Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Permintaan maaf (1)


__ADS_3

"Jadi, Abah memang sudah ada niatan buat jodohin mereka mas? Masyaallah....luar biasa!", kataku.


"Kamu nggak cemburu dek?", tanya Aziz padaku.


"Maksud mu apa ya mas?", tanyaku.


"Ya...mantan mu itu mau dijodohin!", sahut Aziz santai.


"Aku cemburu mas. Cemburu banget!", kataku ketus sambil berdiri meninggalkan mas Aziz yang sedang duduk di sofa.


"Dek, jangan marah!", rayu Aziz.


"Tau ah, udah sana keluar aja temenin Imah!", aku masuk ke dalam kamar ku.


"Salah Mulu sih nih mulut!", Aziz memukul mulutnya sendiri.


Dengan gontai Aziz pun menuju kiosnya. Di sana ia mendapati Imah dan Hayu sedang tertawa terpingkal-pingkal mendengarkan celoteh Faiz.


Aziz pun memilih duduk di belakang kasir. Sok sibuk mengecek stok dagangannya. Sesekali jarinya mengutak-atik ponselnya.


"Mah, aku mau sholat duluan ya?!", kata Hayu.


"Iya mbak, nanti kita gantian."


Hayu pun meninggalkan kios menuju kamar Imah.


Tak berapa lama kemudian, seseorang datang. Pria tampan dengan kacamata minusnya yang cukup tebal bertengger cantik di atas hidungnya yang mancung.


"Bro!", sapa pria itu. Aziz yang fokus dengan ponselnya, tak menggubris panggilan damar.


"Lho, pak dokter?", sapa Imah.


"Eh, Imah. Apa kabar?"


"Baik Dokter damar. Pak dokter mau ketemu mas Aziz ya?"


Damar mengangguk pelan sambil duduk di bangku.


"Mas...! Mas Aziz!", bentak Imah dengan suaranya yang melengking.


"Ishhh...brisik banget sih kamu Mah!", kata Aziz.


"Lagian, di panggil dari tadi diem aja sih!"


Aziz pun baru menyadari ada damar di sana.


"Eh, pak dokter dingin di sini!?", tanya Aziz basa basi.


"Kan gue udah bilang mau ke sini!"


"Mas Aziz ngapa sih ngelamun? Bulanya tadi tuh bibir udah di cium sama mbak Dian?", tanya imah polos.


Wajah Aziz bersemu merah mendengar ucapan konyol Imah. Imah...Imah...nggak usah bilang-bilang juga kali!!!! Batin Aziz.


"Imah liat Lo ciuman sama bini Lo? Hahahahah!", ledek damar.


"Eh, pak dokter bisa ketawa juga ya pak hahahaha kirain nggak bisa pak. Saking seriusnya menghadapi orang yang sakit parah, jadi saraf yang biasa buat senyum udah nggak bisa kepake. hahahahah!", seru Imah.


Kali ini Aziz pun turut menertawakan sahabat nya.


"Kamu pikir saya patung Mah, nggak bisa ketawa?", tanya Damar.

__ADS_1


"Imah kan taunya dokter damar pas lagi rawat almarhum mbak Feby mukanya serius banget."


"Iya beda lah Imah, ini kan lagi nggak kerja. Udah, jangan panggil gue pak dokter. Panggil aja damar kek apa mas damar gitu kan enak?!"


"Oke... imah panggil mas damar mulai sekarang!"


"Kedengarannya lebih baik!", sahut Damar.


"Mah, minta tolong. Ambilin minuman dingin satu ya, tapi gue nggak mau bayar!", kata damar melirik aziz. Imah pun mengambilkan nya.


"Dasar dokter kere, minuman botol aja kagak mampu beli Lo!", sahut Aziz.


"Eh, dia dimana?", tanya Damar.


"Lagi solat", jawab Aziz singkat. Imah yang mulai kepo pun ingin cari tahu.


"Dia....solat Ziz?", tanya Damar ragu-ragu.


"Dia siapa mas Damar?",tanya Imah.


"Dia ...ya dia lah , masak Diandra!"


"Sopo seng dimaksud toh mas? Mosok mbak Hayu?", tanya Imah lagi.


"Udah si Jawir, kepo banget deh!", sahut Aziz.


Detik berikutnya, damar tertegun melihat sosok perempuan cantik yang melewati punggung Aziz. Perempuan berjilbab lebar dengan warna navy, wajahnya terlihat makin bersinar.


Sedangkan Hayu, hayu sendiri tidak memperhatikan siapa tamu yang sedang Aziz temui.


Damar pun berdiri dari bangkunya.


"Stev!", panggil Damar. Hayu yang sedang menuju ke meja kasir pun berbalik badan. Memastikan suara yang memanggil nama yang sangat ingin ia lupakan.


"Stev! Aku....!", kata Damar tersendat.


"Maaf, nama saya Hayu. Rahayu!", Jawa. Hayu singkat.


"Baiklah Hayu, saya ingin bicara!", kata damar pelan.


"Tidak ada yang perlu di bicara kan mas, semua sudah selesai. Maaf, saya mau melanjutkan pekerjaan saya!"


Iya, hayu memang sedang mengepak charger yang kemarin Aziz beli.


"Ziz, gue minta ijin buat ngobrol sama Hayu boleh kan?", tanya Damar.


"Bagaimana Hayu?", justru Aziz bertanya pada hayu.


"Pekerjaan saya masih banyak mas Aziz!", jawab Hayu tanpa melihat ke arah Aziz.


"Udah, biar Imah yang beresin. Mbak Hayu ngobrol aja sama dokter damar di rumah. Tenang aja, nanti juga selesai sama Imah. Udah jadi kerjaan Imah kok mbak Hayu!"


"Iya mbak Hayu, kalian ke ruang tamu saja ya!", pinta Aziz.


"Maaf mas, saya tidak ingin ada fitnah. Saya tidak mau berdua dengan....!", hayu menggantung kalimatnya.


"Dian akan menemani mu."


Kata Aziz sambil berdiri.


"Bro, Lo lewat gerbang aja ya, sekalian masukin mobil Lo!"

__ADS_1


"Ya Ziz!", sahut Damar.


Dengan terpaksa, Hayu mengikuti Aziz ke dalam rumah.


Tok...tok...


"Dek!", panggil Aziz. Karena pintu kamar ku terkunci.


Dengan sedikit perasaan kesal aku membuka pintu kamar ku. Rambutku yang panjang tak terikat menjuntai sebagian di wajahku. Betapa kagetnya aku, ternyata ada mbak hayu di belakang mas Aziz. Tapi, ya sudah lah. Toh dia juga perempuan.


"dek, mas mau minta tolong."


"Tolong apa ya mas?", tanyaku sambil keluar dari kamar.


"Itu...di luar ada damar, dia mau ngobrol sama Hayu. Kamu bisa nemenin hayu? Dia...nggak mau berduaan dengan yang bukan mahramnya!"


"Oh, ya udah. Sebentar, aku pake jilbab dulu. Kamu , bawa Diaz ke luar aja mas. Dia udah bangun!"


Aku kembali ke kamar memakai jilbab ku ,lalu menggendong Diaz untuk ku serahkan pada Aziz.


"Kamu sama Diandra ya Mbak Hayu!", kata Aziz sambil berlalu.


"Kita keruang tamu ya mbak!", ajakku.


"Iya mbak Dian!", hayu membuntuti ku dibelakang.


Aku membuka pintu ruang tamu. Damar sudah berdiri di depan pintu.


"Silahkan masuk mas Damar!", aku menyuruh damar masuk.


Aku, damar dan hayu duduk di masing-masing sofa. Aku memang akan menemani Hayu, tapi aku juga tidak mungkin mencampuri urusan mereka kan?


"maaf, sebentar ya. Saya buatin minum dulu!"


"Iya Di, makasih ya!"


Aku pun meninggalkan mereka berdua. Tapi, ruang tamu dan dapur tidak ada penyekat, jadi aku bisa melihat mereka ngapain. Hayu hanya tidak ingin terjadi fitnah diantara mereka.


"Stev!", panggil Damar.


"Hayu!", jawab Hayu singkat. Matanya menatap lurus ke lantai.


"Bagaimana kabar kamu?", tanya Damar memulai percakapan mereka.


"Seperti yang anda lihat. Alhamdulillah, saya sehat walafiat."


"Stev...maksud ku...Hayu!"


"Apa yang mau anda sampai kan?"


"Aku...aku...ingin minta maaf Hayu!", Damar menunduk.


"Saya sudah memaafkan anda, ada lagi yang ingin anda sampai kan?"


"Hayu! Tolong...tolong ijinkan aku memperbaiki semuanya."


"Memangnya apa yang akan diperbaiki ya pak Dokter???", suara Hati kali cukup jelas terdengar sampai ke dapur.


"Hayu, bertahun-tahun aku di liputi rasa bersalah padamu. Pada anak kita. Aku...aku minta maaf Hayu!"


"Kita? Apa anda mengenal saya?"

__ADS_1


"Stevia Winata. Cukup! Jangan begini! Aku akan menebus semua kesalahan ku di masa lalu pada mu stev. Tolong beri aku kesempatan!", Damar memohon.


Kedua orang itu diam dalam pikiran masing-masing.


__ADS_2