Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 213


__ADS_3

[Assalamualaikum mas!]


[Mika, mas sebentar lagi sampai kamu tunggu di loby aja ya!] Pinta Rifai.


[Iya sayang, sebentar lagi aku ke sana]


[Ya udah, jangan lama-lama!]


[Iya mas....iya.... assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Fai yang sudah sampai ke parkiran pun mencari tempat untuk mobilnya. Dengan sedikit tergesa-gesa ia menuju loby untuk menemui istrinya.


Di sisi lain....


Mika yang baru saja melepas jas profesi nya keluar dari ruangan nya. Kini ia berjalan menuju loby. Tapi baru beberapa langkah, dia melihat seseorang yang tengah panik dengan mendorong brankar menuju UGD.


"Mas Aziz?!!!", pekik Mika. Dia pun terburu-buru menyusul Aziz ke arah UGD.


"Dian....!", panggil Mika.


"Mas...mas Aziz....Dian kenapa?" tanya Mika panik.


"Nggak tahu mika... tiba-tiba....ah....!", Aziz mengusap kasar wajahnya yang panik itu.


Mika menengok ke arah julian, dia pun tak memberi jawaban apapun.


"Aku sudah selesai praktek. Jadi aku tak bisa ikut begitu saja menangani Dian mas....!", kata Mika lirih.


"Nggak apa-apa Mika!", jawab Aziz yang kini terduduk di bangku tunggu.


Aziz, mika dan Julian diam. Tak ada obrolan apa pun di antara mereka bertiga. Sampai tiba dokter Lala yang akan memasuki ruang UGD .


"Dokter mika, anda di sini?", sapa dokter Lala.


"Iya ,dok. Pasien di dalam saudara saya!", jawab Mika.


"Benarkah?", tanya dokter Lala.


Mika mengangguk cepat.


"Dokter Lala, bisakah saya ikut ke dalam? Saya ingin.....!", ucapan mika terputus.


"Anda sudah selesai praktek dokter Mika. Saya tahu anda panik, tapi ini peraturan rumah sakit."


"Tapi dok, saat saya sedang off saja rumah sakit bisa memanggil saya sewaktu -waktu. Jadi....anggap saja begitu dok! Tolong....!", Mika memelas pada dokter Lala. Akhirnya dokter Lala mengijinkan Mika masuk ke dalam UGD.


Fai yang sudah berada di lobi, mencari keberadaan Mika. Ponsel mika tak bisa di hubungi. Harusnya dia sudah ada di sini dari tadi, batin Fai.


"Sus..maaf, lihat dokter mika nggak ya?", tanya Fai pada salah seorang suster.


"Dokter mika baru saja ke UGD pak. Seperti nya ada pasien yang mungkin kerabat beliau. Soalnya, Dokter mika terlihat sangat panik."


"Di UGD?", tanya Fai mengulang.


Si suster pun mengangguk.


"Makasih sus!", kata Fai lalu berjalan menuju UGD.

__ADS_1


Langkah nya ia percepat saat melihat siapa yang berada di depan pintu UGD.


"Ziz, Lo di sini? Siapa yang sakit?", tanya Fai.


Aziz yang dari tadi menunduk kini terlihat memandang Fai dengan pandangan yang tak bisa di deskripsikan.


"Julian?", Fai baru menyadari keberadaan Julian. Kalau Julian ada di sini juga berarti.......


"Apa diandra yang ada di dalam?", tanya Fai pada Julian. Fai tak bertanya pada Aziz, percuma! Dia pasti sedang malam bicara dengan situasi seperti ini.


"Iya pak Fai!", jawab Julian.


"Kenapa? Dian kenapa? Kecelakaan? Tapi... Kenapa kamu baik-baik saja Julian?", cerca Fai.


Dia doain gue celaka? Batin Julian.


"Kami belum tahu pak Fai. Dokter Lala dan dokter Mika sedang menangani Bu Dian."


Pantas Mika begitu panik, ternyata Dian pasien di UGD itu.


Julian sedikit menjauh dari lelaki istimewa bosnya itu. Dia yakin pasti ada hal serius yang ingin mereka bicarakan.


Mata Julian berkeliling ke arah lain. Sampai dia menangkap gerak gerik seseorang yang mencurigakan.


Orang itu???? Batin Julian. Tapi dia tidak ingin bertindak gegabah. Jika dia pergi menjauh dari bos nya, bisa saja kan tujuan orang itu justru mencelakakan pak Aziz. Julian masih bermonolog.


"Julian!", panggil Aziz. Orang yang Julian curigai pun sudah tidak ada di sana.


"Iya pak?!", Julian mendekat pada dua pria tampan itu.


Belum sampai Julian duduk di samping Aziz, Damar datang menghampiri mereka bertiga.


"Dian!", jawab Aziz singkat.


"Dian? Kenapa? Apa yang terjadi dengannya? Tadi sore kami bertemu di sini, dia baik-baik saja."


"Dian ke sini?", tanya Aziz dan Fai bersamaan.


"Iya. Kamu nggak bilang Julian?", tanya Damar.


Julian membelalakkan matanya.


"Iya pak. Saya memang mengantarkan Bu Dian kemari, tapi Bu Dian bilang mau bertemu dokter Mika."


Damar mengusap kasar wajahnya.


"Bohong!", kata damar.


"Maksud mu apa Dam?", tanya Aziz.


"Apa yang terjadi sama Dian?", tanya Damar.


"Gue nggak tahu, tiba-tiba ada darah di...di...jalan lahir nya Dam!", kata Aziz.


"Dian pendarahan? Kok bisa?", tanya Fai.


"Tunggu...gue rasa Dian belum bilang ke Lo Ziz!", kata Damar.


"Bilang apa?", tanya Aziz.

__ADS_1


"Dian hamil!", jawab Damar.


"Hamil? Nggak mungkin Dam, Dian pakai kontrasepsi IUD dam. Mana mungkin hamil....?", kata Aziz.


"Tapi kenyataannya seperti itu. Tadi sore gue ketemu Dian dari ruangan dokter Lala. Dokter kandungan! Gue lihat muka Dian seperti orang bingung. Akhirnya dia ngaku kalau dia sedang hamil Ziz. Tapi sayang, kehamilan nya kali ini bermasalah. Dia hamil di luar kandungan. Dan.... secepatnya harus di ambil tindakan, di kuret Ziz!", kata Damar.


Aziz menutup mulutnya dengan tangan kanannya.


Ya Allah dek ....! Aziz terduduk lemas.


"Siapa yang menangani Dian?", tanya Damar.


"Dokter Lala dan dokter Mika pak Damar!", jawab Julian.


"Apa yang terjadi sampai Dian pendarahan Ziz? Karena nggak mungkin dia tiba-tiba....."


"Gue salah. Gue yang salah Dan!", kata Aziz lirih.


"Kenapa?", kini Fai yang bertanya.


"Gue...gue berantem sama Dian."


"Lo berantem sama Dian sampai bikin dia kaya gini?", suara Fai meninggi.


"Sabar Fai, Lo diem!", kata Damar.


"Apa yang bikin Lo berantem?"


Aziz memandang Damar.


"Dian sampai takut bilang ke Lo kalau dia harus kuret Ziz. Dia takut Lo kecewa! Coba Lo bilang ke gue! Apa yang bikin kalian bertengkar?"


Aziz mengeluarkan ponselnya. Dia serahkan kepada Damar.


Damar pun menerima ponsel dari Aziz. Di bukanya video yang memperlihatkan adegan antara Fai dan Dian. Damar langsung melirik ke arah Fai. Tapi ia belum berkomentar apa pun.


Dia kembali melihat ponsel Aziz, video berikut nya membuat ia menggeleng kan kepalanya.


Fai yang tak sabar ingin mengetahui apa yang ada di ponsel Aziz pun merebut ponsel itu dari Damar.


Mata Fai terbelah dengan video yang ia lihat. Matanya mengarah ke Aziz, dan kepalanya menggeleng pelan.


"Gue udah jujur sama Lo Ziz. Gue nggak bohongi Lo kan? Gue sama Dian udah cerita hal ini sama Lo di hari yang sama kan Ziz?!", kata Fai.


"Tapi Lo nggak jujur udah cium kepala bini gue!", kata Aziz.


"Oke...gue minta maaf, tapi Lo liat sendiri. Ini murni kebetulan Ziz!"


"Tapi tangan Lo juga nggak bisa di kondisi kan Fai!"


Fai masih terus menggeleng sampai dia melihat video berikut nya.


"Ini????", tanya Fai.


*****


Hayo.... "ini" apa Fai????


Udah salah masih aja ngeles sih Fai, bukannya minta maaf. Ye gak???? 🤗

__ADS_1


__ADS_2