan mengangkat tangan seperti orang yang akan berjuang.
"Bismillahirrahmanirrahim Imah....", aku mengingat kan.
"Oh iya, bismillah."
Hap....gigitan pertama membuat wajahnya sedikit aneh. Untung saja mas Aziz sedang konsen di kasir. Coba kalo liat ekspresi Imah, dijamin bakal digarap habis nih Imah. Di ledek sampe puas.
"Enak mah?"tanyaku.
"Emm...bener deh mba.... beneran mas Aziz, rebusan telo lebih enak deh." katanya mengeluh.
"Kan biar kamu ga penasaran. Berati udah kapok gitu?". Dia mengangguk.
"Tapi doyan kan? Habiskan lho!"pintaku.
"Iya mbak...iya....", katanya sambil menggigit burger nya.
''Oh iya mah. Kamu kan belom pernah libur sama sekali sejak kerja disini. Ga pengen istirahat, libur atau pergi ke mana gitu?"
"Pergi kemana toh mbak. Pergi sama siapa , mau kemana."
"Kamu ga bosen , disini-sini tok?"
"Jujur sih, bosen mbak. Tapi nggak papa lah mbak."
"Kalo misalnya pengen libur, kamu pengen nya kemana?"
"Em...aku suka pantai sih mbak. Kali disini, pengen nya ke Dufan. Kayane seneng gitu mbak, mau nyobain wahana yang dijengkang-jengking perutnya itu lho mbak."
"Oke, besok kita kesana!"
"Tenane mbak?"
"Iya."
"Alhamdulillah. Berarti kios tutup dong mbak?"
"Iya....."
"Makasih ya mbak. Kalian memang orang baik. Imah bersyukur sekali, Alloh mempertemukan Imah dengan kalian."
"Iya. Sama-sama. Aku juga beruntung ketemu Imah yang cantik, yang setia dan selalu nurut sama kami".
Imah memelukku erat sekali. Kami sudah seperti saudara sekarang.
"Pak bos....besok kita ke Dufan ya!" teriak Imah.
"Heem....", hanya itu sahutan dari mas Aziz.
__ADS_1
Alhamdulillah, kami hanya belajar menjadi 'owner' yang berusaha memahami anak buahnya. Bagaimana pun , Imah sudah sangat membantu kemajuan usaha kami yang baru kami rintis. Semoga liburan besok akan menyenangkan.