Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 245


__ADS_3

"SAH!!", ucap saksi dari kedua belah pihak. Akhirnya, Damar resmi memiliki Stevi meski harus dengan nikah siri terlebih dulu. Hayu hanya merias diri seadanya, itu pun modal meminjam kepada lili. Pakaian pun dari lili. Apakah lili sudah berubah? Entahlah....🤷.


Damar mengulurkan tangannya untuk di cium sang istri. Hayu yang masih setengah percaya hanya menurut saja.


Rasanya seperti mimpi. Baru tadi siang mereka hanya sekedar mengobrol, saat ini malah Stevia Winata sudah resmi menjadi istri dari dokter Damar Anggoro.


"Selamat ya Nak. Semoga kalian selalu bahagia."


Stevan merengkuh tubuh langsing putri nya. Setelah belasan tahun berlalu, Stevan bisa memeluk putrinya lagi.


"Makasih Dad!'', kata Hayu.


Disusul kemudian oleh Damar.


"Makasih ya om...em...Dad!", kata Damar. Stevan tersenyum simpul.


"Daddy harap kalian selalu bahagia, menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Maafkan Daddy ...", kata Stevan sambil menepuk bahu menantunya.


"Makasih Dad. Em....jadi, Damar bisa membawa Stevi kan Dad? Bukannya Daddy bilang Stevi boleh keluar dari sini jika damar sudah mengesahkan Stevi?"


"Hehe tentu saja nak!", lagi-lagi Stevan menepuk bahu damar.


Sekarang hayu dan damar menghampiri Lili. Bagaimana pun posisinya saat ini adalah ibu nya Hayu.


Hayu mengulurkan tangannya kepada Lili. Untungnya Lili masih dalam mode baik. Ia menyambut uluran tangan Hayu.


"Mohon doa restu...MMM... mommy?", kata Hayu pelan.


"Gue emang istri Daddy tapi Lo lebih tua dari gue!", kata Lili ketus. Sontak yang ada di situ tertawa dengan tingkah bumil yang biasanya jahat.


Hayu memeluk mantan sahabatnya itu yang sudah menjadi ibu tiri baginya.


"Maafin aku, dulu aku sering merebut apa yang kamu miliki."


Bisikan itu terdengar benar-benar seperti permohonan maaf yang tulus. Dnegan masih berpelukan, lili pun menjawab.


"Jangan Lo pikir, gue baik sama Lo. Gue bisa baik juga sama sahabat Lo!", bisik Lili yang juga tak kalah pelan. Mata Hayu membelalak lebar. Apa maksud bocah ini?


Ke-dua saling melepaskan pelukannya. Kini damar yang menyalami tangan lili. Tanpa cium tangan tentu nya. Bagiamana pun perempuan cantik ini adalah ibu mertuanya.


Faiz menghampiri kedua orangtuanya.


"Umi ...Faiz di lupain kan?", tanya Faiz sambil memeluk uminya.


Hayu terkekeh geli melihat tingkah putranya itu.


"Siapa bilang Faiz di lupain? Justru papa pengen setelah ini punya banyak waktu sama Faiz?!", kata Damar sambil menggendong putranya itu.


"Benerannn????", tanya Faiz antusias.


"Iya lah. Setelah ini, kita akan tinggal bersama."


"Di mana Pa?", tanya Faiz.


"Di rumah kita sayang!", kata Damar.


"Sebenarnya Faiz suka di sini. Rumah opa gede banget. Ada opa yang bisa diajak bermain, ada Tante lili yang bawel. Faiz suka!", kata Faiz.


"Tapi....?"


"Sudah Dam, kalian tinggal di sini saja dulu", pinta Stevan. Damar hanya tersenyum.


"Sebenarnya, damar sudah menyiapkan apartemen Dad. Tapi sepertinya belum mau di tinggali kalau mereka saja belum setuju."


"Bagiamana Nak?", tabya Stevan pada putrinya.


"Aku pengen nya sih... tinggal di kontrakan ku saja mas. Kami sudah terbiasa di sana. Dekat dengan mushola, udah gitu Faiz juga udah punya banyak teman di sana."


Faiz memandang uminya.


"kalau umi sama papa mau pulang ke sana dulu, boleh nggak Faiz nginep sehari lagi di rumah opa sama Tante lili?", tanya Faiz. Stevan mengulum senyumnya.


"Sama opa boleh. Tapi umi ngijinin ngga?", tanya Stevan melirik hayu.


"Iya tentu saja boleh nak!", kata Hayu. Damar pun mengangguk seraya tersenyum tipis.


"Apa malam ini kita pulang ke sana?", tanya Damar.


"Hem....malam ini kata menginap saja di sini!", kata Hayu .


"Yeyeyeey....Faiz bobok sama umi sama papa!", teriak Faiz girang.


"Faiz ....?", tegur Hayu.


"Iya ..maap. Tapi....kan Faiz nggak punya kamar di sini umi...." kata Faiz lirih.


"Memang kenapa?", tanya Lili yang tumben ikut bicara.


"Faiz kan di rumah bobo sendiri Tante ...!", Faiz menjawab pertanyaan Lili.


"Faiz bisa pilih kamar mana aja yang Faiz mau. Kamar di rumah opa banyak?!", kata Stevan. Faiz melirik uminya. Hayu pun mengangguk.


"Boleh umi?", tanya Faiz girang.


"Iya Nak!", jawab Hayu.


Faiz senang tak terkira.


"Ya udah Tante anterin Faiz ke kamar yang Faiz mau!", Lili menggandeng tangan bocah kecil itu. Lili bisa jahat dan galak pada siapapun,tapi kenapa dia bisa selembut itu pada Faiz??? Itu yang membuat orang-orang sini heran.


"Ya udah, Daddy antar pak ustadz dulu dan tamu yang lain", kata Stevan.


"Damar juga Dad!", kata Damar lalu mengekor di belakang Stevan. Hayu sendiri melangkah kan kaki menuju lantai atas.

__ADS_1


Di luar....


Stevan dan Damar mengucapkan banyak-banyak terima kepada ustadz yang yang sudah menikahkan anaknya tadi. Tak lupa Stevan memberikan amplop untuk Ustaz dan saksinya.


"Jangan tuan. Mas damar sudah memberikan nya tadi buat kami", tolak pak ustadz.


"Itu kan dari damar. Kalo ini ucapan terimakasih dari orang tua mempelai perempuan!", Stevan tetap meletakkan amplop itu kepada tamunya. Mau tak mau, tamu nya pun pergi dari rumah mewah itu.


Lalu dua pria tampan beda usia itu terlibat obrolan serius.


"Orang tuamu tetap tidak menyetujui nya?", tanya Stevan kepada damar setelah mereka benar-benar sudah duduk di sofa ruang tamu.


"Iya Dad. Maaf, saya membawa Stevi di dalam masalah yang tidak kondusif ini."


Damar menunduk.


"Ya ... semoga saja perlahan mereka akan membuka hatinya untuk menerima istrimu!", kata Damar menepuk bahu menantunya.


"Dad....?"


"Hem?"


"Jika suatu saat nanti, Damar membawa Stevi keluar kota atau keluar negri boleh? Damar hanya takut kedua orang tua damar kekeuh tak merestui kami."


"Stevi memang putri Daddy, tapi setelah menikah dia hak kamu. Jadi kemana pun kamu mau mengajak pergi, silahkan. Tapi pesan Daddy, jangan pernah menyakiti hati putri Daddy. Sudah banyak rasa sakit hati yang dia rasakan dari Daddy dan darimu Damar!"


"Iya Dad. Insyaallah Damar akan menjaga Stevi semampu Damar!"


"Ya udah, istirahat lah. Daddy juga mau istirahat. Kamar Stevi di lantai dua, ada hiasan di pintunya. Itu....buatan Stevi sendiri saat dia masih kecil."


"Iya Dad!"


Stevan berjalan mendahului Damar. Damar mengambil pakaian yang ada di dalam mobilnya. Itu sudah menjadi kebiasaannya, memiliki pakaian ganti yang selalu standby di mobil.


Usai mengambil pakaian di mobilnya, damar pun dengan percaya diri berjalan menuju kamar sang istri. Di ruang tengah ia berpapasan dengan art yang tadi menjadi saksi di pernikahan nya. Damar menganggukkan kepalanya, begitu pula dengan art pria itu. Sepertinya ia akan mengecek pintu ruang tamu, memastikan keamanan bagi keluarga majikannya.


Damar menapaki tangga yang mewah itu. Dia tak habis pikir. Putri seorang konglomerat sekaya Stevanus Winata,bisa tinggal dan hidup di lingkungan komplek belakang rumah Aziz.


Mata Damar mencari pintu yang di maksud ayah mertuanya. Sekali tengok, terlihat Pitu bercat putih itu yang berhiaskan lingkaran berwarna merah dan hijau, khas dengan nuansa Natal.


Ah, iya. Damar melupakan jika Stevi pernah mengimani nya. Dan itu bukan masalah baginya. Damar akan hidup di lingkungan yang di warnai perbedaan dan keragaman. Mereka masih tetap bisa saling menjaga dan menghormati perbedaan itu.


Hanya sementara damar kamu tinggal di sini, selanjutnya....akan tinggal di kontrakan Stevi atau apartemen mu? Damar bermonolog. Di lirik nya jam tangan yang sudah menunjukan jam sepuluh malam. Suara Faiz sudah tak terdengar, mungkin dia sudah tertidur pulas.


Tok....tok....


Damar mengetuk pintu kamar Hayu. Hayu pun membukakan pintu untuk suaminya.


"Masuk aja mas, nggak perlu ketuk pintu!", kata Hayu.


"Mas pikir kamu sudah tidur!", kata Damar sambil memasuki kamar Hayu yang bercat pink itu. Mata Damar menatap ke sekeliling kamar. Foto-foto Hayu saat masih remaja dulu banyak berjejeran di dinding kamar istrinya.


Damar memandangnya satu persatu. Lalu menyunggingkan senyumnya.


"Kamu kenapa senyum-senyum begitu?", tanya Hayu heran sambil duduk di ranjangnya. Tak lupa sebuah bantal ia letakkan di pangkuannya.


Hayu tersenyum tipis. Sejujurnya, hatinya dan jantung nya sedang tidak baik-baik saja. Bagiamana tidak? Ini untuk pertama kalinya ia berdua dengan lelaki setelah kepergian mas Royan.


Usai menatap foto itu, kini pandangan Damar beralih kepada perempuan yang sangat ia cintai. Yang belum bisa dan bahkan mungkin tidak bisa tergeser oleh siapapun di dalam hatinya.


Damar mendekati Hayu yang sepertinya terlihat tenang, memang pembawaan hayu seperti itu. Padahal, jantung hayu sedang berpacu dengan cepat.


Damar meraih tangan Hayu, lalu mengecup nya.


"Terimakasih, terimakasih sudah bersedia menjadi istri ku. Maafkan aku yang menyakiti mu Stev! Aku tahu ... sekali pun aku memberikan apa yang kamu inginkan saat, aku tidak bisa merubah masa lalu dan rasa sakit mu yang dulu!", lagi, damar mencium kedua tangan istrinya.


Hayu menyungginggkan senyum nya.


"Sama-sama mas. Aku sudah memaafkan mu!"


"Stev....!"


"Heum? Kenapa kamu masih memakai hijabmu? Aku suami mu?", tanya Damar tanpa melepaskan genggaman nya. Hayu menunduk malu.


"Bahkan kamu sudah melihat semuanya dari dulu mas!", sindir Hayu. Damar pun menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tak gatal.


"Itu dulu sayang. Dulu sekali, tapi kali ini...kita kan sudah halal!", damar membela dirinya.


Hayu tersenyum kecil melihat tingkah damar yang mendadak kaku. Damar pun membuka hijab Hayu .Dia mengurai rambutnya yang panjang sebahu. Hayu sedikit malu mengangkat wajahnya di hadapan sang suami.


"Cantik! Istriku dari dulu memang cantik ! Tak berubah!", puji damar sambil menaikan anak rambut di dahi Hayu. Wajah Hayu memerah. Beberapa hari yang lalu, ia bahkan masih belum terlalu bisa memaafkan damar. Tapi saat ini, justru dia seolah-olah sudah menyerahakan dirinya kepada suaminya ini.


Damar menakupkan kedua tangannya di pipi sang istri.


"Aku menginginkan nya malam ini? Boleh? Aku merindukan nya stev?", kata Damar pelan bahkan hampir tak terdengar. Dengan ragu hayu pun mengangguk meskipun dia sendiri belum siap. Damar terlihat senang saat melihat anggukan kecil dari Hayu. Dia tak ingin lama-lama menunda untuk melakukan nya.


Damar semakin mendekati wajah Hayu yang tersipu malu itu.


"Tunggu mas.....!", hayu mendorong pelan wajah suaminya. Hayu benar-benar merasa gugup kali ini.


"Kenapa sayang?"


"Aku....mau ke kamar mandi sebentar!"


Damar menghela nafasnya.


"Ya sudah jangan lama-lama!", kata Damar. Hayu pun mengangguk.


Sambil menunggu hayu di kamar mandi, Damar memainkan ponselnya.


Ah iya ... belum ngabarin kaum gesrek nih! Pekik Damar dalam hati.


Di waktu yang bersamaan, damar menelpon Aziz, Fai dan juga Dadan. Dia tidak peduli meski ini sudah lewat dari jam sepuluh malam.

__ADS_1


Sudah ia tebak! Sahabat-sahabat nya itu mengangkat telponnya dengan suara khas bangun tidur.


Panggilan video grup.....


[Halo....] sapa Aziz, Fai dan Dadan bersamaan. Wajah mereka benar-benar seperti orang yang bangun tidur.


Damar : [Halo....baru jam segini,udah pada tidur aja sih]


Aziz : [Apa an sih Lo ganggu orang tidur aja sih]


Fai :[Tahu nih, kaya ngga ada hari besok aja. Mending penting. Penting juga kagak!] Fai menguap sambil menutup mulutnya.


Damar: [Lo nggak komplen Dan?]


Dadan : [Udah di wakili sama mereka]


Sahut Dadan pelan dan dengan suara serak.


Damar terkekeh geli melihat tiga sahabat nya terganggu karena ulahnya.


Aziz : [Apaan sih bro? Ngantuk nih!]


Damar:[Gue sama Stevi udah nikah!]


Kata Damar semangat.


Tiga sahabat nya yang tadi masih terkantuk-kantuk kini kompak menertawakan damar.


[Hua hahhahahha] Tawa mereka bertiga.


Damar: [Kenapa malah ketawa?]


Fai : [Ini masih sore Damar, udah ngigau aja Lo]


Dadan :[ tahu nih, kayanya matanya masih seger tapi udah mimpi aja]


Damar:[Gue serius!]


Di waktu yang bersamaan, Hayu keluar dari kamar mandi


"Sayang, pakai jilbab mu dulu. Kaum gesrek lagi video call. Takutnya mereka nggak sengaja lihat kamu yang nggak pake hijab lagi."


Hayu menghela nafasnya lalu memilih menurut pada suaminya.


Aziz :[Apa katanya? Sayang? Dam...gue tahu Lo cinta mati sama Hayu tapi nggak usah halu juga kali!]


Fai : [Tahu nih, sabar ngapa!]


"Sini sayang, mereka nggak percaya kalau kita udah nikah!", Damar menarik Hayu ke pangkuan nya.


"Mas!", pekik Hayu. Dia merasa malu dilihat oleh teman-temannya Damar meskipun itu teman nya juga.


Ketiga sahabatnya pun melongo.


Damar: [ Kenapa pada melongo gitu? Nggak percaya kalau kita udah nikah?]


Cup! Damar mencium pipi Hayu.


"Mas!",pekik hayu yang merasa malu.


Fai :[Serius mbak hayu udah nikah sama dokter dingin ini?]


Hayu pun mengangguk.


Dadan : [Kapan nikahnya mbak Hayu? Tadi aja masih kondangan ke Ustaz kW? ]


Fai : [Eh...kang soto, udah deh nggak usah nyebut gue pake nama gitu lagi.]


Dadan terkekeh kecil.


Aziz : [Iya. kapan Lo nikahnya Dam]


Damar : [ Tadi sore]


Fai : [Gercep Lo? Siri ya? Soalnya kalo kua mana ada dadakan begini!]


Damar:[Tau aja Lo. Biarin, yang penting halal dulu. Urusan KUA sama bokap gue belakangan]


Aziz : [Kalau gitu, selamat ya bro!]


Dadan : [Selamat ya dok!]


Fai. :[Selamat juga dari gue. Udah sono lanjutin kegiatan Lo berdua. Biar nggak cuma bisa traveling tuh otak!]


Damar :[ Makasih brother semua! Eh...yang suka traveling kan otak Lo Fai! Gue mah udah pernah jadi nggak ngehalu akut kaya Lo]


Mereka berempat kompak tertawa. Hayu hanya melihat suaminya tertawa bersama-sama sahabatnya itu meskipun hanya lewat telpon.


Akhirnya panggilan itu pun berakhir. Kini damar sudah meletakan ponselnya.


"Bisa kita mulai?", bisik Damar. Hayu pun mengangguk pelan sambil tersenyum kecil.


Baru saja mau nyosor, Hayu menutup wajah Damar dengan kedua tangannya.


"Berdoa dulu!", pinta hayu. Damar pun mengangguk lalu terdiam beberapa saat . Dan setelah itu, dia tidak akan tinggal diam lagi. Malam panjang pun mereka lalu berdua.


*****


Part ini panjang ya??? Hahah iya. Harusnya bisa jadi dua eps ini mah ....


Tapi nggak apa-apa sih. Toh sekarang mamak cuma aplot satu eps dalam sehari. Takutnya ada yang bosen baca tulisan receh mamak ini.


Insyaallah kalau crazy up lagi, baru sehari tiga eps deh.

__ADS_1


Btw makasih ya.....jangan lupa like dan komentar yang membangun ya????


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan nya 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2