Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Restu mas Aziz


__ADS_3

"Aa pamit sama mas Aziz dulu ya mah?!",tanya Dadan kepada Imah sebelum mereka berangkat.


"Nggak usah lah A, Imah kan udah pamit. Tenang aja, gak papa kok."


"Owh...ya sudah kalau begitu."


Mereka berdua berboncengan motor menuju taman kota yang cukup ramai oleh para penjual makanan. Dadan menghentikan sepeda motornya disisi jalan.


"Mau makan apa mah?", tanya Dadan sambil mengunci stang motor nya.


"Makan apa ya A?" Imah terlihat berpikir.


"Kamu sudah makan nasi?"


Imah menggeleng.


"Ya udah atuh, makan nasi pakai lauk hayam mau teu?"


"Ayam maksudnya?"


"Iya, salah aa ngomongnya."


"Euumm....ayam bakar itu aja A. Kayanya nggak terlalu rame, jadi nunggunya nggak kelamaan. Mas Aziz ngijinin, tapi jangan pulang kemaleman."


"Iya."


Mereka berdua pun makan ayam bakar yang ada tak jauh dari mereka memarkirkan sepeda motor nya.


"Sudah selesai kan? Mau langsung pulang apa gimana?"


"AA mau langsung pulang?", Imah tanya balik.


"Terserah Imah aja AA mah."


"Ya udah, kita jalan lagi yuk."


"Nggak deh A, kita pulang aja. Gimana kalau ngobrol di rumah aja. Kali aja mas Aziz mau ikut gabung."


"Boleh juga tuh mah. Ya udah deh hayo wae. Eh, beliin mbak Dian makanan apa gitu mah."


"Makanan apa sih A?"


"Mbak Dian sukanya apa?"


"Beliin martabat manis aja, pasti mau deh."


"Ide bagus tuh A."


Mereka memesan martabak khusus buat Diandra.


*****


"Aa to tunggu sini ya. Imah biasanya masuk lewat belakang."


Dadan mengangguk setuju sambil duduk dibangku teras.


"Mas....", sapa Imah. Aziz menengok ke arah adik sepupunya.


"Kenapa?", tanya Aziz.


"Mbak Di udah tidur ya?"


Baru saja bertanya, Dian keluar dari kamar nya.


"Belum mah, kenapa?"


"Owh...ini, dibawain martabak sama A dadan. Kalau udah tidur, Imah taroh kulkas aja."


"Owh.... makasih, bilangin ke kang Dadan ya."


"Iya Mbak."


"Mas, A Dadan masih diteras. Mau ngobrol bareng nggak? Kalau berdua doang kan katanya nggak boleh."


"Sekarang?", tanya Aziz.


"Enggak mas, besok bada ashar." Imah cemberut.


"Ya udah, mas keluar."

__ADS_1


"Belum ngantuk toh mas?", tanya Imah lagi.


"Kan kamu yang maksa minta ditemenin." Aziz bejalan menuju teras.


Imah menyusul dibelakangnya. Sedang Diandra duduk sambil menikmati martabak yang Imah bawa tadi.



"Kang....", sapa mas Aziz.



"Punten mas, jadi ganggu nih. Imah yang minta katanya ngobrol disini aja. Takut dimarahi mas Aziz katanya kalau pulang malem-malem."



"Iya kang,saya pesan begitu sama Imah."



"Maaf ya mas, jadi ganggu istirahat mas Aziz deh."



"Nggak lah kang, saya juga masih nonton televisi. Lagipula besok kan hari minggu. Kita buka agak siang."


Kang Dadan manggut-manggut.



"Em...kang Dadan serius sama imah?", tanya Aziz sambil melirik ke Imah.



"Insyaallah mas, itu juga kalau imahna mau. Kan mas Aziz ge tahu, saya mah duda beranak satu. Memang mas Aziz ngerestuin?"



"Saya mah terserah Imah saja. Kalian yang mau jalanin."



"Kang Dadan tahu kalau Imah sudah pernah menikah sebelumnya?"




"Ya sudah, selanjutnya kalian yang menentukan."



"Mas Aziz merestui kita Tah mas?", tanya Imah.



"Mau gimana lagi, kalian yang maksa," Aziz berlagak pasrah.



"Mas Aziz mah....",seru Imah.


Obrolan kaum adam masih berlanjut sampai akhirnya Imah yang justru berpamitan untuk tidur lebih dahulu. Imah masuk ke kamarnya yang ada dibelakang kios.



Minggu pagi,


Aku menjemur Diaz diteras samping rumah. Belum terlalu panas, masih sekitar jam tujuhan.


"Aduh... tayangnya Tante berjemur...."


Imah mengusap pipi Diaz dengan gemas. Sedangkan tangan kirinya menenteng pakaian yang akan di jemur.


"Mah, kalau udah selesai jemur baju kita sarapan dulu ya. Tadi mbak udah masak lho."


"Mbak Di masak jam piro Tah mbak?"


"Tadi, habis subuh. Diaz kan belum bangun, jadi mbak sempetin masak aja dulu."

__ADS_1


"Maap ya mbak....Imah nggak pinter masak sih, kalau masakan Imah enak mah pasti Imah yang masak. Kasian mbak Di udah capek ngurusin Diaz, masih harus masak."


"Itu kan tugas mbak Imah...Justru mbak yang nggak enak sama Imah. Imah udah banyak bantuin mbak. Padahal kan tugas Imah harusnya cuma di kios. Malah mbak bebanin sama kerjaan rumah."


"Mbakku sayang.... Imah nggak keroso dibebani lah mbak. Justru seneng, Imah bisa dilibatkan disini. Bantuin mbak Di yang baiiiiiiik banget."


"Jangan berlebihan memuji mbak lah Mah.Kamu kan belum tahu, buruknya aku kaya gimana."


"Seburuk-buruknya mbak, pasti lebih burukkan Imah heheheh....."


"Bisa aja kamu mah. Pokoknya, jangan terlalu memuji mbak. Kalau suatu saat kamu tahu, mbak nggak sebaik yang kamu kira yang ada kamu kecewa mah."


"Wes mbak. Ngga usah bahas. Lha wong yang penting Imah tahunya mbak Di baik sama Imah, sayang sama mas Aziz dan Tante Farah. Udah cukup kok mbak."


"Oke...dek Diaz udah selesai berjemur, terus mandi. Habis mandi, kita sarapan bareng-bareng."


"Siap mbak...., eh ngomong-ngomong mas Aziz ke mana? Dari pagi nggak keliatan?"


"Oh, mas mu joging katanya sama ayang beb mu!"


"A Dadan maksudnya?"


"Siapa lagi Imah?!"


"Hahaha mungkin a Dadan lagi mengakrabkan diri sama mas Aziz yang galak itu kali ya mbak."


"Emang mas Aziz galak?"


"Galak sih nggak mbak, cuma lagaknya aja sengak."


Mereka berdua kompak tertawa bersama.


Obrolan disela sarapan...


"Mbak Di, peyan lama tah pacaran sama mas Aziz?"


"Kami nggak pacaran mah."


"Lga terus? Kok bisa sih kalian nikah tapi nggak pacaran?"


"Heheh bisa lah mah. Dulu, mbak justru pacaran sama temen mas Aziz. Tapi, ternyata hubungan kami cuma stuck di situ-situ saja. Sampai akhirnya, mas Aziz menikung temennya itu."


"Hah? Kasian banget, ternyata selain selingkuh mas Aziz nikung juga?"


"Astagfirullah mah, nggak seburuk itu."


"Terus?"


"Mantan mbak memang nggak serius sama mbak mah. Dan, Masmu justru berjuang mendapatkan hati mbak. Meskipun mbak tahu, mantan-mantan mas mu jauh lebih cantik dari mbak."


"Nek mantan-mantan, berati lebih dari situ dong mantane mas Aziz?"


"Iya mah, kamu liat sendiri seganteng apa sih suamiku?"


"Iyo Iyo....mas Aziz ncen ganteng mbak. Bersyukur nya punya istri sebaik peyan. Coba kalo istrinya bukan peyan mbak Di, belum tentu rumah tangganya awet sampe Saiki."


"Ngomongin aku ya mah?", tiba-tiba Aziz sudah bergabung dimeja makan.


"Cuci tangan dulu mas, kamu kan dari luar," ujar Dian.


"Sudah lah dek tadi di depan."


"Kalian lagi ngomongin aku ya?"


"Diiih....geer. Emang situ artis?", Imah berdiri meninggalkan meja makan.


"Eh, sini...sini....", Aziz menarik tangan Imah.


"Ngomong apa barusan?"


"Ngomong opo toh? Imah nggak ngomong opo-opo kok".


"Sudah mas...udah ah. Kebiasaan deh, nggak bisa ya kalau nggak berantem sama Imah?"


"Bocah Jawir itu kalau ngomong kan sok ngeselin."


"Sama kaya mas nya. Suka ngeselin!" Kini Dian yang justru meninggalkan meja makan.


"Lho, mas sarapan sendiri?"

__ADS_1


"Iya", sahut Dian singkat.


"Yah, makan...makan... sendiri....," gaya Aziz sok ngeDangdut.


__ADS_2