
"Ini...nggak seperti yang kamu pikir dek!", mas Aziz pun berkata demikian.
"Emang aku mikir apaan?", tanyaku balik.
Aziz dan Fai saling diam.
"Kamu belum berangkat mas? Enak ya, mentang-mentang yang punya yayasan!", sarkas dikit ga papa lah.
"Ehem...ya...", Fai pun tak bisa menjawab.
"Apaan dek, barusan di pecat sama yang punya yayasan. Disuruh nggak usah ngajar lagi. Gegara ini nih, jam karet. Masa jam segini belum nyampe sekolah."
"Maksudnya ?", tanyaku.
"Mas Fai udah nggak boleh ngajar mbak, di pecat Karo Abah nya hahahaha!", ledek Imah.
"Diem Lo Jawir!", sahut Fai ketus .
"Yee...emang beneran kok jomblo akut!", sahut Imah nggak kalah julid.
"Satu lagi dek!", Aziz tak ingin kalah dari Imah.
"Apa?"
"Fai mau buru-buru di nikahin sama Mika, kata Abah biar nggak ngegrecokin kita mulu."
"Owh... Alhamdulillah, syukur atuh!"
"Ah...nggak seru kalian semua!", Fai melenggang lewat pintu belakang.
"Eh... kemana Lo?", Aziz narik tangan sahabat nya itu.
"Apa lagi sih? Gue mau ke rumah calon mertua gue! Gue mau ambil mobil!", Fai menghempaskan tangan Aziz.
Persis kaya adegan sinetron gitu deh....
"Ish...lebai amat sih kalian berdua!", kataku.
Lagi-lagi dua pria tampan berpandangan.
Fai pun meninggalkan kios dan menuju garasi. Eh, mobilnya di dekat pintu gerbang. Mobil kami yang masuk garasi.
"Bro, bukain pintu sekalian!", pinta Fai.
"Njir....Lo pikir gue satpam Lo!", meski bicara seperti itu, Aziz tetep aja bukain gerbang nya. Dasar! Mulut sama tangan gak sinkron.
"Makasih ya mang, udah bukain gerbang nya", ledek Fai kepada Aziz.
"Sialan Lo!", seru aziZ.
Aziz pun kembali ke dalam kios.
"Kerjaan rumah udah selesai dek? Istirahat aja kenapa?!", pinta Aziz.
"Iya, nanti juga istirahat kalau Diaz mau bobo."
"Masih jam delapan lewat, masa mau ikutan bobo sih. Mending di sini, banyak temen. Ya nggak Mah, Mbak Hayu?"
"Iya....!", sahut Hayu dan Imah kompak.
"Berasa di jajah gue!", kata Aziz.
Tiga perempuan cantik itu tertawa bersama.
"Ya udah deh, mas solat Dhuha dulu deh ya."
"Iya mas!"
Aziz pun menuju rumah induk. Oh iya, aku lupa ingin menutup tanda merah di leher Aziz.
__ADS_1
"Aku ke dalam bentar ya....!"
Aku menyusul mas Aziz.
"Mas....!", panggil ku. Mas Aziz yang baru mau masuk pintu dapur pun balik badan. Menunggu ku yang sedang berjalan ke arahnya.
"Kenapa dek?", tanyanya. Aku menarik badan nya agar lebih condong ke bawah.
"Sayang....mau ngapain?", tanya Aziz bingung.
"Itu...di leher mu mas. Coba liat?", tanyaku sambil menariknya. Setelah itu, Aziz malah menyunggingkan senyum nya.
"Iya dek, ulah kamu nih. Tapi mas mah ikhlas, bahkan mau lagi. Serius! Sumpah deh!", kata Aziz.
Plak!!!
Aku tabok perut buncitnya.
"Aw...sakit dek!", kata Aziz meringis.
"Lagian, mesum amat sih mas!"
"Tapi kan fakta nya ini perbuatan kamu!"
Sambil geregetan, aku menggandeng lengan mas Aziz.
"Kenapa sih sayang? Semalam sama tadi pagi masih kurang???", tanya Aziz .
Langsung ku pelototi tuh wajah tampannya.
"Duduk!", aku meminta aziz duduk di kursi dapur.
"Ngapain? Mau main di sini?", ledek Aziz lagi.
"Ya Allah mas... kenapa omes Mulu sih???", aku mencubit lengan nya lagi.
"Di makan!", bentakku. Aku pun membawa kotak p3K di atas kulkas. Mengambil plester untuk menutupi bekas tanda merah di leher suamiku. Beruntung nya aku, tertutup jilbab. Jika tidak, sudah di pastikan orang-orang akan menyindir ku habis-habisan.
Mas Aziz malah cengengesan saat aku menutup tanda merah di leher nya dengan plester. Baru selesai ku tutup, Mas meraih tanganku dan mendudukkan di pangkuannya.
"Mas....!", bentakku setelah dia berhasil mendudukan ku.
"Kenapa harus di tutup sih dek?Mas nggak malu kok!", dia menciumi pipiku.
"Kamu nggak malu, aku yang malu."
"Emang kenapa? Aku pria beristri!", kata Aziz.
"Iya...tapi aku nggak mau orang lain membayangkan ku yang bukan-bukan!", aku mencoba melepas tangannya yang melingkar di perutku.
"Itu mah ...otak mereka aja."
"Udah ah...awas, aku mau ke depan lagi."
"Ssssttt....tapi yang rasain li*r nya istriku kan cuma aku sayang....!", bisik mas Aziz bikin aku merinding.
"Awas ih....!", aku masih berusaha melepaskan tangannya.
"Kamu mau bicara dari hati ke hati sama mas kapan heum???", mas Aziz menyandarkan dagunya ke bahuku.
Iya, aku masih punya hutang penjelasan pada suamiku. Eh, bukan penjelasan melainkan 'cerita' lamaku.
"Iya...nanti aku juga bakal ceritain mas....", kataku pelan. Tiba-tiba saja mas Aziz meraih bibirku. Kegiatan ini terhenti saat tiba-tiba Hayu masuk ke dapur.
"Ah.....maaf!!!!", Hayu menutup wajahnya. Sontak aku dan mas Aziz berdiri. Malu luar biasa.
"Dek, mas ke kamar!", kata Aziz. Aku malah membeku ,kaget dengan kehadiran hayu yang tiba-tiba.
"Maaf mbak Di...tadi Imah minta tolong, suruh ambil gorengan di dapur." Hayu menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Oh, ambil aja mbak!" aku pun gugup karena kepergok sama Hayu.
Hayu pun mengambil gorengan yang ada di meja dapur.
"Udah mbak, permisi!", Hayu pun meninggalkan dapur. Aku merutuki kebodohan ku sendiri. Udah tahu dapur, malah buat adegan begituan. Untung Hayu, coba kalau Faiz apalagi Imah.
Hayu berjalan menuju kios. Dalam hatinya, ia semakin iri melihat kemesraan sepasang suami istri itu. Kemesraan mereka memang benar adanya bukan hanya di depan orang lain.
Perasaan apa ini? Kenapa hatiku begini melihat mas Aziz? Ya Allah....jangan biarkan ya Allah...jangan biarkan aku memelihara perasaan ini. Hayu berbicara sendiri dalam hati.
"Nih, gorengannya!", Hayu menyerah kan sepiring bakwan jagung kepada Imah dan Faiz. Sedangkan Diaz di pangkuan Imah.
********
Di sebuah apartemen mewah....
"Om, aku sudah memenuhi persyaratan om. Kapan kita menikah om???", tanya Lili kepada Stevan.
"Wawan sudah menyiapkan semuanya. Besok pagi , kita ke gereja Xxx. Bersiap lah!", jawab Stevan pelan.
Sebenarnya, Stevan tak benar-benar ingin memperistri Lili. Dia hanya berusaha menyelamatkan masa depan bayi yang ada di dalam rahim Lili. Lili hanya pelampiasan nafsu nya semata. Tidak ada cinta sedikit pun pada perempuan yang sudah menjelajahi beberapa pria. Tapi, setelah mereka intens berhubungan, Stevan tahu....jika anak itu adalah benihnya. Lili sudah tidak pernah coba-coba lagi diluaran sana. Tapi, tidak bagi seorang Stevan. Mungkin... setelah menikah, dia akan bisa berubah. Seperti putri nya, Stevi sudah berubah luar biasa.
"Besok pagi om? Ah...senangnya....!", lili bergelayut manja pada Stevan.
"Om....!", rengek Lili.
"Heum...!", sahut Stevan sambil merokok.
"Sudah berapa hari om tidak menyentuhku, aku kangen om....!", rengek Lili lagi.
"Ya udah, tunggu saja di kamar. Sebentar lagi aku nyusul!"
"Jangan lama-lama ya Om!", lili pun meninggalkan Stevan.
Tak lama setelah menghabiskan rokoknya, Stevan pun menyusul lili ke kamar mereka.
*******
Di perjalanan menuju rumah calon mertua....
Ah...dasar Aziz! Lo sahabat apaan sih! Masa gue harus buru-buru nikah sama Mika sih. Okelah....Mika cantik, dokter pula. Tapi kan...gue pengen ada sedikit...aja rasa cinta ke Mika. Abah nggak bisa apa ya ngasih waktu buat gue Deket dulu gitu sama Mika???
Terus itu...si Dian. Bisa-bisanya sih dia ngasih kissmark ke Aziz. Niat banget manas-manasin gue? Ah...Dian....Lo bikin otak gue makin ngeres tahu!
Setelah kesal dengan hal yang sebenarnya tidak penting, Fai tersenyum kecil. Tangannya masih fokus di atas kemudi. Tapi pikirannya melayang pada kenangan di saat ia dan Dian pertama kali berc*Uman.
Bukan berc*Uman, tapi mencuri kesempatan pada Dian yang sedang lengah. Tapi...justru setelah itu berlanjut jadi ciu*an lebih panas. Dan sayang nya cukup hanya sebatas itu, tidak lebih. Malah....Aziz yang mendapat kan semuanya.
Dian....Dian... seharusnya Lo sama gue!
Fai mulai stresssss!!!!
Ddddrrttttt....
Fai meraih ponselnya yang sengaja tidak memakai nada dering.
[Assalamualaikum Bah! ini Fai udah otw ke rumah papa. Nggak usah nyariin!]
[Walaikumsalam. Oh, bagus lah. Mika juga lagi off. Cepetan ya!]
[Iya bah....iya....]
Ah....kenapa sih....kenapa sih....
Fai menjambak rambut nya sendiri.
****
Satu-satunya cara biar otak nya Fai yang hobi traveling itu jinak ya...itu....cuma di nikahin secepatnya. Biar bisa langsung praktek , gak mikir doang. Ye kan????
__ADS_1