
"Kamu duluan ke kamar deh mah,itu kayanya mobil mamaku."
Imah pun setuju untuk ke kamar Diandra terlebih dahulu.
"Mah...!", sapa Aziz.
"Hey...bisa barengan."
"Iya mah, Aziz dari rumah beresin kamar dulu. insyaallah nanti mereka bisa pulang."
"Owh.... Alhamdulillah kalau gitu,mama seneng banget."
"Ya udah yuk mah!", Aziz menggandeng tangan mamanya.
Saat melewati sebuah lorong,ada seseorang yang memanggil.
"Tante Farah ...!", mama mencari asal suara yang memanggil namanya.
"Iya?", tanya mama. Mas Aziz pun ikut berhenti bersama mamanya.
"Hey Ziz?!", sapa Feby.
"Apa kabar Tante?", tanya feby.
"Alhamdulillah baik."Mama menantapku ,mungkin sekalian bertanya soal perempuan dihadapannya.
"Ini Feby ma,temen SMA Aziz.Rumah sakit ini milik keluarganya." Aziz mencoba menjelaskan.Takut mama berpikir yang bukan-bukan.Mama pun mengangguk.
"Oh iya Ziz,gue mau jenguk istri Lo boleh?", tanya feby lagi. Ditangan nya sudah ada sebuah bungkusan kotak kado.
Aziz menatap mama,meminta persetujuan nya dulu.Mama pun mengangguk.
"Mari.....", ajak mama.Mereka bertiga berjalan menuju kamar rawat Dian.
"Mbak....aku boleh toh tiap hari gendong Diaz. Gemesin banget",kata Imah disamping boks bayi Diaz.
"Iya Imah,tapi nggak buat sekarang-sekarang ya. Meskipun dokter bilang Diaz kondisi nya bagus dan kuat meski prematur,tapi usia segitu masih rentan."
"Iya mbak,tapi Imah dulu juga pernah rawat bayi kakaknya mas Ali lho mbak."
"Oh ya?Ali yang mantan kamu itu?", tanyaku.
"Mantan opo mbak.Imah cuma pembantu, masiyo pacaran sama majikan.Itu mah cuma ada di novel-novel mbak."
"Jadi, hubungan mu sama Ali gimana?".
"Ya nggak gimana-gimana atuh."
"Gayamu mah, ntar kalo mbak sahutin pake bahasa Sunda kamu bingung lho."
"Hehehe iya mbak."
Pintu kamar rawat tiba-tiba terbuka. Mas Aziz dan mama masuk bersama seorang perempuan.
"Gimana Di,sudah sehat?", sapa mama.
"Alhamdulillah ma. Nanti Dian sama Diaz bisa pulang. Diaz anak yang kuat ma."
__ADS_1
"Iya,kuat seperti bundanya." Mama mengusap bahuku sembari tersenyum.
"Hai Dian,aku Feby temen Aziz." Feby mengulurkan tangannya padaku. Kusambut tangan itu.
"Ini, sedikit hadiah buat Diaz." Feby menyerahkan bingkisan kado itu padaku .
"Terimakasih mbak." Aku menerima kado itu dari tangan nya .
"Em...istri kamu cantik juga ya Ziz." Feby mengatakan pujian didepan suamiku. Apa maksudnya?
"Iya, Alhamdulillah. Istriku cantik lahir batin", sahut mas Aziz sambil mengusap pelan puncak kepalaku.
Mama dan Imah tengah asik memandang Diaz ku yang masih tertidur pulas di boks nya.
Aku mencium bau-bau tak sedap rasanya.Mas Aziz pasti tahu aku menyadari ada hal yang tidak beres disini.
"Mas udah lama baru ketemu lagi sama Feby, dia temen SMA mas." Mas Aziz mencoba menjelaskan padaku.
"Iya Di,dulu kami dekat sekali.Aziz laki-laki yang baik."
Uhukk...uhukk....Imah tiba-tiba terbatuk.
"Kenapa Imah?Jangan deket-deket Diaz lho batuknya", pintaku pada Imah.
"Eh...gimana kalau gue anterin kalian, sekalian biar gue tau alamat ruma Lo Ziz!", Feby menawarkan tumpangan.
"Nggak usah feb,makasih. Aku dan mama bawa mobil masing-masing kok", ujar Aziz.
"Owh...okey....Anakmu lucu banget ya Ziz", puji Feby lagi.
"Iya, Alhamdulillah." Mas Aziz hanya menyahut seperti itu.
"Oke deh, gue balik kalo gitu. Cepet pulih ya Dian!", katanya.
"Iya mbak,sekali lagi terimakasih."
Feby mengangguk sambil menyunggingkan senyuman.
"Alamat Lo Ziz, kapan-kapan gue mampir."Feby meminta alamat kami pada Aziz .
Mas Aziz seperti meminta persetujuan ku. Aku pun mengangguk.Lalu ,mas Aziz memberitahu alamat rumah kami.
"Nyambi jadi pegawai sensus ya mbak Feby? Pakai tanya alamat kita segala", kata Imah masih fokus dengan Diaz. Aku dan mas Aziz saling berpandangan.
__ADS_1
"Ya nggak juga sih Imah,emang salah kalau mbak pengen menjalin silaturahim sama Masmu?", tanya Feby.
"Nggak salah sih mbak, masalahnya udah kelihatan bibit pelakornya!", kata Imah santai dengan masih mengusap Diaz.
"Imah ... jangan ngomong kaya gitu, nggak sopan!", ujar mama. Imah hanya tersenyum.
''Nggak apa kok Tan, mungkin Imah lagi PMS makanya sensitif begitu."
"Oke Ziz, dan semua...saya pernah dulu ya." Akhir Feby berpamitan dan keluar dari kamar ku.
"Kami yakin mas ,kamu baru ketemu lagi sama dia?", tanyaku.
"Iya dek, mas gak bohong.Tadi pagi tuh nggak sengaja ketemu dia. Ternyata keluarga nya pemilik rumah sakit ini. Udah,gitu doang.Tanya aja sama Imah. Ya kan mah?", tanya mas Aziz pada Imah.
"Mbooh ga reti."Imah membuang muka. Ku jamin mas Aziz sudah geregetan tuh.
"Kan Imah udah bilang, jangan ladeni mbak Feby mas. Imah yakin ada maksud tertentu dia tuh. Awas aja ya mas kalau peyan selingkuh. Ga cuma peyan yang Tek bejek-bejek,tapi ceweknya juga!", Imah berapi-api didepanku.
"Kamu ditanya apa jawabnya apa." Mas Aziz mulai merasa kesal.
"Mama pun akan melakukan hal yang sama Ziz. Mama ga mau ada Lili kedua setelah ini." Mama melipat tangannya didepan dadanya.
"Ya Allah mah...dek....udah dong, jangan ingetin dosa masa lalu Aziz." Mas Aziz menghiba padaku dan mama. Ditengah drama keluarga ini, pintu kembali terbuka.
"Hai....!", sapa Lili. Bagaimana bisa dia ada disini?Kami berempat terkejut melihat dia yang tiba-tiba sudah masuk ke kamar tanpa permisi. oopss....aku lupa ,jangankan masuk kamar masuk kedalamnya rumah tangga ku aja pernah.
"Ngapain kamu kesini?", tanya mas Aziz.
"Ya nengokin istri dan anak kamu lah."
"Anak istri baik,silahkan keluar."
"Hemmm....oke....aku keluar. Seandainya ya mas, aku tak keguguran anakmu. Pasti sekarang aku juga sedang menantikan buah hati kita", kata Lili medekat ke ranjang ku.
"Sudah nggak waras kamu Li. Jelas-jelas bukan anakku, masih aja ngehalu!".
"Terserah Lo deh ah!", lili meletakkan sebuah kado di atas nakas.
"Ya udah, kalau kehadiran gue nggak diterima disini ya nggak apa-apa gue pulang."
"Pulang sana mbak. Itu, pintunya masih disitu belum pindah kok.Mending pulang, biar gak bikin rusuh!", Imah menimpali.
__ADS_1
Tadi Feby, sekarang Lili. Besok siapa lagi?Sekarismatik apa sih suamiku?