Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Curhat dua sahabat


__ADS_3

Dasar!


Mas Aziz masih memeluk pinggang ku hingga mas Fai berdehem memasuki kios kami lagi. Cepat-cepat aku mengurai pelukan mas Aziz.


"Kenapa sih dek?"


"Awas mas, malu! Dilihat Imah sama mas Fai!"


"Kenapa harus malu sama mereka? Menciumiku di hadapan Lili saja kamu nggak malu!"


"Mas!"


Fai dan Imah cengengesan melihat mas Aziz yang mengerjai ku.


"Kalau kalian mau, lanjutkan saja. Biar Diaz kami yang jaga!", sahut Fai.


"Mas Fai!", kini giliran ku yang membentaknya.


Tanpa rasa berdosa, mas Fai tersenyum manis padaku.


"Tuh...kan dek... mereka bersedia lho jagain Diaz...!", ledek Aziz lagi.


"Kalian....ih...sama aja!", aku buru-buru membawa Diaz kembali ke dalam rumah. Mereka berdua kembali ke bentuk awal. Iya, tentu saja! Mereka memang sama! Sama-sama tengil nya!


Aziz dan Fai tertawa bersama. Tinggallah Imah di antara mereka yang bingung melihat dua pria tampan di depan nya.


"Kalian udah akur?", tanya Imah.


"Udah!", jawab Aziz dan Fai kompak.


"Nggak ada adegan gontok-gontokan lagi kan?"


"Nggak ada Imah!", lagi-lagi mereka berdua menjawab kompak.


"Apa mas Fai udah ikhlas ?", kini pertanyaan Imah lontarkan ke Fai.


"Belum sepenuhnya sih Mah!", jawab Fai santai. Lalu Imah melihat ke arah Aziz. Mas Aziz biasa saja, tidak seperti kemarin.


"Mas Aziz nggak marah, mas Fai bilang kaya gitu?", tanya Imah menyelidik.


"Marah sih! Tapi, sayang kan kalau muka ganteng Fai bonyok. Ganteng aja nggak laku-laku. Gimana bonyok?", sahut Aziz santai.


"Bukan nggak laku, tapi aku terlalu setia pada istrimu!"


Kedua lelaki itu kembali tertawa.


Imah menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Lalu, memegang dahi kedua lelaki itu.


"Kalian nggak lagu demam kan? Atau...habis minum apa tadi? Eh... jangan-jangan kalian amnesia ya?"


Mereka bersamaan menjatuhkan tangan Imah dari dahi mereka.


"Nggak sopan Imah kaya begitu sama orang tua!", mas Aziz menyentil dahi Imah.


"Aww...!",pekik Imah.


"Habisnya kalian aneh!"


"Kamu lebih seneng kalau kami berantem Mah?", tanya Fai.


"Iya. Eh...maksudnya enggak!"


"Udah, mending kamu temenin mbak mu di dalam. Mas yakin, Mbak mu itu lagi ngoceh-ngoceh sendiri."


"Beneran Imah ke dalam? Kalian berdua nggak apa-apa?"


"Maksudnya?"

__ADS_1


"Dari tadi, sebelum adegan drama...belum ada yang belanja. Nah, kalau sekarang kalian berdua disini, terus berantem pasti yang mau belanja jadi takut deh!"


"Lagian siapa yang mau berantem Imah!", Aziz mulai geregetan.


"Ya kali...di depan Imah, kalian biasa aja. Ntar...di belakang pada gontok-gontokan!"


"Udah Imah, tenang aja. Kami udah berteman dari SMP , jadi ya...nggak usah di ragukan lagi lah!", kata Fai santai.


"Hah?",pekik Imah.


"Biasa aja kali! Kalau kamu melongo begitu, mas jamin Dadan bakal ilfeel sama kamu!",kata Aziz.


"Iya...iya...ya udah, Imah masuk ya. Awas ya jangan berantem beneran!"


"Iya bawel. Siapa Lu sih ngatur-ngatur segala!"


"Eh... gini-gini adik mu lho bos!"


"Terserah! Udah sana temenin mbak mu!"


"Iya mas...iya...!", Imah pun melenggang pergi meninggalkan dua pria tampan itu.


"Aku nggak nyangka, Dian bisa senekat itu!", kata Fai memulai obrolannya.


"Apalagi aku Fai. Dian itu pemalu, tapi... lihat kan tadi dia seperti apa?"


"Hem. Dian begitu mencintai mu Ziz!"


"Tentu saja. Aku beruntung memilikinya."


"Aku menyesal meninggalkan nya, mungkin kalau dengan orang lain aku tak begitu sesakit ini Ziz. Kenapa harus kamu!"


"Karena Allah memang sudah menggariskan aku bersama Dian lah!"


"Apa sejak awal menikah kamu sudah mencintai nya Ziz?"


"Iya, dia sempurna!"


"Tidak ada yang sempurna Fai. Dian pun sama seperti perempuan pada umumnya. Suka ngomel, suka kesel. Tapi...yang istimewa dari Dian adalah...dia mudah memaafkan meskipun dia merasakan sakit yang begitu dalam."


"Bagaimana reaksi nya saat Dian tahu tentang kamu dan Lili yang pernah....!"


"Dian marah besar. Jangan kan di ajak bicara, aku menyentuh ujung jarinya saja dia sudah merasa jijik padaku."


Mata aziz menerawang ke jalanan yang sudah mulai terik tersengat matahari.


"Dian hampir mendaftarkan gugatan cerainya."


Fai menatap Aziz dengan tatapan yang entah apa itu.


"Tapi, beruntung nya...ada Diaz di antara kami. Dian membatalkan niatnya untuk menggugat cerai aku. Dia membuka hatinya lagi untuk ku. Aku sadar, seperti apa pun usahaku meminta maaf padanya tidak akan pernah menghilangkan ingatan nya tentang perbuatan aku dan lili."


"Diandra membuat perempuan yang tangguh!", kata Fai begitu saja.


"Iya. Bahkan aku menyesal telah menyakiti nya. Tapi, sejak saat itu aku berjanji akan selalu membahagiakan istriku. Aku keluar dari pekerjaan ku. Membuka usaha ini bersama Dian. Mulai dari modal yang kecil. Dan Dian selalu mendukung ku hingga bisa seperti sekarang. Mungkin, aku tidak bisa lagi memberikan kemewahan untuk Dian seperti tahun-tahun yang lalu. Tapi, aku bisa memberikan Dian kenyamanan dan memberikan waktu ku yang sering sekali Dian inginkan dariku."


Fai menepuk bahu sahabat nya itu.


"Sekarang aku paham. Kamu begitu mencintai Dian, begitu pun sebaliknya. Dan aku...aku tidak akan pernah mendapat celah di antara kalian!"


"Tentu saja Fai, aku terlalu pandai memuaskan istriku atau..mungkin sebaliknya!", kata Aziz menyeringai.


"Nggak usah lah ngomong begituan!"


"Hahaha! Makanya... menikah lah!


"Besok, kalau udah pengen!"

__ADS_1


"Besok-besok Mulu,inget kita udah tiga lima tahun bro!"


"Kita? Lu aja kali. Gue masih tiga empat lewat sembilan bulan!"


"Sarua keneh!"


******


Di dalam rumah...


"Mbak Dian...!"


"Lho, ngapain kamu disini mah? Nggak jaga kios?"


"Kan ada dua pria tampan di depan! Imah disuruh ke sini!"


"Oh...!"


"Mbak Dian nggak cemas mereka bakal gontok-gontokan lagi mbak?"


"Enggak! Kamu liat sendiri kelakuan mereka berdua tadi kan?"


"Iya sih."


Aku meletakkan Diaz di box nya lagi.


"Mbak boleh nanya nggak?"


"Apa?"


"Mbak yakin semalam habis melayani mas Aziz sampai tiga kali naik?"


"Imah!!!!!"


"Ish! Imah cuma nanya mbak. Kali aja Imah bisa belajar!", kata Imah memanyunkan bibirnya.


" ngapain belajar, itu naluri mah. Nanti juga bisa dengan sendirinya!"


"Iya...Imah tahu, yang Imah tanyain itu...beneran sampe tiga kali mbak? Emang nggak capek?"


Pletak!


Aku jentikan jariku di dahi Imah.


"Tadi mas Aziz, sekarang mbak Dian!", Imah mengusap dahinya.


"Lagian kamu ngapa nanya kek gitu!"


"Mbak Di mah...tadi aja di depan mbak Lili bisa ngomong begitu, ditambah adegan ciuman bibir segala. Masa di depan Imah, mbak Di malu?"


"Jadi, kamu liat aku mah?"


"Iya lah mbak. Makanya, Imah mau belajar sama mbak Di. Biar Imah juga besok pinter, bikin A Dadan klepek-klepek!"


"Kamu liat itu nggak mah?", aku menunjuk hairdryer di atas meja riasku.


"Liat mbak!"


"Kalau liat, mendingan sekarang kamu keluar dari kamar mbak sebelum benda itu mendarat di kepalamu!"


"Iiiyaa...mbak...iya...Imah keluar! Imah janji nggak nanya begitu an lagi!"


Imah pun buru-buru lari meninggalkan kamarku.


Huh!


Pasti Imah dan Mas Fa'i melihat dan mendengar semuanya. Apa yang mereka pikirkan tentang aku?

__ADS_1


Aku terlalu liar di depan suamiku? Arggggghhhh semua gara-gara Lili! Aku sudah mempermalukan diriku sendiri.


__ADS_2