
Jam empat sore mobil kami sudah memasuki garasi. Aku pun turun terlebih dulu. Selang beberapa detik, mas Aziz menggandeng tanganku menuju pintu samping. Ku lihat hayu sedang sibuk melayang pembeli.
"Apa teh neng dan Diaz masih di rumah Imah?", tanyaku.
"Iya. Mereka baru saja kesana dek. Ayo kita Nenes dulu!"
Mas Aziz kembali menggandeng tanganku menuju rumah induk.
Sesampainya di kamar, mas Aziz langsung mengunci pintu kamar kami.
Aku meletakkan tasku dan melepaskan jilbabku.
Aku bermaksud untuk mandi sekalian setelah melepas jilbab ku dan mengambil handuk. Sayangnya mas Aziz meraih handukku.
"Eh, kenapa di ambil?", tanyaku.
Tanpa menjawab, mas Aziz mendingin AC kamar kami.
"Mas, aku mau mandi. Gerah!", aku menggelung asal rambut ku yang panjang ini.
Tapi mas Aziz malah menatapku dengan pandangan apa lah.
"Nanti saja mandinya dek ...!" mas Aziz menyisihkan anak rambut di dahiku.
"Aku akan memberimu hak mu mas, tapi ijinkan aku membersihkan diri dulu sebentar. Oke....aku mandi nanti, tapi tolong...aku mau ke kamar mandi dulu."
"Jangan lama-lama!", titah mas Aziz.
"Iya!"
Aku pun berlalu menuju kamar mandi. Aku memang tak mandi, tapi menukar gamisku dengan daster rumahan.
Mas Aziz sudah duduk manis di ranjang kami. Dia juga seperti nya sudah membersihkan diri di kamar mandi luar. Buktinya, sekarang dia sudah memakai singlet dan celana boxernya.
"Cepetan sayang....!", mas Aziz meraih tanganku untuk bisa duduk di sebelahnya.
"Kamu itu kenapa mas? Aneh gitu!"
"Apa yang aneh sih, maklum dong. Udah tiga hari kan kita nggak bikin dedek buat Diaz!?", katanya manja.
Dedek buat Diaz? Ah, iya. kenapa aku jadi teringat soal cincau dan tingkah mas Aziz yang manja ini.
Ditengah otakku yang sedang berpikir, tiba -tiba mas Aziz menyerang ku.
"Mas....?!"
"Hem!", jawab nya dengan masih di posisi menandai leher ku.
"Malu ah mas...masih siang begini!", kataku sambil mendorong kepalanya. Tapi bahkan kepalanya pun tak bergeser.
"Malu sama siapa?", kini dia justru menatap ku.
"Takut ada orang?!", kataku pelan.
"Ishhhh....kamu dek! Makanya, tadi mas ngajak ke hotel nggak mau!", kata mas Aziz kesal.
"Ya... gimana???!"
Lagi-lagi mas Aziz menyerang ku. Dari ujung kepala sampai ujung kaki tak luput dari absennya.
Satu jam berlalu, kami siap-siap untuk mandi. Hanya saja, kami masih bergelung di bawah selimut.
"Mas, udah jam lima lewat!", bisikku pada mas Aziz yang tertidur pulas sambil memeluk perut ku.
"Hem? Bentar lagi dek. Mas masih pengen begini!", jawabnya tanpa membuka mata.
"Mas...ayo mandi. Kita mandi bareng aja gimana?", tawarku.
Mas Aziz langsung mengangkat wajah ny yang tampan meski dengan muka bantal.
"Mandiin?", tanyanya sambil sok imut begitu.
"Iya...!", jawabku.
Kami berdua berjalan beriringan menuju kamar mandi.
Dasar mas Aziz, ku pikir kami akan benar -benar hanya mandi. Ternyata dia memanfaatkan momen mandi bersama dengan penyatuan kembali.
"Sidah mas....capek!", keluhku di akhir -akhir aktivitas kami.
Cup.... sebuah hadiah kecupan mendarat di kening ku.
__ADS_1
"Terimakasih sayang, ini yang membuat mas selalu merindukanmu!", katanya sambil membersihkan area kesukaannya di tubuh ku.
Akhirnya, kami keluar sebelum azan magrib menjelang.
.
.
.
"Diaz....ayah berangkat dulu ya. Diaz jagain bunda!", pinta Aziz saat akan berangkat ke bandara. Kang Dadan yang mengantarkan mas Aziz.
"Iya ayah!", aku yang menjawab nya.
Imah dan Dadan tampak tersenyum bahagia melihat interaksi kami.
"Dan, Imah! Tutup mata sebentar!', pinta Aziz.
"Kenapa?", tanya Imah.
"Nurut aja kenapa sih?!"
Meskipun manyun, sepasang suami istri itu pun manyun.
Aku hanya bisa menertawakan mereka. Tapi sayangnya tertawa ku tak bertahan beberapa detik, tiba-tiba mas Aziz mencium bibirku dengan lembutnya. Diaz yang ada di dalam gendongan ku menjadi saksi betapa reseh ayahnya itu.
"Mas...malu ih....!", kataku. Mas Aziz mengusap ujung bibir ku dengan jarinya.
"Udah, buka matanya!", pinta Aziz pada Imah dan Dadan.
"Udah?", protes Imah.
"Iya", sahut Aziz datar. Mas Aziz mendaratkan ciumannya di keningku dan juga Diaz.
"Mas berangkat ya. Kalian berdua hati-hati. Jangan lupa kunci semua pintu."
"Iya ayah!", jawabku.
Setelah itu, mas Aziz benar-benar berangkat menuju bandara.
"Mbak, apa Imah temenin mbak aja? Nginep disini?"
"Kalau gitu, mbak Hayu aja gimana?"
"Udah , mbak nggak mau repotin siapapun. Mbak bisa kok berdua sama Diaz doang. Iya kan nak???", tanya ku pada putra semata wayangku.
"Ya udahlah.....!"
.
.
.
Pagi menjelang, teh Neneng juga sudah datang.
Mas Aziz juga sudah menghubungi ku tadi usai solat subuh.
Jam setengah delapan,aku udah bersiap berangkat ke kantor. Dan mbak hayu juga sudah ada di rumah ku.
"Kamu berangkat sendiri atau di jemput Di?", sapa Hayu .
"Aku bawa mobil sendiri saja mbak hayu."
Aku meletakkan tas laptop ku di bangku penumpang.
"Kenapa nggak minta di jemput sopir? Atau Julian? Atau naik taksi aja?"
"Hehehe mbak hayu nggak usah panik gitu, tenang aja mbak. Aku bakal hati-hati kok!"
Hayu hanya terdiam.
"Ini kunci kiosnya!", aku menyerahkan kunci itu dan juga dompet kecil untuk saldo awal kios.
"Hati-hati ya Di."
Hayu menatapku dengan pandangan cemasnya.
"Iya. Bismillahirrahmanirrahim....!"
Aku langsung menyalakan mesin mobilku. Diaz berada di dalam,sedang di suapi teh Neng. Tapi aku juga tadi sudah sempat berpamitan dengan Diaz.
__ADS_1
Jam segini, kendaraan mulai terlihat sibuk. Aku yang biasa santai di kursi penumpang saat ini benar-benar merasa jenuh melihat kemacetan di depan ku.
Pantas saja orang-orang pada sewot kalau macet begini. Kapan sampe nya? Batin ku.
Di lampu traffic light dekat rumah sakit, aku membuka kaca mobil ku. Entah kenapa rasanya perutku tak nyaman begini.
Udara dari luar nyatanya membuat ku sedikit lebih baik.
Tiba-tiba ada panggilan yang sangat ku kenal .
"Dian!!!", teriak Mika.
Aku pun menengok ke arah mika.
"Hei...!", aku melambaikan tanganku ke pada mika dan....mas Fai yang ada di sebelah nya.
Fai menatap ku sebentar sambil berucap,
"Berangkat sendiri Di?", setengah teriak.
"Iya!"
Tiba-tiba lampu sudah hijau saja, dan tegur sapa kami begitu singkat. Selain karena lampu sudah hijau, arah kantor dan rumah sakit berlawanan.
Aku pun melanjutkan perjalanan ku menuju kantor DWP .
Aku langsung memarkirkan mobil ku di deretan parkir khusus.
Aku pun turun dari mobil dan disambut oleh pak Budi. Tak lupa, pak Budi membawakan makanan dari istrinya untukku.
Di loby, Julian sudah menunggu ku.
"Kenapa Bu Dian tidak menelepon saya saja? Biar saya atau anak buah saya menjemput ibu?", tanya Julian sambil berjalan mengikuti ku.
"Mas Jul, aku sudah biasa mandiri kok. Santai saja. Mas Aziz hanya sedang ada urusan ke luar kota."
Kenapa perempuan ini selalu saja sukses membuat ku semakin kagum. Padahal hanya mengendarai mobil, banyak juga kan perempuan yang mahir membawa mobil?
Tapi kenapa ada saja rasa kagum yang menggelitik hatiku? Julian berbicara dengan dirinya sendiri.
"Mas Jul, apa jadwal ku hari ini?", tanyaku setelah sampai di lift.
"Ada pertemuan dengan perwakilan dari PT Nnn Singapura Bu, di hotel Aston sebelum jam makan siang."
"Lalu?"
"Bu Dian harus mengecek aset-aset yang pak Sam kembalikan."
"Itu saja?", tanyaku.
Julian menggeleng.
"Di meja anda, sudah ada berkas yang siap menuggu anda."
Aku memanyunkan bibirku. Julian justru hanya tertawa.
"Banyak amat sih kerjaan ku?", tanyaku padanya.
Belum seberapa Bu, dibandingkan aku yang pontang panting menggantikan mu saat tuan Kendra meninggal. Tapi, Julian hanya mampu bicara dalam hatinya.
Julian membukakan pintu untuk ku. Benar saja, sudah ada beberapa berkas yang duduk manis di atas meja ku.
"Aku kerjakan sendiri?", tanyaku sambil menatap Julian. Julian pun mengangguk.
"Bisa temenin aku nggak mas Jul? Bantuin?!'", pintaku.
Julian hanya mengangguk pasrah.
Dengan senang hati Bu, asal bersama mu aku sudah senang. Batin Julian.
Persetan dengan status nya, aku cukup bahagia melihat dia tersenyum dan bersama nya sepanjang hari tanpa pak Aziz. Hal terbaik yang aku tunggu selama ini.
*****
Hey....Mas Julian anu Lasso tea ....jangan ketinggian ngarepin bini orang.
Belum tahu segalak apa pawang nya ya????
Cukup kamu nikmati perasaan dalam hatimu sendiri ya Jul, ingat ada Sharen!
😎😎😎😎😎😎
__ADS_1