
Ahmad Rifai
Pikiran pria yang sudah lewat tiga puluh tahun itu tak tentu arah. Demi baktinya terhadap orang tuanya, dia melepaskan pujaan hatinya, Diandra Saputri.
Tiga tahun merajut kasih dengan nya bukanlah waktu yang sebentar. Dia terlalu berharga untuk dilupakan. Gadis impiannya kini sudah menjadi istri dari Aziz, sahabatnya sendiri.
Harus di akui, kesalahan ada pada dirinya sendiri. Andaikan....saat itu ia tegas. Memperjuangkan cintanya terhadap Diandra, mungkin tidak ada kejadian seperti ini. Penyesalan selalu datang terlambat, dan...cinta datang karena terbiasa. Iya, Diandra terbiasa bersama Aziz. Meskipun aku tak perlu meragukan kesetiaan nya.
Gadisku....dia yang selalu riang, selalu bisa mengambil hati siapapun. Sikap lemah lembut nya mampu menaklukan siapa pun. Termasuk Aziz, sahabat yang senantiasa menemani kisah cinta kami.
"Di....semudah itu kamu melupakan ku? Bahkan sekarang kamu sudah memiliki buah hati bersama Aziz, Di?", Ahmad bermonolog.
Ingatanku melayang pada hari dimana aku memutuskan untuk tak lagi menemuinya di tempat biasa kami bertemu. Apakah aku jahat? Iya, aku terlalu jahat. Hingga aku tak tega menatap mata sendunya yang selalu menenangkan ku.
Hari itu....
Sebuah pesan singkat masuk dari Diandra.
[Mas, kamu ke mana? Aku sudah satu jam menunggu mu lho!]
Pesan itu hanya ku baca. Aku berpikir berulang-ulang sampai akhirnya aku membalaa pesan itu. Padahal, aku berada di tempat yang sama. Tapi aku tak ingin Dian melihat keberadaan ku.
[ pulanglah, aku tak akan datang]
Tanpa membutuhkan waktu lama, pesan itu sudah Dian balas.
[ Kamu kenapa mas? Ini anniversary kita yang ke tiga lho. Kamu lupa?]
[ Pulanglah]
__ADS_1
[ Kamu kenapa mas?]
Dian mencoba menelpon ku. Tapi selalu ku tolak. Wajahnya terlihat panik. Iya, dia panik menengok ke segala arah.
[ Pulang lah sayang. Jangan menungguku!]
[ Kamu tak mau mengangkat telpon ku lagi? Tak mau bertemu aku lagi?]
[ Aku mencintaimu Di. Sangat mencintai mu. Tapi, kita tidak bisa bersama.]
[ Apa salahku mas? Katakan! Aku akan memperbaikinya mas Fai]
Aku tak sanggup melihat air mata di pipinya. Kepala nya masih menengok tak tentu arah. Dia pasti mencari keberadaan ku.
Ponsel ku kembali berdering. Diandra tak putus asa menelpon ku berulang.
[ Mas...jika kita memang harus berpisah, tolong temui aku! Jangan seperti ini mas Fai. Katakan apa salah ku? Jika masih bisa diperbaiki, katakan padaku. Tapi jika tidak bisa, aku akan menyerah mas!]
Baktiku terhadap Abah, membuatku harus kehilangan cintaku. Saat Abah sudah merestuinya, semua sudah terlambat. Dianku...sudah bersama Aziz.
Masih tergambar jelas dipelupuk mataku saat aku meninggalkannya begitu saja. Sakit...jujur hatiku sakit melihat air matanya mengalir di pipi lembutnya.
Aziz, dia yang sudah berhasil membahagiakan Dian ku. Aku hanya berharap, jika Aziz tak akan pernah menyakiti Diandra.
Jika suatu hari aku mendengar Aziz menyakiti hati Dianku, dia akan menerima akibatnya. Aku yang akan merebutnya kembali dari mu Aziz.
Ustadz ,hanyalah gelar yang mereka berikan padaku. Ustadz adalah guru. Bukan orang suci. Aku pun sama, aku manusia biasa. Aku tak kan bisa lepas dari segala urusan duniawi.
Mobil Ahmad pun melaju kencang menuju perumahan yang cukup elit.
__ADS_1
"Fai, udah pulang? Nanti malam ikut Abah ke rumah teman Abah!"
"Teman Abah siapa? apakah Abah tidak bosan berusaha menjodohkannya dengan anak teman Abah?", tanya Fai.
"Yang sopan bicara dengan Abahmu , Fai!", tegur umi.
"Maaf...!", Ahmad pun meninggalkan kedua orangtuanya di ruang tamu.
Cukup, sekali saja kebodohanku. Aku ingin menentukan hidupku sendiri. Aku laki-laki dewasa. Tidak selamanya aku harus dikekang, meski oleh orang tuaku sendiri.
Dian...semoga kamu selalu bahagia bersama Aziz.
*****
"Dunia itu kecil Di!", kata mama sambil memakan soto mi yang kang Dadan antar tadi.
"Maksud mama?", tanya ku.
"Sejauh apapun kita melangkah, Allah sudah menentukan kita akan bertemu siapa dan dimana."
Aku paham kemana arah pembicaraan mama.
Sedangkan Aziz dari tadi berdiri dibelakang pintu. mendengar obrolan dua wanitanya.
"Dian tak memiliki perasaan apapun pada mas Fai ma. Dian cuma mencintai mas Aziz."
"Mama tahu itu."
"Terimakasih, kamu suda bersedia memberikan kesempatan kedua untuk anak mama."
__ADS_1
" Tidak perlu berterima kasih ma. Dian melakukan ini semua karena Dian memang mencintai mas Aziz."
Aziz melihat Mama memeluk istri cantiknya. Dia sangat bersyukur bisa memiliki perempuan seperti Dian. Meskipun, awal pernikahan nya melalui proses yang singkat.