Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 214


__ADS_3

Mohon dukungannya ya gaes. Mamak lagi di kasih kesempatan buat crazy up Minggu ini. Jadi...jangan ragu buat like and komentar nya. Tararengkyu....dan.... selamat membaca karya receh mamak 🤗✌️


*****


Diaz sejak sore menangis terus. Imah sampai bingung sendiri. Sedangkan ia sudah menyuruh teh neng pulang dari tadi. Imah tahu, teh neng pasti lelah menghadapi Diaz yang tak seperti biasanya serewel ini.


Ponsel Kakak iparnya tak bisa di hubungi. Mau antar Diaz pulang, takut nya Diandra belum sampai di rumah.


"Ssstt.... sssttt....ponakan Tante yang ganteng, kenapa nangis terus sih? Kangen bunda ya? Bentar lagi bunda pasti pulang kok. Sabar ya....?!!", Imah masih terus menepuk-nepuk bokong bayi kecil itu yang berada dalam gendongan nya.


"A....!", panggil Imah ke Dadan.


"Naon Neng? Eh...Diaz teh kenapa ya nangis terus? Kangen mereun ya sama ayah bundanya?", tanya Dadan.


"Nggak tahu A, dari tadi Imah telpon mbak Di nggak di angkat terus. Mau telpon mas Aziz takutnya malah panik."


"Iya sih....!", kata Dadan.


"Sini Yaz, sama om Dadan ya?", Diaz pun menuruti nya meski masih ada sisa tangisan nya.


"Eh...Coba tanya ke mbak Hayu,kali aja mbak di udah pulang."


"Oh iya ya A. Gara-gara Diaz rewel, jadi nggak inget ada mbak hayu di rumah."


Imah pun menghubungi Hayu. Beberapa kali panggilan itu tak di angkat. Sampai akhirnya suara lembut itu terdengar dari ujung ponsel Imah.


[Assalamualaikum, mbak Hayu. Mbak Di udah pulang belum ya?]


[Walaikumsalam. Mah, aku pikir mas Aziz udah kabarin kalian.]


[Mas Aziz? Kenapa? Imah kan tanya mbak Di ? Dari tadi telpon ku ngga di angkat terus mbak. Diaz rewel dari sore. Mau aku antar ke rumah, takut mbak Di belum pulang. Kasian kan nangis terus?!]


Terdengar suara hayu menghela nafasnya.


[Mah, Diandra di bawa ke rumah sakit]


[Ya Allah, kenapa? Mbak Di kenapa mbak?]


Dadan menghampiri istri nya yang sedang panik.


[Aku nggak tahu persis nya kaya gimana Mah. Tapi...]


[Tapi apa mbak Hayu?]


[Seperti nya Dian pendarahan Mah]


[Pendarahan?Kok bisa?]


[Aku nggak tahu Mah. Coba kamu telpon mas Aziz saja. Aku mau beres-beres kios dulu, mungkin....aku nggak pulang ke kontrakan. Jagain rumah Dian. Faiz juga udah tidur di kamar kamu."


"Ya udah makasih sebelumnya mbak. Nitip rumah ya mbak. Imah mau telpon mas Aziz sekarang."


[Iya Mah. Assalamualaikum]


[Walaikumsalam]


Obrolan jarak jauh pun mereka akhiri.

__ADS_1


Diaz tertidur pulas di gendongan Dadan. Mungkin Diaz merasa nyaman dengan sosok Dadan yang kebapakan. Buktinya, Diaz terlelap begitu saja.


"Coba telpon mas Aziz?!"', kata Imah.


"Sebentar lagi magrib Neng. Takutnya malah ganggu. Nanti saja abis magrib ya?!", kata Dadan. Imah pun menuruti permintaan suaminya.


Dadan hanya tidak ingin istrinya panik mendengar suara kakak nya di seberang sana. Mungkin, setelah solat magrib perasaan Imah akan jauh lebih tenang. Dan bisa berbicara pelan pada mas Aziz tanpa memberondong pertanyaan yang macam-macam.


"Kamu solat aja dulu Neng. Nanti tinggal AA , gantian ya!"


"Iya A."


Imah pun meninggalkan suami dan keponakan nya di ruang tamu.


"Han....!", panggil Dadan kepada Farhan.


Farhan lari-lari kecil menghampiri ayahnya.


"Iya yah...?", kata Farhan.


"Solat nak."


"Iya, Farhan mau solat kok. Dek Diaz kenapa sih ya Yah dari tadi rewel terus?", Farhan mengusap pipi Diaz .


"Diaz kangen sama ayah bunda nya."


"Kangen? Kan tiap hari juga ketemu!"


Dadan menggelengkan kepalanya.


"Han, Tante Di sedang di rawat di rumah sakit. Tolong....Farhan doakan Tante Di biar cepet sembuh ya nak!", Dadan mengusap kepala anaknya.


"Ayah belum tahu Han. Nanti ibu yang akan telpon ke om Aziz. Sekarang Farhan solat duluan aja ya, inget....doakan Tante Di!", kata Dadan.


"Iya yah. Farhan pasti doakan Tante Dian. Tante Dian selama ini baik sama Farhan. Farhan mau Tante Dian sehat seperti biasanya. Biar bisa main sama Diaz lagi, kumpul sama kita lagi."


"Iya Nak!"


Farhan pun bergegas meninggalkan ayah nya menuju kamar sendiri.


Disaat yang bersamaan, Imah keluar dari kamar nya .


"Sini A, Diaz sama aku."


Dadan pun menyerahakan Diaz kepada Imah.


"Telpon Mas Aziz nunggu AA selesai solat ya Neng?!"


"Kenapa A?"


"Takut Diaz terganggu sama suara kamu. Jadi nanti pas kamu telpon, Diaz sama AA lagi."


"owh ...iya A."


Dadan pun meninggalkan Diaz dan Imah.


Usai solat, Dadan mengahampiri istrinya lagi. Bersiap untuk menelpon Mas Aziz.

__ADS_1


.


.


.


"Ini???", tanya Fai.


Dia melihat video Dian dengan seorang pria.


Julian yang mengetahui akar permasalahannya pun mau tak mau turun tangan.


"Maaf Pak Aziz, pak Fai , Dokter Damar. Ini tidak seperti yang kalian lihat. Bu Dian tidak hanya berdua. Saya juga berada di sana. Kebetulan saya sedang menerima panggilan telpon. Posisi saya tidak jauh dari mereka Pak."


Julian mengambil jeda beberapa saat.


"Kami bertiga hanya berniat untuk memberikan kejutan kepada kakak ipar saya yang berada di kamar itu. Pria itu....klien kantor pak, kakak kandung saya. Dan...yang berada di kamar hotel itu kakak ipar saya, kak Karen. Yang ternyata Bu Dian adalah sahabat kakak ipar saya. Dan....kakak saya, mengenal Bu Dian sejak kuliah."


"Suami Karen?", tanya Aziz.


"Iya pak Aziz. Oliver Benedict, kakak saya yang menjalin kerjasama sama. Dia dan kak Karen menetap di Singapura."


Aziz mengusap kasar wajahnya.


"Maafkan saya pak... mungkin.... keterangan saya sudah sangat terlambat."


Julian merasa bersalah karena dia tak segera memberikan informasi yang sebenarnya.


"Ini pak, saya tidak bohong. Kami berempat berada di dalam kamar hotel. Tidak ada kegiatan apa pun yang... seperti anda pikirkan!"


Julian memperlihatkan foto Dian yang sedang di peluk Karen. Sedang Oliver dan Julian berada di sofa yang terpisah.


Aziz menjambak rambut nya dengan kasar. Ia makin merasa bersalah menuduh Dian yang tidak-tidak.


Di tengah kekalutan nya, tiba-tiba Fai mencengkeram kerah baju Aziz.


"Puas Lo sekarang hah?!"


Damar menarik Fai yang mencengkeram leher Aziz.


"Fai, kendalikan diri Lo!", teriak Damar.


Julian sendiri, menarik Aziz dari cengkeraman Fai.


"Maaf, alangkah baiknya kalian solat magrib saja dulu. Biar lebih tenang. Saya yang akan menjaga Bu Dian di sini!", kata Julian.


Tiga pria tampan yang bersahabat memandang lekat Aspri Diandra. Harus di akui, apa yang Julian katakan itu memang benar, meskipun....dia tak seiman dengan mereka. Tapi mereka melihat ketulusan seorang Julian. Dia pun terlihat mengkhawatirkan Diandra, terlepas dia itu Aspri nya atau....ada alasan lain.


"Iya, kami solat dulu Julian. Terima kasih, kamu sudah bersedia menjaga Dian sampai kami kembali."


Damar merangkul dua sahabatnya di sisi kanan kirinya. Damar hanya berharap, diantara mereka tidak ada perselisihan. Dan...tidak menganggapnya berpihak kepada salah satu dari sahabatnya.


*****


Apakah ada perang lagi setelah ini????


Komen dong gaes....biar mamak ada ide, buat kelanjutan nya gimana....ya....ya....

__ADS_1


Jadi nggak monoton, nggak kaya novel-novel sebelah lagi....✌️✌️✌️✌️✌️😘😘😘😘


__ADS_2