
[Mas Ju, boleh mnt tlng LG?]
Aku mengirim chat lewat aplikasi hijau. Tak berapa lama, pesan itu langsung di balas.
[Siap Bu Dian, apa yg bs sy bantu]
[kamu tahu tempat yang paling kamu rekomendasikan untuk bulan madu di daerah Bali?]
Bulan madu? Bu bos mau bulan madu? Wow...batin Julian.
[Siap Bu Dian,saya tahu]
[Kalau sudah, reservasi hotel dan segala sesuatu nya untuk empat orang y. Siapkan untuk satu Minggu]
[Apa perlu saya kirimkan dulu beberapa pilihan nya Bu?]
[tdk. saya percaya sama kamu. Kalo sudah, berikan tiketnya secepatnya. Sya d rmh om Umar Abdullah. Kamu kenal?]
Umar Abdullah yang sering bersama pak Stevan?
[Umar Abdullah yang di jln kenanga?]
[Iya mas Jul]
[Baik. akan segera saya Kirimkan!]
[Terima kasih sebelumnya ya mas Jul. belum apa2 kamu sudah di repotkan sama saya]
[Sdh tugas saya Bu, membantu Bu Dian. Saya kirimkan segera ke rumah pak Umar Bu]
[👍👍👍👍👍👍]
[Oh iya mas Jul. berikan tagihannya ke saya saja. jangan melibatkan pengeluaran perusahaan]
[Tapi pakai pengeluaran perusahaan pun tidak apa-apa Bu, biasanya seperti itu]
[Jangan Mas Jul, itu pengeluaran pribadi saya. Kapan2 kalo saya memang sudah aktif bekerja, barulah saya mengambil gaji saya 😝]
Bos muda ini emang beda! Batin Julian.
[Siap Bu]
Chat kami pun selesai.
"Dek, kita ke Mika sama Fai yuk!", aja mas Aziz menggandeng tanganku. Aku harus bersikap biasa saja. Jangan menunjukkan kekecewaan apa pun . Aku harus ikut bahagia diatas kebahagiaan mereka.
__ADS_1
"Ayok!", kataku semangat.
Hayu memperhatikan sahabat nya itu. Hayu paham, apa yang Diandra rasakan. Kenangan tetaplah kenangan, masa lalu tetap masa lalu. Tapi sekelam dan seindah apa pun masa lalu, selama kita masih hidup hal itu tidak akan pernah kita lupakan.
"Mika.... selamat menempuh hidup baru sayang!", aku memeluk dan cipika cipiki dengan Mika.
"Makasih Diandra!!", mika pun membalas pelukan ku.
"Makasih ya Dian, kamu juga berkontribusi menyatukan kami lho!", kata Mika sambil melirik mas Fai, suaminya.
"Heum! Nanti tagihannya aku kirim ke kamu ya Mik?!", candaku.
Kami berdua pun tertawa. Sedangkan di belakang ku, Hayu sudah bersiap mengantri.
"Selamat ya Mika. Semoga sakinah mawadah warahmah!",kata Hayu.
"Makasih mbak hayu! Besok giliran mbak hayu sama kak damar ya?", ledek Mika. Wajah Hayu hanya menunjukkan senyum manisnya.
Kini beralih padaku lagi.
"Selamat ya mas Fai. Gelar jomblo akut sekarang beralih ke Mas Damar!", kataku sambil melirik ke mas damar yang berdiri tak jauh dari Fai. Sedangkan suamiku sudah terlebih dulu mengambil Diaz dari Dadan.
Mas Fai hanya memandang ku dengan tatapan entah apa itu. Dia tak juga melepaskan jabatan tangan nya dariku.
"Makasih Di. Maafin aku, nggak bisa penuhin janji ke kamu!", kata Fai lirih. Mika yang berada di samping sang suami , mengusap bahunya. Aneh?!! Bukannya suaminya tuh diperingatin biar lepasin tanganku gitu. Mika nggak cemburu? Atau...karena dia belum memiliki perasaan cemburu?
"Iya. Aku maafin. Udah ah!", aku hentakkan tangannya. Aku bisa berbohong atau bersandiwara di hadapan nya. Tapi, rasa nyeri di dadaku tak bisa ku tahan.
Haahtcciiih....aku kembali bersin-bersin. Mas Aziz mendekati ku lagi.
"Dek, kayanya kamu beneran flu deh!", kata Aziz sambil mengusap pinggangku. Yang flu hidungnya, yang di usap pinggang nya. Dasar Aziz!
"Yang sering bikin aku mandi tengah malem siapa coba mas?", celetukku.
Aku tak tahu kenapa kalimat itu muncul begitu saja. Memang, semalam aku mandi tengah malam gara-gara ulah pakSu!
Mas Aziz menowel pipiku.
"Nggak usah di bilangin juga dek. Malu sama pengantin baru!", kata Aziz.
"Hah? Oh...iya. Maap!", aku menutup mulutku sendiri. Orang-orang yang berada di sekitar kami pun tertawa. Tapi tidak dengan Fai. Entah apa yang ada di dalam pikiran lelaki itu.
"Mas, aku ijin ke toilet dulu. mau buang ingus!", ijinku pada mas Aziz.
"Mau mas temenin?"
__ADS_1
"Nggak usah lah!", aku pun berlalu.
Di sudut lain.
"Abang lihat, seperti apa Rifai memandangi putri Dirham? Sorot matanya mengatakan, menantu ku masih menyimpan rasa pada putri Dirham", ucap Umar kepada Stevan.
"Menantumu bukan aku, dan Diandra bukanlah Mutiara!", sahut Stevan. Umar menatap sahabatnya itu.
"Iya. Semoga putriku bahagia hidup bersama dengan Rifai!", kata Umar.
Aku mencari keberadaan toilet. Setelah menemukan nya, aku hanya bercermin di depan wastafel. Aku menatap bayangan ku sendiri di sana.
Entah kenapa tiba-tiba saja air mataku menetes. Sekuat apa pun aku berpura-pura, kenyataan nya perasaan itu masih ada.
Aku pun mencuci wajahku. Menghapus jejak air mataku. Saat aku terpejam, tiba-tiba rengkuhan hangat merayap di bahuku.
Aku mendongak ke arah siapa yang berani mendekapku.
"Tante Selly?", tanyaku.
Tante selly menghapus air mataku yang masih tersisa.
"Tante tau apa yang kamu rasakan Ra!", Tante Selly mengusap bahuku.
"Aku baik-baik saja Tante!"
"Mulut mu bisa bicara seperti itu, tapi tidak dengan hatimu."
Aku terdiam. Bagaimanapun ucapan Tante Selly benar.
"Rifai tetap jadi menantu Tante, meskipun dia tidak menjadi suami dari putri Tante yang satu ini!", Tante selly mengusap kepalaku.
Iya, Tante selly pernah berharap aku dan mas Fai berada di posisi ini. Tapi ... takdir memang tak berpihak.
"Tante...!", aku memeluk wanita itu.
"Kita kembali ke depan, tapi sebelumnya kita perbaiki make up mu ya."
Aku pun mengangguk. Tante Selly me-make over agar bekas tangisan ku hilang. Setelah itu, kami kembali menuju tempat kedua mempelai.
Mas Aziz dan yang lain sudah bersiap berpose dengan kedua pengantin. Mas Aziz menarikku, untuk berdiri diantar dia dan Fai. Maksud mas Aziz tuh apa sih?
Dengan senyum yang sedikit kupaksakan, aku berpose sebaik mungkin.
Ah....kenapa harus seperti ini!
__ADS_1