
"Makasih ya A, udah anterin Imah."
"Ya sama-sama atuh, kan sama calon istri sendiri."
"AA mah...bikin Imah malu aja deh!"
"Kenapa atuh kudu malu? Wajar kalau Aa yang nganterin, kalau si Fai yang anterin di jamin mas mu bakal uring-uringan terus heheheh."
"Iya ya A. Ya udah atuh, mau mampir dulu?"
"Nggak usah Mah, lain kali aja kalau suasananya lagi kondusif. Sekarang masih rada panas. Takut kena hawa panas nya."
"Kan lagi nggak ada yang masak air panas AA....?!"
Dadan tersenyum cengok.
"Ya udah ah, AA pulang dulu. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam."
Imah pun masuk ke rumah lewat dapur seperti biasanya. Sepertinya pintu ruang tamu sudah jarang di jamah tangan penghuni rumah ini.
"Mbak Di...ini pesanan soto mie nya ...", teriak Imah.
Aku pun keluar menggendong Diaz. Mas Aziz masih berada di dalam kamar mandi.
"Ya udah kamu makan lah!"
"Kan yang pengen mbak Di..."
"Kamu makan aja duluan, aku nungguin mas Aziz. Nanti tolong gantiin jaga Diaz sebentar selama kami makan Mah!"
"Oh...gitu. Okelah!"
Imah pun segera menuang soto mie nya. Dia duduk di meja dapur sambil menyalakan kipas kecil yang sengaja di pakai untuk mendinginkan makanan. Mungkin baginya, biar cepat kelar makannya.
Di waktu yang bersamaan, Mas Aziz keluar dari kamar dan Imah pun selesai makan.
"Sini mbak, Diaz sama Imah. Kalian makan gih!"
Aku pun menyerahkan Diaz pada Imah. Lalu Imah membawa Diaz ke terasa samping dapur.
Ku siapkan makanan mas Aziz di meja makan. Beruntung nya tadi, aku selesai mandi wajib Diaz baru bangun.
"Ini mas!", ku serahkan semangkok soto mie buat mas Aziz.
"Makasih Dek!"
Kami menikmati makan siang kami berdua di meja makan. Berbeda dengan Imah, kami membiarkan makanan kami dingin dengan sendirinya.
"Alhamdulillah."
Mas Aziz selesai makan terlebih dulu. Sedangkan aku masih harus menyesap kuah pedas nya.
"Dek...!"
__ADS_1
''Hem?"
"Apa Fai tahu tentang masalah rumah tangga kita? Dia mendengar omongan Lili?"
Aku menatap Suamiku sekilas, lalu kuraih gelas berisi air putih di sebelah ku. Dan meminum isinya hingga tandas. Kuletakkan kembali gelas yang sudah kosong itu.
"Iya, dia mendengar apa yang Lili katakan!"
"Lalu, bagaimana ekspresi nya? Komentar nya?"
"Emang penting mas?"
"Mas mau tahu dek!"
Aku membuang nafas kasar. Menatap wajah tampan suami ku.
"Reaksinya? Dia marah padamu. Dia tidak rela kamu selingkuh dari aku."
"Lalu?"
"Lalu apa mas? Nggak panas telingamu mas dengar kalimat seperti tadi?"
"Lalu ,dia ngomong apa lagi dek?"
Sekarang aku menyatukan kedua tanganku di atas meja.
"Jika sampai dia tahu kamu melakukan hal lebih dari sekedar ciuman seperti pengakuan Lili tadi, dia tidak segan-segan membawaku dari kehidupan mas. Puas?"
Aku lemparkan serbet tangan ke sembarang arah di atas meja.
Aku beranjak menuju teras samping untuk mengambil Diaz, tapi sepertinya Imah membawa Diaz ke kamar nya. Niat mengambil Diaz pun kuurungkan. Mungkin Imah ingin memberikan ruang untuk ku dan mas Aziz.
"Dek!"
Mas Aziz memelukku dari belakang. Menjatuhkan dagunya di bahuku yang sedang tak berhijab karena selesai keramas tadi.
"Jangan pernah tinggalkan Mas ya Dek! Kamu sama Diaz adalah harta paling berharga yang mas miliki."
Aku membiarkan tubuh kekar suamiku memelukku. Ada ketulusan dari sentuhan yang ia berikan saat ini. Sesekali ia mengecup rambutku.
"Dek! Mas tahu, mas sudah membuat kesalahan terbesar dalam hidup mas. Tapi mas mohon, tetaplah percaya sama mas. Seumur hidup mas, mas akan selalu mencintaimu Diandra Saputri. Cuma kamu!"
"Jangan suka berjanji di saat senggang begini, takut nya kamu nggak bisa menepati janji yang kamu buat sendiri!"
"Insyaallah Dek, mas akan terus berusaha menepati janji mas untuk selalu setia sama kamu."
Mas Aziz masih terus menciumi rambut ku yang setengah basah.
"Aku mau ambil jilbab mas!", aku melepaskan pelukannya.
Kirain udah dapet jatah, urusan udah kelar. Ternyata masih panjang urusannya. Batin Aziz.
Di kamar Imah...
"Diaz...kamu harus jadi penghibur bundamu ya kalau bunda lagi sedih. Ayah kamu juga. Buat mereka selalu bersama tiap mereka melihat mu. Jangan pernah biarkan mereka saling menjauh ya Diaz, Tante mohon ya..."
__ADS_1
Imah bicara pada bayik kecil seperti bicara dengan orang dewasa.
Tanpa di sadari, di balik dinding kamar Imah seorang Aziz mendengar obrolan Imah dengan Diaz.
Imah pun sangat menyayangi mu Di, apa lagi aku? Aziz menutup matanya, sambil bersandar ke dinding.
"Lho, mas peyan di sini?"
Imah keluar kamar menggendong Diaz. Tanpa menjawab, Aziz meraih Diaz dari gendongan Imah.
"Ya udah, Imah buka kios lagi aja ya?"
"Nggak usah mah. Kamu istirahat saja, atau..mungkin kamu mau pergi sama Dadan ke mana gitu?"
"Pergi ke mana?",tanya Aziz.
Aziz mengangkat kedua bahunya sambil membawa Diaz kembali masuk ke dalam rumah.
Akhirnya Imah pun menghubungi Dadan.
[ Halo A?]
[Iya mah,kunaon?]
[Imah pengen keluar, kemana gitu ya?]
[Ke sini aja atuh. Nanti kita belanja bareng sama Farhan]
[ Belanja ke mana?]
[Mall. Farhan lagi pengen ke mall. Kebetulan Imah libur kan?]
[Oke deh A. Imah bilang mas Aziz dulu ya]
[Iya]
Imah berlari kecil menuju rumah.
"Mas, Imah mau ke mall ya...?"
"Sama Dadan?"
"Iya."
Mas Aziz merogoh kantong celananya lalu mengambil dompetnya. Memberikan sepuluh lembar uang berwarna merah untuk Imah.
"Mas, Imah cuma mau ijin kok, bukan minta uang." Imah bingung tiba-tiba di sodori segepok uang.
"Ambillah, Dadan memang calon suami mu. Tapi ,kamu jangan jatuhkan harga dirimu begitu saja hanya karena ia berniat menggratiskan belanjaanmu."
"Iya mas!"
Imah pun keluar dengan perasaan penuh bahagia.
Di balik pintu dapur, Dian menyunggingkan senyuman.
__ADS_1
Dia teringat dengan ucapan Aziz barusan. Teringat saat Aziz ingin membelanjakan untuk nya meski statusnya kala itu sudah calon suami seperti posisi Imah saat ini. Tapi Dian menolaknya, karena dia masih merasa mampu. Tidak ingin membebani laki-laki yang belum sah bertanggung jawab atas hidup nya.