
Kami sampai di Ancol sekitar pukul 9. Mas Aziz membayar tiket masuk serta menyerhakan kartu parkir.
"Imah, kursi rodanya mah!" titah mas Aziz. Iya ,mas Aziz sengaja membawa kursi roda untuk. Alasannya agar aku tak kelelahan mengikuti jejak Imah. Padahal aku sudah meyakinkan sejak semalam,aku mampu jalan jauh. Tapi dia kekeh melarangku.
"Ini mba. Sini, duduk. Biar Imah yang dorong."
Aku pun duduk dikursi roda.
"Mendingan, kamu gendong ransel nya. Biar kantong makanan aku yang bawa sambil dorong kursi roda Dian."
"Ah...pak bos...berat ini pak."
"Suruh siapa bawa barang banyak, masa kami mau nyuruh aku yang bawain?"kata mas Aziz ketus.
"Iya...iya...maap."
Kami bertiga jalan beriringan. Tempat pertama yang kami kunjungi ya...tentu, pantai Marina. Imah begitu antusias saat melihat pemandangan laut. Angin berhembus tak terlalu kencang dijam segini.
"Mba, nitip ya. Imah mau kesana dulu ya." Dia menitipkan ransel nya di depan ku.
" Kamu juga mau kesana?" tanya mas Aziz padaku.
" Ngga. disini aja."
Aku duduk menghadap ke laut. Warna biru dikejauhan menyejukkan mataku. Apalagi, cuaca tak terlalu panas pagi ini.
"Inget ngga dek, waktu kita pertama kali ngedate di sebelah mana?" tanya mas Aziz padaku.
"Disitu!", kutunjuk sebuah tempat yang tak jauh dari orang-orang yang sama-sama sedang menikmati suasana pantai. Kulihat Imah sedang berbincang-bincang dengan 2 orang. Mungkin dia baru saja berkenalan.
"Sudah berapa tahun coba?"
"Hampir 6 tahun mas. Dan...di tahun ketiga pernikahan kita, kita diuji."
Mas Aziz berjongkok dihadapan ku.
"Maafkan mas dek, mas tahu sampai kapanpun kamu akan selalu mengingat sakit hati itu. Mas juga tidak bisa mengubah masa lalu."
"Aku cuma khawatir mas. Jika aku lengah sedikit saja, apakah akan ada Lili berikut nya?"
"Astagfirullah dek. Nauzubillahimindzalik."
"Banyak orang berstatment ,selingkuh itu penyakit mas. Bisa datang kapan saja pada siapa saja."
"Tapi mas khilaf dek, kamu tahu itu. Bagaimana mungkin mas selingkuh dengan perempuan macam lili?!"
"Berarti ada kemungkinan selingkuh dengan perempuan yang tidak seperti lili maksudmu mas?"
__ADS_1
"Ya Allah dek. Udah jangan bahas lagi seperti itu. Kamu tahu, itu sebuah kesalahan yang aku sendiri tak menginginkannya. Mas mohon, jaga emosi kamu. Mas nggak mau, akan berdampak buruk sama anak kita kalau kamu terlalu banyak memikirkan yang gak penting seperti itu."
" Mba...mas... kita gelanggang samudra ya." tiba-tiba Imah menghampiri kami. Pembicaraan intim ini pun berhenti, kami menuruti apa mau Imah hari ini.
Menjelang siang, kami masuk ke Dufan. Aku membiarkan Imah bertualang sendiri. Mas Aziz bersama ku sepanjang pagi. Aku meminta mas Aziz untuk menemani Imah, tapi dia menolak. Alasannya, dia sudah mencoba semua wahana.
Imah sudah kembali pada kami setelah berganti pakaian.
"Peyan ga mau naik apa-apa toh mas?"tanya Imah ke Aziz.
"Buat apa, aku udah pernah naik semuanya."
"Owh... sayang ya mba. Perut mbak lagi gede, coba kalo nggak kita pasti seru-seruan bareng ya." ujar Imah.
"Ya...mungkin lain waktu mah."
"Eh ...kita solat dulu yuk. Udah lewat jam 12 nih. " ajak mas aziz.
"Kalian tunggu disini, aku dulu yang solat. Kita gantian." titah mas Aziz. Aku dan Imah menyetujui nya.
Aku dan Imah menunggu di halaman mushola yang terlihat lumayan ramai.
"Mbak...itu...ada mbak-mbak yang pakai baju kurang bahan kesini. Dia mau nyamperin kita?" kata Imah menepuk bahuku.
Benar, ku lihat lili sedang berjalan ke arah kami menggandeng pria tua yang lebih pantas jadi bapaknya.
"Alhamdulillah. Baik, seperti yang kamu lihat."
"Eh ...ini mbak yang tadi ketemu di minimarket kan?" sapa om tersebut ke Imah. Imah cuma nyengir.
"Gara-gara kamu mbak, kekasih saya pengen nyusul ke Ancol. Nggak taunya ketemu disini." kata si om.
"Hah? Kekasih om? Ndak salah? mbaknya lebih pantesan jadi anakke kok om, atau.... jangan-jangan mbaknya ini pelakor ya....?" tuduh Imah. Seketika orang-orang yang berada disekitar kami memandang lili dengan pandangan yang tak dimengerti.
"Eh, cewe udik. Jangan sembarangan ya kalo ngomong." hardik lili ke Imah.
"Imah...." ,panggilku pelan sambil mencolek tangannya.
Tiba-tiba mas Aziz datang menghampiri kami berempat.
"Hai mas Aziz? Apa kabar?"sapa lili saat dia menyadari kedatangan mas Aziz. Ku lihat mas Aziz seperti seorang yang salah tingkah. Grogi ketemu lili? Ccckkkk....
"Alhamdulillah." jawabnya singkat.
"Ya udah Imah, kita solat dulu." ajakku pada Imah. Entah kenapa aku muak melihat perempuan itu dihadapan kami.
"Ayuk mbak. Pak bos, nitip ya." kata Imah menitipkan ransel nya di atas kursi roda. Lalu menuntunku menuju tempat berwudhu.
__ADS_1
"Mbak Dian nggak papa?" tanya Imah.
"Emang aku kenapa?".
"Oh... syukurlah. Nggak usah cemburu mbak, cewe itu cuma masa lalu. Jangan terlalu dipikirin, kasian Dede bayinya. Aku yakin kok mas Aziz kuat iman."kata Imah menguatkan ku.
"Kamu tak tahu apa yang sudah terjadi diantara mereka berdua mah....", bisikku pelan. Tapi Imah masih menangkap perkataan ku.
"Maksud mbak?"
"Sudah lah, lain kali aku cerita. Sekarang kita solat saja dulu, abis itu pulang."
Kami berdua solat terlebih dahulu sebelum bersiap pulang.
Saat kami keluar mushola, mas Aziz tampak sendiri disana. Menatap ke arah entah kemana.
"Sudah selesai, kemana lagi kita?" tanyanya.
"Pulang." jawabku singkat.
Aziz menatap Imah, Imah hanya mengangkat bahunya. Aku kembali duduk di kursi rodaku.
Mas Aziz kembali mendorong ku menuju parkiran mobil yang terletak lumayan jauh. Mas Aziz membukakan pintu depan untuk ku. Tapi aku membuka pintu belakang, bersebelahan dengan Imah.
Sepertinya mas Aziz menangkap rasa cemburuku saat ia kembali bertemu Lili. Bukan cemburu, lebih tepatnya teringat sakit hati atas apa yang mereka perbuat. Dia pun kembali menutup pintu depan. Lalu kembali duduk di belakang kemudi.
Tak ada obrolan apa pun selama perjalanan pulang. Imah pun lebih memilih memejamkan matanya. Mungkin dia kelelahan sudah mencoba berbagai wahana.
Lebih dari dua jam perjalanan pulang kami karena jalanan sudah mulai macet dipadati kendaraan.
Perlahan, mobil memasuki komplek kami. Mas Aziz membuka pintu gerbang lalu kembali mengemudi mobil memasuki pekarangan.
"Imah, sudah sampai." ku goncang pelan bahunya. Dia pun terbangun sambil mengucek matanya.
"Owh ..udah sampe mbak." Lalu dia turun dari mobil kami.
"Kamu langsung istirahat saja Imah." kata Aziz.
"Tapi nanti buka ya mas, bada magrib. Banyak yang nanyain nih." katanya sambil menunjukkan chat di aplikasi hijaunya.
"Memangnya kamu nggak capek mah?", tanya Aziz. tumben ga ketus.
"Nggak lah, kan ini masih jam 4. Masih lumyan buat istirahat sampe magrib."
Aku dan mas Aziz meninggalkan Imah yang sedang membereskan barang bawaan kamj. Dia membawa kan sisa bekal yang tadi lewat pintu samping untuk di bawa kedapur.
Aku duduk sebentar di teras. Baru saja ingin meluruskan kaki. Sebuah mobi Honda Jazz berhenti di depan pintu gerbang? Mobil siapa itu? Aku dan mas Aziz saling berpandangan.
__ADS_1