Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 149


__ADS_3

"Selamat siang pak Eko!", sapa ku pada sekuriti yang ada di loby.


"Selamat siang Bu! Eh, mbak Dian ya?", sapa sekuriti tersebut.


"Pak Eko masih inget aja."


"Iya lah mbak."


"Ya udah, saya mau ke resepsionis ya pak."


"Silahkan mbak!", kata pak Eko.


Aziz heran, kenapa masih pada mengenal istrinya. Padahal, Diandra udah resign enam tahun yang lalu. Berati, mereka orang-orang yang loyal di perusahaan ini.


"Selamat siang mbak!", sapa Dian kepada resepsionis. Seperti nya resepsionis itu baru, makanya Dian dan dia sama sekali tidak mengenal.


"Selamat siang ibu. Ada yang bisa saya bantu?", tanya resepsionis itu ramah.


Tapi sebelumnya, mas Aziz mencolek tanganku. Minta izin mengangkat telpon dari mama.


"Saya mau bertemu dengan mas Jul. Eh, maksud saya... mister Julian."


"Sudah ada janji Bu?"


"Sudah. Tapi sepertinya sejak tadi, saya hubungi tidak di angkat mbak!"


"Oh, mister Julian sedang ada meeting mungkin Bu. Saya hubungi sekretaris nya dulu ya Bu!", kata resepsionis.


Belum sempat si resepsionis menekan tombol di pesawat telepon, seorang perempuan berpakaiannya seksi menghampirinya.


"Mita, nanti siang kalau ada orang perwakilan dari Nayaka group tolong informasikan ke saya ya!"


"Baik Miss Sharen!", jawab Mita.


"Oh iya Bu, ini ada tamu ingin bertemu dengan mister Julian."


Miss Sharen menatap ku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Dia menunjukkan senyum sinisnya.


"Anda siapa ya? Ada kepentingan apa dengan mister Julian?", tanya Sharen melipat tangan di dadanya.


Wah, nih orang kayanya kudu di basmi nih. Judes amat! Batin ku.


"Sudah sayang?", tanya mas Aziz yang tiba-tiba meraih pinggang ku.


"Belum mas, kayanya mas Jul masih meeting."


"Hahaha siapa? Mas Jul?", tanya Sharen sambil menahan tawanya.


Lagaknya 'pera' banget nih cewek! Batin Aziz. Nggak tahu dia berhadapan sama siapa.


"Eh, iya. maaf, maksudnya mister Julian Miss Sharen."


"Mister Julian masih meeting, kalau ada pesan bisa disampaikan lewat saya."


Dengan angkuhnya Sharen mengangkat dagunya.


Halah buseeet??? Segitunya amat sih Miss Sharen. Seperti nya, aku memang belum pernah melihat nya sebelumnya sama seperti Julian.


Tiba-tiba ada seseorang menghampiri kami.


"Rara?", tanya seorang pria.


"Niko?", tanyaku.


"Apa kabar Lo?", tanya niko.


"Alhamdulillah baik."

__ADS_1


"Lama banget nggak ketemu. Itu siapa? Suami Lo?", tanya niko heran.


Jangan bilang, dia juga tau kisah cinta nya Dian dan Fai. Batin Aziz.


"Iya, ini suami gue. Mas Aziz!", kataku. Mas Aziz pun menyalami Niko.


"Owh...kirain Lo merit sama Fai. Tapi, mirip dikit sih. Selera Lo emang tinggi Ra!", kata Niko.


Indomi selera ku! Batin Aziz lagi.


"Iya, mereka juga temenan kok!", sahutku.


"Pak Niko, ini belum jam istirahat ya. Kenapa malah berkeliaran di loby?",tanya Sharen.


"Saya dari ruangan Pak Samsul Miss !", jawab Niko. Pak Samsul adalah manajer keuangan perusahaan ini.


"Oke. Kembali ke ruangan anda. Ini bukan tempat nya untuk bernostalgia."Sharen berkata ketus terhadap Niko.


"Baik Miss. Oke Ra, gue balik ya ke ruangan gue. Ruangan gue masih sama kok! Mari mas Aziz!", pamit Niko.


"Oke Niko!", aku mengacungkan jempol ku. Sedangkan mas Aziz hanya mengangguk.


"Oh iya Miss, meeting nya Mister Julian masih lama ya?",tanyaku.


"Sekitar setengah jam lagi. Sudah saya sampaikan tadi kan Bu...Rara! Katakan saja lewat saya, nanti saya sampaikan ke beliau!", sahut Sharen ketus.


Aziz menggelengkan kepalanya.


"Ya sudah, kami tunggu di sana boleh?", tanyaku sambil menunjuk sofa di samping loby agak ke dalam.


Sharen tersenyum mengejek.


"Silahkan Bu Rara! Saya cuma mau bilang bu, di sini... tempat nya orang bekerja. Bukan pengajian ya ....!", bisik Sharen pelan. Aku tak mau ambil pusing ejekannya. Mentang-mentang aku pakai gamis gitu? Belum tahu dia fashion kekinian. Aku sudah nggak minat sama blazer dan kawan-kawannya.


"Ah, iya Miss Sharen. Saya salah kostum dong?", aku terkekeh. Seolah-olah menertawakan diriku sendiri.


"Dan di sini juga bukan tempat jualan paha sama s*s* kan mbak?", sindirku. Mata Sharen langsung melotot. Sedang mas Aziz menahan tawa karena sindiran ku.


" Maaf, kalau saya kampungan Miss!", kataku menunduk. Lagi-lagi mas Aziz menahan tawanya.


"Mister Julian pasti tidak ingin bertemu dengan orang kampungan seperti anda!", Sharen menunjukkan jarinya di depan ku.


Tapi, jari itu di raih oleh Julian.


"Jaga sikap mu Sharen!", bentak Julian.


Sharen memanyunkan bibirnya mendapat bentakan dari Julian.


"Mas Bu Dian, pak Aziz atas ketidaknyamanan nya!", Julian sedikit menundukkan badannya dan menakupkan kedua tangannya.


Sontak, kami jadi pusat perhatian oleh orang-orang yang sedang beraktivitas di dalam sana.


"Julian!",bentak Sharen.


Owh... sepertinya mereka memilih hubungan khusus. Batinku.


"Sharen! Dan semua yang ada di sini. Secara non formal, saya memperkenalkan CEO dari DWP Group , Nyonya Diandra Saputri. Selaku pemilik dan pewaris tunggal dari DWP group."


Sharen terlihat begitu syok. Apa yang ada dalam pikirannya pemirsah????


"Sekali lagi, saya minta maaf atas kelakuan sekretaris saya Bu Dian, pak Aziz."


"Nggak apa-apa mas Julian!", aku dan mas Aziz tertawa.


"Maaf mas Jul. Kami ngga tahu kalau anda di panggil Mister Julian. Kami malah memanggil mu Mas. Heheheh maaf ya....!", kataku.


"Bu Dian bisa saja! Kalau begitu, mari Bu saya antar ke ruangan anda. Setelah anda mempelajari nya, anda siap untuk pertemuan dengan dewan direksi!", kata Julian mempersilahkan.

__ADS_1


"Oh iya mas Jul. Nggak apa-apa ya saya panggil mas Jul. Biar akrab gitu mas."


"Silahkan Bu!", terserah bos aja dah. Julian hanya mampu berbicara dalam hati.


"Boleh kah saya mengusulkan sesuatu?", tanyaku.


"Silahkan Bu. Otoritas ada di tangan ibu."


"Hahaha ya nggak lah mas Jul."


Lagi-lagi panggilan 'Mas Jul' terdengar menggelikan bagi Julian.


"Kalau boleh, saya bilang ya. Tolong, beritahu staf dan karyawan lainnya. Tolong berpakaian lah yah sopan. Terlepas dari apa pun kepercayaan kita. Karena, bisa saja kan seseorang merasa tidak nyaman dengan 'pemandangan' yang seharusnya tidak perlu kita lihat", kataku sambil melirik Sharen yang masih salah tingkah.


"Maaf, bukan maksud saya menggurui lho ya....!"


"Baik Bu, nanti saya akan umumkan", sahut Julian.


"Kalau ada kebijakan yang sudah baik, silahkan di pertahankan. Tapi maaf, jika ada kebijakan yang saya anggap kurang....boleh kah saya menambahi atau mengubahnya kan?", tanya ku pada Julian.


"Silahkan Bu Dian!"


"Ya sudah! Ayok Mas!", aku menggandeng lengan suamiku. Meskipun aku ngoceh dari tadi, sepertinya kaum hawa memperhatikan suamiku berlebihan. Biarin aja di bilang lebay, kalau bukan kita yang jaga suami kita, siapa lagi coba? Lagian sih, suamiku kelewat ganteng.


"Silahkan Bu Dian, pak Aziz. Kita pakai lift khusus!", kata Julian.


Mas Aziz berjalan mendahului ku, karena aku sempat berjongkok melonggarkan kaitan wedges ku.


"Mas Aziz mas...!"


Aziz pun menengok. Hendak berbalik badan.


"Stop mas...!", kataku. Julian dan beberapa orang pun turut menengok dan berhenti. Termasuk orang yang ada di belakangku.


"Mundur mas!"


"Kenapa?", tanya Mas Aziz heran.


"Mundur aja tiga langkah?!"


Aziz pun nurut perkataan ku.


"Gantengnya kelewatan mas....!", kataku sambil meminta mas Aziz meraih tanganku yang sedang berjongkok.


Mas Aziz tersenyum menanggapi ku. Meskipun tangannya tetap meraih ku.


Suara cekikikan di belakang ku terdengar begitu jelas. Tak mau kalah juga dengan Mas Julian.


Mas Aziz meraih pinggang ku sambil berbisik.


"Mau ngegombal ntar aja di rumah dek!", kata mas Aziz.


"Di rumah nggak ada yang liat mas. Di sini bahaya!", kataku. Mas Aziz memicingkan matanya. Bahaya? Batin Aziz.


"Maksudnya?"


"Lihatlah kaum hawa yang dari tadi melihatmu!", bisikku lagi.


Mas Aziz menggeleng kan kepalanya.


"Mas nggak peduli, meskipun ada Natasha Wilona di depan mas. Mas nggak peduli. Mas cuma peduli sama kamu dek!", bisik mas Aziz lagi.


"Gombal!", aku pun mencubit perut mas Aziz.


*******


Alay???? Biarin. Nggak salah dong gombal-gombalan sama pasangan?

__ADS_1


Diaz nya mana? Daru tadi nggak d bahas? Diaz nyaman di gendongan ayahnya kok.


✌️✌️✌️✌️✌️✌️😆😆😆😆🥰🥰


__ADS_2