Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 194


__ADS_3

Azan subuh sudah berkumandang sejak setengah jam yang lalu. Aku sudah menyiapkan makanan untuk kami sarapan. Tak lupa menu MPASI buat Diaz pun sudah tertata rapi di box nasinya. Aku hanya ingin mempermudah teh Neng untuk menyiapkan makanan untuk Diaz. Bagaimana pun, aku harus memantau apa saja yang Diaz makan.


Diaz masih berguling-guling di kasur lantai ditemani mas Aziz. Sesekali mas Aziz mengajak Diaz bercanda, sedang tangannya sibuk memindahkan data-data penting dari ponsel lamaku dengan ponsel yang mas Aziz belikan kemarin.


Bel di gerbang baru saja berbunyi. Aku yakin Ir Teh Neng. Karena aku meminta nya datang jam enam pagi.


"Biar mas sama Diaz yang buka dek. Pasti itu teh Neng!"


"Iya mas!"


Aku pun melanjutkan menyiapkan sarapan di meja makan.


Aziz berjalan ke arah halaman. Benar saja, teh neng yang di antar kang Ujang sudah ada di depan pintu gerbang.


"Assalamualaikum mas....!", sapa teh Neng.


"Walaikumsalam."


Aziz membuka pintu gerbangnya untuk neng dan Ujang.


"Masuk teh, kang!", Aziz mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke dalam rumah.


Diaz bergerak-gerak lincah melihat neng di depannya. Apa dia tahu kalau perempuan ini yang akan mengasuhnya???


"Ah...den Diaz....gemes banget sih....!", neng mencubit pipi diaz.


"Silahkan duduk teh, kang!"


"Makasih mas....!"


Mas Aziz pun menghampiri ku.


"Ada teh Neneng dan kang Ujang dek!"


"Iya mas. Aku ke situ."


Aku pun meninggalkan meja makan.


"Teh neng...kang Ujang....!", sapa ku.


Kedua orang itu pun mengangguk.


"Kang Ujang udah ngopi?", tanyaku.


"Udah mbak tadi habis subuh!"


"Owh...ya udah atuh. Gini teh, saya udah tulis apa-apa saja yang harus teh neng lakukan buat mengurus Diaz. Dari makanan, pakaian sama cemilan nya juga. Ada jadwal Diaz ngemil, nyusu dan bobo juga teh. Tapi...saya juga harus bilang ke teh neng ya. Tolong,jangan kasih Diaz makanan sembarangan. Lambung nya masih rawan. Jadi, sementara Diaz makan makanan yang saya siapkan saja. Ngga apa-apa kan teh?"


"Iya mbak. Saya mengerti. Justru saya berterimakasih mbak Dian udah nyiapin semuanya. Insyaallah, mempermudah saya jagain Diaz mbak."


Aku bersyukur, teh neng menanggapinya dengan senang hati. Aku hanya takut jika yeh neng salah menerima.


Aku pun akan tetap meminta Imah mendampingi teh neng menjaga Diaz. Bagaimana pun, teh neng orang asing kan?

__ADS_1


Tapi, aku juga tidak harus selalu merepotkan Imah. Dia pun punya kepentingan sendiri.


"Ada ngga yang mau teh Neng tanyakan?"


"Mbak...kalau di ijinkan, misalkan den Diaz bobo...teteh boleh nggak masak atau nyuci atau mengerjakan pekerjaan lain? Boleh ya mbak?"


"Bukan nggak boleh teh. Tapi kalau Diaz bobo, teh neng kan bisa istirahat. Masa harus kerja lagi?"


"Atuh bosen mbak kalo nungguin den Diaz bobo?!"


Aku menghela nafas. Aku tahu, teh neng kan biasa masak. Jadi... tiada haru tanpa masak tentunya.


"Yang lain nggak usah. Kalau masak boleh deh, tapi tetep ya. Kalau Diaz bobok! Semua bahan ada di kulkas. Terserah teh neng masak apa. Karena saya tahu, masakan teh neng itu enak."


"Alhamdulillah....makasih mbak."


"Oh iya, kalau bisa mah kang Dadan juga ambil makan dari sini juga. Kaya mbak Hayu. Jadi, teh neng nggak repot masak dua kali. Saya dan mas Aziz mungkin semakin sibuk di kantor. Jadi, kami nggak tahu jam kerja kami sampai jam berapa. Tapi, saya sudah siapkan asi di freezer. Nanti Imah bantuin teh neng. Tanya saja ke Imah ya teh."


"Iya mbak. Teteh paham."


Mas Aziz sudah rapi dengan setelan kemeja nya.


"Dek. Siap-siap gih. Kan Diaz udah sama teh neng."


"Iya mas."


"Kang Ujang, kang Ujang udah siapin CV nya?"


"Ya udah , ntar kami jalan kang Ujang langsung berangkat. Kalau sudah sampai sana, langsung berikan CV ke HRD. Hari ini bisa langsung kerja. Saya permisi siap-siap dulu ya."


"Silahkan mbak."


Aku pun kembali ke kamarku. Di depan ruang televisi, aku menyiapkan pakaian Diaz dan semua kebutuhan Diaz. Bukan maksud su'udzon. Tapi bagiku kamar ku adalah privasi kami. Jadi, aku tak mengijinkan orang lain masuk ke kamar kami.


"Neng, mas Aziz dan Mbak Di baik banget ya. Akang teh malu, udah bikin salah ke mereka."


"Iya kang. Makanya, setelah ini jangan bikin mereka kecewa ya kang. Kita harus setia sama mereka."


"Iya neng."


Dan percakapan sepasang suami istri itu didengar oleh Aziz. Aziz pun mengulas senyum di wajahnya.


Aku sudah selesai berpakaian. Kali ini, aku memakai setelan tunik berwarna pastel. Senada dengan kemeja yang mas Aziz kenakan saat ini.


"Sayang...kamu cantik banget hari ini?", puji Aziz.


"biasanya nggak cantik dong?", godaku.


Aku pun duduk di sebelahnya yang sudah siap menuangkan nasi di piring ku.


"Makasih masku.....!", candaku.


"Makasih juga cinta ku....!", mas Aziz tak kalah menggemaskan.

__ADS_1


"Teh, kang.... sarapan."


"Iya mas, mbak. Makasih. Kami sudah sarapan."


Aku dan mas Aziz pun melanjutkan sarapan kami.


"Dek, tadi ada email dari Julian. Ada pertemuan di PT Xx jam sepuluh."


"Oke. siap bos!"


"Yang bos kan kamu dek!"


"Tapi kamu bos sebenarnya mas. Bos di hatiku dan di hidupku", godaku sambil mengedipkan sebelah mataku.


"Ah...udah deh, ke kamar aja yuk. Nggak usah ke kantor!", kata Aziz mendengus kesal. Aku hanya terkekeh mendengar kekesalan mas Aziz. Baru di gituin aja ngajak ngamar.


Aku mencuci bekas sarapan ku dan mas Aziz.


Sedangkan mas Aziz sudah bersiap memanas kan mesin mobil. Teh neng dan kang Ujang juga berada di teras.


''Teh...lupa belom bilang."


"ya mbak?"


"em...teh neng mau ambil gaji bulanan apa mingguan atau harian?"


Neneng memandang suaminya.


"Nggak apa-apa teh. Saya mah ngikut aja. Teteh mau nya gimana?!"


Setelah berpikir beberapa saat, teh neng pun menjawab.


"Mingguan aja deh mbak. Biar tiap Minggu saya bisa transfer ke kampung."


"Oh...gitu. Baiklah...mau cash apa transfer? Kalau transfer, nanti kirim ke wa saya aja nomer rekening nya."


"Kalo boleh cash aja deh mbak!", teh neng nyengir.


"Owh...oke....jadi, sehari saya ngasih ke teh neng seratus lima puluh dulu, nggak apa-apa ya? Karena saya kan berangkat pagi pulang sore."


"Masyaallah.... segitu teh meuni loba mbak....!"


Terus terang aku nggak tahu, apa pantas aku hanya memberi nya segitu? Tapi...bukan kah kang Ujang juga akan kerja?


" Ya udah teh. Kami berangkat. Titip Diaz ya teh!", aku dan mas Aziz bergantian mencium Diaz.


Di pintu gerbang, Hayu pun akan masuk ke kerja.


"Mbak hayu. Kunci di tempat biasa nya....!"


"Siap!", sahut hayu.


aku dan mas Aziz pun berangkat ke kantor.

__ADS_1


__ADS_2