
"Lho...kamu nggak tidur dek?", sapa Aziz setelah masuk ke dalam ruangan ku .
"Baru selesai makan mas. Mas sendiri dari mana? Ke kantor sama Julian lama banget?"
Mas Aziz duduk di sebelah ranjang ku.
"Dari rumah sebentar. nengok diaz dulu dek. Kasihan kan berapa hari nggak ketemu ayahnya."
Tiba-tiba aku jadi merasa melow. Menakupkan bantal di atas perut ku.
"Kamu kenapa sayang?", tanya mas Aziz sambil mengusap kepala ku yang tak lagi berhijab. Toh, nanti yang masuk ke ruangan ku hanya perawat atau mas Aziz saja.
"Aku kangen Diaz mas, kapan aku boleh pulang?"
"Mas tahu kamu kangen banget sama anak kita yang ga teng kaya ayahnya ini!", kata mas Aziz dengan penuh percaya diri tinggi.
Aku mencebikkan bibirku.
"Kok manyun? Ya emang Diaz ganteng kaya ayahnya kan? Masa ganteng kaya bundanya???"
"Hem...!", sahutku singkat.
Cup.... kecupan mesra ku dapatkan dari mas Aziz di kening ku.
"Cepatlah sembuh. Biar kita segera berkumpul di rumah. Mas kangen kebersamaan kita. Setelah sibuk di kantor dan di butik, kita jarang kan menghabiskan waktu bersama Diaz?"
"Iya mas. Aku juga pengen cepat pulih mas. Mas pikir aku betah di sini?"
''Hehehe iya sayang. Coba nanti masih ada visit dokter kan? Mas tanya, apa kamu sudah bisa pulang besok? Kalau belum, jangan maksa lho ya. Mas mau kamu benar-benar udah sehat!"
"Iya mas."
Mas Aziz melepaskan kemejaku di depan ku. Lalu meletakkan di lengan sofa. Kini, ia memakai kaos oblong saja lalu menarik kursi agar bisa duduk di samping brankar ku.
"Tidur dek! Udah mau jam sembilan juga!"
"Nanti mas, tanggung! Kan bentar lagi visit dokter. Gimana sih ???"
"Heheeh....kirain mas mah, mau tidur ya tidur aja. Kan dokter nya juga cuma ngecek-ngecek aja. Nggak memeriksa sampai detail kaya kemarin-kemarin."
"Aku juga belum ngantuk kok mas."
"Oh... ya udah kalo gitu. Mau mas nyalain Drakor?"
"Nggak. Aku mau ngobrol aja."
Aziz membenarkan posisi duduknya.
"Mau ngobrol apa Hem?"
"Kamu ke kantor sama Julian ada urusan apa?"
Aziz memandang ku dengan wajah sedikit menegang. penyelidikan dari Julian dan jiga penjelasan dari om Stevan seketika membuat Aziz merasa bingung. Apa reaksi Dian jika tahu siapa dalang di balik kejadian yang menimpa dirinya?
"Mas???", ku colek lengannya sedikit.
__ADS_1
"Em...iya. Tadi...mas dan Julian sudah menemukan pelaku perekam video kamu dek."
Aku menelisik wajah suamiku yang serius. Apa ada hal yang membuatnya ragu untuk mengatakan padaku?
"Terus? siapa orang itu mas? Dan apa tujuannya?"
"Dia hanya suruhan orang yang ....yang ....membencimu dek!"
"Membenciku?"
Siapa orang yang membenciku? Selama ini aku tak pernah sekali pun mengajak orang lain bertengkar apalagi bermusuhan? Lili? Ah, nggak mungkin. Bahkan dia sudah bersama om Stevan.
"Siapa orang yang membenciku mas??"
Tok... tok...
"Selamat malam tuan nyonya....saya ganggu waktu nya sebentar ya."
"Silahkan dok!", Aziz mempersilahkan dokter untuk memeriksa istrinya dulu. Obrolan tadi untuk sementara di tunda.
"Bagaimana keadaan istri saya dok? Sudah bisa rawat jalan saja? Dia sudah nggak betah di sini katanya dok!", kata Aziz kepada dokter Lala.
Dokter itu tersenyum.
"Perkembangan yang bagus. Dan...ini luar biasa lho. Penyembuhan nya lebih cepat di bandingkan dengan perkiraan saya."
"Bener dok?", tanya mas Aziz tampak berbinar. Aku cukup tersenyum melihat antusiasme mas Aziz tentang kesembuhan ku.
"Besok pagi kita lihat saja pak. Jika memang benar-benar memungkinkan, besok siang atau sore nyonya Dian bisa keluar dari rumah sakit ini."
"Alhamdulillah!", kata ku dan mas Aziz kompak.
"Iya tuan, silahkan?!"
"Apakah kuret itu seperti melahirkan juga ya? Maksudnya proses nya recovery nya? Em... maksud saya....em...saya libur selama kurang lebih empat puluh hari ?", tanya mas Aziz ragu-ragu.
Ya ampun ...nih suami bikin malu aja deh ah....Aku menutupi wajahku dengan kedua ku.
Dokter Lala pun tersenyum.
"Sayangnya saya harus menjawab 'IYA' tuan", jawab dokter Lala sambil tersenyum.
Mas Aziz menatap ku dengan tatapan sendu.
"Kalau tidak ada yang perlu di tanyakan lagi, saya permisi tuan... nyonya....?!", pamit dokter.
"Silahkan dok. Terimakasih!", ucap Aziz.
Dokter Lala pun keluar dari ruangan ku.
"Ngapain kamu tanya kaya gitu sih mas? Malu lah. pakai bilang libur empat puluh hari!"
"Ya iya lah. Mas kan harus tanya. Dari pada mas asal nubruk aja?"
"Ishsh...kamu mas bikin malu aja sih?!"
__ADS_1
"Ngapain malu dek. Itu kan umum di tanyakan ke dokter yang lebih tahu."
"Iya...iya ...Eh...tadi obrolan kita belum selesai!"
"Oh...iya!", kata Aziz ragu.
"Siapa orang yang membenciku?"
"Om Ronald, calon mertua nya Julian."
"Om Ronald? Dia masih membenci ku ?"
Aziz mengangguk.
"Apakah karena almarhum ibuku?"
"Iya. Itu salah satunya dek!"
"Itu salah satu alasannya. Berarti masih ada alasan lain?"
"Iya. Dari cerita om stevan, om Ronald masih belum bisa memaafkan ibu. Baginya, kematian mama nya hayu adalah kesalahan ibu mu. Dan... kamu sekarang jadi sasaran balas dendam nya. Dari dulu, om kendra menutupi identitas mu dek. Jadi ya....dia bahkan om stevan saja nggak kenal sama kamu sebelumnya kan?"
"Maksudnya...om Ronald mau balas dendam padaku? Ya Allah....!", aku menutup mulutku.
"Dan...soal Julian juga."
"Mas Jul? kenapa? Apa hubungan nya ?"
"Jadi...di mata Sharen, Julian makin ke sini makin berubah. Tidak peduli lagi pada nya. Dan... Sharen mungkin mengadu pada papanya itu."
"Tunggu.... tunggu....yang cuek ke Sharen kan Julian? Kenapa melibatkan aku mas?"
Ku dengar mas menghela nafasnya.
"Karena, setahu mereka...Julian mulai berubah sejak ada kamu. Semua perhatian nya hanya untuk mengurusi urusan mu dan DWP."
"Hah???!", aku terperangah.
"Mas...kamu kan juga tahu, dia cuma berusaha profesional dalam menangani pekerjaan nya saja. Kita juga bersikap selayaknya teman. Bukan atasan dengan bawahan kan?"
"Iya."
"Kenapa jadi ribet begini sih? Udah ah mas. Aku mau berhenti kerja di DWP. Malas jadinya kalau kaya gini. Mending di rumah. Masak. Jaga anak!"
"Ssstt....kamu ngomong apa sih??? Jangan langsung memutuskan begitu saja dek. Dari awal kan kita udah bilang, kita belajar sama-sama."
"Tapi aku nggak mau kalau kejadian seperti ini. Nanti aku sama mas Jul jadi nggak enak sendiri kan mas???!!"
"Julian juga mengakui kalau perubahan sikap nya juga karena kamu dek!"
Deg!
Apalagi ini???
"Maksud kamu apa mas???"
__ADS_1
"Kamu memang membawa banyak perubahan padanya. Sikapnya yang dingin, sekarang perlahan mulai lebih baik. Karena menghadapi mu yang bawel dan suka bercanda. Nggak memandang atasan atau bawahan!!!"
"Udah ah...aku mau tidur!", aku menyelimuti badanku. Semua yang terjadi seperti mimpi bagiku. Kebencian om Ronald padaku tak main-main!