Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Part 283


__ADS_3

Allahu...Akbar....Allahu....Akbar.....Allahu....Akbar....Lailahailallahu Allahu Akbar....


Suara takbir menggema usai bada isya. Iya, karena tahun ini kita menunggu keputusan DepAg kapan IdulFitri di rayakan hingga magrib usai.


"Alhamdulillah, kita bisa bertemu lagi dengan idul Fitri ya mas!", kata ku saat kami sedang berbincang berdua di teras belakang.


"Iya. Alhamdulillah. Mas masih bisa melihat bidadari mas di sini."


Aziz tersenyum tipis. Ada guratan kesedihan di wajah tampannya. Tentu saja, mas Aziz melewati puasa tahun ini dengan berbagai cobaan. Dari keadaan ku, kecelakaan dirinya yang membuat ia belum bisa berjalan normal seperti semula dan yang paling menyakitkan adalah kehilangan mama Farah dan Mbak Imas.


Aku yang duduk di pangkuan nya pun memeluk tubuhnya yang sedikit lebih kurus.


"Sepi sekali ya dek. Diaz udah tidur. Teh neng dan kang Ujang mudik. Mas Agus dan mas Tino juga. Kita cuma bertiga di sini."


Aziz menyadarkan kepalanya di dadaku.


"Jangan sedih sayang, ada aku dan Diaz kan ? Heum???", ku kecup singkat bibir seksinya.


Dia pun tersenyum.


"Semoga Allah melapangkan kubur mama dan mbak Imas ya dek. Mas nggak nyangka kalo mereka harus pergi secepat ini."


"Sabar sayang, Allah tahu yang terbaik untuk kita."


"Makasih Dek!", dia kembali menenggelamkan kepalanya di dadaku.


"Biasanya kita kalau lagi takbiran gini kan rame, masak ini itu bikin kue bikin...."


"Bikin adik buat Diaz mau?", tanya ku iseng. Tapi justru mas Aziz menjentikkan jarinya ke keningku .


"Awww....sakit mas!",kataku manja.


"Hehheh maaf!", lalu dia mengecup bekas jentikan jarinya.


"Aku cuma nggak mau kamu inget yang sedih-sedih aja kok mas. Menu lebaran udah aku siapin kok. Besok subuh tinggal aku hangat kan."


"Bukan soal makanan nya dek, tapi...."


"Aku tahu mas. Aku paham apa yang kamu rasain. Karena aku pernah di posisi itu!", ku takupkan kedua tanganku di pipinya.


"Makasih dek...makasih kamu sudah bersedia menemani mas di saat terpuruk seperti ini!"


"Insyaallah, aku akan selalu bersama mu. Apa pun keadaan mu, dan aku juga berharap sebaliknya. Kamu pun begitu sama aku mas!"


Kami berdua sama-sama tersenyum.


"Jadi, besok kita berangkat kontrol jam berapa? Nggak ada yang jaga Diaz, apa nggak apa-apa anak kita di bawa ke sana?"


"Nggak apa-apa lah mas, nanti kita bisa minta tolong perawat untuk membantu kita."


Ya, akhirnya aku harus bertemu dengan Revan lagi. Tidak ada yang bisa ku mintai bantuan, lebih tepatnya aku sudah sering merepotkan orang-orang di sekeliling ku.


Imah dan Dadan berlebaran di Bogor, Hayu tentu saja pulang ke rumah Daddynya. Mika dan mas Damar bertugas di posko selama hari lebaran. Dan Fai....pasti dia akan ke rumah Abah nya atau papa Umar.


"Iya dek. Maaf, aku merepotkan mu ya?", tanya Aziz yang sebenarnya tak membutuhkan jawaban.


"Udah...nggak usah di pikirin! Kita jalani saja, insyaallah besok akan ada yang bantuin kita. Pertolongan Allah akan datang di waktu yang tepat Mas."


"Iya dek."


"Toh dirumah sakit pasti banyak perawat yang membantu mas. Aku bisa menjaga Diaz dan tetap bisa melihat mu."


"Iya sayang!"


Setelah itu, kami pergi ke kamar untuk istirahat.


.


.


.


"Tante....Tante tahu nggak, Faiz seneng banget kalo lebaran gini!", kata Faiz yang sedang duduk menemani lili di balkon. Entah kenapa seorang Lili bisa akrab dengan Faiz.

__ADS_1


"Tahu lah, pasti karena kamu bakal dapet angpao banyak kan???", tebak Lili sambil mengemil buah yang sudah di potong. Usia kandungan nya semakin besar, dan dia lebih memilih buah untuk di jadikan cemilan.


"Bukan Tante ...!"


"em...paling baju baru, sendal baru, sepatu baru....", kata Lili lagi. Karena itu lah pengalaman masa kecil yang ia rasakan saat masih menjadi seorang muslimah. Dan sekarang, ia telah memilih keyakinan nya sendiri.


"Ih...bukan lah tan!", kata Faiz.


"Apa dong?"


"Biasanya, Faiz akan di ajak ziarah ke makam ibu dan bapak Faiz. Hehehe lumayan jauh, naik mobil. Soalnya Faiz kan nggak pernah ketemu sama mereka sama sekali sejak bayi. Jadi kalo ke makam mereka, Faiz kaya lagi ketemu gitu sama mereka....!", senyum Faiz merekah. Tak berapa lama, mimik wajah Faiz berubah.


Lili tercengang.


"Tapi...Faiz juga sedih. Karena...tahun ini, Faiz ngga lebaran sama Abi Royan."


"Kamu sedih ?", tanya lili.


"Iya lah tan. Abi itu orang yang sangat baik. Sayang sama Faiz, sama umi juga. Abi ngga pernah marah lho."


Iya, Royan memang pria yang sabar. Kata Lili dalam hatinya.


"Iya. Tante tahu kok. Abi Royan emang orang baik."


"Tante kenal Abi?", Faiz mengernyitkan keningnya.


Di balik dinding, Stevan mendengar obrolan antara istri dan cucunya.


"Iya, dulu teman kuliah Tante dan Umi mu!"


"Owh...jadi umi sama Tante udah kenal lama dong?", tanya Faiz antusias.


"Ya....sejak masih kuliah Iz!", kata Lili masih dengan mengunyah makanan nya .


Stevan tersenyum tipis di balik dinding.


"Abi pernah bilang, dulu umi tuh nggak kaya sekarang. Dulu...katanya umi tuh seneng lake baju kebuka begini, kaya Tante heheheh!"


"Tapi...Abi bimbing umi sampe bisa seperti sekarang. Abi bilang, kita nggak bisa memaksa orang lain untuk mengikuti keyakinan kita. Lakum dinukum waliyadin. Bagiku agamaku bagimu agamamu."


"Kamu pinter amat sih, bener kamu baru mau lima tahun?", tanya Lili. Hatinya sedikit tersentuh. Begitu juga dengan Stevan, dia merasa tersindir dengan bahasa cucunya. Dia merasa bersalah karena memaksa lili mengikuti keyakinan agar mereka bisa menikah.


"Ya benar lah tan. Abi sama umi sering ngajarin Faiz , ustad Zaki juga kok."


"Heum, begitu!", sahut lili.


"Kalo udah balig, Faiz mau di ponpes. Umi bolehin lho!"


"Pondok pesantren maksudnya?", tanya Lili heran.


"Iya, Faiz mau jadi hafidz Qur'an. Biar bisa memakaikan mahkota buat umi."


Lili terdiam.


"Di pesantren kan nggak bebas Iz!", Lili mengompori.


"Tapi kan biar kita disiplin Tante."


"Kamu tahu dari mana soal pesantren?"


"Om Fai pernah cerita, katanya mondok itu enak kok. Nggak serem kaya yang orang-orang suka nakutin-nakutin."


"Halah! Sok tahu kamu!",kata lili lagi.


"Hehehe iya kan masih lama Tante, Faiz aja sekarang masih kecil belum sunat juga heheh."


"Ya udah ,minta sunat aja sama papa mu yang dokter itu."


"Papa bisa nyunat?", tanya Faiz kepo.


"Ya...Tante ngga tahu lah. Maksud Tante,kamu bilang aja minta sunat gitu sama damar."


Faiz merenung beberapa saat.

__ADS_1


"Dua tahun lagi ah, kalo Faiz keburu balig terus mimpi basah nggak bisa di peluk sama umi lagi dong. Kan bukan mahram.....", kata Faiz.


Jleb!!! Ada rasa yang mencubit di dada Lili. Dia terdiam mendengar ucapan bocah kecil ini. Rasanya tidak mungkin ia berusia lima tahun.


Hayu yang baru saja menghampiri Daddynya pun mendengar obrolan putra dan mama tiri nya.


"Dad!", panggil Hayu lirih sambil mencium punggung tangannya.


"Itu didikan mu dan almarhum Royan?", tanya Stevan. Hayu pun tersenyum.


"Faiz anak yang serba ingin tahu Dad. Jadi, mungkin almarhum mas Royan sudah memberi tahu nya lebih awal di banding anak seusianya."


"Maaf kan Daddy ya nak!", Hayu memeluk daddynya.


"Via lebaran di sini boleh kan Dad? Mas Damar tugas di posko lebaran!"


"Tentu saja sayang, rumah Daddy kan rumah mu juga! Malah Daddy senang, bisa merayakannya lebaran dengan putri Daddy!"


"Makasih Dad!"


"Iya sayang, Daddy juga terima kasih. Kehadiran Faiz di sini membuat warna baru di rumah ini. Lili banyak berubah menjadi pribadi yang lebih baik."


"Alhamdulillah!", kata Hayu.


"Temui mereka yuk!", ajak Stevan.


Kedua nya pun menuju balkon.


"Umi!!!", pekik Faiz girang melihat uminya datang.


Hayu pun menggedong putranya itu. Lalu mencium nya dengan gemas.


"Anak umi makin berat apa ya?", tanya Hayu.


"Hehehe iya Mi. Faiz makannya banyak!", kata Faiz. Lalu hayu pun menurunkan Faiz dari gendongan nya .


"Apa kabar Li?", tanya Hayu.


"Baik. Kaya yang kamu lihat kan?", sahut lili. Hayu menghela nafas.


"Dad, ke kamar yuk. Aku mau istirahat!", kata Lili berdiri hendak meninggalkan balkon.


"Iya Li. Ya udah Stev, Faiz kalian juga istirahat!", kata Stevan. Hayu dan Faiz pun menuruti.


Di kamar Stevan....


Stevan menghampiri lili yang terlihat tidak nyaman dengan posisi nya saat ini. Iya, perut nya sudah besar sekali, maklum usia kandungannya mendekati hari lahir calon bayinya.


"Li....!", panggil Stevan lirih.


"Apa dad?", tanya Lili dengan majalah berada di pangkuan nya.


"Maafkan Daddy!", kata Stevan. Lili menutup majalahnya.


"Maaf untuk apa? Selama ini sikap Daddy baik sama aku!"


Stevan duduk di samping istrinya yang jauh lebih muda itu.


"Karena pernikahan kita, kamu terpaksa mengikuti keyakinan Daddy."


"Apa Daddy mendengar obrolan ku dengan Faiz?"


Stevan mengangguk.


"Dad, apa pun keyakinan ku sekarang. Aku akan tetap mendalami nya. Karena itu pilihanku!", kata Lili.


Apa dia sebijak ini sekarang????


Stevan pun merengkuh istrinya.


****""


Maaf jika sensitif ya 🙏🙏🙏🙏🙏🙏. Semoga admin memaklumi dan meloloskannya. Karena mamak ngga bermaksud jelek kok ✌️🙏

__ADS_1


__ADS_2