Mahalnya Sebuah Kepercayaan

Mahalnya Sebuah Kepercayaan
Pepet teroooossss....!


__ADS_3

"Dian, makasih udah ijinin aku nginep disini. Sama ini, nitip ranselku ya. Ntar pulang dari sekolah gue ambil!", kata Fai.


"Ya mas!", sahutku singkat.


"Alasan aja Lo buat ke sini lagi!",kata Aziz.


"Ya nggak juga sih, eh...Lo mau kan sekali lagi nolongin gue?", kata Fai sambil memasang muka sok imut.


Menjijikan! Batin Aziz.


"Apa lagi sih ustadz kawe?", Aziz mulai ketus lagi.


"Anterin gue ke sekolah!", kata Fai.


"Lo pikir gue supir Lo? Enak banget Lo, udah numpang tidur dirumah gue. Eh, sekarang minta di anterin pula. Lo anak Sultan, tinggal naik taksi kek atau manggil supir Lo kek. Ngapain harus ngerepotin gue!", Aziz besungut-sungut.


"Ayolah....Ziz, kalau bantuin jangan nanggung-nanggung. Boleh ya Di, Aziz anterin mas?", tanya Fai padaku.


"Terserah mas Aziz aja aku mah!"


"Ntar, gue mau sarapan dulu!", kata Aziz.


"Lo gak mau nawarin sarapan ke gue?", tanya Fai.


"Lo tuh ya! Emang bener-bener kebangetan banget sumpah!", Aziz mendahului masuk ke ruang makan di ikuti Faiz.


"Eh, tapi gue nggak biasa sarapan sepagi ini deh. Boleh bungkus nggak Di, buat bekel ntar gue makan pas istirahat di sekolah?", tanya Fai padaku. Nih orang, udah di kasih hati malah ngelunjak!


"Makin ngelunjak aja Lo Fai. Bener deh. Gue mutilasi deh Lo!", kata Aziz kesal.


"Lo nggak kasian sama gue yang lagi sakit gini Fai, kan gue belom ada yang ngurusin." Fai masang muka memelas.


"Nggak usah sok imut gitu, jijay gue. Hilang selera makan gue tau nggak liat muka Lo!", Aziz membanting sendoknya.


"Mas...! Udah, ini mas Fai. Aku kasih bekel. Tapi ntar Tupperware nya balikin ya. Mahal!", kataku ketus sambil menyerahkan bekal nasi untuk mas Fai.


"Iya, ntar mas beliin sama pabrik-pabrik nya kalau perlu!", sahut Fai.


Eh, tas buat ke sekolah nya nggak ada? Batin Fai.


"Makanya, Lo buruan tuh nikah sama Mika. Biar Lo ada yang ngurusin. Jadi nggak usah gangguin istri gue Mulu. Reseh Lo!"


"Lo mah Ziz, nggak ikhlas banget sih bantuin mantannya istri Lo."


"Naj*s gue denger nya tau nggak! Sumpah, demi apa Lo pernah jadi santri pondok!", Aziz memutar bola matanya malas.


"Dibilang...gue juga sama kaya Lo pada, iman gue masih standar. Ya....sedikit diatas Lo lah!"


"Ngomong lagi, gue gampar Lo. Udah buruan. Jadi di anterin ga? Kalau nggak, gue berubah pikiran nih!", kata Aziz.


"Iya bro...tenang. Santai aja ngapa."


"Mas anterin si jomblo akut dulu dek, ntar Hayu suruh buka sendiri aja. Takutnya, nih makhluk rese bin ajaib ini nggak kuat masuk ke ruang guru. Jadi mas harus mastiin kalo dia beneran udah ngejogrok di kursinya!"


"Masyaallah.... sahabat ku baik sekali....!", kata Fai menepuk bahu Aziz.

__ADS_1


Aku hanya snaggup menggeleng kan kepala melihat kekonyolan mereka berdua. Beberapa bulan lalu, saat mereka baru saja di pertemukan setelah bertahun-tahun...selalu saja bersitegang. Sedangkan sekarang? Kaya hape sama kuota, nggak bisa di pisahkan!


"Assalamualaikum!", Aziz dan Fai memberikan salam.


"Walaikumsalam."


Aku pun melanjutkan kegiatan 'rumahan' seperti biasa.


****


Diaz sudah kumandikan, dan sekarang aku membawa Diaz untuk membuka kios. Ternyata mbak Hayu sudah menunggu bersama Faiz di depan rolling door.


"Lho, Faiz udah di sini?", sapaku pada anak lima tahun itu.


"Iya Tante, tadi Faiz minta beli bubur ayam dulu di situ. Jadi kesininya lebih pagi. Bener kan umi?", tanya Faiz.


Sedangkan Hayu mengangguk sambil tersenyum.


"Oh, ya udah masuk atuh!", aku mempersilahkan mereka berdua untuk masuk ke kios.


"Mbak Hayu, Imah kan sebentar lagi mau nikah. Pasti nggak tinggal disini lagi, mbak Hayu kalau udah jadwalnya buka kios, mbak Hayu Mauk lewat gerbang aja ya. Lewat pintu samping itu. Takutnya, saya atau mas Aziz lagi nggak sempet buka."


"Memangnya saya ngga apa-apa mbak masuk kedalam rumah mbak? Saya nggak enak mbak!"


"Kenapa harus nggak enak mbak Hayu?"


Hayu menggeleng kan kepalanya.


"Nanti lama-lama mbak Hayu juga terbiasa kok. Tenang aja, mas Aziz nggak akan marah atau macam-macam kok mbak."


"Heheheh....mbak Hayu. Saya percaya suami saya, saya juga percaya mbak Hayu perempuan yang shalihah. Bisa menjaga martabat nya!"


Aku berusaha membuat nya paham, tidak ada celah bagi siapapun dalam rumah tangga ku.


"Alhamdulillah. Makasih mbak. Sudah percaya sama saya. Insyaallah, saya akan menjaga kepercayaan dan amanah Mbak Dian. Kalian memang terlalu baik sama saya."


"Jangan memuji seperti itu mbak, nanti kalau aku ketinggian terbang nya pas jatuh sakit nya nggak ketulungan Hahahaha!"


"Mbak Dian bisa saja!"


Belum sepuluh menit, kios mulai ramai di datangi pembeli. Aku dan mbak Hayu pun melayani para pelanggan yang semakin hari semakin banyak. Hanya saja, ada yang dari tadi membuatku berpikir. Beberapa kali ada yang menanyakan, kenapa kami tidak menjual ponsel sekalian? Apakah... sebaiknya ku rundingkan dengan mas Aziz ya? Nggak ada salahnya kan mencoba peruntungan dari jual beli ponsel?


*****


"Udah sono masuk Lo!", kata Aziz setelah sampai di sekolah.


"Katanya Lo mau mastiin gue udah sampe ruang kantor dulu!"


"Males ah!", jawab Aziz sekenanya. Tiba-tiba ada mobil yang klakson di belakang kami. Seorang perempuan cantik turun dari mobilnya.


Mika!


"Wah....jodohmu sudah datang Fai!", bisik Aziz. Rasa kesalnya sekarang berubah jadi rasa ingin menjahili sahabat nya.


"Assalamualaikum mas Aziz, mas Fai?"sapa Mika.

__ADS_1


"Walaikumsalam."


"Kok mas Aziz bisa sama mas Fai?", tanya Mika.


"Iya,semalam dia ngungsi di rumah ku!"


"Hah? Kok bisa? Pasti.... gara-gara Abah sama papa ku ya mas Fai?", tebak Mika. Fai tak menjawab apapun. Justru Aziz yang semangat.


"Iya, tadi dia curhat tuh Ka. Katanya....!", ucapan Aziz terhenti setelah tangan Fai membungkam mulut nya.


"Bwahhhh! Jijik ih!", kata Aziz ketus sambil mengelap mulutnya sendiri dengan lengan bajunya.


"Mika, kenapa kesini?", tanya Fai gugup.


"Ini mas, tas kamu. Kayanya kamu butuh buat bahan mengajar, jadi nggak mungkin kan baru nanti siang kamu ambil ke rumah sakit?", kata Mika menjelaskan.


"Oh, iya. Makasih ya." ucap Fai sambil menerima tasnya.


"Kamu pengertian sekali ya Mika!"kata Aziz.


Mika hanya tersenyum simpul.


"Ya udah ah, gue pulang. Lo nggak usah minta jemput gue ya! Minta aja sama sopir Abah tuh, gue bukan kang ojek Lo!", kata Aziz.


"Kan baju gue masih di rumah Lo!", kata Fai.


"Ya udah, ntar mika yang anterin ke rumah mas Aziz aja mas Fai!", tawar Mika.


"Pepet teroooossss....!", ledek Aziz.


"Usaha mas hahahahahha!", jawab mika.


Wah, ternyata mika orang nya begini. Batin Aziz.


"Gue dukung Lo mika! Dah ya gue duluan, assalamualaikum!"


"Walaikumsalam." Jawab Fai dan Mika bersamaan.


"Mika, nggak usah jemput deh. Aku bisa pulang sendiri kok!"


"Mas Fai, mikir aku agresif ya? Heheheh nggak mas, jangan salah sangka dulu. Nanti ada yang mau Mika obrolin mas. Tentang kita!", bisiknya pelan saat mengatakan 'tentang kita'.


"Kenapa nggak sekarang aja?", tanya Fai.


"Kamu kan mau ngajar? Aku juga sebentar lagi jam praktek!"


"Owh...ya udah!", kata Fai pasrah.


"Nanti kalau udah selesai ngajar, wa mika ya mas. Biar otw ke sini."


"Hah? Ah, iya...mika!", kata Fai.


"Ya udah, mika ke rumah sakit dulu ya. Assalamu'alaikum."


"Iya Mika, walaikumsalam." Fai menyahuti lemas.

__ADS_1


Dia pun menuju ruang kantor guru. Menyiapkan bahan yang akan dia ajarkan ke anak didiknya.


__ADS_2